“Bukan
itu yang penting,” sahut Romaine Vole dengan nada dingin. “Apakah dia akan
dibebaskan kalau saya mengatakan ltu? Apakah mereka akan mempercayai saya?”
Mr. Mayheme terperanjat. Wanita ini sudah
langsung ke pokok permasalahannya.
“Itu yang ingin saya ketahui,” kata Romaine.
“Apakah itu cukup? Adakah orang lain yang bisa mendukung pernyataan saya?”
Ada kesan bernafsu yang sengaja ditahan
dalam sikapnya, yang membuat Mr. Mayheme merasa agak gelisah. “Sejauh ini tidak
ada,” sahutnya enggan.
“Begitu,” kata Romainee Vole.
Selama semenit-dua menit ia duduk tak bergerak.
Seulas senyum samar bermain di bibirnya.
Perasaan cemas Mr. Mayheme semakin
memuncak. “Mrs. Vole...,” katanya. “Saya tahu apa yang Anda rasakan...”
“Benarkah?” kata Romaine. “Saya tidak
yakin.”
“Dalam situasi ini...”
“Dalam situasi ini... saya berniat
bertindak seorang diri.”
Mr. Mayheme menatapnya dengan khawatir. “Tapi,
Mrs. Vole... beban Anda terlalu berat berhubung Anda sangat memuja suami
Anda...”
“Apa kata Anda?”
Nada tajam dalam suaranya membuat Mr.
Mayheme terenyak. Ia mengulangi dengan sikap ragu-ragu. “Berhubung Anda sangat
memuja suami Anda...”
Romaine Vole mengangguk perlahan-lahan,
bibimya masih menyunggingkan senyum aneh yang sama.
“Dia mengatakan pada Anda bahwa saya
memujanya?” tanyanya pelan. “Ah, ya, rupanya begitu. Betapa bodohnya laki-laki.
Bodoh... bodoh... bodoh...”
Sekonyong-konyong ia bangkit berdiri.
Segala emosi tegang yang dirasakan sang pengacara di dalam ruangan ltu sekarang
terpusat pada nada suara Romaine Vole.
“Saya benci padanya. Saya benci. Benci!
Saya ingin melihat dia digantung sampai mati.”
Mr. Mayheme merasa takut pada wanita ini,
dan pada sorot kebencian membara di matanya.
Romaine Vole maju selangkah dan
melanjutkan dengan berapiapi, “Barangkali saya akan melihatnya digantung.
Bagaimana kalau saya katakan pada Anda bahwa malam itu dia bukan kembali pada jam
sembilan lewat dua puluh, melainkan pada jam sepuluh lewat dua puluh? Kata
Anda, dia mengaku tidak tahu apa-apa tentang uang yang diwariskan padanya.
Bagaimana kalau saya katakan pada Anda bahwa dia tahu tentang itu, dia
mengharapkannya, dan melakukan pembunuhan untuk memperolehnya? Bagaimana kalau saya
katakan pada Anda bahwa malam itu, ketika pulang, dia mengakui pada saya apa
yang telah diperbuatnya? Bahwa ada noda darah di mantelnya? Bagaimana? Bagaimana
kalau saya bersaksi di pengadilan dan mengatakan semua itu?”
Sepasang matanya seakan menantang Mr.
Mayheme. Dengan susah payah sang pengacara berusaha menyembunyikan kecemasannya
yang semakin meningkat, dan memaksakan diri berbicara dengan nada rasional. “Anda
tidak bisa diminta memberikan kesaksian melawan suami Anda sendiri...”
“Dia bukan suami saya!”
Kata-kata itu meluncur begitu cepat,
hingga Mr. Mayheme mengira ia salah mengerti.
“Maaf…. Saya...”
“Dia bukan suami saya.”
Keheningan yang menyusul terasa begitu
tajam, hingga jarum jatuh pun akan terdengar.
“Saya dulu seorang aktris di Vienna. Suami
saya masih hidup, tapi ada di rumah sakit jiwa. Jadi, kami tidak bisa menikah.
Saya senang sekarang.” Ia mengangguk dengan sikap menantang.
“Coba katakan satu hal ini pada saya,"
kata Mr. Mayheme. Ia berusaha tampak tenang dan tidak emosional, seperti
biasanya. “Kenapa Anda begitu getir terhadap Leonard Vole?”
Romaine hanya menggelengkan kepala dan
tersenyum sedikit. “Ya, Anda tentunya ingin tahu. Tapi saya tidak akan
mengatakannya pada Anda. Saya akan menyimpan rahasia saya...”
Mr. Mayheme batuk-batuk kecil sedikit dan
bangkit berdiri. “Rasanya tak ada gunanya saya memperpanjang percakapan ini,” katanya.
“Anda akan mendapat kabar lagi dari saya,
setelah saya bicara dengan klien saya.” Romaine mendekatinya, menatap mata
pengacara itu dengan sepasang matanya yang berwarna gelap memikat. “Coba
katakan,” katanya, “apakah Anda percaya sejujurnya bahwa dia tidak bersalah
saat Anda datang kemari ini?”
“Saya percaya,” kata Mr. Mayheme.
“Orang malang,” Romaine tertawa.
“Dan sampai saat ini pun saya masih
percaya,” kata sang pengacara. “Selamat malam, Madam.”
Ia keluar dari ruangan itu, sambil membawa
ingatan akan wajah Romaine yang terperanjat.
“Urusan ini akan sangat merepotkan,” Mr.
Mayheme berkata pada dirinya sendiri sambil melangkah di jalan.
Keseluruhan
hal ini sungguh luar biasa. Wanita itu juga luar biasa. Wanita yang sangat
berbahaya. Wanita bisa sangat jahat kalau sudah menancapkan pisau pada kita. Apa
yang mesti dilakukan? Anak muda yang malang itu tidak punya sandaran sedikit
pun untuk membantunya. Tentu saja, ada kemungkinan ia memang melakukan
kejahatan tersebut...
“Tidak,” kata Mr. Mayheme pada dirinya
sendiri. “Tidak... hampir terlalu banyak bukti yang memberatkannya. Aku tidak
percaya pada wanita ini. Dia cuma mengarang-ngarang keseluruhan ceritanya. Tapi
dia tidak bakal membawanya ke pengadilan.”
Ia berharap bisa merasa lebih yakin akan
hal itu. Proses pengadilan kepolisian berlangsung singkat dan dramatis. Saksi-saksi
utama untuk kasus tersebut adalah Janet Mackenzie, pelayan almarhumah, dan
Romaine Heilger, wanita Austria, kekasih sang tertuduh.
Mr. Mayheme duduk selama persidangan,
mendengarkan cerita memberatkan yang disampaikan Romaine. Isinya sama seperti
yang telah dikatakannya pada Mr. Mayheme dalam wawancara mereka sebelumnya.
Tertuduh menahan pembelaannya dan akan
diajukan ke pengadilan. Mr. Mayheme kehabisan akal. Kasus yang dihadapi Leonard
Vole ini benar-benar berat. Bahkan KC terkenal yang disewa untuk menangani
pembelaan hanya punya harapan tipis.
“Kalau kita bisa menggoyahkan kesaksian
perempuan Austria itu, mungkin kita bisa berhasil,” katanya ragu-ragu. “Tapi
urusan ini sulit sekali.”
Mr. Mayheme memfokuskan energinya pada
satu titik. Dengan asumsi bahwa Leonard Vole mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia
meninggalkan rumah wanita yang dibunuh itu pada jam sembilan malam, siapa
laki-laki yang didengar Janet berbicara dengan Miss French pada jam setengah
sepuluh?
