Agatha Christie - Anjing Kematian #32



“Bukan itu yang penting,” sahut Romaine Vole dengan nada dingin. “Apakah dia akan dibebaskan kalau saya mengatakan ltu? Apakah mereka akan mempercayai saya?”

      Mr. Mayheme terperanjat. Wanita ini sudah langsung ke pokok permasalahannya.
      “Itu yang ingin saya ketahui,” kata Romaine. “Apakah itu cukup? Adakah orang lain yang bisa mendukung pernyataan saya?”
      Ada kesan bernafsu yang sengaja ditahan dalam sikapnya, yang membuat Mr. Mayheme merasa agak gelisah. “Sejauh ini tidak ada,” sahutnya enggan.
      “Begitu,” kata Romainee Vole.
      Selama semenit-dua menit ia duduk tak bergerak. Seulas senyum samar bermain di bibirnya.
      Perasaan cemas Mr. Mayheme semakin memuncak. “Mrs. Vole...,” katanya. “Saya tahu apa yang Anda rasakan...”
      “Benarkah?” kata Romaine. “Saya tidak yakin.”
      “Dalam situasi ini...”
      “Dalam situasi ini... saya berniat bertindak seorang diri.”
      Mr. Mayheme menatapnya dengan khawatir. “Tapi, Mrs. Vole... beban Anda terlalu berat berhubung Anda sangat memuja suami Anda...”
      “Apa kata Anda?”
      Nada tajam dalam suaranya membuat Mr. Mayheme terenyak. Ia mengulangi dengan sikap ragu-ragu. “Berhubung Anda sangat memuja suami Anda...”
      Romaine Vole mengangguk perlahan-lahan, bibimya masih menyunggingkan senyum aneh yang sama.
      “Dia mengatakan pada Anda bahwa saya memujanya?” tanyanya pelan. “Ah, ya, rupanya begitu. Betapa bodohnya laki-laki. Bodoh... bodoh... bodoh...”
      Sekonyong-konyong ia bangkit berdiri. Segala emosi tegang yang dirasakan sang pengacara di dalam ruangan ltu sekarang terpusat pada nada suara Romaine Vole.
      “Saya benci padanya. Saya benci. Benci! Saya ingin melihat dia digantung sampai mati.”
      Mr. Mayheme merasa takut pada wanita ini, dan pada sorot kebencian membara di matanya.
      Romaine Vole maju selangkah dan melanjutkan dengan berapiapi, “Barangkali saya akan melihatnya digantung. Bagaimana kalau saya katakan pada Anda bahwa malam itu dia bukan kembali pada jam sembilan lewat dua puluh, melainkan pada jam sepuluh lewat dua puluh? Kata Anda, dia mengaku tidak tahu apa-apa tentang uang yang diwariskan padanya. Bagaimana kalau saya katakan pada Anda bahwa dia tahu tentang itu, dia mengharapkannya, dan melakukan pembunuhan untuk memperolehnya? Bagaimana kalau saya katakan pada Anda bahwa malam itu, ketika pulang, dia mengakui pada saya apa yang telah diperbuatnya? Bahwa ada noda darah di mantelnya? Bagaimana? Bagaimana kalau saya bersaksi di pengadilan dan mengatakan semua itu?”
      Sepasang matanya seakan menantang Mr. Mayheme. Dengan susah payah sang pengacara berusaha menyembunyikan kecemasannya yang semakin meningkat, dan memaksakan diri berbicara dengan nada rasional. “Anda tidak bisa diminta memberikan kesaksian melawan suami Anda sendiri...”
      “Dia bukan suami saya!”
      Kata-kata itu meluncur begitu cepat, hingga Mr. Mayheme mengira ia salah mengerti.
      “Maaf…. Saya...”
      “Dia bukan suami saya.”
      Keheningan yang menyusul terasa begitu tajam, hingga jarum jatuh pun akan terdengar.
      “Saya dulu seorang aktris di Vienna. Suami saya masih hidup, tapi ada di rumah sakit jiwa. Jadi, kami tidak bisa menikah. Saya senang sekarang.” Ia mengangguk dengan sikap menantang.
      “Coba katakan satu hal ini pada saya," kata Mr. Mayheme. Ia berusaha tampak tenang dan tidak emosional, seperti biasanya. “Kenapa Anda begitu getir terhadap Leonard Vole?”
      Romaine hanya menggelengkan kepala dan tersenyum sedikit. “Ya, Anda tentunya ingin tahu. Tapi saya tidak akan mengatakannya pada Anda. Saya akan menyimpan rahasia saya...”
      Mr. Mayheme batuk-batuk kecil sedikit dan bangkit berdiri. “Rasanya tak ada gunanya saya memperpanjang percakapan ini,” katanya.
      “Anda akan mendapat kabar lagi dari saya, setelah saya bicara dengan klien saya.” Romaine mendekatinya, menatap mata pengacara itu dengan sepasang matanya yang berwarna gelap memikat. “Coba katakan,” katanya, “apakah Anda percaya sejujurnya bahwa dia tidak bersalah saat Anda datang kemari ini?”
      “Saya percaya,” kata Mr. Mayheme.
      “Orang malang,” Romaine tertawa.
      “Dan sampai saat ini pun saya masih percaya,” kata sang pengacara. “Selamat malam, Madam.”
      Ia keluar dari ruangan itu, sambil membawa ingatan akan wajah Romaine yang terperanjat.
      “Urusan ini akan sangat merepotkan,” Mr. Mayheme berkata pada dirinya sendiri sambil melangkah di jalan.

Keseluruhan hal ini sungguh luar biasa. Wanita itu juga luar biasa. Wanita yang sangat berbahaya. Wanita bisa sangat jahat kalau sudah menancapkan pisau pada kita. Apa yang mesti dilakukan? Anak muda yang malang itu tidak punya sandaran sedikit pun untuk membantunya. Tentu saja, ada kemungkinan ia memang melakukan kejahatan tersebut...
      “Tidak,” kata Mr. Mayheme pada dirinya sendiri. “Tidak... hampir terlalu banyak bukti yang memberatkannya. Aku tidak percaya pada wanita ini. Dia cuma mengarang-ngarang keseluruhan ceritanya. Tapi dia tidak bakal membawanya ke pengadilan.”
      Ia berharap bisa merasa lebih yakin akan hal itu. Proses pengadilan kepolisian berlangsung singkat dan dramatis. Saksi-saksi utama untuk kasus tersebut adalah Janet Mackenzie, pelayan almarhumah, dan Romaine Heilger, wanita Austria, kekasih sang tertuduh.
      Mr. Mayheme duduk selama persidangan, mendengarkan cerita memberatkan yang disampaikan Romaine. Isinya sama seperti yang telah dikatakannya pada Mr. Mayheme dalam wawancara mereka sebelumnya.
      Tertuduh menahan pembelaannya dan akan diajukan ke pengadilan. Mr. Mayheme kehabisan akal. Kasus yang dihadapi Leonard Vole ini benar-benar berat. Bahkan KC terkenal yang disewa untuk menangani pembelaan hanya punya harapan tipis.
      “Kalau kita bisa menggoyahkan kesaksian perempuan Austria itu, mungkin kita bisa berhasil,” katanya ragu-ragu. “Tapi urusan ini sulit sekali.”
      Mr. Mayheme memfokuskan energinya pada satu titik. Dengan asumsi bahwa Leonard Vole mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia meninggalkan rumah wanita yang dibunuh itu pada jam sembilan malam, siapa laki-laki yang didengar Janet berbicara dengan Miss French pada jam setengah sepuluh?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...