Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #16



Episode 15

1346, kota Yin-tin

MENTARI muncul dari balik Gunung Emas Ungu, sesaat dalam wujud bulatan kuning lembut, kemudian berubah menjadi bola api. Sinarnya menerangi rumah kediaman Gubernur Mongol yang bak istana, membias di atas rumah kediaman keluarga Lu, serta menghangatkan kulit para petani yang masih berdiri dalam barisan sejak bulan masih tinggi.

        “Aku masih merasa tidak enak gara-gara melempari putra Wali Kota dengan batu tempo hari,” ujar seseorang pada yang lain. “Waktu itu kukira wali kota kita pengkhianat. Tapi selama dua tahun terakhir ini ternyata dia dan anaknya telah menurunkan uang sewa dan pajak, serta menyelamatkan banyak di antara kita dari perlakuan semena-mena orang-orang Mongol. Dan sebagaimana kita semua tahu, untuk itu mereka mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri.”
        “Mudah-mudahan wali kota kita dapat mempertahankan kedudukannya untuk selamanya. Bahkan kalau mungkin menjadi Gubernur kelak. Atau, jika kabar angin yang mengatakan bahwa kesehatannya kurang begitu baik itu benar, mudah-mudahan putranya yang baik itu dapat menggantikannya.”
        Para petani itu berhenti berbicara begitu Lu muncul. Jubah kuning kepucatan menutupi tubuhnya yang kurus. Topi berwarna kuning gelap melindungi kulit wajahnya yang halus. Di usia dua puluh tahun, rupa Lu yang matang membuatnya tampak lebih tua. Kelembutan terpancar dari matanya yang agak miring ke atas saat ia menatap para petani miskin itu.
        “Keluarkan teh,” perintahnya pada para pelayan yang mengangkut wadah-wadah nasi yang masih mengepul-ngepul dan susu kedelai. Kemudian ia, mengeluarkan sehelai saputangan sutra dari sakunya, untuk menghapus keringat di dahinya. “Dan dirikan tempat berteduh sepanjang tembok ini.”
        Begitu para pelayan pergi melaksanakan perintahnya, Lu menggulung lengan bajunya yang lebar, kemudian mengambil sendok nasi dari kayu dengan jari-jarinya yang kurus. Ia menyendok nasi panas ke wadah-wadah yang diacungkan tangan-tangan para petani.
        “Sang Buddha akan memberkahi amal Anda, Bangsawan Lu,” ujar seorang petani sambil membungkuk saat menerima nasinya.
        Lu tersenyum, namun ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk berbincang-bincang. Lengannya hanya terbiasa menggenggam sepasang sumpit atau kuas. Menyendok nasi menguras banyak tenaganya. Sendok nasi itu terasa semakin berat baginya. Uap nasi yang masih mengepul-ngepul itu naik, membuat tangannya terasa panas. Ia memindahkan sendok nasinya ke tangan kiri agar yang kanan dapat beristirahat, namun yang kiri ternyata tidak begitu kuat. Ia menghela napas.
        Lu sudah letih saat para pelayan kembali. Setelah menyerahkan sendok nasi pada salah seorang di antara mereka, ia menyingkir, kemudian menyandarkan tubuh pada sebuah arca singa untuk beristirahat. Pelayan pribadinya yang melihatnya kepanasan, langsung meletakkan benda yang dipegangnya, kemudian bergegas mendekat dengan sebuah kipas.
        Sambil berdiri di tempat yang lebih teduh dan dikipasi oleh pelayan pribadinya, Lu mengawasi para pelayan membagi-bagi makanan, sampai muncul pelayan lain dan dalam rumah dengan wajah berseri-seri.
        “Tuan Muda, Bapak Wali Kota punya berita baik untuk Anda!“
        Lu langsung melupakan rasa penatnya, lalu bergegas masuk.
        Ia nyaris kehabisan napas begitu sampai ke bagian rumah yang didiami kedua orangtuanya. Wali Kota Lu dan istrinya sedang berlutut di muka patung Buddha, masing-masing sibuk menyalakan beberapa batang hio.
        Ayahnya berkata, “Cepat berlutut, Lu. Istrimu baru saja melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat, dan aku sudah menamakannya Teguh.”

