Agatha Christie - Anjing Kematian #28



Charles mengangguk-angguk mengerti.
      Semalam sebelumnya, ketika seisi rumah itu sudah tidur, ia telah mengambil seutas kabel yang disambungkan dari bagian belakang lemari radio ke kamar tidurnya di lantai atas. Selain itu, berhubung malam itu udara dingin, ia telah meminta Elizabeth menyalakan perapian di kamarnya, dan di perapian itulah ia membakar kumis dan janggut berwarna cokelat yang dikenakannya. Mantel bergaya Victoria milik almarhum pamannya ia kembalikan ke lemari beraroma kamper di loteng.

      Sejauh yang diperkirakannya, ia benar-benar aman.
      Rencananya, yang garis besarnya mulai terbentuk samar-samar ketika Dr. Meynell mengatakan bahwa bibinya bisa hidup bertahun-tahun lagi kalau mendapatkan perawatan semestinya, telah berhasil dengan sukses. Kejutan mendadak, kata Dr. Meynell waktu itu.
      Charles, pemuda yang penuh sayang itu, yang menjadi kecintaan para wanita tua, tersenyum-senyum sendiri.
      Setelah sang dokter pergi, Charles, mulai mengerjakan tugas-tugasnya dengan rapi. Rencana pemakaman mesti dibuat. Para kerabat yang datang dari jauh mesti dicarikan karcis kereta. Dalam satu dua kasus mereka mesti menginap. Charles mengerjakan semua urusan itu dengan efisien dan metodis, sementara pikirannya sibuk sendiri.
      Suatu kebetulan yang amat sangat bagus! Itulah masalahnya. Tak seorang pun, terutama almarhumah bibinya, tahu keadaan genting yang tengah dialami Charles. Berbagai kegiatannya, yang selama ini ia sembunyikan dengan hati-hati dari seluruh dunia, telah membawanya pada posisi yang mungkin akan mengirimnya ke penjara.
      Aib dan kehancuran telah menantinya kecuali kalau ia bisa menyediakan uang dalam jumlah besar dalam beberapa bulan. Yah... sekarang semua masalahnya sudah beres. Charles tersenyum sendiri. Ya, berkat lelucon konyolnya itu tidak bisa disebut tindakan kriminal ia selamat. Sekarang ia telah menjadi orang yang sangat kaya. Ia tidak merasa cemas akan hal ini, sebab Mrs. Harter tak pernah menutup-nutupi niat untuk menjadikannya ahli waris.
      Saat Charles sedang sibuk dengan pikiran-pikiran tersebut, Elizabeth melongokkan kepala dari pintu dan memberitahukan bahwa Mr. Hopkinson sudah datang dan ingin bertemu dengan Charles.
      Sudah waktunya, pikir Charles. Sambil menahan dorongan untuk bersiul, ia memasang wajah sedih yang sesuai, lalu beranjak ke perpustakaan. Di sana ia menyapa pria tua yang sudah menjadi penasihat hukum Mrs. Harter selama lebih dari seperempat abad itu.
      Mr. Hopkinson duduk setelah dipersilakan oleh Charles, dan setelah batuk-batuk sedikit ia langsung ke pokok permasalahannya. “Saya tidak begitu mengerti surat Anda pada saya, Mr. Ridgeway. Sepertinya Anda mengira bahwa surat wasiat almarhumah Mrs. Harter berada di tangan kami.”
      Charles melongo menatapnya. “Tapi... saya sudah mendengar bibi saya mengatakan demikian.”
      “Oh! Benar, memang benar. Dulu surat itu memang kami yang menyimpan.”
      “Dulu?”
      “Begitulah. Tapi Ialu Mrs. Harter menulis pada kami, meminta surat tersebut dikirimkan padanya pada hari Selasa yang lalu.”
      Perasaan gelisah merayapi Charles. Ia bisa merasakan pertanda datangnya sesuatu yang tidak menyenangkan.
      “Pasti surat itu ada di antara dokumen-dokumen lainnya,” sang pengacara melanjutkan dengan halus.
      Charles tidak mengatakan apa-apa. Ia takut mengucapkan apa pun. Ia sudah memeriksa dokumen-dokumen Mrs. Harter dengan saksama, amat sangat saksama, dan ia yakin tidak ada surat wasiat di antaranya. Semenit dua menit kemudian, setelah bisa kembali menguasai diri, ia menyampaikan hal tersebut. Suaranya terasa tidak nyata di telinganya sendiri, dan ia merasa seperti ada air dingin yang menetes-netes di punggungnya.
      “Apa ada yang sudah memeriksa barang-barang pribadinya?” tanya pengacara itu.
      Charles menjawab bahwa pelayan bibinya, Elizabeth, telah memeriksa semuanya. Atas saran Mr. Hopkinson, Elizabeth pun dipanggil. Ia datang dengan segera, serius dan tegas, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya.
      Ia sudah memeriksa pakaian-pakaian dan barang-barang pribadi almarhumah nyonyanya. Ia yakin sekali, tidak ada dokumen resmi berupa surat wasiat di antaranya. Ia tahu seperti apa bentuk surat wasiat itu. Nyonyanya masih memegangnya di tangan, pada pagi hari kematiannya.
      “Kau yakin itu?” tanya si pengacara dengan tajam.
      “Ya, Sir. Beliau sendiri yang mengatakannya pada saya. Dan dia menyuruh saya mengambil uang lima puluh pound, dalam lembar-lembar uang kertas. Surat wasiat itu ada di dalam sebuah amplop panjang berwarna biru.”
      “Benar sekali,”' kata Mr. Hopkinson.
