Episode
14
RUMAH penjara di kota Gunung Makmur berupa bangunan
batu yang hanya terdiri atas sebuah ruangan besar untuk menampung semua tahanan
pria. Kebanyakan di antara mereka tertangkap dan sudah dijatuhi hukuman di
desa-desa Provinsi Honan yang lebih kecil, kemudian dipindahkan ke situ. Setiap
bulan sebuah tim pelaksana yang terdiri atas orang-orang Mongol muncul untuk
menggantung mereka yang dijatuhi hukuman mati, serta melaksanakan
hukuman-hukuman lain yang lebih ringan.
Andaikata
Sipir Li dan istrinya tidak begitu mudah terbawa perasaan, tugas mereka takkan
terasa begitu berat. Mereka tak perlu khawatir para tahanan akan memberontak
atau kabur. Orang-orang ini sudah mendapat perlakuan yang kasar sekali dalam
perjalanan. Tanpa memedulikan jarak, mereka harus berjalan kaki sementara para
pengawal mereka menunggang kuda. Begitu tiba di kota Gunung Makmur, kebanyakan di
antara mereka sudah setengah mati. Namun Sipir Li dan istrinya jauh dari kejam.
Mereka sama-sama orang Cina, dan sementara si istri memasak untuk para tahanan,
si suami memastikan tak seorang pun di antara mereka bunuh diri.
Malam
itu Sipir Li dan istrinya sudah menyelesaikan tugas mereka untuk hari itu, dan
para tahanan sudah tidur. Pasangan itu berada di ruang istirahat mereka yang terpisah
dari ruang utama oleh balok-balok kayu tebal. Dari jendela terbuka mereka dapat
melihat bulan musim semi yang masih berbentuk sabit - para tahanan masih punya
waktu sepuluh hari sebelum orang-orang Mongol itu datang. Mereka bertukar
pandang dengan sedih, kemudian mengalihkan mata melalui balok-balok kayu, ke
arah mereka yang dijatuhi hukuman mati.
Di
antaranya terdapat beberapa cendekiawan yang dituduh mengorganisir
kelompok-kelompok pemberontak serta petani-petani yang dihukum karena tidak
membayar pajak dengan hasil bumi yang tidak mereka miliki. Ada beberapa
penambang yang tertangkap karena memiliki alat-alat menambang yang dapat
digunakan sebagai senjata mematikan, dan bukannya menggunakan alat-alat yang seharusnya
dipakai bersama-sama dalam suatu kelompok yang terdiri atas sepuluh penambang
atau lebih. Selain itu masih ada penduduk desa yang dihukum karena berkeliaran
di jalan di waktu malam, serta beberapa pedagang kecil yang ditangkap karena
memiliki kuda atau keledai, yang hanya boleh dimiliki oleh orang-orang Mongol.
“Andai
kata kita bisa hidup dari mata pencarian lain. Kadang-kadang aku sangat ingin
membuka pintu penjara itu dan melepaskan orang-orang tak berdosa itu,” ujar
Sipir Li.
Istrinya
mengangguk, kemudian mengalihkan mata ke bagian lain ruangan yang penuh sesak
itu. Delapan pemuda tidur berdekatan satu sama lain, masing-masing menampakkan
tanda-tanda kelaparan dan habis disiksa.
“Yang
besar itu,” ujar si istri sambil menunjuk seorang tahanan yang tidur dengan
pundaknya yang lebar tapi kurus ke arah mereka. “Andaikata anak kita masih
hidup, dia akan mirip pemuda itu. Jarang sekali ada yang seperti dia. Alis
matanya hitam lurus. Hidungnya lebar. Setiap kali melihat ke dalam matanya yang
tajam, aku melihat anak kita. Setiap kali dia membuka mulut berbibir tebal itu,
aku bisa mendengar suara anak kita memanggilku ’Mama’.” Si istri menghapus air
matanya begitu terkenang pada anaknya yang terbunuh dalam suatu penyergapan
yang dilakukan oleh orang-orang Mongol.
