Satu-satunya
titik terang adalah keponakan Miss French yang punya reputasi buruk, dan di
masa lalu suka memaksa meminta uang dari bibinya. Mr. Mayheme mendapat tahu
bahwa Janet Mackenzie sejak dulu menyukai anak muda itu, dan tak pernah berhenti
menyampaikan permintaan-permintaannya pada nyonyanya. Kemungkinan besar
keponakan inilah yang berbicara dengan Miss French setelah Leonard Vole pulang,
apalagi keponakan ini tak bisa ditemukan di tempat-tempat yang biasa dikunjunginya.
Segala penyelidikan Mr. Mayheme di tempat
tempat lain tidak membuahkan hasil. Tak seorang pun melihat Leonard Vole masuk
ke rumahnya sendiri, atau meninggalkan rumah Miss French. Tak seorang pun
melihat ada laki-laki lain memasuki atau meninggalkan rumah di Cricklewood itu.
Segala pertanyaan hasilnya nihil.
Semalam
menjelang pengadilan keesokan harinya, Mr. Mayheme menerima surat yang akhirnya
mengarahkan pikirannya ke jalur yang sama sekali baru. Surat itu datang dengan
pos pukul enam. Tulisannya jelek sekali, ditulis di selembar kertas biasa, dan dimasukkan
di sebuah amplop kotor dengan prangko yang ditempel miring.
Mr. Mayheme membacanya dengan saksama
sekali dua kali, sebelum berhasil memahami isinya.
Tuan
yang baik:
Anda pengacara anak muda itu. Kalau Anda ingin perempuan asing
norak itu terbuka kedoknya datanglah ke Shaw’s Rents Stepney 16 malam ini.
Tarifnya 2 ratus pound. Minta ketemu Miss Mogson.
Mr. Mayheme membaca dan membaca kembali
isi surat yang aneh itu. Mungkin saja surat ini tipuan belaka, tapi setelah ditimbang-timbang
kembali, ia jadi semakin yakin bahwa surat itu isinya tidak bohong. Ia juga
yakin bahwa itulah satu-satunya harapan untuk sang tertuduh. Kesaksian Romaine
Heilger benar-benar mencelakakannya, dan argumentasi pembelaan yang akan digunakan
- bahwa kesaksian seorang wanita yang terang-terangan telah menjalani kehidupan
yang amoral tidaklah bisa dipercaya - adalah argumentasi yang lemah.
Mr. Mayheme membulatkan tekad. Sudah
merupakan tugasnya untuk menyelamatkan kliennya dengan cara apa pun. Ia mesti
pergi ke Shaw's Rents.
Ia agak kesulitan menemukan tempat itu -
sebuah bangunan bobrok di wilayah kumuh yang berbau memuakkan - tapi akhirnya
ia menemukannya juga. Ia minta bertemu dengan Mrs. Mogson, dan disuruh naik ke
sebuah ruangan di lantai tiga. Ia mengetuk pintu, tapi tidak ada yang
membukakan. Maka ia mengetuk lagi.
Pada ketukan kedua, ia mendengar suara
terseret-seret di dalam lalu pintu dibuka sedikit sekali dengan hati-hati, dan
sebuah sosok bungkuk mengintip ke luar. Sekonyong-konyong wanita itu – sosok
itu teryata wanita - mendecak dan membuka pintu lebih lebar.
“Anda rupanya,” katanya dengan suara
serak.
“Tidak ada yang ikut dengan Anda, kan?
Tidak ada tipuan, kan? Baguslah. Anda boleh masuk - silakan.”
Dengan agak enggan. Mr. Mayheme melangkah
masuk ke dalam ruangan kecil yang kotor itu, yang diterangi lampu gas yang berkedip-kedip.
Ada sebuah tempat tidur yang tidak rapi dan belum dibereskan di sudut, sebuah
meja biasa, dan dua kursi reyot. Untuk pertama kalinya Mr. Mayheme bisa melihat
seutuhnya sosok penghuni apartemen kumuh ini.
Wanita itu berumur setengah baya, bungkuk,
dengan rambut kelabu yang kusut dan syal yang dililitkan rapat di seputar
wajahnya.
Ia melihat Mr. Mayheme memandanginya dan
tertawa lagi, decak aneh tanpa nada, seperti sebelumnya.
“Heran kenapa aku menyembunyikan
kecantikanku, ya? He he he. Takut Anda jadi tergiur, eh? Tapi Anda akan
melihatnya... Anda akan melihatnya.”
Ia menyibakkan syalnya, dan Mr. Mayheme
seketika mundur dengan kaget begitu melihat bekas tak berbentuk berwarna merah
di wajah itu. Si wanita memakai kembali syalnya.
“Jadi, Anda tidak mau menciumku rupanya?
He he he. Tidak heran. Tapi dulu aku gadis yang cantik, belum terlalu lama
sebenarnya. Vitriol, Sayang, Vitriol - itulah penyebabnya. Ah! Tapi akan
kubalas mereka...”
Mendadak ia menyemburkan serangkaian
makian yang sangat kasar. Mr. Mayheme berusaha menghentikannya, tapi sia-sia. Namun
akhirnya wanita itu berhenti juga, kedua tangannya membuka dan mengepal dengan
gugup.
