Agatha Christie - Anjing Kematian #30



“Begitulah.”
      “Mr. Vole,” kata sang pengacara, “saya akan mengajukan satu pertanyaan yang sangat serius, dan untuk yang satu ini, penting sekali bagi saya untuk mendapat jawaban sejujurnya. Keadaan keuangan Anda sedang buruk. Anda menangani segala urusan wanita itu - wanita tua yang berdasarkan pernyataannya sendiri, hanya tahu sedikit atau bahkan tidak tahu apa-apa tentang urusan bisnis. Pernahkah Anda, pada saat kapan pun, dengan cara apa pun, memanfaatkan saham-saham yang Anda tangani itu untuk kepentingan Anda sendiri? Pernahkah Anda melakukan transaksi untuk kepentingan keuangan Anda sendiri yang sengaja Anda rahasiakan?”

      Leonard Vole hendak langsung menjawab, namun Mr. Mayheme menahannya. “Tunggu sebentar sebelum Anda menjawab. Ada dua cara yang bisa kita gunakan. Kita bisa menyatakan ketulusan dan kejujuran Anda dalam melaksanakan segala urusan wanita itu, sekaligus menunjukkan bahwa tak mungkin Anda akan melakukan pembunuhan untuk mendapatkan uang yang bisa Anda peroleh dengan cara-cara yang jelas lebih mudah. Namun. sebaliknya kalau ada di antara tindak-tanduk Anda yang bisa dijadikan senjata untuk melawan Anda oleh pihak penuntut, jelasnya kalau terbukti bahwa Anda menipu wanita tua itu dengan cara apa pun, kita mesti memberikan argumentasi bahwa Anda tidak mempunyai motif untuk melakukan pembunuhan tersebut, sebab wanita itu sudah merupakan sumber penghasilan yang bagus bagi Anda. Anda mengerti perbedaannya tentu. Sekarang saya minta Anda berpikir dulu dengan saksama sebelum menjawab.”
      Tapi Leonard Vole tidak perlu waktu lama sama sekali.

