Episode 16
PARA pekerja mengangkat tajak mereka tinggi-tinggi. Suara
yang ditimbulkan oleh kesibukan mereka menggali menyaingi debur ombak Sungai
Yangtze. Pengerjaan Kanal Chi-chou sudah mencapai tahap akhir. Begitu jaringan antara
Sungai Yangtze dan Kuning terjalin, orang-orang ini akan bebas.
“Aku
akan bisa pulang,” ujar pemuda di sebelah Shu. Ia ditangkap orang-orang Mongol
untuk dipaksa bekerja di situ dua tahun yang lalu. “Aku bisa membayangkan ibuku
yang sudah beruban berdiri menunggu kedatangan putr satu-satunya... andai kata
dia masih hidup.”
“Aku
akan berkumpul lagi dengan istriku,” ujar seorang pemuda lain. “Kami baru
menikah ketika aku meninggalkannya setahun yang lalu. Mudah-mudahan dia belum
mati kelaparan seperti kedua orangtuaku.” Ia seorang petani sebelum desanya
diratakan untuk dijadikan padang rumput.
Shu
mengempaskan tajaknya dengan sengit. Mereka yang mengasihinya dan seharusnya
menantikannya sudah tiada. Begitu bebas, ia tak punya tempat untuk dituju.
Desa
asal keluarga Shu terletak di sebelah barat Provinsi Kiangsu. Untuk sampai di
sana, ia harus melintasi Provinsi Kiangsi, lalu terus ke arah barat daya,
sampai ke Phoenix. Para serdadu Mongol berjaga-jaga di sepanjang perbatasan provinsi
dan kota-kota. Perjalanan Shu menuju ke Selatan ternyata tidak mengalami banyak
rintangan selama ia bekerja dalam tim penggalian kanal itu. Namun, begitu sendirian,
ia harus menyelinap di antara para serdadu itu, seperti tikus menghindari
cengkeraman kucing-kucing.
“Betapa
bencinya aku pada si Pedang Dahsyat!” ujarnya sambil mengertakkan gigi, namun
ucapannya itu ditelan oleh suara mereka yang sedang menggali.
Seakan
menjawab panggilannya, Pedang Dahsyat muncul. Shu menundukkan kepala, sambil
melirik ke arah panglima tertinggi itu melalui sudut matanya. Si jenderal mengenakan
stola merahnya yang berpinggiran emas. Saat ia menderapkan kudanya ke arah
lokasi penggalian, stolanya berkibas di belakangnya, memancarkan kilauan seperti
matahari sehingga membuatnya tampak seperti Buddha Matahari yang turun dari
langit.
Shu
membanding-bandingkan dirinya. Dengan panglima tertinggi itu - Pedang Dahsyat
memiliki dunia ini, sementara ia sendiri tak punya apa-apa kecuali beberapa keping
uang tembaga.
Para
kuli dibayar tak lebih dari kebutuhan makan mereka sehari-hari, kecuali saat si
mandor betul-betul merasa dikejar target yang ditentukan oleh Pedang Dahsyat.
Mereka yang ternyata dapat menggali paling cepat mendapat satu koin ekstra per
hari. Shu telah menabung kepingan-kepingan uangnya yang berharga itu selama perjalanannya
dari Utara ke Selatan.
Proses
penggalian itu berakhir tengah malam. Sementara kuli-kuli lainnya tidur nyenyak
di dalam tenda-tenda mereka, Shu menjelajahi kota Yin-tin seorang diri.
Ia
bergerak ke sebelah tenggara, lokasi kerjanya, meninggalkan sungai yang
berbuih-buih, menuju arah cahaya lampion. Begitu sampai di kota, ia menelusuri jalan-jalannya
yang tampak terang benderang. Ia belum pernah melihat kota yang penduduknya
masih berkeliaran di malam selarut itu. Dibandingkan dengan Yin-tin, kota Gunung
Makmur bukan apa-apa.
Para
pedagang makanan menjajakan dagangan mereka dalam bahasa Selatan. Air liur Shu
menetes begitu melihat bakmi. Ia teringat bahwa ia belum merayakan ulang tahunnya
selama dua tahun terakhir ini. Ia berhenti di sebuah warung bakmi, kemudian
memandangi kualinya yang besar.