Sipir
Li menghela napas. Hampir setahun yang lalu kedelapan pemuda itu tertangkap
saat mencuri bakpao sekitar tiga puluh mil di sebelah selatan kota itu. Sebelum
sampai di kota Gunung Makmur, mereka dipindahkan dari penjara yang satu ke
penjara yang lain. Para sipir penjara-penjara itu semuanya orang Cina, namun tak
ada yang cukup berbaik hati. Semua memandang para pemuda itu sebagai tenaga
kerja gratis untuk kepentingan pribadi serta kota mereka, dan karenanya menahan
mereka lebih lama dari seharusnya untuk mempekerjakan mereka sepuas-puasnya.
Begitu sampai di kota Gunung Makmur tiga hari yang lalu, dengan rantai di
pergelangan kaki dan tali kulit panjang di leher, mereka sudah dalam keadaan nyaris
mati.
Sipir
Li berkata kepada istrinya, “Kau tak perlu khawatir. Mereka tidak dihukum mati
atau dijatuhi hukuman penggal tangan.”
Si
istri menggeleng-gelengkan kepala. “Tapi saat hukuman sudah dilaksanakan,
mereka pasti lebih suka mati.” Ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangan. “Aku
tahu anak kita akan lebih suka mati, andai kata dia berada di tempat mereka.”
Ia menggeleng-gelengkan kepala kembali, lalu bergumam nekat, “Aku yakin aku
takkan tahan menyaksikannya. Tidak kalau hukuman itu dilaksanakan atas si
pemuda besar itu. Rasanya seperti yang dihukum itu bukan dia, tapi anak kita!”
Di sisi
lain penjara itu, Shu berbaring dalam keadaan terjaga penuh. Ia terlalu sedih
dan marah untuk dapat tidur. Ia telah salah memperhitungkan kemampuannya. Serdadu-serdadu
Mongol tidak seperti para pemuda desa yang biasanya ia kalahkan. Selama setahun
ia dan teman-temannya hidup seperti di neraka dan tak dapat menemukan cara
untuk keluar dari sana. Mereka seperti delapan semut kecil yang mencoba merayap
ke Selatan, hanya untuk diciduk seorang bocah nakal bernama Takdir, untuk
dipermainkan, disiksa, kemudian dilempar kembali ke Utara.
“Kalian
takkan dapat menundukkan aku! Suatu saat aku akan menang!” sumpah Shu dalam
hati. Namun keraguan kembali meliputi dirinya. Ia sudah menghabiskan satu tahun
penuh untuk mencoba kabur.
Di luar penjara, seorang gadis jangkung bersandar
pada dinding untuk mengistirahatkan kakinya yang penat. Peony sudah
meninggalkan Kuil Bangau Putih, sebagaimana telah dijanjikannya pada Sumber
Kedamaian. Ia baru saja menuruni daerah perbukitan dan tiba di kota Gunung Makmur
di bawah cahaya bulan. Ia belum melupakan apa yang terjadi atas dirinya saat
terakhir berada di kota ini.
Peony
tersenyum. Rumah penjara merupakan tempat berlindung terbaik bagi seorang
gadis. Bahkan orang-orang Mongol yang mabuk takkan memerkosa seorang gadis persis
di bawah naungan atap penjara.
Ia
memiliki uang dan makanan dalam buntelannya. Pakaiannya tidak compang-camping,
dan perutnya masih kenyang. Di samping itu, ia menguasai ilmu tai chi. Meskipun
Sumber Kedamaian sudah membuatnya berjanji untuk tidak pernah menggunakannya
kecuali terpaksa, ia toh akan membela diri kalau diserang.
Peony
agak ragu saat menimbang-nimbang kemana ia akan pergi sesudah ini. Setelah
tinggal di kuil selama setahun, ia jadi terbiasa memiliki atap di atas
kepalanya serta makan tiga kali sehari. Ia tidak berniat mengembara dari satu
kota ke kota lain lagi. Ia memutuskan untuk mencari pekerjaan. Ia dapat memasak
dan membersihkan rumah. Ia sudah belajar menjahit di kuil. Dengan tinggal di
kota Gunung Makmur, ia dapat mengunjungi kuil itu kembali. Dengan cara itu, ia dapat
melanjutkan pelajaran tai chi-nya. Sebagai peziarah, kehadirannya takkan
terlalu mengganggu para biksu muda.
