Mr.
Mayheme tidak membuang-buang waktu lagi. Ia bisa menemukan bioskop di Lion Road
itu dengan cukup mudah. Ketika ia menunjukkan foto Romaine Heilger, petugas bioskop
seketika mengenalinya. Wanita itu tiba di bioskop bersama seorang pria sekitar
jam sepuluh lewat. Si petugas tidak terlalu memperhatikan pria itu, tapi ia
ingat wanita yang bicara padanya tentang film yang sedang dipertunjukkan waktu
itu. Mereka tinggal sampai film selesai, sekitar satu jam kemudian.
Mr. Mayheme merasa puas. Kesaksian Romaine
Heilger temyata bohong belaka dari awal sampai akhir. Ia mereka-reka semuanya untuk
melampiaskan kebenciannya sendiri yang membara. Mr. Mayheme bertanya-tanya,
apakah ia kelak akan tahu, apa yang menyebabkan kebencian itu. Apa yang telah
dilakukan Leonard Vole pada wanita itu? Leonard Vole tampaknya sangat
terperangah ketika Mr. Mayheme melaporkan sikap Romaine terhadapnya. Ia
mengatakan dengan emosional bahwa hal itu benar-benar tidak masuk akal - namun
Mr. Mayheme merasa bahwa setelah keterkejutannya yang mula-mula itu,
protes-protesnya yang menyusul kemudian sepertinya kurang meyakinkan.
Dia pasti tahu. Mr. Mayheme yakin sekali.
Leonard Vole tahu, tapi tidak mau mengungkapkan faktanya. Rahasia itu tetap
akan tinggal rahasia di antara mereka berdua. Mr. Mayheme bertanya-tanya, apakah
suatu hari nanti ia akan tahu Mr. Mayheme melihat arlojinya. Sudah malam, tapi
waktu sangat penting. Ia memanggil taksi dan menyebutkan sebuah alamat.
“Sir Charles harus segera diberitahu
tentang ini,” gumamnya pada diri sendiri, sambil masuk ke dalam taksi.
Pengadilan atas diri Leonard Vole
sehubungan dengan kasus pembunuhan Emily French membangkitkan minat banyak
orang.
Pertama-tama, sang tertuduh masih muda dan
tampan; kedua, ia dituduh melakukan tindak kejahatan yang paling berat, dan
ketiga, tampilnya sosok Romaine Heilger, saksi utama dalam kasus tersebut.
Foto-fotonya banyak dimuat di surat-surat kabar, berikut beberapa cerita fiktif
mengenai sejarah dan asal-usulnya. Pengadilan dibuka dalam keadaan cukup
tenang. Berbagai bukti teknis ditampilkan sebagai pembuka. Kemudian Janet
Mackenzie dipanggil. Ia menyampaikan kisah yang sama seperti sebelumnya.
Saat pemeriksaan sidang, pihak pembela
berhasil membuat wanita itu mengkontradiksikan kesaksiannya sendiri satu-dua
kali mengenai penuturannya tentang hubungan Vole dengan Miss French.
Pembela menekankan fakta bahwa walaupun
Janet mendengar suara laki-laki di ruang tamu pada malam itu, tak ada bukti
untuk menunjukkan bahwa Vole-lah yang berada di sana, dan pembela berhasil
menanamkan kesan bahwa rasa cemburu dan tak suka pada tertuduhlah yang banyak
mendasari kesaksian Janet Mackenzie.
Kemudian saksi berikutnya dipanggil. “Nama
Anda Romaine Heilger?”
“Ya.”
“Anda berkebangsaan Austria?”
“Ya.”
“Selama tiga tahun terakhir ini, Anda tinggal
bersama tertuduh dan menyebut diri Anda istrinya?”
Sesaat mata Romaine Heilger bertemu
pandang dengan mata laki-laki di kursi tertuduh itu. Ekspresinya aneh dan tak
dapat ditebak.
“Ya.”