Di
antara tabir uap yang mengepul ke atas, ia melihat ibunya melangkah ke arahnya
dengan semangkuk bakmi. Dalam bayangannya ia mendengar suaranya, “Anakku, aku membuat
bakmi ini ekstra panjang agar hidupmu juga panjang. Ada sayuran merah dan hijau
di dalamnya, agar kau tak pernah kekurangan serta selalu sehat. Kau akan menemukan
sepotong lobak merah perlambang kebahagiaan.”
“Aku
mau semangkuk bakmi yang besar,” ujar Shu pada si penjual. “Dengan banyak
sayuran dan sepotong lobak merah di dalamnya.”
Si
penjual memenuhi instruksi Shu, namun rasa bakminya sama sekali berbeda dengan
yang dibayangkannya. Shu menghabiskan isi mangkuknya, lalu meninggalkan tempat
itu dengan perasaan tak puas.
Beberapa
langkah dari warung bakmi itu, sebuah lampu hijau berayun-ayun di bawah embusan
angin, sinarnya jatuh ke atas dua gadis muda yang sedang bersandar di ambang
pintu yang terbuka. Sewaktu Shu menatapi wajah mereka yang dipoles make-up,
mereka meliukkan tubuh mereka yang ramping, lalu cekikikan sambil bermain mata ke
arahnya. Shu teringat derai tawa Peony bertahun-tahun yang lalu, saat gadis itu
berkata, “Di malam pengantin kita nanti, sebaiknya kau sudah tahu mengenai itu
semua... maksudku mengenai awan luluh dan curah hujan!”
Shu
mengawasi gadis-gadis itu. Peony sudah tiada, demikian pula bagian paling
lembut dalam hatinya. Namun tubuhnya masih penuh gelora muda. Gadis yang
berdiri paling dekat dengannya tersenyum lebar ke arahnya. Shu merogoh sakunya,
kemudian membuka telapak tangannya untuk memperlihatkan kepingan uang logam
yang masih dimilikinya. “Apa ini cukup untuk menidurimu?” tanyanya.
Si
gadis merenggut uang itu, lalu lari ke dalam rumah. Shu menyusulnya dari
belakang. Gadis itu menyibak tirai sebuah ruangan kecil yang diterangi lilin
yang terletak di sebuah bufet rendah, kemudian masuk. Satu-satunya perabotan
yang ada selain itu adalah sebuah tempat tidur sempit. Shu memperhatikan saat
gadis itu berjongkok untuk menarik sebuah kotak rotan dari bawah tempat tidur,
lalu menyusupkan sebagian kepingan uang logamnya ke bawah tumpukan pakaiannya.
Sisa kepingan uang diletakkannya di bufet.
Ada
yang tidak beres rupanya. Shu memiringkan kepala, berpikir, kemudian menyadari
apa yang telah dilakukan si gadis. Shu menyapukan telapak tangannya yang besar
ke bufet itu, mengambil setiap keping uang logam di atasnya, kemudian
memasukkannya kembali ke sakunya.
“Kaupikir
aku tolol? Kau mencoba menipuku. Kau membuatku membayar dirimu sekaligus
nyonyamu.” Wajahnya merah karena marah saat ia mendorong gadis itu dengan kasar.
“Setiap keping uang logamku ditandai dengan darah dan keringatku!”
Si
gadis jatuh ke tempat tidur. Kemarahan Shu tidak mereda saat melihat rasa takut
yang terbayang di wajahnya.
“Sebaiknya
kausimpan kelihaian menipurnu itu untuk orang-orang Mongol!” seru Shu sambil
melepaskan celananya. Ia tidak menanggalkan bagian atas pakaiannya, sehingga ia
mendengar dencing uang di dalam sakunya saat ia menindih gadis itu.
Si gadis
menjerit-jerit, “Jangan sampai pakaianku sobek, tolol! Aku mau membuka
kancingnya dulu! Kau tak bisa menunggu? Mama akan memukuliku kalau dia harus membelikan
aku pakaian baru lagi!”
“Bagus!
Kau memang patut dipukuli,” ujar Shu, sambil membolak-balikkan tubuh gadis itu
untuk menelanjanginya. Ia tak peduli pakaiannya nanti sobek atau tidak.
Begitu
gadis itu telanjang, Shu membiarkan instingnya membimbingnya. Tubuhnya yang
gelap dan kuat menutupi tubuh ramping si gadis yang kepucatan bagaikan awan musim
dingin yang sudah padat menelan kabut tipis musim semi. Ia memaksakan dirinya
bak hujan badai melindas secercah angin semilir. Shu mengeluarkan semua
perasaan yang sekian lama menekannya. Saat gadis menjerit-jerit di bawahnya,
kemudian menggigil sesaat, seperti kabut yang tiba-tiba menguap. Shu merasakan
awan seakan luluh, kemudian hujan, namun hatinya tidak lega.
