Agatha Christie - Anjing Kematian #33



Satu-satunya titik terang adalah keponakan Miss French yang punya reputasi buruk, dan di masa lalu suka memaksa meminta uang dari bibinya. Mr. Mayheme mendapat tahu bahwa Janet Mackenzie sejak dulu menyukai anak muda itu, dan tak pernah berhenti menyampaikan permintaan-permintaannya pada nyonyanya. Kemungkinan besar keponakan inilah yang berbicara dengan Miss French setelah Leonard Vole pulang, apalagi keponakan ini tak bisa ditemukan di tempat-tempat yang biasa dikunjunginya.

      Segala penyelidikan Mr. Mayheme di tempat tempat lain tidak membuahkan hasil. Tak seorang pun melihat Leonard Vole masuk ke rumahnya sendiri, atau meninggalkan rumah Miss French. Tak seorang pun melihat ada laki-laki lain memasuki atau meninggalkan rumah di Cricklewood itu. Segala pertanyaan hasilnya nihil.

Semalam menjelang pengadilan keesokan harinya, Mr. Mayheme menerima surat yang akhirnya mengarahkan pikirannya ke jalur yang sama sekali baru. Surat itu datang dengan pos pukul enam. Tulisannya jelek sekali, ditulis di selembar kertas biasa, dan dimasukkan di sebuah amplop kotor dengan prangko yang ditempel miring.
      Mr. Mayheme membacanya dengan saksama sekali dua kali, sebelum berhasil memahami isinya.
     
      Tuan yang baik:
        Anda pengacara anak muda itu. Kalau Anda ingin perempuan asing norak itu terbuka kedoknya datanglah ke Shaw’s Rents Stepney 16 malam ini. Tarifnya 2 ratus pound. Minta ketemu Miss Mogson.