Tradisi menuntut seorang laki-laki tak boleh menyentuh istrinya selama seratus hari terakhir menjelang si bayi lahir. Karena itu, sejak musim semi Lu dan Lotus tidur di kamar terpisah. Pada malam sebelumnya, begitu proses persalinan dimulai, Lu diminta meninggalkan bagian rumah yang mereka tempati bersama, agar istrinya lebih leluasa menjerit-jerit saat akan melahirkan. Ia tidak diperbolehkan melihat istri maupun anaknya sebelum keduanya bersih dan seluruh ruangan rapi kembali.
        Pelayan pribadi Lotus, Jasmine, yang sekarang sudah bersuamikan pelayan laki-laki bernama Ah Chin dan menjadi ibu seorang bayi laki-laki, membungkuk dalam-dalam pada tuan mudanya, kemudian memberikan tanda pada para pelayan lain untuk segera keluar dari kamar itu bersamanya.
        Lu duduk di tepi tempat tidur, tersenyum pada istrinya. Tubuh Lotus tertutup selimut merah sampai ke batas leher. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, dan matanya yang seperti buah badam setengah tertutup. Mulutnya yang bak ceri membentuk seutas senyum begitu melihat suaminya. Kemudian dengan nada lemah ia berbisik, “Senangkah hatimu melihat putra kita, suamiku?”
        Sebuah sosok kecil dalam selimut merah tergeletak di sebelah Lotus. Yang tampak hanya wajah si bayi. Matanya tertutup. Wajahnya merah dan agak keriput, mulutnya bak titik kecil yang lembap.
        “Anak kita tak beralis,”' seru Lu heran.
        “Tak lama lagi alisnya akan tumbuh,” ujar Lotus tertawa, kemudian menggerenyitkan wajah, menahan sakit.
        Lu ingin sekali memeluk istrinya, namun takut akan melukainya. Ia menyusupkan tangan ke bawah selimut, mencari tangan Lotus, kemudian menggenggam dan meremasnya dengan lembut. “Aku amat merindukanmu.”
        Lotus tersenyum, amat bahagia mendengar itu. Dengan sopan ia bertanya, “Apakah Sesame selalu memenuhi semua kebutuhanmu?”
        Selama seratus hari terakhir menjelang masa melahirkan, seorang suami biasanya tinggal bersama selir-selirnya. Lu hanya memiliki seorang selir, dan ia tidak berminat memperbanyak jumlah itu.
        “Sesame wanita yang baik,” gurmam Lu. Ia takkan pernah mengungkapkan pada istrinya bahwa Sesame, meskipun kini jauh lebih tua, masih mampu meluluhkan awan serta mencurahkan hujan dengan derasnya. “Tapi aku sudah tak sabar untuk segera kembali ke sini,” ujarnya sambil menatap ke arah bantal kosong di sebelah Lotus.
        Wajah Lotus merona. “Masih seratus hari lagi,” gumamnya. Tradisi menyatakan bahwa tubuh seorang wanita dianggap kotor setelah melahirkan, dan tidak baik bagi peruntungan jika si suami menidurinya selama seratus hari berikutnya.
        Lotus memalingkan wajah ke arah jendela, untuk menyembunyikan rasa sedih yang tiba-tiba melanda dirinya. Ia amat merindukan kehadiran ibunya saat itu.
        Selama dua tahun terakhir Lotus hanya sekali berjumpa dengan lbunya. Itu terjadi Tahun Baru yang lalu, ketika kaum wanita keluarga Lin dan Lu pergi ke Kuil Bintang-bintang Damai untuk membakar dupa. Kandungan Lotus mulai tampak, dan ibunya berseru bahagia melihatnya. Luapan emosi ini membuat ayah Lotus sangat marah. Sejak itu ia melarang istrinya menemui siapa saja yang datang dari rumah keluarga Lu. Lady Lin terpaksa mengikuti perkembangan Lotus melalui nyonya-nyonya lain di Yin-tin.
        Lu melihat air mata menggenang di mata Lotus saat istrinya itu berpaling kembali ke arahnya. Ia marah sekali pada ayah mertuanya, karena melarang Lady Lin dan Lotus saling berkunjung. “Akan kukirim orang untuk menemui ibumu. Mungkin kali ini ayahmu akan membiarkan ibumu menemuimu,” ujarnya sambil berdiri. “Omong-omong, aku punya hadiah untukmu.”
        Ia menuju kamarnya sendiri, kemudian kembali lagi bersama Sesame, yang membawa sebuah kotak berat di tangannya. “Selamat, nyonyaku,” ujar Sesame, sambil melirik ke arah si bayi dengan pandangan lembut, kemudian meletakkan kotak itu di meja di sebelah tempat tidur Lotus. “Selama seratus hari terakhir, tuanku sibuk sepanjang hari dan malam membuatkan hadiah ini untuk nyonyaku.” Ia membungkuk sekali lagi, lalu meninggalkan ruangan itu.