Ia
bangkit dari tempat tidur itu, memungut celananya, kemudian menoleh ke arah
gadis itu sambil berpakaian.
“Bajingan
kau!” Gadis itu menatapnya sengit, sambil terisak-isak kesakitan. “Belum pernah
aku melayani orang Cina yang begitu besar seperti kau! Orang Mongol saja tidak sampai
sebegitu! bakal tak bisa bekerja setidaknya tiga hari gara-gara kau!”
Secercah
angin berembus melalui lubang di jendela kertas ruangan itu, membuat lidah api
lilin meliuk-liuk. Shu melihat bercak-bercak darah di atas seprai yang kumal
dan di antara kaki gadis yang terentang itu. Perutnya mual. Sambil berpaling ia
merogoh sakunya.
“Ambil
ini.” Ia meletakkan semua sisa uangnya di bufet, kemudian cepat-cepat meninggalkan
rumah itu.
Ketika
melewati lampion kertas yang tergantung di luar tempat itu, ia menghantamnya
dengan tinjunya sampai cahayanya yang hijau padam.
Selagi
melangkah ke arah barat menuju lokasi kerjanya, Shu melewati sebuah lorong
gelap. Di kejauhan ia melihat dua sosok berjalan sempoyongan. Ia dapat
mendengar ocehan mereka, namun tak dapat menangkap maknanya. Dari cara
berpakaian mereka yang aneh, ia mengenali mereka sebagai orang-orang yang
matanya berwarna, yang biasanya berkunjung ke lokasi penggalian kanal bersama Pedang
Dahsyat. Terlintas di kepalanya kata Turki. Ya, itu nama negeri asal mereka.
Kedua
orang Turki itu rupanya terlalu mabuk untuk dapat melangkah normal. Selagi
mereka saling menopang, sebuah tas kulit bertali panjang yang berat jatuh ke
tanah dan menimbulkan suara gedebuk keras. Rupanya mereka tidak menyadarinya,
dan terus melanjutkan perjalanan.
Shu
menunggu sampai mereka berlalu, kemudian bergegas menghampiri tas itu. Ia
memungutnya, lalu tersenyum. Isinya penuh dengan kepingan uang logam.
Shu
memutar tubuh, kemudian kembali ke jalan utama dengan tas yang disembunyikannya
di batik baju. Ia melihat sebuah lampion putih tergantung di sebatang tiang
bambu. Aksara arak tertulis di atasnya dengan tinta hitam. Angin malam membuat
lampion itu terayun-ayun, seakan menggodanya. Tiba-tiba ia ingin sekali
menuangkan arak ke tenggorokannya, untuk menghalau rasa sepi, sedih, dan amarahnya.
Di
kedai arak itu hanya terdapat tujuh meja bundar. Tiga yang terletak di luar
sudah ditempati orang-orang Mongol, karenanya Shu memilih duduk di meja paling
dalam dan sudah diduduki beberapa orang Cina, mengingat sudah menjadi kebiasaan
bagi orang-orang yang tidak mengenal untuk berbagi meja di tempat-tempat yang
penuh.
Shu
mengangguk ke arah para pengunjung lain. Mereka adalah para tukang dan kuli
yang mencoba melupakan kesusahan yang membebani pikiran, sehingga mereka tidak tertarik
berbasa-basi. Shu minum diam-diam, sementara waktu terus bergulir.
“Tapi
tuan-tuanku yang terhormat, ini cuma kedai arak kecil. Aku tak bisa memberikan
utang,” ujar si pemllik, seorang lelaki tua kecil, dengan nada memohon kepada
dua orang Mongol yang baru akan meninggalkan meja pertama.
“Kau
berani menantang tuan-tuanmu?” tanya salah seorang di antara mereka. “Kami
orang-orang Mongol adalah tuan-tuan kalian, tahu!”
“Tapi
tuan-tuanku yang terhormat...” Si pemllik tidak mendapat kesempatan untuk
mengakhiri kalimatnya. Orang Mongol yang lain meninju rahangnya, sehingga ia tersungkur
ke belakang, menghantam dinding.
Istri
si pemilik, seorang wanita tua kecil, datang bergegas dari bagian belakang
ruangan itu untuk menolong suaminya. Kedua orang Mongol itu tertawa
terbahak-bahak sambil melangkah ke pintu.
