Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #18



Episode 17

WALI KOTA Lu belum lama pulih dari sakit, sehingga ia tak mampu menghadiri pesta Gubernur Mongol yang diselenggarakan untuk menghormati Panglima Jenderal Pedang Dahsyat. Karena itu Lu-lah yang mewakilinya. Saat pesta usai, malam sudah larut. Tandu tertutup yang mengusungnya bergerak perlahan di bawah curahan hujan deras, dan akhirnya mereka sampai di sawah dekat sungai.

        “Aku menangkap suara erangan seseorang!” ujar Lu, sambil menyapukan pandangan ke hamparan sawah yang sudah ditinggalkan itu. “Berhenti!” perintahnya kepada para pengusungnya. “Coba periksa, kalau-kalau ada seseorang di sana.”
        Para pengusung itu baru saja mengambil beberapa langkah ketika melihat seorang laki-laki bergelimang darah, di kaki sebatang pohon yang sudah mati. “Ada orang mati dengan anak panah di pundaknya!” seru mereka sambil berlari kembali ke tempat tuan muda mereka.
        Lu keluar dari tandu, tanpa memedulikan hujan.
        “Kalau dia memang sudah mati, kita harus menguburnya. Tapi kalau tidak...” Setelah mendekat dan memeriksanya, ia melihat dada laki-laki yang berlumuran darah itu naik-turun. Ia berjongkok, lalu dengan tangan bergetar menyentuh leher laki-laki itu dan merasakan denyut nadinya ternyata cukup kuat. “Dia masih hidup!”
        Ia berpaling ke arah para pengusung. “Ayo, angkat orang ini. Dia sudah kehilangan banyak darah. Coba lihat darah yang berceceran di sini! Dia akan mati kalau kita tidak segera melakukan sesuatu!”
        Para pengusung tampak ragu-ragu. Menyelamatkan orang yang terluka tanpa izin dari orang-orang Mongol dianggap pelanggaran yang serius.
        “Cepat!” seru Lu. “Naikkan dia ke tandu, lalu kita bawa dia pulang!”
        Para pengusung itu amat setia dan patuh pada Lu, namun tetap menggerutu pada saat mengangkat tubuh laki-laki itu. “Berat amat sih! Apa orang ini dari batu?”
        Mereka menaikkannya ke tandu, menutup tirai, lalu mengusungnya menuju rumah kediaman keluarga Lu. Lu melangkah di samping tandu itu, menerobos tirai hujan dan gelimang lumpur saat badai berlalu.
        Beberapa saat kemudian, bulan yang keperakan kembali bersinar di antara gumpalan awan. Di bawah cahayanya muncul seorang penunggang kuda yang bergerak perlahan-lahan, seakan mencari sesuatu atau seseorang di sawah itu.
        “Pedang Dahsyat! Si jenderal Mongol!” desis Lu sambil menahan napas.
        Pedang Dahsyat juga mengenali Lu. “Ah! Putra wali kota Yin-tin!” ujarnya. “Senang sekali bertemu dengan Anda lagi!” Ia menatap Lu dengan pandangan curiga. “Anda basah kuyup! Kenapa Anda mengotori kaki Anda dengan berjalan di lumpur dan bukannya naik tandu?”
        “A-aku...” Lu tidak suka berbohong, tapi setelah mengambil keputusan kilat, ia menaikkan suaranya, lalu menjawab mantap, “Perutku kurang enak karena kebanyakan makan di pesta Gubernur. Aku merasa perlu berjalan kaki.” Kemudian ia tersenyum pada si jenderal sambil bertanya, “Apakah Anda juga merasa kurang enak? Apakah karena itu Anda bergerak begitu pelan?”
        Pedang Dahsyat menggeleng. “Aku sedang mencari mayat seorang laki-laki yang baru saja kubunuh. Tapi mungkin dia sudah diseret anjing-anjing lapar daerah ini.” Pedang Dahsyat sedikit pun tidak ragu bahwa seorang wali kota Cina adalah pengkhianat bangsanya dan putranya pengecut, karenanya ia sama sekali tidak mencurigai ucapan-ucapan Lu. Ia mengentakkan perut kudanya dengan tumit, kemudian segera berlalu.
        Lu berjalan kaki sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, sementara laki-laki yang terluka itu mengendarai tandunya. Para pengusungnya menggerutu karena kecapekan, mengingat berat tubuh laki-laki itu hampir dua kali berat majikan mereka. Tapi mereka berjiwa patriotik dan amat setia pada tuan muda mereka. Mereka takkan pernah mengkhianatinya.
