Agatha Christie - Anjing Kematian #31



Ia bicara dengan antusias, tapi semangat sang pengacara jadi agak menurun. Kesaksian seorang istri yang setia... bisakah dianggap sah?

      “Adakah orang lain yang melihat Anda pulang pada jam sembilan lewat dua puluh? Seorang pelayan, misalnya?”
      “Kami tidak punya pelayan.”
      “Apakah Anda bertemu dengan siapa pun di jalan, dalam perjalanan pulang?”
      “Tidak ada yang saya kenal. Saya menempuh setengah perjalanan dengan naik bus. Kondekturnya mungkin ingat.”
      Mr. Mayheme menggelengkan kepala dengan ragu.
      “Kalau begitu, tidak ada seorang pun yang bisa mengkonfirmasikan kesaksian istri Anda?”
      “Tidak. Tapi itu tidak penting, bukan?”
      “Saya rasa tidak, saya rasa tidak,” kata Mr. Mayheme tergesa-gesa.
      “Nah, satu hal lagi Apakah Miss French tahu Anda sudah menikah?”
      “Oh, ya.”
      “Tapi Anda tidak pernah mengajak istri Anda menemuinya. Kenapa?”
      Untuk pertama kalinya, Leonard Vole menjawab dengan ragu-ragu dan tidak yakin. “Yah... saya tidak tahu.”
      “Apakah Anda sadar bahwa menurut Janet Mackenzie, nyonyanya yakin Anda masih lajang dan dia berniat menikah dengan Anda kelak?”
      Vole tertawa. “Omong kosong! Usia kami berbeda empat puluh tahun.”
      “Tapi yang seperti itu bisa terjadi,” kata sang pengacara dengan nada datar. “Fakta-faktanya demikian. Istri Anda tidak pernah bertemu dengan Miss French?”
      “Tidak...” Lagi-lagi anak muda itu terdengar tegang.
      “Izinkan saya menyatakan bahwa saya boleh dikatakan tak bisa memahami sikap Anda dalam hal ini,” kata Mr. Mayheme.
      Wajah Vole memerah. Ia tampak ragu-ragu, kemudian berkata, “Saya terus terang saja. Seperti Anda ketahui, saya sangat membutuhkan uang. Saya berharap Miss French mau meminjamkan sedikit uang pada saya. Dia menyukai saya tapi dia sama sekali tidak peduli dengan perjuangan berat saya dan istri saya sebagai pasangan muda. Sejak awal saya mendapati dia menyimpulkan bahwa hubungan istri saya dan saya tidak baik lagi - bahwa kami hidup berpisah. Mr. Mayheme, saya menginginkan uang itu... demi Romaine. Maka saya tidak mengatakan apa-apa. Saya biarkan saja wanita tua itu menyimpulkan sesukanya. Dia pernah menyinggung ingin mengangkat saya sebagai anaknya. Tidak pernah ada pembicaraan tentang menikah - itu pasti hanya imajinasi Janet belaka.”
      “Hanya itu?”
      “Ya, hanya itu.”
      Adakah tersirat sedikit keraguan dalam kata-kata anak muda itu? Begitulah yang dirasakan sang pengacara. Lalu ia bangkit berdiri dan mengulurkan tangan, “Sampai jumpa, Mr. Vole.” Ia menatap wajah anak muda yang kurus itu dan berkata dengan nada emosional yang tidak biasa, “Saya percaya Anda tidak bersalah, meski banyak sekali fakta yang memberatkan Anda. Saya berharap bisa membuktikannya dan membebaskan Anda sepenuhnya.”
      Vole membalas senyumnya. “Anda akan mendapati alibi saya benar adanya,” katanya dengan nada riang.
      Lagi-lagi ia tidak memperhatikan bahwa Mr. Mayheme tidak berkomentar.
      “Keseluruhan kasus ini akan sangat bergantung pada kesaksian Janet Mackenzie,” kata Mr. Mayheme. “Dia benci pada Anda. Itu sudah jelas.”
      “Dia tak punya alasan untuk membenci saya,” protes anak muda itu.

Sang pengacara menggelengkan kepala sambil beranjak keluar. “Sekarang menemui Mrs. Vole,” katanya pada diri sendiri. Ia merasa sangat terganggu dengan perkembangan kasus ini.
      Suami-istri Vole tinggal di sebuah rumah kecil yang lusuh di dekat Paddington Green. Ke sanalah Mr. Mayheme menuju.
      Bel pintu dijawab, oleh seorang wanita bertubuh besar yang kumuh. Jelas ia seorang pelayan bersih-bersih.
      “Mrs. Vole? Apa dia sudah kembali?”
      “Sudah pulang satu jam yang lalu, tapi tidak tahu Anda bisa ketemu dia atau tidak.”
      “Kalau Anda mau menyampaikan kartu nama saya padanya, saya yakin dia bersedia menemui saya,” kata Mr. Mayheme pelan.
      Wanita itu menatapnya ragu-ragu, lalu menyapukan tangan di celemeknya, dan mengambil kartu nama yang disodorkan Mr. Mayheme. Kemudian ia menutup pintu dan membiarkan pengacara itu berdiri di undak-undak di luar.
      Namun beberapa menit kemudian ia kembali dengan sikap lebih ramah.
      “Silakan masuk.”
      Ia membawa Mr. Mayheme ke sebuah ruang duduk yang sangat kecil. Mr. Mayheme melihat-lihat lukisan di dinding, dan ketika mengangkat wajah, ia terkejut karena tahu-tahu sudah berhadapan dengan seorang wanita jangkung yang pucat. Wanita itu masuk tanpa suara, hingga Mr. Mayheme tidak mendengar langkahnya.
      “Mr. Mayheme? Anda pengacara suami saya, bukan? Anda datang setelah menjenguknya? Silakan duduk.”
      Setelah wanita itu membuka suara, barulah Mr. Mayheme menyadari bahwa ia bukan orang Inggris. Setelah mengamati dengan lebih saksama, ia memperhatikan tulang pipi tinggi wanita itu, rambutnya yang hitam pekat, dan sesekali gerakan tangannya yang berkesan asing. Wanita yang aneh, sangat tenang. Begitu tenang, hingga membuat orang gelisah. Sejak pertama melihatnya, Mr. Mayheme menyadari bahwa ia tengah menghadapi sesuatu yang tidak ia pahami.
      “Mrs. Vole yang baik,” katanya, “Anda tidak boleh panik...”
      Namun ia menghentikan kalimatnya. Jelas tampak bahwa Romaine Vole sama sekali tidak kelihatan panik. Ia benar-benar tenang dan bisa menguasai diri sepenuhnya.
      “Bisakah Anda menceritakan keseluruhan peristiwanya pada saya?” tanyanya. “Saya mesti tahu segala-galanya. Tak usah menutupi apa pun dari saya. Saya ingin tahu yang paling buruk.” Ia ragu-ragu, kemudian mengulangi dengan nada lebih pelan, dengan tekanan aneh yang tidak dimengerti Mr. Mayheme. “Saya ingin tahu yang terburuk.”
      Mr. Mayheme menyampaikan percakapannya dengan Leonard Vole. Wanita itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Sambil menganggukkan kepala sesekali.
      “Begitu,” katanya setelah Mr. Mayheme selesai.
      “Dia ingin saya mengatakan bahwa dia pulang pada jam sembilan lewat dua puluh malam itu?”
      “Sebenarnya dia tidak pulang pada jam itu?” tanya Mr. Mayheme dengan tajam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...