Saat
melongokkan kepala, Shu mengenali mereka sebagai anggota barisan pengawal
Pedang Dahsyat. Mereka sering mengiringi jenderal tertinggi itu persis di
belakang kibasan stolanya. Shu merasa kebencian merayap naik ke tenggorokannya.
Ia baru saja menghabiskan dua botol arak, dan tidak lagi mengenal rasa takut.
“Suamiku
yang malang... suamiku yang malang!” ratap istri si pemilik sewaktu Shu
mengempaskan uang pembayar minumannya, kemudian bergegas keluar.
Wanita
tua itu menoleh, terbelalak melihat segenggam mata uang logam di mejanya,
kemudian menahan napas. “Itu terlalu banyak!” serunya, tapi Shu sudah
menghilang.
Ia
membuntuti kedua orang Mongol itu dari jarak cukup aman. Malam sudah semakin
larut, dan jalan-jalan sudah tidak begitu penuh lagi. Mereka menelusuri
beberapa jalan besar, lalu membelok ke sebuah lorong sempit.
Shu
mendekat, kemudian melihat pedang-pedang yang menggelayut di pinggang mereka.
Satu-satunya senjata yang dimilikinya adalah tas bertali panjang berisi uang logam.
“Berhenti,
babi-babi Mongol!” serunya sambil menyerbu mereka. Dalam keheningan malam,
suaranya terdengar nyaring.
Kedua
orang Mongol yang sedang mabuk itu berpaling dengan gerakan tak terkontrol.
Mereka melihat sosok laki-laki bertubuh raksasa berlari ke arah mereka, sambil memutar-mutar
sebuah tas berat di atas kepalanya.
Mereka
mengumpat dalam bahasa mereka. Sebelum sempat mencabut pedang, si raksasa sudah
menerjang mereka. Tas yang berputar itu menghantam yang satu di pelipisnya.
Hantaman kedua mengenai yang lain di dahinya. Keduanya langsung ambruk ke
tanah, seperti batu.
Mereka
hanya sempat sadar untuk melihat langit malam yang diterangi bulan sabit. Di
depan bulan itu si raksasa mengangkat senjatanya yang berat dengan kedua tangannya,
seperti kuli yang siap mengayunkan tajaknya yang berat.
Sekelebat
kedua orang Mongol itu mengenali si raksasa. Mereka mengumpat kembali dalam
bahasa mereka. Tapi tak lama setelah itu Shu kembali menghantam kepala serta wajah
mereka beberapa kali, sampai cahaya bulan akhirnya menghilang untuk selamanya bagi
mereka, bak lampion yang padam dalam hujan badai.
Dalam
waktu singkat kedua orang Mongol itu sudah tampak seperti kol yang hancur
terinjak kaki kerbau. Shu melangkah mundur sambil menjatuhkan tasnya yang
berisi uang logam, yang kini penuh darah.
Ia sedang
menimbang-nimbang, apakah akan meninggalkan uang di dalam tas itu atau
memindahkannya ke sakunya, saat mendengar suara di kejauhan. Seseorang sedang
menunggang kudanya di jalan yang dilapisi batu. Bunyi derapnya yang tenang dan
teratur menandakan bahwa penunggangnya orang yang penuh percaya diri di atas
seekor kuda yang tinggi.
Suatu
sosok yang tak asing lagi baginya membayang di hadapannya. Hatinya langsung
ciut. Rasa takut melanda dirinya. Sesaat ia berdiri terpaku di samping
orang-orang Mongol yang sekarang sudah mati itu, sambil berharap jika ia tidak
membuat gerakan mencurigakan, si penunggang takkan menuju ke arahnya.
Saat ia
menunggu, si penunggang kuda bergerak ke arahnya. Ketika Shu memutuskan untuk
lari, segalanya terlambat.
Di
bawah sinar bulan, dari ujung lain lorong itu muncul seekor kuda jantan hitam;
bulunya berkilauan bak permukaan danau di waktu malam. Kuda itu berhenti melangkah
sementara si penunggang, yang siaga begitu mendengar pekik kematian rekan-rekan
sebangsanya, merentangkan busur dengan anak panah terpasang padanya. Mata Shu
beradu dengan mata Pedang Dahsyat. Si jenderal menurunkan senjata sambil
mengerutkan alisnya dengan tertegun. Daya ingat jenderal yang masih muda itu
tajam sekali, sehingga ia tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir.
“Kau!