        Sesampainya di rumah kediaman keluarga Lu, para pengusung menuju pintu belakang. Mereka mengeluarkan laki-laki yang terluka itu dari tandu tertutup tuan muda mereka, lalu menggotongnya menerobos hujan dan kebun yang diterangi sinar bulan.

Di ruangan dalam rumah kediaman itu, seorang nyonya berpakaian merah muda sedang membaca di bawah penerangan lampu, dan seorang wanita berpakaian abu-abu menyulam.
        “Hari sudah larut, Jasmine. Tolong katakan pada para pelayan yang lain bahwa mereka boleh tidur,” ujar Lotus sambil mengangkat wajah dari buku puisinya. “Kita berdua dapat menunggu Tuan.”
        Jasmine mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan untuk melaksanakan perintah nyonyanya. Para pelayan yang sudah lelah itu bersyukur. Mereka sudah bekerja sepanjang hari dan diharapkan mengerjakan tugas-tugas mereka kembali subuh nanti. Jasmine sedang berjalan kembali ke tempat nyonyanya ketika mendengar suara ribut-ribut dari pintu belakang. Cepat-cepat ia ke sana, dan melihat tuannya bersama para pengusung tandunya. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi padanya.
        Ketika Jasmine muncul kembali, ada bercak darah di pakaiannya. Lotus langsung menjerit.
        “Ini bukan darah junjungan kita,” ujar Jasmine cepat. “Mereka membawa seorang asing.” Sesudah itu ia bergegas menuju sebuah ruangan kosong yang tersembunyi di belakang lemari buku tinggi yang menutupi sisi salah satu dinding. Ia segera menyiapkan ruangan itu.
        Kemudian Lotus melihat Lu si Bijak menahan napas. Jarak dari sawah di kaki Gunung Emas Ungu ke situ cukup jauh, sementara Lu belum pernah berjalan sejauh itu dalam hidupnya. Sepatunya rusak sama sekali oleh lumpur. Bagian bawah pakaiannya penuh percikan tanah. Tusuk sanggul emasnya hilang, sementara rambutnya tergerai berantakan. Wajahnya kotor, namun bibirnya putih. Setelah mengambil beberapa langkah terakhir dengan sempoyongan, ia menjatuhkan diri di sebuah kursi.
        Lotus segera berlutut di sebelahnya, kemudian meraih tangannya yang bergetar. Para pengusung memasuki ruangan itu dengan beban mereka yang berat. Sekilas Lotus sempat melihat sesosok tubuh besar dan bermandikan darah, kemudian langsung menutup mata. Ia membenamkan wajah ke lengan suaminya, sementara Jasmine menolong keempat pengusung meletakkan orang yang terluka itu di tempat tidur.
        Jasmine melewati Lotus dan Lu dalam perjalanannya menuju dapur. “Aku membutuhkan air panas untuk membersihkan luka-lukanya,” ujarnya sambil berlalu.
        Lu meremas tangan Lotus untuk memberitahunya bahwa ia tidak apa-apa. “Panggilkan tabib,” gumamnya pada para pengusungnya. “Yang dapat dipercaya.”
        Ketika Shu membuka mata, ternyata dirinya berada di sebuah ruangan termegah yang pernah dilihatnya. Wanita yang menjaganya adalah wanita tercantik yang pernah ditemuinya.
        “Jadi, aku sudah mati. Jadi, inilah surga,” gumamnya, sambil mengerutkan alis ke arah sosok cantik yang duduk di sebelah tempat tidurnya. “Mana Peony-ku? Jangan tersinggung. Anda cantik sekali, tapi dialah gadisku. Bisakah Anda mencarinya untukku? Dia hampir dua kali lebih besar dari Anda...” Shu tidak meneruskan kata-katanya begitu melihat seorang bangsawan muda bertampang kusut.
        Ia menatap laki-laki itu, lalu berseru, “Rupanya aku tersesat. Di manakah bagian yang diperuntukkan bagi para petani di surga ini? Namaku Shu, dan aku yakin ini bukan tempatku.”
        Bangsawan muda itu tersenyum. Setelah berdiri di samping wanita yang mengenakan pakaian merah muda itu, ia memperkenalkan dirinya dan istrinya. “Kau belum mati, Shu. Bahkan si tabib tercengang melihat daya tahan tubuhmu. Dia mengatakan kau akan bisa bangun segera. Luka di bahumu bersih, dan akan pulih pada waktunya.”