      Mr. Mayheme membaca dan membaca kembali isi surat yang aneh itu. Mungkin saja surat ini tipuan belaka, tapi setelah ditimbang-timbang kembali, ia jadi semakin yakin bahwa surat itu isinya tidak bohong. Ia juga yakin bahwa itulah satu-satunya harapan untuk sang tertuduh. Kesaksian Romaine Heilger benar-benar mencelakakannya, dan argumentasi pembelaan yang akan digunakan - bahwa kesaksian seorang wanita yang terang-terangan telah menjalani kehidupan yang amoral tidaklah bisa dipercaya - adalah argumentasi yang lemah.
      Mr. Mayheme membulatkan tekad. Sudah merupakan tugasnya untuk menyelamatkan kliennya dengan cara apa pun. Ia mesti pergi ke Shaw's Rents.
      Ia agak kesulitan menemukan tempat itu - sebuah bangunan bobrok di wilayah kumuh yang berbau memuakkan - tapi akhirnya ia menemukannya juga. Ia minta bertemu dengan Mrs. Mogson, dan disuruh naik ke sebuah ruangan di lantai tiga. Ia mengetuk pintu, tapi tidak ada yang membukakan. Maka ia mengetuk lagi.
      Pada ketukan kedua, ia mendengar suara terseret-seret di dalam lalu pintu dibuka sedikit sekali dengan hati-hati, dan sebuah sosok bungkuk mengintip ke luar. Sekonyong-konyong wanita itu – sosok itu teryata wanita - mendecak dan membuka pintu lebih lebar.
      “Anda rupanya,” katanya dengan suara serak.
      “Tidak ada yang ikut dengan Anda, kan? Tidak ada tipuan, kan? Baguslah. Anda boleh masuk - silakan.”
      Dengan agak enggan. Mr. Mayheme melangkah masuk ke dalam ruangan kecil yang kotor itu, yang diterangi lampu gas yang berkedip-kedip. Ada sebuah tempat tidur yang tidak rapi dan belum dibereskan di sudut, sebuah meja biasa, dan dua kursi reyot. Untuk pertama kalinya Mr. Mayheme bisa melihat seutuhnya sosok penghuni apartemen kumuh ini.
      Wanita itu berumur setengah baya, bungkuk, dengan rambut kelabu yang kusut dan syal yang dililitkan rapat di seputar wajahnya.
      Ia melihat Mr. Mayheme memandanginya dan tertawa lagi, decak aneh tanpa nada, seperti sebelumnya.
      “Heran kenapa aku menyembunyikan kecantikanku, ya? He he he. Takut Anda jadi tergiur, eh? Tapi Anda akan melihatnya... Anda akan melihatnya.”
      Ia menyibakkan syalnya, dan Mr. Mayheme seketika mundur dengan kaget begitu melihat bekas tak berbentuk berwarna merah di wajah itu. Si wanita memakai kembali syalnya.
      “Jadi, Anda tidak mau menciumku rupanya? He he he. Tidak heran. Tapi dulu aku gadis yang cantik, belum terlalu lama sebenarnya. Vitriol, Sayang, Vitriol - itulah penyebabnya. Ah! Tapi akan kubalas mereka...”
      Mendadak ia menyemburkan serangkaian makian yang sangat kasar. Mr. Mayheme berusaha menghentikannya, tapi sia-sia. Namun akhirnya wanita itu berhenti juga, kedua tangannya membuka dan mengepal dengan gugup.
      “Cukup sudah,” kata Mr. Mayheme dengan tegas. “Saya datang kemari karena saya yakin Anda bisa memberikan informasi untuk membantu membebaskan klien saya, Leonard Vole. Benarkah begitu?”
      Wanita itu memandanginya dengan tatapan licik.
      “Bagaimana dengan uangnya, Sayang?” tanyanya serak. “Dua ratus pound, ingat.”
      “Sudah kewajiban Anda untuk memberikan kesaksian, dan Anda bisa dipanggil untuk melakukannya.”
      “Tidak bisa, Sayang. Aku ini cuma seorang wanita tua dan aku tidak tahu apa-apa. Tapi kalau Anda memberiku dua ratus pound, barangkali aku bisa memberikan satu-dua petunjuk. Mengerti?”
      “Petunjuk macam apa?”
      “Bagaimana kalau petunjuknya berupa sepucuk surat? Surat dari perempuan itu. Tidak usah tanya bagaimana surat itu bisa ada di tanganku. Itu urusanku. Surat itu bisa sangat bermanfaat. Tapi aku minta dua ratus pound dulu.”
      Mr. Mayheme menatapnya dengan dingin, lalu mengambil keputusan.
      “Saya akan memberi Anda sepuluh pound. Tidak lebih. Itu kalau surat ini memang seperti yang Anda katakan.”
      “Sepuluh pound?” wanita itu menjerit dan memaki-maki.
      “Dua puluh,” kata Mr. Mayheme, “itu tawaran terakhir saya.”
      Ia bangkit berdiri, pura-pura hendak pergi. Lalu sambil mengawasi wanita itu dengan saksama, ia mengeluarkan dompetnya dan menghitung lembar-lembar dua puluh satu pound.
      “Lihat,” katanya. “Hanya ini yang saya miliki. Terima atau tidak?”
      Tapi ia sudah tahu bahwa wanita itu sudah hijau saat melihat uang tersebut. Ia menyumpah-nyumpah dan memaki-maki marah, tapi akhimya menyerah. Ia beranjak ke tempat tidurnya, dan mengambil sesuatu dari bawah kasur yang compang-camping.
      “Ini, sialan!” geramnya. “Surat paling atas.”
      Ia melemparkan sebundel surat. Mr. Mayheme membuka ikatan surat-surat itu dan memeriksanya sekilas dengan sikap tenang dan teratur, seperti biasa. Wanita itu mengawasinya dengan penuh perhatian, namun tidak mendapatkan kesan apa pun dari wajahnya yang tanpa ekspresi.
      Mr. Mayheme membaca setiap pucuk surat, kemudian kembali ke surat paling atas, dan membacanya kembali untuk kedua kalinya. Setelah itu ia mengikat keseluruhan surat-surat itu lagi dengan hati-hati.
      Semua itu adalah surat-surat cinta, ditulis oleh Romaine Heilger, dan ditujukan pada seorang pria yang bukan Leonard Vole. Surat paling atas bertanggal hari ketika Leonard Vole ditangkap.
      “Aku bicara benar, kan. Sayang?” kata wanita itu. “Surat itu bisa menghabisi perempuan itu kan?”
      Mr. Mayheme memasukkan surat-surat itu ke sakunya, kemudian mengajukan satu pertanyaan. “Bagaimana surat-surat ini bisa berada di tangan Anda?”
      “Itu namanya buka rahasia,” sahut wanita itu dengan tatapan licik. “Tapi aku tahu satu hal lagi. Aku mendengar apa yang dikatakan perempuan itu di pengadilan. Coba cari tahu, di mana dia berada pada jam sepuluh lewat dua puluh, saat dia mengaku berada di rumah. Tanyakan di Lion Road Cinema. Mereka pasti ingat perempuan cantik dan mencolok seperti itu - sialan dia!”
      “Siapa laki-laki itu?” tanya Mr. Mayheme. "Di surat cuma ada nama depannya.”
      Suara wanita itu menjadi berat dan serak ketika menjawab, kedua tangannya mengepal dan membuka. Akhirnya ia mengangkat satu tangan ke wajahnya.
      “Laki-laki itulah yang melakukan ini padaku. Sudah bertahun-tahun yang lalu. Perempuan itu merebutnya dariku - waktu itu dia masih muda. Dan ketika aku mengejar laki-laki itu – mencarinya - dia melemparkan cairan terkutuk itu padaku! Dan perempuan itu tertawa - terkutuklah dia! Sudah bertahun-tahun aku ingin membalas perbuatannya. Aku mengikutinya, memata-matainya. Dan sekarang aku berhasil mendapatkannya! Dia akan menderita karena ini, bukan begitu. Mr. Pengacara? Dia bakal menderita?”
      “Mungkin dia akan dikenai hukuman penjara beberapa lama karena bersumpah paisu,” sahut Mr. Mayheme pelan.
      “Dipenjara selamanya - itu yang kuinginkan. Anda mau pergi, kan? Mana uangku? Mana uang itu?”
      Tanpa berbicara sepatah pun Mr. Mayheme menaruh lembar-lembar uang itu di meja. Kemudian, setelah menarik napas panjang, ia berbalik dan meninggalkan ruangan pengap itu. Ketika menoleh ia melihat wanita tua itu tengah memandangi uangnya dengan senang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...