Gunung Makmur!” seru Pedang Dahsyat begitu mengenali mangsa lamanya.
Dalam
sekejap terbayang kembali setiap detail pertemuan terakhir mereka. Ia
menyunggingkan senyum serigala ke arah kuli muda itu. Sebuah permainan yang amat
menyenangkan sedang menanti.
“Kau
yang begitu lancang memelototi aku dulu! Sudah waktunya kau bergabung dengan
sobat kecilmu yang kepalanya sudah dipenggal itu!” teriak si jenderal sambil menyisihkan
busurnya dan menggusah kudanya untuk maju.
“Kepalamu
cukup bagus untuk dipancang!” ujar Pedang Dahsyat.
“Kau
takkan bisa menangkapku!” seru Shu sambil kabur meninggalkan lorong itu. Ia
dapat menangkap suara tawa si jenderal begitu perburuan itu dimulai.
Shu
berlari, semangatnya membuat kakinya seakan bersayap. Namun derap langkah kaki
si kuda terus membuntutinya. Ia melesat menerobos jalan-jalan yang sudah sepi,
bak kelinci yang tak berdaya. Dalam waktu singkat paru-parunya seakan meledak,
pinggangnya pedih. Namun si pemburu semakin dekat dan semakin dekat, tanpa
berusaha menambah kecepatan lari tunggangannya.
Ketika
Shu mencapai tepi sungai, ia sadar bahwa ia tidak kuat lari lebih jauh lagi.
Hamparan sawah yang sunyi membentang seakan tanpa akhir di sebelah kanannya. Di
sebelah kirinya tumbuh sebatang pohon yangliu tua. Ia langsung bersembunyi di
belakangnya sambil menyandarkan tubuh pada batangnya dan terengah-engah, sampai
ia melihat si pemburu semakin mendekat di bawah cahaya bulan.
Si
jenderal menghentikan kudanya. Senyum dingin membayang di wajahnya saat ia
meraih busur, lalu perlahan-lahan menarik anak panahnya
“Tidak!”
seru Shu sambil keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian melesat menembus kegelapan.
Bulan
tiba-tiba menghilang di balik gumpalan awan. Angin berembus lebih kencang. Shu
menangkap desiran anak panah pertama persis sebelum rasa sakit yang amat sangat
menyengat bahu kirinya.
Shu
terhuyung sesaat, kemudian jatuh terjerembap ke tanah. Ia mendengar derai tawa
si jenderal dan suara derap kuda yang semakin mendekat. Di bawah sadar ia juga mendengar
suara sobat kecilnya, Ma, “Lari! Ayo,
sobat besarku, cepat! Kalau tidak, dia akan menebas kepalamu juga!”
Shu
mengertakkan giginya menahan sakit, kemudian merangkak masuk ke sawah yang saat
itu penuh dengan rerumputan tinggi. Ia menghela tubuhnya maju, sambil menggelusur
di atas perutnya. Ia hanya dapat menggerakkan lengan kanannya. Pundak kiri
serta tangannya kelu. Ia meraba pundak kirinya dengan tangan kanan, dan
ternyata sebatang anak panah telah menembus tulang belikatnya. Mata panah yang
lebih dari lima senti panjangnya tersembul dari dadanya, persis di atas
jantung.
Ia
terus merangkak. Alang-alang yang tumbuh liar di bawah sinar matahari musim
panas itu tinggi dan liat. Tempat persembunyian yang ideal, tapi juga menyayat-nyayat
kulitnya, bak mata pisau yang tajam. Shu mendengar suara gemuruh yang semakin
mendekat. Persis derap kuda. Ia merangkak lebih cepat.
Cahaya
kilat berkelebat di langit, menerangi garis lintasan Buddha Cuaca. Buddha
mengayunkan pecutnya, suaranya menggelegar mengguncangkan langit dan bumi. Tetesan
hujan berjatuhan membasahi Shu, yang tiarap dengan tubuh gemetar di sawah yang
sudah ditinggalkan itu.
Rasa sakit yang tak tertahankan di bahu
kirinya segera menebar dengan cepat. Dalam sekejap hampir seluruh bagian atas
tubuhnya mulai terasa kelu. Ia menggerakkan kakinya untuk terus maju. Saat ia
menggelusur keluar dari bawah sebuah batang pohon yang sudah mati, sebuah anak panah
yang ditujukan ke arahnya mengenai dahan yang rendah. Shu mengelakkan tubuhnya,
jatuh dengan wajah ke tanah, kemudian pingsan.