        Shu lega bahwa ia belum sampai di surga, mengingat masih banyak yang harus dikerjakannya di bumi. Namun ia juga sedih karena ia dan Peony masih berada di dua dunia yang berbeda.
        Kemudian ia teringat pada senyum serigala Pedang Dahsyat di lorong itu.
        “Bajingan itu berhasil melukai aku!” Ia mencoba berdiri, tapi kemudian mengernyitkan wajahnya, menahan sakit. “Apakah aku masih dapat menggunakan lengan kiriku lagi? Aku membutuhkan kedua-duanya untuk menghadapi orang-orang Mongol itu! Lebih baik aku mati daripada cacat seumur hidup!” Ia mencoba mengangkat lengan kirinya yang dibebat perban, tapi kemudian menggerenyit kesakitan lagi.
        Seorang wanita muncul di ambang pintu. “Sebaiknya kaujaga mulutmu di hadapan nyonyaku!”
        Shu melihat seorang wanita setengah baya berpakaian abu-abu melangkah ke arahnya dengan mangkuk besar berisi sesuatu yang mengepul-ngepul. “Namaku Jasmine,” ujar wanita itu sambil mendekatkan mangkuk ke bibirnya.
        Shu melihat isi mangkuk yang hijau itu dengan curiga.
        “Ini sari ranting-ranting yangliu. Mengikuti resep yang ditulis si tabib. Ini akan mengurangi sakitmu.” Wanita itu meletakkan tangannya di bawah tengkuk Shu dengan mantap, kemudian mengangkat kepala. “Minumlah!” perintahnya.
        Shu mereguk ramuan panas itu. Rasanya pahit sekali, dan ia menyeringai saat Jasmine memaksanya menelan seluruh isi mangkuk. Jasmine mengelap dagu Shu, kemudian meninggalkan ruangan itu bersama mangkuk kosongnya.
        Lotus bangkit dari kursi di sebelah tempat tidur itu. Ia dan Jasmine telah menunggui Shu sepanjang malam, sementara Lu beristirahat. “Suamiku yang akan menjagamu sekarang. Permisi.” Kemudian Lotus membungkuk ke arah Shu, seakan mereka sederajat.
        Shu tertegun. Ia belum pernah mendapat perlakuan sesopan itu dari seorang wanita bangsawan. Ia mencoba membalasnya, namun sia-sia. Seluruh bagian atas tubuhnya terasa kaku.
        Lu membantu istrinya menuju kamar tidur mereka, kemudian kembali ke ruangan tersembunyi itu. Ia menarik kursinya ke dekat tempat tidur, lalu mencondongkan tubuh ke muka.
        Dengan nada rendah ia berkata, “Tadi kau menyebut bahwa kau membutuhkan kedua tanganmu untuk menghadapi orang-orang Mongol. Kau mengatakannya dengan begitu mantap. Bolehkah aku tahu, apa yang membuatmu begitu nekat menghadapi mereka?”
        Shu menatap mata Lu dan melihat sesuatu yang lebih kuat daripada penampilannya yang berkesan rapuh itu. Ia memutuskan untuk mempercayainya. “Aku sedang menuju Phoenix. Tempat asal ayahku. Dua pertiga penduduk kota itu bermarga Shu, seperti aku. Seperti Anda ketahui, sebagai orang Cina kita selalu mempercayai mereka yang bermarga sama seperti kita sendiri, meskipun orang itu tidak kita kenal sama sekali. Aku yakin dapat mengumpulkan cukup banyak pengikut untuk membentuk sekelompok pejuang.”
        Shu mengungkapkan rasa frustrasi serta ketidaksabarannya pada Lu. Sudah lama ia ingin menghadapi orang-orang Mongol itu. Tapi sejauh ini ia belum berhasil mencapai apa-apa.
        Setelah Shu selesai berbicara, Lu berkata, “Kau perlu istirahat agar dapat pulih. Baru sesudah itu kau dapat membentuk kelompok pejuangmu. Begitu kau siap, kabari aku.”
        Lu lalu mengungkapkan usaha penyelamatan yang dilakukannya di sawah yang sudah ditinggalkan itu. Shu mendengarkan dengan baik. Selain amat berterima kasih, ia juga menganggap Lu laki-laki yang amat menarik.