Masih ada pertanyaan-pertanyaan lain. Kata
demi kata fakta-fakta yang memberatkan itu keluar. Pada malam terjadinya peristiwa
pembunuhan tersebut, tertuduh membawa batangan besi itu bersamanya. Ia pulang
ke rumah pada jam sepuluh lewat dua puluh, dan mengakui telah membunuh wanita
tua itu. Mansetnya ternoda darah, dan ia membakarnya di tungku dapur. Ia mengancam
Romaine agar menutup mulut.
Sementara cerita itu berlanjut, perasaan
orang-orang di persidangan yang semula agak bersimpati pada tertuduh, sekarang sama
sekali merasa antipati terhadapnya. Sang tertuduh sendiri duduk dengan kepala
tertunduk dan sikap murung, seakan-akan sudah tahu bahwa nasibnya telah
ditentukan.
Namun patut diperhatikan juga bahwa
pengacara Romaine berusaha menahan perasaan benci wanita itu. Ia lebih suka Romaine
menjadi saksi yang lebih tidak berpihak.
Dengan berwibawa dan bersungguh-sungguh
pembela tertuduh bangkit berdiri.
Ia menyatakan pada saksi bahwa ceritanya
hanyalah isapan jempol belaka, mulai dari awal sampai akhir, bahwa saksi bahkan
tidak berada di rumahnya sendiri pada waktu yang telah disebutkannya itu, bahwa
ia sedang jatuh cinta pada laki-laki lain dan dengan sengaja berusaha membuat
Vole dihukum mati atas kejahatan yang tidak dilakukannya.
Romaine menyangkal segala tuduhan tersebut
dengan sengit.
Kemudian tibalah saat puncak yang
mengejutkan itu, ketika surat tersebut ditampilkan. Surat itu dibaca
keras-keras di hadapan semua yang hadir, dalam suasana hening mendebarkan:
Max
tercinta. Nasib telah membawanya ke tangan kita! Dia telah ditangkap karena
pembunuhan - ya, pembunuhan terhadap seorang wanita tua! Leonard, yang
kelihatannya tak sampai hati menyakiti seekor lalat pun! Ahirnya aku bisa
membalaskan dendamku. Makhluk malang! Akan kukatakan bahwa malam itu dia pulang
dengan noda darah di tubuhnya - bahwa dia telah mengaku padaku.
Aku akan membuatnya digantung, Max - dan saat digantung, dia akan
tahu dan menyadari bahwa Romainelah yang telah mengirimnya ke tiang gantungan
itu. Setelah itu... kehahagiaan untuk kita, Sayang! Kebahagiaan pada akhirnya!
Dalam
persidangan tersebut hadir beberapa orang ahli yang siap memberikan sumpah
mereka bahwa tulisan tangan di surat itu memang tulisan tangan Romaine Heilger,
tapi itu tidak perlu.
Setelah dikonfrontasikan dengan surat
tersebut, Romaine langsung bertekuk lutut dan mengakui segalanya. Leonard Vole
memang pulang ke rumah pada jam yang telah disebutkannya, jam sembilan lewat
dua puluh. Romaine mengaku bahwa ia sengaja mereka-reka cerita untuk
menghancurkan pria itu.
Dengan pengakuan Romaine Heilger,
runtuhlah kasus tersebut.
Sir Charles memanggil beberapa orang
saksinya, sang tertuduh sendiri maju ke depan sidang dan menceritakan kisahnya
dengan sikap terus terang dan tegas, tak tergoyahkan oleh pemeriksaan sidang. Pihak
penuntut berusaha mematahkan perlawanan, tapi tidak terlalu berhasil.
Kesimpulan dari Hakim tidak sepenuhnya menguntungkan bagi tertuduh, tapi sudah
telanjur timbul reaksi, dan juri tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat keputusan.
“Kami mendapati tertuduh tidak bersalah.”
Leonard Vole bebas!
Mr. Mayheme yang bertubuh kecil bergegas
bangkit dari duduknya. Ia mesti memberikan selamat pada kliennya. Tanpa sadar
ia menyeka pince-nez-nya dengan penuh semangat, tapi kemudian menghentikannya.
