Agatha Christie - Anjing Kematian #27



Selama semenit dua menit Mrs. Harter duduk terpaku. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru dan mengerut. Kemudian ia bangkit berdiri dan duduk di depan meja tulisnya. Dengan tangan agak gemetar, ia menulis baris-baris berikut ini:
     
      Malam ini, pada pukul 21.15, aku telah mendengar dengan jelas suara almarhum suamiku. Dia mengatakan akan menjemputku pada hari Jumat malam jam 21.30. Kalau aku meninggal pada hari dan jam tersebut, aku ingin fakta-faktanya diketahui, di luar keraguan sedikit pun, bahwa aku kemungkinan telah berkomunikasi dengan dunia arwah.

MARY HARTER


Mrs. Harter membaca kembali apa yang telah ditulisnya, lalu memasukkan kertas itu ke dalam amplop, dan menuliskan nama orang yang dituju di amplop tersebut. Setelah itu ia memencet bel, dan Elizabeth segera datang. Mrs. Harter bangkit dari balik mejanya dan memberikan surat yang baru saja ditulisnya itu pada Elizabeth.
      “Elizabeth,” katanya, “kalau aku meninggal pada hari Jumat malam, aku ingin surat ini diberikan pada Dr. Meynell. Tidak...,” katanya ketika Elizabeth seperti hendak memprotes, “... jangan mendebatku. Kau sudah sering bilang padaku, bahwa kau percaya pada pertanda. Sekarang aku sudah mendapat pertanda. Ada satu hal lagi. Aku mewariskan 50 pound untukmu dalam surat wasiatku. Aku ingin kau mendapatkan 100 pound. Kalau aku tak sempat pergi sendiri ke bank sebelum meninggal, Mr. Charles yang akan mengurusnya.”'
      Seperti sebelumnya, Mrs. Harter tidak mau mendengar protes-protes Elizabeth yang berurai air mata. Ia sudah bertekad menjalankan niatnya, dan keesokan paginya ia bicara tentang hal tersebut pada keponakannya.
      “Ingat Charles, kalau terjadi apa-apa padaku, Elizabeth mesti diberi 50 pound lagi.”
      “Bibi sangat murung akhir-akhir ini, Bibi Mary,” kata Charles dengan riang. “Apa sih yang akan terjadi pada Bibi? Menurut Dr. Meynell, kita akan merayakan ulang tahun Bibi yang keseratus sekitar dua puluh tahun lagi!”
      Mrs. Haiter tersenyum sayang padanya, tapi tidak menjawab.
      Setelah beberapa saat ia berkata, “Kau ada acara apa pada hari Jumat malam, Charles?”
      Charles tampak agak terperanjat. “Sebenarnya keluarga Eming mengundangku main bridge, tapi kalau Bibi ingin aku tinggal di rumah...”
      “Tidak,”' kata Mrs. Harter dengan tegas. “Tentu tidak. Aku sungguh-sungguh, Charles. Terutama pada malam itu, aku sangat ingin ditinggalkan sendirian.”
      Charles menatapnya dengan agak heran. Tapi Mrs. Harter tidak bersedia memberikan informasi lebih lanjut. Ia seorang wanita tua yang berani dan penuh tekad. Ia merasa mesti menghadapi pengalamannya yang aneh ini seorang diri.
      Hari Jumat malam, suasana di rumah itu sangat sunyi. Mrs. Harter seperti biasa, duduk. di kursinya yang berpunggung tinggi, yang didekatkan ke perapian. Segala persiapannya sudah selesai.
      Pagi itu ia sudah pergi ke bank, mengambil 50 pound dalam lembar-lembar uang kertas, dan menyerahkannya pada Elizabeth. Walau Elizabeth memprotes dan menangis, ia juga telah memilah-milah dan menyusun segala barang-barang pribadinya, dan telah memisahkan satu dua perhiasan untuk diberikan pada teman-teman atau kerabat. Ia juga telah menuliskan daftar instruksi untuk Charles. Perangkat minum Worcester itu mesti diberikan pada Sepupu Emma. Stoples-stoples Sevres diberikan pada William. Dan seterusnya.