Mata
Peony berbinar-binar oleh idenya yang cemerlang itu. Ia dapat mengajarkan tai
chi pada para biksuni dan melatih mereka.
Saat
bulan sabit perlahan-lahan beralih menjadi penuh, hati Peony semakin kecil.
Setiap hari ia berusaha mencari pekerjaan, tapi tak ada yang mau menerimanya,
kecuali salah satu di antara rumah-rumah berlampu hijau. Pemiliknya yakin Peony
dapat menarik perhatian orang-orang Mongol yang menyukal gadis-gadis tinggi besar.
“Saat
aku dipertemukan kembali dengan Shu di alam baka, aku harus dapat menatapnya
dengan penuh percaya diri,” ujarnya pada si pemilik. “Bagaimana aku dapat menjelaskan
padanya nanti, bahwa banyak laki-laki sudah menyentuhku?”
Peony
kembali ke rumah penjara itu setiap malam, tidur di lantainya dan berlindung di
bawah susuran atapnya. Ia sering mendengar erangan para tahanan di dalam. Ia kasihan
pada mereka, dan sadar bahwa kalau dibandingkan dengan mereka, ia amat
beruntung.
Ketika
bulan akhirnya penuh, persediaan makanan dan uang Peony pun habis. Ia mulai
resah memikirkan masa depannya. Setiap malam ia berdoa pada Buddha Malam agar
ia memperoleh tempat tinggal tetap di kota itu.
Pada pagi setelah bulan purnama bersinar penuh, tim petugas
pelaksana hukuman tiba di atas kuda mereka. Mereka terdiri atas dua puluh
serdadu Mongol yang mengenakan topi-topi metal berujung runcing dan sepatu bot
tinggi yang ujungnya juga runcing. Mereka makan dan minum anggur yang
disediakan oleh Sipir Li dan istrinya, kemudian mulai bekerja.
Enam
tiang gantungan sudah berdiri di belakang penjara itu. Lebih dari tiga puluh
tahanan menunggu giliran. Orang-orang mengerumuni tempat itu. Ada yang berasal dari
kota Gunung Makmur itu sendiri, ada pula yang datang dari jauh. Yang berwajah
sedih telah menempuh jarak cukup jauh untuk menghadiri kematian orang-orang
yang mereka cintai, serta untuk mengumpulkan jenazah-jenazah mereka. Yang
sikapnya acuh tak acuh datang hanya sekadar untuk melihat-lihat. Seluruh
kawasan penjara penuh kesibukan serta suara hiruk-pikuk, dan ketika enam orang pertama
sudah selesai digantung, suasana jadi semakin ramai.
Semua
mata tertuju pada kaki-kaki yang menendang-nendang, tubuh-tubuh yang menggeliat-geliut,
tangan-tangan yang menggapai-gapai, serta wajah wajah yang berkedut-kedut.
Bahkan sisa tahanan yang berkumpul di balik dua jendela tinggi yang menghadap
ke belakang, berusaha melihat ke luar dengan berjingkat-jingkat.
Tiba-tiba
Shu merasa seseorang menarik-narik lengannya. Saat berpaling, ia melihat istri
si sipir berdiri di belakangnya. Wanita itu meletakkan jarinya di bibir, kemudian
menunjuk ke arah leher dan pergelangan kaki Shu. Setelah melewati begitu banyak
penderitaan, sampai saat itu Shu tidak menyadari bahwa si wanita telah melepaskan
tali kulit dan rantai metalnya selagi semua orang sibuk sendiri.