        Lu mengeluarkan sepasang patung yang diukir dari kayu jati dan berwujud sepasang bangsawan dari kotak itu. Ia duduk di tepi tempat tidur, lalu meletakkan kedua patung ltu di pangkuannya. Kayunya ternyata berat. “Dengan bantuan guru seniku, kuukir ini dengan menggunakan gambar yang pernah kuberikan padamu di malam pengantin kita sebagai model. Tapi ini hanya berfungsi sebagai model untuk pasangan kekasih dari batu kemala yang akan kuukir kelak. Kayu jati bukan bahan yang ideal untuk mengungkapkan apa yang ingin kusampaikan.”
        Kelopak mata Lotus mulai terasa berat. Ia memaksa dirinya untuk tidak jatuh tertidur dengan menatap patung-patung itu, lalu tersenyum lemah. Apa yang dikatakan Sesame ternyata benar. Begitu banyak waktu dan tenaga telah dicurahkan untuk mewujudkan detail-detail pada kedua patung itu.
        Lipatan-lipatan jubah serta hiasan di kepala masing-masing pasangan itu. Tentunya Lu tak punya banyak waktu tersisa untuk Sesame.
        Lotus menguap. Seperti lbu yang merasa wajib menanyakan pada seorang bocah mengenai permainannya, ia bertanya dengan lembut, “Apa sebetulnya yang ingin kausampaikan melalui ukiran-ukiranmu ini, suamiku?”
        Lu menatap istrinya yang sedang memejamkan mata. Sambil merendahkan suaranya ia melantunkan dengan lembut, “Ribuan tahun yang akan datang, orang akan menatap pasangan kekasih dari batu kemala itu, lalu menyadari bahwa Cina adalah negeri indah yang tak hanya penuh dengan kaum ksatria dan pemberontak, tapi juga dengan penyair dan seniman. Kekayaan Cina akan terungkap, demikian pula kejayaannya…”
        Ia mendengar suara napas Lotus yang teratur. Setelah meletakkan kedua patung berdiri, kemudian keluar dari ruangan itu tanpa membangunkan istrinya.

Ketika Teguh berusia seratus hari, sebuah perayaan besar diselenggarakan di rumah kediaman Wali Kota Lu.
        Saat matahari mulai terbenam, para tamu Cina mulai berdatangan dalam tandu-tandu tertutup mereka, sedangkan orang-orang asing dan Mongol menunggang kuda atau naik kereta. Bahkan di Yin-tin, tempat orang Cina dapat menduduki jabatan wali kota, undang-undang melarang mereka memiliki kuda atau keledai.
        Lu si Teguh dimandikan serta dibedaki, kemudian diberi pakaian jubah penuh sulaman merah. Kepalanya yang gundul ditutupi topi satin merah yang dihiasi berbagai jimat keberuntungan dari batu kemala, mirah, dan emas murni. Di kakinya yang mungil ia mengenakan sepasang sepatu satin merah yang bentuknya mirip kepala harimau. Wajahnya putih oleh bedak, pipinya diberi perona. Di tengah-tengah dahinya terdapat sebuah titik merah yang dibuat dengan perona bibir, untuk mengusir roh jahat. Ia sudah cukup tidur dan tampaknya merasa cukup nyaman. Ia tersenyum kepada para tamu saat Jasmine membawanya berkeliling di ruang bangsal utama itu dalam gendongannya.
        Para tamu senang karena senyuman bayi laki-laki akan membawa berkah bagi mereka.
        Kondisi kesehatan Wali Kota Lu sudah mulai merosot, tapi begitu melihat cucu laki-lakinya, ia merasa muda dan kuat kembali. “Sebagian dari diriku akan hidup dalam bayi ini.” Ia menunjuk ke arah Teguh dengan bangga, kemudian mengalihkan perhatiannya kembali kepada para tamunya. “Ayo kita mulai dengan upacara menentukan masa depan.”
        Sesame muncul dengan baki yang dipernis, dialasi taplak sutra merah. Di atasnya terdapat beberapa macam benda: uang logam emas, kuas, pedang-pedangan, alat musik petik yang mungil, lilin, dan banyak lagi.