“Segala urusan Miss French saya tangani dengan jujur dan adil sepenuhnya. Saya bertindak demi kepentingannya, sejauh kemampuan saya. Siapa pun yang memeriksa hal ini akan melihatnya.”
      “Terima kasih,” kata Mr. Mayheme. “Anda telah membuat saya sangat lega. Saya berani menyatakan pada Anda, bahwa saya percaya Anda terlalu pandai untuk berbohong pada saya mengenai masalah sepenting itu.”
      “Tentunya unsur yang paling kuat memihak saya adalah tidak adanya motif,” kata Vole dengan emosi. “Kalau mempertimbangkan bahwa saya sengaja menjalin persahabatan dengan wanita tua yang kaya itu, dengan harapan bisa memperoleh uang darinya itu kan, inti yang ingin Anda sampaikan sejauh ini tentunya kematian wanita itu telah menghancurkan semua harapan saya?”
      Sang pengacara menatapnya dengan tajam. Kemudian, dengan sangat sengaja ia mengulangi kebiasaan bawah sadarnya itu dengan pince-nez-nya. Setelah pince-nez itu kembali bertengger mantap di hidungnya, barulah ia berbicara. “Apakah Anda tidak menyadari, Mr. Vole, bahwa Miss French meninggalkan surat wasiat yang isinya menunjuk Anda sebagai ahli waris utama?”
      “Apa?” Leonard Vole melompat bangkit. Keterkejutannya begitu jelas dan tidak dibuat-buat. “Ya Tuhan! Apa kata Anda? Dia mewariskan uangnya pada saya?”
      Mr. Mayheme mengangguk periahan-lahan. Vole terenyak kembali di kursinya memegangi kepalanya dengan dua tangan.
      “Anda pura-pura tidak tahu apa-apa tentang surat wasiat ini?”
      “Pura-pura? Saya sama sekali tidak berpura-pura. Saya memang tidak tahu apa-apa tentang surat wasiat itu.”
      “Apa kata Anda seandainya saya beritahukan pada Anda bahwa pelayan itu, Janet Mackenzie, bersumpah bahwa sebenarnya Anda tahu? Bahwa nyonyanya telah dengan jelas mengatakan padanya bahwa dia telah membicarakan hal tersebut dengan Anda, dan telah memberitahukan maksudnya itu pada Anda?”
      “Apa? Dia bohong! Tidak saya terlalu cepat menuduh. Janet sudah berumur. Dia itu seperti anjing penjaga yang sangat setia terhadap nyonyanya, dan dia tidak menyukai saya. Dia iri dan curiga pada saya. Saya berani bilang bahwa Miss French telah memberitahukan rencana-rencananya pada Janet, lalu entah Janet salah mengartikan sesuatu dalam ucapan nyonyanya, atau dia yakin saya telah membujuk nyonyanya untuk menghibahkan warisan itu pada saya. Saya berani bilang bahwa sekarang dia yakin sekali bahwa itulah yang dikatakan Miss French padanya.”
      “Anda tidak menganggap dia sengaja berbohong tentang hal tersebut karena dia tidak menyukai Anda?”
      Leonard Vole tampak shock dan terperanjat. “Tentu saja tidak! Buat apa dia berbuat begitu?"
      “Saya tidak tahu,” kata Mr. Mayheme sambil berpikir-pikir. “Tapi dia sangat getir terhadap Anda.”
      Anak muda yang malang itu mengeluh kembali. “Saya mulai mengerti,” gerutunya. “Mengerikan. Mereka akan bilang bahwa saya sengaja mencari muka pada wanita tua itu. Saya membujuknya untuk membuat surat wasiat yang isinya mewariskan uangnya pada saya, lalu malam itu saya datang ke rumahnya dan tidak ada seorang pun di sana - mereka menemukan dia keesokan harinya - oh! Ya Tuhan, mengerikan sekali.”
      “Anda salah tentang tidak ada orang di rumah itu,” kata Mr. Mayheme. “Anda tentunya ingat bahwa Janet akan pergi keluar malam itu. Dan dia memang pergi, tapi sekitar jam setengah sepuluh dia kembali untuk mengambil pola lengan baju yang sudah dijanjikannya pada temannya. Dia masuk lewat pintu belakang, naik ke ruang atas, mengambil pola itu, lalu keluar kembali. Dia mendengar suara-suara di ruang tamu, tapi tidak bisa menangkap api-apa yang diucapkan. Tapi dia berani bersumpah bahwa salah satu suara itu adalah suara Miss French, dan satunya lagi suara pria.”
      “Jam setengah sepuluh,” kata Leonard Vole. “Jam setengah sepuluh...” ia melompat bangkit. “Berarti saya selamat... saya selamat...”
      “Apa maksud Anda, selamat?” seru Mr. Mayheme terperanjat.
      “Pada jam setengah sepuluh, saya sudah berada di rumah kembali! Istri saya bisa membuktikan hal itu. Saya keluar dari rumah Miss French sekitar jam sembilan kurang lima. Saya tiba di rumah sekitar jam sembilan lewat dua puluh. Istri saya ada di rumah, menunggu saya. Oh! Terima kasih, Tuhan... terima kasih, Tuhan! Syukurlah Janet Mackenzie pulang untuk mengambil pola lengan bajunya itu.”
      Dalam kegembiraannya Vole hampir-hampir tidak memperhatikan bahwa ekspresi serius di wajah pengacaranya belum lenyap. Namun kemudian ia kembali terempas ke bumi kala mendengar pertanyaan Mr. Mayheme.
      “Kalau begitu, menurut pendapat Anda, siapa yang membunuh Miss French?”
      “Yah, pencuri, tentunya, seperti dugaan semula. Anda ingat, jendela rumah itu dibuka paksa. Dia tewas karena dihantam dengan batangan besi, dan batangan besi itu ditemukan tergeletak di lantai, di samping jenazahnya. Ada beberapa barang yang hilang. Kalau bukan karena kecurigaan Janet yang tidak masuk akal dan perasaan tak sukanya pada saya, polisi tidak akan menyimpang dari jalur yang sudah benar.”
      “Itu sama sekali tidak meyakinkan, Mr. Vole,” kata si pengacara. “Barang-barang yang hilang itu tidak ada harganya, diambil secara asal saja. Dan bekas-bekas di jendela tidak bisa dijadikan pegangan. Selain itu, coba pikirkan. Kata Anda, Anda sudah tidak berada di rumah itu lagi pada jam setengah sepuluh. Kalau begitu, siapa laki-laki yang didengar Janet berbicara dengan Miss French di ruang duduk? Tak mungkin wanita itu bercakap-cakap akrab dengan pencuri.”
      “Tidak,” kata Vole. “Memang tidak....” Ia tampak bingung dan patah semangat. Namun kemudian ia menambahkan dengan gairah baru, “Tapi tetap saja saya bebas. Saya punya alibi. Anda mesti bertemu dengan Romaine, istri saya dengan segera.”
      “Tentu,” sang pengacara setuiu. “Saya memang mestinya sudah bertemu dengan Mrs. Vole, tapi dia sedang tidak ada ketika Anda ditangkap. Saya langsung mengirim telegram ke Scotland, dan saya mendapat kabar bahwa dia akan kembali malam ini. Saya akan langsung mendatanginya begitu saya keluar dari sini.”
      Vole mengangguk, wajahnya menunjukkan ekspresi puas yang amat sangat.
      “Ya, Romaine akan menveritakan pada Anda. Ya Tuhan, benar-benar suatu kebetulan yang menguntungkan.”
      “Sebentar, Mr. Vole, tapi apakah Anda sangat suka pada istri Anda?”
      “Tentu saja.”
      “Dan dia pada Anda?”
      “Romaine sangat memuja saya. Dia bersedia melakukan apa pun demi saya.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...