        Sebaliknya Lu, tak hanya mengagumi keberanian Shu, tapi juga tertegun mendengar kisah hidupnya.
        Mereka masih berbincang-bincang saat Lotus kembali muncul bersama Jasmine siang itu. Sudah waktunya makan siang. Lu meminta makanannya dibawa ke kamar Shu, agar mereka dapat terus melanjutkan pembicaraan.
        Sementara menolong Lotus menuju ruang makan, Jasmine bergumam, “Yin dan Yang adalah dua kekuatan yang berlawanan, tapi memiliki daya tarik yang amat kuat satu terhadap yang lain.”
        Lotus mengangguk. “Junjungan kita melihat sesuatu yang tidak dimiliki teman-temannya dari kalangan atas di dalam diri Shu. Dan Shu melihat sebuah dunia yang sebelumnya tak pernah terbayangkannya di dalam diri junjungan kita. Mereka berbeda bak siang dan malam. Tapi siang selalu bergulir menuju malam, dan malam beralih ke pagi. Keduanya membentuk siklus yang utuh; junjungan kita dan Shu akan menjadi pasangan yang saling mengisi.”
        Di ruang makan, Lotus menunggu sampai ia dan kedua mertuanya tinggal bertiga. Baru kemudian ia mengungkapkan kepada mereka mengenai petani yang terluka itu. Wali Kota Lu mengangguk-angguk lemah, sambil memberikan restunya. “Katakan pada Lu, aku bangga dia berani menyelamatkan orang ini. Katakan padanya, teman petaninya itu boleh tinggal di rumah kita selama dia mau.”
        Dua bulan kemudian, Shu diperkenaikan kepada para anggota Liga Rahasia. Tidak seperti Lu, mereka tidak menganggapnya mengesankan, demikian.pula sebaliknya. Para anggota Liga Rahasia itu sama sekali tidak berusaha melihat apa yang terdapat di balik penampilannya yang kasar itu. Saat Shu meludah ke karpet, mereka mengerutkan dahi. Saat ia membersihkan hidung pada lengan bajunya, mereka menyeringai.
        Di pihak lain, Shu sudah jemu di awal pertemuan itu. Bahkan sekeping mata uang tembaga saja tidak dimilikinya untuk disumbangkan pada liga itu. Saat mereka mulai merangkai puisi, ia mengumpat melihat wajah-wajah tertegun mereka ketika ia mengungkapkan bahwa menulis namanya saja ia tak bisa. Mengingat ia tak dapat membaca, ia tak dapat membantu proses mencetak surat selebaran yang akan disisipkan ke kotak-kotak berisi kue-kue manis untuk menghadapi Perayaan Bulan yang akan datang.
        “Kau dapat membantu mengangkuti kotak-kotak itu,” ujar salah satu orang kaya dengan kasar. “Bahkan dengan satu lengan, kau dapat mengangkat lebih banyak daripada pelayan mana pun dalam rumah keluarga Lu ini. Orang-orang Mongol itu melarang kita memiliki kuda atau keledai sendiri. Tapi mereka tak dapat melarang kita memiliki orang seperti kau.”
        “Sebaiknya kau bekerja dengan giat, sobat,” ujar salah satu di antara para cendekiawan miskin dengan ketus, sambil melirik ke arah pakaian baru Shu yang dibelikan oleh Lu. “Kau baru menemukan sebuah mangkuk nasi emas bagi dirimu. Ingatlah untuk selalu membungkuk dengan rendah hati di hadapan majikanmu, dan kau takkan pernah kelaparan lagi.”
        “Aku bukan keledai! Dan Lu bukan majikanku!” sahut Shu sambil mengertakkan gigi.
        Para anggota Liga Rahasia itu berhenti bekerja dan menatap ke arahnya. Shu mengamati ekspresi wajah mereka, namun tak ada satu pun yang tampak simpatik. Ia segera angkat kaki dari ruangan itu.
        Lu segera menyusulnya, sambil memohon maaf sepanjang perjalanan menuju kamar yang ditempatinya. “Seandainya aku tahu mereka akan bersikap seperti itu, aku takkan pernah memperkenalkan mereka padamu. Aku menyesal sekali. Maafkanlah mereka demi aku.”
        Lu berhenti melangkah untuk berpikir, kemudian berkata dengan nada tak mengerti, “Apa yang membuat mereka bersikap seperti itu? Aku belum pernah melihat mereka bersikap begitu angkuh. Kukira mereka akan senang menerimamu sebagai anggota Liga Rahasia, mengingat kita punya tujuan yang sama.”