        Wali Kota Lu menerima Teguh, kemudian meletakkannya di pangkuannya. Sesame membungkuk agar Teguh dapat meraih sesuatu yang terletak d i baki. Lady Lu, Lu si Bijak, dan Lotus duduk di dekatnya sambil memperhatikan ulah bayi itu dengan hati berdebar-debar. Semua orang menahan napas ketika Teguh menguturkan lengannya yang montok.
        “Hati-hati, cucuku,” ujar Wali Kota Lu mengingatkan. “Apa yang kauambil akan menentukan nasibmu.” Seakan si bayi mengerti, kakeknya berkata lagi, “Kauambil kuas, dan kau akan menjadi cendekiawan. Kauambil pedang, kau akan menjadi ksatria.” Sesaat si kakek menatap Sesame dengan pandangan menuduh, karena tidak menempatkan pedang-pedangan itu cukup jauh dari jangkauan si bayi. “Kauambil keping uang logam itu, dan kau akan menjadi bangsawan kaya. Kaupilih alat musik, dan kau akan menciptakan lagu-lagu indah. Kauraih lilin itu, cucuku, dan kau akan memberi dunia ini terang dan harapan.”
        Si bayi tak dapat memutuskan. Tangan Sesame mulai bergetar karena beratnya baki, sehingga lilin merah hasil olahan sendiri menggelinding ke tepi. Teguh, yang tertarik melihatnya, kemudian meraihnya dengan tangannya yang mungil dan montok.
        Para tamu bertepuk tangan. Kedua orangtua serta kakek-neneknya langsung lega. Bisa saja ia memungut kotak berisi perona pipi, yang kelak akan membuatnya menjadi perayu wanita. Gulungan benang berarti ia akan menjadi tukang jahit; tajak miniatur, petani; tangkal bambu, nelayan; dan gergaji-gergajian, tukang kayu.
        Setelah pesta dan berbagai acara hiburan, para tamu memberikan hadiah-hadiah mereka kepada si bayi. Rantai emas yang berat diberikan agar si bayi terikat pada dunia mereka yang hidup. Gelang dan rantai kaki dihadiahkan dengan alasan yang sama. Meja yang disediakan di ruang bangsal utama kemudian penuh dengan hadiah-hadiah, namun tak seorang pun dan anggota keluarga Lu menoleh ke situ. Bahkan si bayi sudah mulai capek dan tidak begitu menunjukkan perhatian.
        Setelah pesta usai, sejumlah tamu mendapat undangan untuk kembali. Melalui pintu belakang, sebagaimana biasa. Saat akan menemui mereka, Lu mendapati anak tangganya penuh dengan hadiah-hadiah untuk anaknya. Semua itu dari para petani - penutup kepala dari perca-perca katun, baju tidur dari bahan selimut, mangkuk kayu yang dibuat oleh seorang tukang kayu, dan sebuah suling bambu seperti yang biasa dimainkan anak-anak gembala saat menunggang kerbau. Hati Lu amat tersentuh.

Liga Rahasia, yang pada awalnya hanya beranggotakan sekitar tiga puluh orang dari kalangan elite, sekarang sudah memiliki lebih dari seratus anggota, termasuk di antaranya beberapa cendekiawan miskin. Namun tak seorang pun berasal dari kalangan militer. Sesuai dengan nama yang disandang organisasi itu, semuanya dari kalangan terpelajar yang tak dapat dan tak mau menggunakan jalan kekerasan.
        “Semakin banyak tinju diayunkan ke arah orang-orang Mongol belakangan ini, baik di Utara maupun Selatan,” ujar Lu sambil menyapukan pandang ke bangsal utama yang tertutup rapat. Sebelumnya mereka selalu menyelenggarakan pertemuan di ruang baca, tapi ruangan itu akhirnya terlalu sempit. Matanya melayang ke wajah-wajah mereka yang sudah tua, dan hatinya langsung sedih begitu menyadari bahwa ayahnya tampak paling rapuh di antara mereka.
        Lu melanjutkan, “Pasukan pergerakan yang baru amat membutuhkan senjata, tenda, obat-obatan, gerobak, dan bahan makanan. Aku memang sudah meminta banyak dari Anda sekalian selama dua tahun terakhir ini, tapi sekarang aku betul-betul terpaksa meminta lagi.”
        Mereka yang dari kalangan kaya menyumbangkan uang emas dan perak, sementara para cendekiawan miskin menyumbangkan uang tembaga. Mereka meletakkan sumbangan mereka di meja yang saat itu masih penuh dengan hadiah-hadiah untuk Teguh.