      Sekarang Mrs. Harter memandangi amplop panjang di tangannya, dan dari dalamnya ia mengeluarkan sehelai dokumen terlipat. Dokumen tersebut adalah surat wasiatnya, yang dikirimkan oleh Mr. Hopkinson sesuai dengan instruksi- instruksinya. Ia sudah membaca isinya dengan saksama, tapi sekarang ia memeriksanya sekali lagi, untuk menyegarkan ingatannya. Isi surat wasiat itu singkat dan sederhana. Warisan sebesar 50 pound untuk Elizabeth Marshall yang telah memberikan pelayanannya yang setia selama ini. Warisan masing-masing sebesar 500 pound untuk seorang saudara perempuan dan sepupu pertama, dan sisanya dilimpahkan pada keponakannya tercinta, Charles Ridgeway.
      Mrs. Harier mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.
      Charles akan menjadi sangat kaya setelah ia meninggal. Yah, anak itu sudah begitu manis padanya selama ini. Selalu baik hati, selalu penuh sayang, dan ada saja ucapannya yang membuat hatinya senang.
      Mrs. Harter menatap jam dinding. Tiga menit lagi. Yah, ia sudah siap. Dan ia merasa tenang, sangat tenang. Walau ia mengulangi kata-kata terakhir itu beberapa kali pada dirinya sendiri, jantungnya berdebar aneh dan tidak teratur. Ia sendiri hampir-hampir tidak menyadarinya, tapi saraf-sarafnya sebenarnya sudah amat sangat tegang.
      Pukul setengah sepuluh. Radio sudah dinyalakan. Apa yang akan didengarnya? Suara akrab si penyiar ramalan cuaca, atau suara samar-samar itu, yang berasal dari seorang pria yang sudah meninggal dua puluh lima tahun yang lalu?
      Tapi ia tidak mendengar keduanya. Yang sampai ke telinganya malah suatu suara yang sudah dikenalnya, suara yang telah ia kenal dengan baik namun malam ini membuatnya merasa seakan ada tangan dingin yang menyentuh jantungnya. Suara orang yang mencoba membuka pintu...
      Suara itu terdengar lagi. Lalu sapuan angin dingin seakan menyerbu masuk ke dalam ruangan itu. Sekarang Mrs. Harter tidak ragu lagi akan apa-apa yang dirasakannya. Ia merasa takut... lebih dari takut malah... ia merasa ngeri... Dan sekonyong-konyong pikiran ini terlintas dalam benaknya: dua puluh lima tahun adalah jangka waktu yang sangat lama. Aku sudah tidak mengenal Patrick lagi sekarang.
      Kengerian yang amat sangat itulah yang mulai merayapi dirinya.
      Terdengar suara langkah pelan di luar pintu, langkah kaki pelan yang ragu-ragu. Kemudian pintu terbuka tanpa suara.
      Mrs. Harter terhuyung-huyung bangkit, tubuhnya agak limbung, matanya terpaku pada ambang pintu, sesuatu tergelincir jatuh dari genggamannya, melayang ke perapian. Ia mengeluarkan jeritan tertahan yang tercekat di kerongkongannya. Dalam cahaya remang-remang dari ambang pintu berdiri sebuah sosok yang telah dikenalnya. dengan janggut dan kumis cokelat serta mantel kuno bergaya Victoria.
      Patrick sudah datang menjemputnya!
      Jantungnya melompat ketakutan satu kali, lalu tak berdetak lagi.
      Mrs. Harter merosot ke tanah dan terpuruk di sana.
      Di situlah Elizabeth menemukannya, satu jam kemudian.
      Dr. Meynell segera dihubungi, dan Charles Ridgeway lekas-lekas dipanggil dari acara main bridgenya. Tapi tak ada yang bisa dilakukan. Mrs. Harter sudah tidak tertolong lagi.
      Baru dua hari kemudian Elizabeth teringat surat yang diberikan almarhumah nyonyanya kepadanya. Dr. Meynell membaca surat tersebut dengan penuh minat, lalu menunjukkannya pada Charles Ridgeway. “Kebetulan yang sangat aneh,” katanya. “Jelas sekali bibi Anda telah mengalami halusinasi tentang suara almarhum suaminya. Sarafnya pasti sudah begitu tegang hingga membawa akibat fatal baginya, dan ketika saatnya tiba, dia meninggal karena shock.”
      “Auto sugesti?” kata Charles.
      “Semacam itulah. Saya akan memberitahukan hasil autopsinya secepat mungkin, walau saya sendiri sudah tidak ragu lagi.” Dalam keadaan tersebut, otopsi memang diperlukan walau sepenuhnya sebagai formalitas belaka.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...