        Sikap Lu yang naif meredakan amarah Shu. Ia mulai tertawa. “Tidakkah aku beruntung karena aku miskin? Dengan kekayaan dan statusmu, kau takkan pernah dapat melihat sifat asli orang sebagaimana yang kulihat.”
        Shu berdiri tegak, lalu meletakkan tangan kanannya yang besar di atas pundak Lu. “Jangan khawatir, Lu. Kau akan selalu kuanggap temanku. Kau tidak seperti orang-orang dungu itu.” Sorot mata di bawah alisnya yang tebal mengingatkan Lu pada harimau yang terluka. “Kelak aku akan membuat mereka menyesal karena pernah menghinaku.”
        Nadanya yang dingin membuat Lu merinding.
        Namun ia lega Shu tidak marah padanya. “Sobatku,” ujarnya membujuk, “jangan pergi gara-gara ulah mereka.”
        Shu mengangguk. “Aku akan tinggal sampai lenganku pulih - andai kata kau mau mengajariku membaca dan menulis.” Ia melihat ekspresi tak percaya di mata Lu; lalu melanjutkan, “Pedang Dahsyat telah melukai tubuhku, sementara teman-temanmu yang terpelajar itu telah melukai harga diriku. Bagiku mereka sama-sama musuhku. Aku ingin sebanding dengan musuh-musuhku dalam segala bidang.”
        Melihat Lu masih tertegun, ia meneruskan, “Aku ingin menjadi pemanah ulung suatu hari nanti. Begitu lain kali bertemu dengan Pedang Dahsyat, akulah yang akan menjadi pemburunya dan dia buruanku. Aku juga ingin memahami seni puisi. Begitu aku berhadapan dengan teman-teman terpelajarmu itu kelak, mereka takkan menertawakanku lagi.”
        Hati Lu amat tersentuh mendengar tekad yang diucapkan sobatnya itu. Ia meraih tangan Shu yang besar dan menggenggamnya kuat-kuat. “Aku akan mengajarimu membaca dan menulis. Dan aku tahu persis di mana kau dapat melatih keterampilan memanahmu tanpa diketahui orang-orang Mongol.”

Lu mengendarai tandunya, sementara Shu melangkah di sampingnya. Sementara mereka mendaki semakin tinggi ke gunung, Lu berkata, “Ada dua kuil tersembunyi di balik hutan Gunung Emas Ungu, dan keduanya cukup jauh dari rumah kediaman Gubernur. Yang ditempati para penganut Buddha adalah Kuil Bintang-bintang Damai. Kita akan menuju Kuil Gaung Sunyi, tempat para penganut aliran Taois. Aku yakin pemimpinnya, Iman Teguh, akan memberimu izin untuk melatih keterampilan memanahmu di kawasan kuilnya.”
        Pohon-pohon yangliu tua bejejer di sepanjang jalan masuk ke kuil itu, bak penjaga gerbang. Begitu melihat tandu Lu muncul, para biksu Tao yang masih belia segera mengirimkan tanda dari atas dahan-dahan tinggi. Mereka langsung mengenali simbol keluarga Lu yang tersulam di penutup tandu yang dinaikinya, lalu mengawasi laki-laki bertubuh besar yang berjalan di sampingnya. Para biksu yang lebih tua segera diberitahu untuk bersiap-siap. Begitu Lu dan Shu sampai, mereka mendapati Iman Teguh sudah menanti dengan teh panas dan penganan-penganan manis.
        Biksu itu memiliki rambut serta janggut yang panjang dan putih. Saat ia menatap Shu, si petani merasa seakan ia dapat membaca setiap rahasia yang tersirat di dadanya.
        “Memanah? Itu beberapa tingkat di bawah seni silat. Itu hanya cocok untuk orang-orang barbar.” Biksu tua itu menggeleng-gelengkan kepala ke arah Shu. “Akan kuperlihatkan padamu apa yang dikuasai biksu-biksu kami. Tapi andai kata setelah melihat mereka beraksi kau masih tetap ingin berlatih dengan busur dan anak panah, kau boleh menggunakan kawasan gunung di balik kuil ini.”