        Lu berkata, “Ayahku dan aku akan menyumbangkan semua barang berharga yang kami terima malam ini untuk dana Liga Rahasia. Teguh baru berusia seratus hari, tapi sudah menjadi anggota termuda kita. Anakku akan berbesar hati kalau dia sudah cukup besar nanti untuk mengerti.”
        Liga Rahasia sudah cukup punya nama di kalangan dunia pergerakan. Para pemimpin pemberontakan yang membutuhkan dana sering menemui Lu melalui jaringan bawah tanah. Lu selalu mempertimbangkan baik-baik sebelum mengambil keputusan, apakah liga mereka akan memenuhi atau menampik permohonan tunjangan yang diharapkan.
        Setelah semua urusan selesai dibicarakan, para anggota yang lebih senior meninggalkan ruangan, sementara yang muda mulai membuat tinta dengan menggerus batu bak dalam relungan tinta berisi air. Kemudian mereka menggelar gulungan kertas merang, lalu mulai merangkai puisi.
        Beberapa di antara mereka mengambil Sungai Yangtze di kala banjir sebagai topik. Mereka melukiskan penderitaan rakyat selama terjadinya bencana itu, dan mengapa sungai itu kemudian di namakan Sungai Air Mata, persis halnya Sungai Kuning yang juga dikenal sebagai Sungai Nestapa. Tujuan mereka adalah membangkitkan rasa kebangsaan, agar yang kaya tergugah untuk menolong yang miskin.
        Yang lain menulis tentang situasi di lokasi pembangunan saluran air. Kanal Hui-tung telah memakan korban jutaan jiwa, dan Kanal Chi-chou beberapa juta lagi. Saat itu Panglima Tertinggi Pedang Dahsyat sedang dalam perjalanan ke Yin-tin untuk mengawasi pembangunan saluran air itu, dengan membawa lebih dari tiga ribu orang bersamanya.
        Sementara para cendekiawan itu merangkai syair-syair patriotik mereka, malam pun semakin larut. Bulan sudah berada di sebelah barat, saat mereka akhirnya siap mencetak.
        Aksara-aksara dalam bentuk terbalik sudah terpahat pada lempengan-lempengan kayu yang masing-masing tebalnya empat kali sebatang sumpit. Para cendekiawan itu kemudian memilih karakter-karakter yang mereka butuhkan dari peti kayunya yang besar, untuk disusun dalam rangkaian yang dikehendaki.
        Lempengan-lempengan itu diletakkan dalam sebuah kotak yang dibingkai bambu, lalu diikat menjadi satu. Tinta disapukan pada sisinya yang rata, selembar kertas merang ditekankan di atasnya, kemudian sebuah pelindas digelindingkan. Para cendekiawan itu lalu mencopoti lembaran kertas mereka, untuk dialihkan dari tangan ke tangan - sambil tersenyum. Dan yang tampak saat itu adalah senyum khas seorang penulis yang akhirnya melihat ungkapan hati mereka yang sesungguhnya dalam bentuk tulisan hitam di atas putih.
        Para anggota Liga Rahasia itu terus bekerja sampai subuh. Ketika salah seorang di antara mereka melongok ke luar melalui jendela, ia melihat bulan sabit yang mulai memudar di langit menjelang fajar itu. Sebentar lagi waktunya untuk Perayaan Bintang, yang merupakan salah satu kesempatan bagi orang-orang Cina bertukar kue-kue manis tanpa menimbulkan kecurigaan di antara orang-orang Mongol.
        Lu memasuki kamar yang ditempatinya bersama Lotus, dan melihat cahaya pertama matahari pagi membias masuk melalui jendela yang ditutupi kertas merang, menyinari wajah istri dan anaknya dengan lembut. Berjingkat ia mendekati tempat tidur, lalu berdiri diam-diam, mengagumi potret indah dan penuh kedamaian itu.
        Tiba-tiba sebuah suara keras dari balik tembok kebun memecah suasana hening itu. Lotus tersentak dari tidurnya, membuka mata, lalu duduk tegak. Bak disengat si bayi menggerakkan lengan-lengan montoknya, kemudian menangis.
        “Ada apa?” tanya Lotus.
        Lu memasang telinga, kemudian mengepalkan jari-jarinya yang kurus menjadi dua kepalan tinju kepucatan. “Rupanya pengerjaan Kanal Chi-chou sudah mencapai Yin-tin. Itu suara para kuli yang menggali!”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...