Wanita
itu menyerahkan buntelan berisi pakaian tua, kemudian menunjuk ke arah pintu
yang menuju tempat tinggal sipir. Shu menoleh ke arah ketujuh temannya yang berdiri
di dekat jendela, kemudian ragu. Istri si sipir telah memberinya kesempatan
untuk mengalahkan takdir. Ia harus merenggut kesempatan itu. Diam-diam ia
menyelinap cepat ke pintu, meskipun hatinya berat oleh rasa bersalah. Hanya
keyakinan bahwa teman-temannya tidak akan dihukum mati membuatnya sanggup untuk
tidak menoleh lagi.
Pintu
terbuka begitu disentuh. Setelah menutup di belakangnya, Shu cepat-cepat
berganti pakaian. Ia sedikit tercengang, ternyata pakaian tua yang sudah pudar warnanya
itu tidak terlalu pendek atau sempit baginya, dan sepatunya ternyata pas sekali
di kakinya yang besar.
Setelah
hukuman gantung terakhir selesai dilaksanakan, tiba giliran pelaksanaan hukuman
yang lebih ringan.
Di
antara para tahanan itu ada beberapa orang Mongol, yang dibawa ke rumah penjara
itu dalam gerobak. Tak seorang pun di antara mereka tampak cedera akibat siksaan.
Sipir Li dan istrinya menempatkan mereka terpisah dari para tahanan Cina, di
sudut yang tanahnya dialasi tikar-tikar jerami, dan mereka mendapat ransum yang
lebih baik.
Orang-orang
Mongol ini ditahan atas tuduhan membunuh. Untuk setiap korban berkebangsaan
Mongol atau non-Cina lainnya, mereka dikenai denda masing-masing empat puluh
keping emas. Tapi jika korbannya orang Cina, pembayarannya dikurangi menjadi satu
ekor keledai atau uang senilai itu.
Para
petugas pelaksana mengumpulkan semua uang denda, menepuk-nepuk pundak para
tahanan itu, kemudian membiarkan mereka pergi sambil mendoakan agar lain kali mereka
lebih beruntung.
Sesudah
itu mereka memerintahkan agar para maling dibawa ke alun-alun.
Di
antara ke-29 orang itu, tujuh tampak bingung. Mereka menoleh ke sana kemari,
seakan-akan mencari-cari seseorang. Mereka bertukar pandang, kemudian menggeleng-geleng
begitu tidak dapat memecahkan misteri itu. Kebingungan mereka berakhir oleh
suara keras seorang petugas, “Bawa kemari si tukang tato!”
Seorang
lelaki tua muncul dari antara kerumunan orang banyak, membawa kotak perkakas.
Ia membungkukkan tubuh di muka orang-orang Mongol, namun tidak menoleh ke arah
para tahanan. Rasa tak sukanya pada tugasnya jelas tersirat di wajahnya yang
sudah keriput itu. Tato sudah merupakan hiasan tubuh untuk orang-orang Cina
selama lima ratus tahun, tapi orang-orang Mongol telah mengubah seni itu
menjadi suatu bentuk hukuman.
“Tidak!
Bunuhlah aku! Tolonglah! Lebih baik aku mati!” jerit salah seorang di antara
ke-29 pemuda itu, Begitu ikatannya dilepas. Ia digiring ke arah pelataran dan
dipaksa menaiki tangga-tangganya. Dua serdadu memegangi lengannya, dua yang
lain kaki-kakinya. Masih dibutuhkan empat orang lagi untuk menahan pundak dan
kepalanya. “Tidak! Aku lebih baik mati! Bunuhlah aku!” jerit pemuda itu lagi.
Salah
seorang di antara para serdadu itu berteriak lantang, “Kalian kenapa pikir kami
menciptakan jenis hukuman seperti ini? Karena kami tahu bahwa bagi kalian, orang-orang
Cina, wajah lebih penting daripada hidup itu sendiri!”