        Pohon-pohon mengelilingi kawasan kuil itu, bak tirai tebal yang menyelubungi serta menyerap semua suara. Para biksu itu melatih keterampilan memainkan pedang serta tombak mereka di lapangan terbuka. Suara pekikan yang keluar dari mulut para pesilat serta dencing keras yang ditimbulkan senjata mereka yang saling beradu tidak menembus kerimbunan kehijauan yang tebal itu.
        “Karena itulah mereka menamakan tempat ini Gaung Sunyi,” ujar Lu kepada Shu. “Ini satu-satunya gunung yang aku tahu, tempat suara tak bisa menggema ke mana-mana.”
        Ia menambahkan bahwa pedang dan tombak-tombak itu dibuat sendiri oleh para biksu, dan begitu melihat ada orang asing memasuki kawasan itu dari menara pengawasan mereka, semua senjata segera disembunyikan. Namun Shu hanya mendengarkan sambil lalu, karena begitu terpesona pada peragaan di hadapannya.
        Lebih dari seratus biksu yang mengenakan sepatu lembut, celana hitam ketat, dan baju berlengan panjang terbagi dalam dua kelompok. Yang satu sedang latihan pedang, yang lain tombak panjang.
        Mata pedang yang mereka gunakan selebar telapak tangan laki-laki dewasa dan lebih panjang dari lengannya. Sedangkan panjang tombak mereka sekitar dua meter. Para biksu itu telah membebatkan sepotong kain merah selebar setengah meter pada gagang pedang mereka, dan sepotong jumbai hijau sepanjang tiga puluh senti pada setiap bagian bawah mata tombak.
        Mula-mula kedua kelompok itu berlatih secara terpisah. Pedang-pedang diayunkan demikian cepat, hingga setiap biksu tampak hanya sebagai inti suatu kilauan keperakan dan kemerahan. Tombak-tombak panjang tampak bagai kilatan petir yang dihiasi cahaya hijau.
        Kedua kelompok itu kemudian bergabung, pedang lawan tombak. Setiap lingkar kilau keperakan dan kemerahan berusaha menembus tirai kilatan petir berujung kehijauan. Suara denting keras terdengar saat para pemain tombak menangkis serbuan para pemain pedang. Kemudian kedua kelompok itu bertukar tempat. Saat kilauan petir berusaha menyengat salah seorang biksu yang memainkan pedang, tebasan cepat dalam gerak memutar menjaganya agar tetap berada di luar jangkauan serangan itu.
        “Ambilkan busur dan beberapa anak panah untukku,” ujar Iman Teguh pada seorang biksu muda, ketika para pesilat itu berhenti sebentar untuk beristirahat.
        Shu belum betul-betul pulih dari rasa tertegunnya setelah menyaksikan permainan pedang dan tombak ketika Iman Teguh mulai membentangkan tali busurnya yang besar. Orang tua itu bahkan sama sekali tidak berusaha menggulung lengan jubahnya yang panjang lebih dulu. Dengan santai ia melepaskan anak panah demi anak panah ke arah kerumunan pesilat itu. Para biksu itu tidak bergeming, sampai anak-anak panah itu tinggal beberapa senti dari mereka. Kemudian barulah mereka mengayunkan pedang serta tombak-tombak untuk menangkis anak-anak panah itu.
        Shu berdiri terpana. Iman Teguh melontarkan busur beserta anak panahnya ke samping, kemudian tersenyum ke arah petani bertubuh raksasa itu. “Para biksu kedua kuil di daerah ini juga lihai dalam teknik bela diri dengan tangan kosong. Mereka sudah memperagakan kemampuan mereka di hadapan para tamu Wali Kota beberapa waktu yang lalu. Mereka dapat menangkap anak-anak panah yang beterbangan dengan tangan kosong. Kau masih berminat berlatih memanah?”
        Shu tidak pernah ber-kowtow pada siapa pun. Ketika kedua orangtuanya masih hidup, mereka mengalami kesulitan menyuruhnya berlutut di muka patung-patung Buddha atau plakat leluhur keluarga Shu. Namun kali ini Shu segera menjatuhkan diri berlutut secara spontan, lalu ber-kowtow tiga kali di hadapan Iman Teguh.
        “Shih-fu yang kuhormati,” ujarnya saat kepalanya menyentuh ujung kaki si biksu tua. “Aku ingin mempelajari ketiga-tiganya, teknik kungfu dengan tangan kosong, pedang, dan tombak panjang. Aku takkan meninggalkan kota Yin-tin sebelum menguasai semuanya.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...