      “Setelah saya ingat-ingat lagi,” kata Elizabeth, “amplop biru itu tergeletak di meja ini, pada pagi setelahnya… tapi sudah kosong. Saya menaruhnya di meja.”
      “Aku ingat melihatnya di situ,” kata Charles. Ia bangkit berdiri dan beranjak ke meja. Tak lama kemudian, ia membalikkan tubuh dengan sebuah amplop di tangannya, yang lalu ia serahkan pada Mr Hopkinson.
      Mr. Hopkinson memeriksanya, dan menganggukkan kepala. “Memang ini amplop berisi surat wasiat yang saya kirimkan pada hari Selasa yang lalu.”
      Kedua pria itu menatap tajam pada Elizabeth.
      “Masih ada lagi, Sir?” Elizabeth bertanya dengan hormat.
      “Untuk saat ini tidak, terima kasih.”
      Elizabeth beranjak ke pintu.
      “Tunggu sebentar,” kata Mr. Hopkinson. “Apakah malam itu ada api di perapian”
      “Ya, Sir, selalu ada api di situ.”
      “Terima kasih, itu saja.”
      Elizabeth keluar dan ruangan tersebut. Charles mencondongkan tubuh dengan satu tangan gemetar bertumpu di meja.
      “Bagaimana menurut Anda? Apa maksud Anda tadi?”
      Mr. Hopkinson menggelengkan kepala.
      “Kita mesti tetap berharap surat wasiat itu bisa ditemukan. Kalau tidak...”'
      “Bagaimana kalau tidak?”
      “Saya khawatir hanya ada satu kesimpulan yang mungkin. Bibi Anda minta surat wasiat itu dikirimkan padanya karena dia ingin memusnahkannya. Berhubung dia tak ingin Elizabeth kehilangan haknya, dia memberikan uang tunai pada pelayannya itu.”
      “Tapi kenapa?” teriak Charles dengan panik. “Kenapa?”
      Mr Hopkinson batuk-batuk dengan nada datar.
      “Anda tidak... eh... bertengkar dengan bibi Anda bukan. Mr. Ridgeway?” gumamnya.
      Charles terkesiap. “Tentu saja tidak,” teriaknya. “Hubungan kami baik sekali, dan penuh sayang sampai akhir.”
      “Ah!”' kata Mr. Hopkinson, tanpa menatapnya.
      Charles merasa sangat terperanjat karena pengacara ini tidak mempercayainya. Siapa tahu, apa yang telah didengar oleh si tua ini? Gosip-gosip tentang sepak terjang Charles mungkin sudah sampai ke telinganya. Wajar saja kalau ia juga beranggapan bahwa gosip-gosip ini pun sudah sampai ke telinga Mrs. Harter, sehingga bibi dan keponakan ini bertengkar karenanya.
      Tapi bukan demikian kenyataannya! Saat ini benar-benar saat paling pahit dalam kehidupan Charles. Sejauh ini segala kebohongannya telah dipercayai. Tapi sekarang, saat ia mengatakan yang sebenarnya, ia justru tidak dipercayai. Ironis sekali!
      Tentu saja bibinya tak pernah membakar surat wasiat itu! Tentu saja...
      Sekonyong-konyong pikirannya yang berkecamuk terhenti sejenak. Terbayang olehnya gambaran berikut ini... seorang wanita tua, dengan satu tangan memegangi jantungnya... sesuatu tergelincir dari genggamannya... sehelai kertas... jatuh ke bara api perapian...
      Wajah Charles pucat pasi. Ia mendengar suaranya sendiri bertanya dengan serak, “Kalau surat wasiat itu tak bisa ditemukan. .?”
      “Ada surat wasiat terdahulu yang dibuat oleh Mrs. Harter. Bertanggal September 1920. Di dalamnya, Mrs. Harter mewariskan segalanya pada keponakan perempuannya, Miriam Harter, yang sekarang telah menjadi Miriam Robinson.”
      Apa kata pengacara tolol ini? Miriam? Miriam dan suaminya yang tidak bisa apa-apa, dan keempat anak mereka yang cengeng. Segala kecerdikannya selama ini... untuk Miriam!
      Telepon berdering nyaring di dekatnya. Charles menjawabnya.
      Suara Dr. Mevnell, penuh semangat dan ramah. “Ini Anda, Ridgeway? Saya pikir mungkin Anda ingin tahu. Hasil otopsi sudah diperoleh. Penyebab kematian seperti yang saya perkirakan. Tapi sebenarnya masalah jantung bibi Anda lebih serius daripada yang saya kira ketika dia masih hidup. Walau dengan perawatan paling saksama pun, dia takkan mungkin hidup lebih lama dari dua bulan. Mungkin Anda ingin tahu itu. Sedikit banyak bisa menghibur Anda.”
      “Sebentar,” kata Charles, “bisa diulangi lagi?”
      “Bibi Anda tak mungkin bisa hidup lebih lama dari dua bulan,” kata sang dokter dengan suara agak lebih keras. “Segala yang terjadi itu memang sudah yang terbaik, sahabatku...”
      Tapi Charles sudah membanting telepon ke tempatnya. Ia mendengar suara Mr. Hopkinson berbicara dari jauh. “Astaga, Mr. Ridgeway, apa Anda sakit?”
      Persetan mereka semua! Pengacara berwajah sok itu! Meynell sialan yang licik itu! Tak ada harapan yang tersisa sekarang... kecuali bayang-bayang tembok penjara...
      Ia merasa seseorang telah mempermainkannya seperti kucing mempermainkan tikus. Pasti ada seseorang yang tertawa di sana....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...