Si
tukang tato mulai bekerja. Suara teriakan pemuda itu terdengar ke seluruh
penjuru kota, sampai ke gunung-gunung di sekitarnya, menggema dari bukit yang satu
ke bukit yang lain. Aksara maling ditatokan ke wajahnya sebanyak tiga kali,
satu di dahi, dua di masing-masing pipi. Setelah tinta hitam dituangkan ke atas
luka-lukanya, pemuda itu menutupi pipinya yang berdarah dengan kedua tangannya,
lalu lari. Meskipun ia hanya tampak bak titik kecil yang menghilang menuju
garis cakrawala, teriakannya masih terdengar.
Masih
ada tiga orang lagi yang ditato. Sesudah itu satu mencari pohon untuk
menggantung diri, dua menuju tepi Sungai Kuning yang terdekat.
Para
tahanan itu meronta-ronta saat penatoan, tapi tak seorang pun di antara mereka
senekat ketujuh pemuda yang tadi mencari-cari teman mereka yang hilang itu.
Sobat mereka, Shu, telah mengajari mereka untuk memiliki harga diri dan
keberanian. Mereka sudah menghabiskan waktu dua tahun bersamanya; yang pertama lebih
menyenangkan daripada yang kedua. Mereka cukup setia padanya untuk tidak
mengungkapkan misteri ketidakberadaannya di antara mereka. Mereka percaya bahwa
andai kata mungkin, Shu pasti akan membawa mereka bersamanya. Mereka senang ia
terbebas dari beban rasa malu ini, yang lebih berat daripada kematian.
“Kalian
harus membunuhku lebih dulu sebelum menatoku seumur hidup dengan kata memalukan
itu!” Yang pertama di antara ketujuh sahabat itu langsung menyerang orang-orang
Mongol begitu tiba gilirannya ditato. Ia menendang dan mencakari para serdadu,
sampai akhirnya mereka merobohkannya.
Ia
tidak memberi mereka banyak pilihan. Mereka terpaksa membunuhnya dengan memenggal
kepalanya, untuk kemudian dipancangkan ke sebatang tonggak tinggi.
Enam
sekawan yang masih tersisa itu menatap teman mereka, kemudian serentak
menyerang orang-orang Mongol tanpa memedulikan fakta bahwa mereka masih terikat
menjadi satu. Tali kulit di leher mereka mencekik tenggorokan mereka. Kemudian
mereka tersungkur oleh belitan rantai di pergelangan kaki. Kebodohan mereka membuat
orang-orang Mongol marah. Satu per satu mereka digiring ke pelataran, mula-mula
untuk ditato, sesudah itu dipaksa berkaca di sebuah cermin kuningan, agar
mereka melihat kata maling di dahi dan pipi-pipi mereka. Kemudian kepala mereka
langsung dipenggal.
Persis
sebelum pemenggalan, kepada mereka diungkapkan, “Sekarang kau akan tahu bahwa
di alam baka pun, kau tetap akan kehilangan muka dan gentayangan dalam keadaan
malu!”
Berhubung
hanya ada satu tiang untuk pemancangan kepala, keenam kepala baru itu
dijejerkan dalam satu barisan di pinggir pelataran, menghadap ke penonton. Setelah
itu, tak seorang terhukum pun berani mengajukan perlawanan saat penatoan.
Sementara para penonton menyaksikan pelaksanaannya dalam suasana hening mencekam.
Sipir
Li dan istrinya saling mengangguk. Mereka telah melakukan hal yang benar dengan
melepaskan si tinggi besar yang begitu mirip anak mereka sendiri.
Jauh dari pelataran itu, di dekat pasar, seorang
laki-laki bertubuh tinggi besar dalam pakaian petani berdiri sambil menatapi
tonggak yang tinggi itu. Matanya kering, namun bibir bawahnya berdarah oleh
gigitannya sendiri.
“Sobat-sobatku
yang juga saudara-saudaraku, aku akan membalas kematian kalian. Aku bersumpah!”
ujar Shu. Ia memutar tubuh, kemudian melangkah masuk ke pasar. Sampai saat itu
orang-orang Mongol belum menghitung jumlah tawanan mereka. Namun Shu tidak
berniat mempertaruhkan peruntungannya.