Baru semalam sebelumnya istrinya mengatakan bahwa membersihkan pince-nez itu
sudah mulai menjadi kebiasaannya. Memang aneh, yang namanya kebiasaan itu.
Orang-orang yang melakukannya tak pernah menyadarinya. Kasus yang menarik - kasus
yang sangat menarik.
Wanita itu, Romaine Heilger. Bagi Mr.
Mayheme, kasus tersebut masih juga didominasi oleh sosok eksotis Romaine
Heilger. Di rumahnya di Paddington, wanita itu tampaknya hanyalah seorang wanita
pendiam yang pucat, tapi di pengadilan ia tampil begitu berapi-api menghadapi
latar belakang yang begitu kaku dan serius.
Ia telah menampilkan dirinya dengan
berani, bagaikan setangkai bunga tropis.
Kalau Mr. Mayherne memejamkan mata, ia
bisa membayangkan wanita itu, sosoknya yang jangkung dan berapi-api, tubuhnya
yang indah agak membungkuk, tangan kanannya mengepal dan membuka tanpa sadar,
sepanjang waktu. Aneh sekali, yang namanya kebiasaan.
Gerakan tangan Romaine Heilger itu rasanya
juga sebuah kebiasaan. Tapi Mr. Mayheme merasa pernah melihat seseorang yang
juga punya kebiasaan itu belum lama ini. Siapa kira-kira? Belum lama ini... Ia
tercekat saat teringat. Wanita tua di Shaw’s Rents itu... Ia berdiri tertegun,
benaknya berkecamuk. Tak mungkin... tak mungkin... Tapi Romaine Heilger seorang
aktris.
Sang KC muncul di belakangnya dan menepuk
bahunya. “Sudah memberi selamat pada orang kita? Dia hampir saja celaka. Ayo
kita menemuinya.”
Tapi Mr. Mayheme mengibaskan tangan orang
itu. Hanya satu hal yang diinginkannya saat itu, menemui Romaine Heilger secara
langsung.
Baru beberapa waktu kemudian ia berhasil
menemui wanita itu. Tidak penting di mana mereka bertemu.
“Jadi, Anda bisa menduga,” kata Romaine,
setelah Mr. Mayheme menceritakan segala yang dipikirkannya. “Soal wajah itu?
Oh, itu mudah saja, dan cahaya dari lampu gas itu juga terialu buram, sehingga
Anda tidak melihat rias wajah yang saya kenakan.”
“Tapi kenapa... kenapa ... ?”
“Kenapa saya turun tangan seorang diri?”
Romaine tersenyum sedikit, teringat saat terakhir kali ia mengucapkan kata-kata
tersebut.
“'Suatu komedi yang sangat rumit.”
“Sahabatku… saya harus menyelamatkannya.
Kesaksian dari wanita yang memujanya tidak akan cukup. Anda sendiri mengatakan
demikian. Tapi saya tahu sedikit tentang psikologi manusia. Kalau kesaksian itu
dituntut dari saya sebagai suatu pengakuan, hingga membuat saya tercela di mata
hukum, maka dengan segera orang-orang akan memberikan reaksi positif bagi si
tertuduh.”
“Dan bundel surat-surat itu?”
“Kalau cuma satu yang digunakan surat yang
paling penting, kelihatannya akan seperti apa sebutannya, ya? Sengaja
dibuat-buat.”
“Dan laki-laki bernama Max itu?”
“Dia tak pernah ada, Sahabatku.”
“Saya masih tetap berpendapat kita bisa
membebaskan dia dengan... eh... prosedur yang normal,” kata Mr. Mayheme dengan sikap
kecewa.
“Saya tidak berani mengambil risiko itu.
Masalahnya, Anda mengira dia tidak bersalah....”
“Dan Anda tahu pasti dia tidak bersalah?
Begitu rupanya,” kata Mr. Mayheme.
“Mr. Mayheme yang baik,” kata Romaine “Anda
sama sekali tidak mengerti. Saya tahu pasti... dia bersalah!”