“Cukup sudah,” kata Mr. Mayheme dengan
tegas. “Saya datang kemari karena saya yakin Anda bisa memberikan informasi
untuk membantu membebaskan klien saya, Leonard Vole. Benarkah begitu?”
Wanita itu memandanginya dengan tatapan
licik.
“Bagaimana dengan uangnya, Sayang?” tanyanya
serak. “Dua ratus pound, ingat.”
“Sudah kewajiban Anda untuk memberikan
kesaksian, dan Anda bisa dipanggil untuk melakukannya.”
“Tidak bisa, Sayang. Aku ini cuma seorang
wanita tua dan aku tidak tahu apa-apa. Tapi kalau Anda memberiku dua ratus pound,
barangkali aku bisa memberikan satu-dua petunjuk. Mengerti?”
“Petunjuk macam apa?”
“Bagaimana kalau petunjuknya berupa
sepucuk surat? Surat dari perempuan itu. Tidak usah tanya bagaimana surat itu
bisa ada di tanganku. Itu urusanku. Surat itu bisa sangat bermanfaat. Tapi aku minta
dua ratus pound dulu.”
Mr. Mayheme menatapnya dengan dingin, lalu
mengambil keputusan.
“Saya akan memberi Anda sepuluh pound.
Tidak lebih. Itu kalau surat ini memang seperti yang Anda katakan.”
“Sepuluh pound?” wanita itu menjerit dan
memaki-maki.
“Dua puluh,” kata Mr. Mayheme, “itu
tawaran terakhir saya.”
Ia bangkit berdiri, pura-pura hendak
pergi. Lalu sambil mengawasi wanita itu dengan saksama, ia mengeluarkan dompetnya
dan menghitung lembar-lembar dua puluh satu pound.
“Lihat,” katanya. “Hanya ini yang saya
miliki. Terima atau tidak?”
Tapi ia sudah tahu bahwa wanita itu sudah
hijau saat melihat uang tersebut. Ia menyumpah-nyumpah dan memaki-maki marah, tapi
akhimya menyerah. Ia beranjak ke tempat tidurnya, dan mengambil sesuatu dari
bawah kasur yang compang-camping.
“Ini, sialan!” geramnya. “Surat paling
atas.”
Ia melemparkan sebundel surat. Mr. Mayheme
membuka ikatan surat-surat itu dan memeriksanya sekilas dengan sikap tenang dan
teratur, seperti biasa. Wanita itu mengawasinya dengan penuh perhatian, namun
tidak mendapatkan kesan apa pun dari wajahnya yang tanpa ekspresi.
Mr. Mayheme membaca setiap pucuk surat,
kemudian kembali ke surat paling atas, dan membacanya kembali untuk kedua
kalinya. Setelah itu ia mengikat keseluruhan surat-surat itu lagi dengan hati-hati.
Semua itu adalah surat-surat cinta,
ditulis oleh Romaine Heilger, dan ditujukan pada seorang pria yang bukan
Leonard Vole. Surat paling atas bertanggal hari ketika Leonard Vole ditangkap.
“Aku bicara benar, kan. Sayang?” kata
wanita itu. “Surat itu bisa menghabisi perempuan itu kan?”
Mr. Mayheme memasukkan surat-surat itu ke
sakunya, kemudian mengajukan satu pertanyaan. “Bagaimana surat-surat ini bisa
berada di tangan Anda?”
“Itu namanya buka rahasia,” sahut wanita
itu dengan tatapan licik. “Tapi aku tahu satu hal lagi. Aku mendengar apa yang dikatakan
perempuan itu di pengadilan. Coba cari tahu, di mana dia berada pada jam
sepuluh lewat dua puluh, saat dia mengaku berada di rumah. Tanyakan di Lion
Road Cinema. Mereka pasti ingat perempuan cantik dan mencolok seperti itu -
sialan dia!”
“Siapa laki-laki itu?” tanya Mr. Mayheme.
"Di surat cuma ada nama depannya.”
Suara wanita itu menjadi berat dan serak
ketika menjawab, kedua tangannya mengepal dan membuka. Akhirnya ia mengangkat satu
tangan ke wajahnya.
“Laki-laki itulah yang melakukan ini
padaku. Sudah bertahun-tahun yang lalu. Perempuan itu merebutnya dariku - waktu
itu dia masih muda. Dan ketika aku mengejar laki-laki itu – mencarinya - dia melemparkan
cairan terkutuk itu padaku! Dan perempuan itu tertawa - terkutuklah dia! Sudah
bertahun-tahun aku ingin membalas perbuatannya. Aku mengikutinya,
memata-matainya. Dan sekarang aku berhasil mendapatkannya! Dia akan menderita karena
ini, bukan begitu. Mr. Pengacara? Dia bakal menderita?”
“Mungkin dia akan dikenai hukuman penjara
beberapa lama karena bersumpah paisu,” sahut Mr. Mayheme pelan.
“Dipenjara selamanya - itu yang
kuinginkan. Anda mau pergi, kan? Mana uangku? Mana uang itu?”
Tanpa berbicara sepatah pun Mr. Mayheme
menaruh lembar-lembar uang itu di meja. Kemudian, setelah menarik napas
panjang, ia berbalik dan meninggalkan ruangan pengap itu. Ketika menoleh ia melihat
wanita tua itu tengah memandangi uangnya dengan senang.