Pasar
merupakan tempat paling ideal untuk bersembunyi. Namun, mengingat hampir semua
orang berada di alun-alun, tempat itu tidak sepenuh yang diperkirakan Shu. Ia
mengeluyur di antara para pedagang dan orang-orang yang berbelanja, sambil menunggu
dengan sabar datangnya malam. Para serdadu sudah akan pergi saat itu, sehingga
lebih aman baginya untuk meninggalkan kota Gunung Makmur.
Saat
melayangkan pandang ke ujung pasar, ia melihat beberapa kandang untuk sapi,
kuda, keledai, dan kambing. Tertarik oleh pemandangan yang tidak biasa itu, ia menjulurkan
leher untuk melihat kandang paling jauh, tapi kemudian ia menggeleng-gelengkan
kepala dengan perasaan risih. Ternyata itu kandang manusia.
Tidak
seperti kandang-kandang lain, pintu pagar untuk kandang manusia tidak tertutup
dan tidak ada penjaganya. Lantainya ditutupi tikar, bukan rumput jerami.
Sementara binatang-binatang lain dijual oleh para pemilik mereka, manusia
menjual dirinya sendiri atau anak-anak dan bayi-bayi mereka.
Shu
mengerenyitkan alis ke arah orang-orang dewasa yang berdiri di kandang itu,
sambil menyebutkan harga untuk dirinya sendiri. Ia muak melihat orangtua yang mengacungkan
tangan anak-anak mereka atau menggendong bayi-bayi mereka, sambil memohon pada yang
kaya untuk membeli tanggungan mereka.
Shu
tidak akan menjual dirinya. Itu sudah diputuskannya dulu sekali. Ia tahu bahwa
sekali terjual, mereka akan disamakan dengan kerbau dan keledai berkaki dua.
Mereka harus melakukan apa saja yang diperintahkan demi atap di atas kepala
mereka atau makanan sekadarnya untuk bertahan hidup. Pemilik berhak
mempekerjakan serta memukuli mereka sesuka hati. Di samping sebagai budak, banyak
di antara mereka akan dipekerjakan sebagai selir atau pelacur laki-laki. Dan
kalau seorang majikan membunuh budak beliannya, ia dianggap sama tidak bersalahnya
seperti jika ia membunuh binatang. Shu memutar tubuhnya dari kandang manusia
itu sambil mengepalkan tinju.
Peony menatap pintu kandang manusia itu cukup lama, kemudian
meletakkan tangan di atas simpul tali yang mengikat pintu itu ke sebuah tiang.
Ia
telah meninggalkan kawasan rumah penjara sebelum orang-orang Mongol muncul. Ia
tidak berminat menonton pelaksanaan hukuman gantung dan penatoan itu dan karenanya
sepanjang pagi ia menjauhi alun-alun.
Sambil
berpegangan pada simpul tali itu, ia melongok ke dalam. Hatinya pedih melihat
para orangtua yang menjual anak-anak mereka. Ia melayangkan matanya ke arah orang-orang
dewasa yang menjual diri sendiri. Pakaian mereka compang-camping, dan mereka
berlutut dengan kepala tertunduk.
“Aku
menjual diriku. Tolong beli aku, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang baik budi.
Aku akan menjadi hamba setia. Anda tidak perlu membayarku. Berikan saja tempat untuk
tidur serta makanan secukupnya. Dan makanku tidak banyak,” ujar mereka dengan
nada mengemis.
Peony
mengentakkan kaki dengan mantap, kemudian mengangkat simpul tali pembuka pintu
kadang. Ia melangkah masuk, lalu mendorong yang lain untuk mendapatkan posisi
yang lebih baik. Ia tak dapat memaksa diri untuk berlutut. Ia tetap berdiri
tegak dan penuh harga diri. Ia juga tidak berminat menundukkan kepala. Dengan dagu
terangkat ia menatap semua yang lewat dengan matanya yang besar dan bulat.
Ia
membuka mulut lebar-lebar, kemudian meninggikan suara, untuk menjajakan dirinya
dengan penuh percaya diri. “Ini hari keberuntungan Anda, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya.
Anda bisa mendapatkan pelayan paling tangguh yang pernah Anda miliki seumur
hidup Anda. Tapi Anda harus membayarku cukup, karena aku membutuhkannya untuk
membeli pakaian baru... yang kukenakan saat ini sudah bau dan sobek-sobek. Aku
juga membutuhkan sepasang sepatu baru... lihatlah kakiku yang besar dengan
jari-jarinya yang menonjol keluar! Aku akan bekerja keras untuk Anda jika Anda
memperlakukan aku dengan baik; kalau tidak, Andalah yang akan menyesal nanti.
Dan aku harus mengingatkan Anda bahwa aku suka makan banyak! “
Sebuah
tandu tertutup yang diusung oleh empat lakti-laki tiba-tiba berhenti di muka
kandang. Tirai sutranya disingkap oleh sebuah tangan mulus. Penumpang tandu itu
tak dapat melihat, tapi rupanya ingin sekali mendengar penawaran yang tidak
umum itu dengan lebih jelas.
Ketika
Peony berhenti berbicara, nyonya di dalam tandu itu tertawa, kemudian meminta
kepada para pengusung dengan suara lembut, “Apakah gadis ini tampak cukup tangguh
untuk menjadi pendamping seorang wanita buta?”
Shu berhenti di dekat sebatang pohon pinus tua, di sebelah
timur kota Gunung Makmur. Ia menengadahkan wajah ke arah matahari musim semi,
kemudian menghirup aroma kebebasannya dalam-dalam.
“Apa
yang membuatmu tampak begtitu bahagia di dunia yang penuh keprihatinan?” tanya
seseorang dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.
Shu
tersentak kaget, kemudian merasa lebih lega setelah melihat seorang lelaki tua
muncul dari sisi lain pohon tua itu. Ia menatap ke dalam mata berkabut orang
tua itu, lalu menjawab, “Umurku baru delapan belas. Aku masih muda.” Ia meraba
lengan kirinya yang kurus dengan tangan kanannya. “Otot-otot dan kekuatanku
akan pulih.” Ia meraba luka-luka di punggungnya. “Luka-lukaku pun akan pulih.”
Namun matanya menjadi suram begitu teringat akan semua yang dicintainya dan
telah meninggalkan dirinya. “Banyak yang masih harus kukerjakan.” Dari matanya
yang tajam terpancar sinar dingin dan keras. “Dan itu akan kulakukan begitu aku
kuat dan siap.”
Orang
tua itu mengangguk, meskipun tak mengerti. Ia menatap postur tubuh pemuda yang
tinggi besar itu, lalu berkata, “Ah, kalau begitu kau mesti ke Kanal Chi-chou.”
“Apa
itu?” tanya Shu.
Laki-laki
tua itu menunjuk ke arah timur laut sambil berkata, “Ssst... dengarkan
baik-baik.”
Shu
berdiri diam-diam. Tak lama kemudian ia mendengar suara berdebam, seperti ada
penggalian tanah. “Suara apa itu?”
Orang
tua itu berkata, “Keempat anak laki-lakiku. Mereka juga tinggi besar.
Orang-orang Mongol kekurangan kuli tangkapan, dan mulai menyewa tenaga pekerja.
Mereka hanya mau menyewa orang-orang tangguh untuk membuat saluran air itu. Kau
tahu, saluran air itu digali ke utara menuju Sungai Kuning, dan ke selatan ke
Sungai Yangtze...”
Shu
memotong kalimatnya, “Maksud Anda, dengan bekerja di Kanal Chi-chou, anak-anak
Anda menuju Selatan?”
Orang
tua itu mengangguk-angguk lagi, sambil melayangkan matanya ke garis cakrawala.
“Sewaktu mereka belum jauh dari sini, aku masih dapat menjenguk mereka. Mereka
mendapat makan tiga kali sehari, dengan begitu mereka punya cukup banyak tenaga
untuk menggali lebih cepat. Di waktu malam mereka tidur di tanah. Setiap hari
mereka berada semakin jauh ke Selatan.”
Orang
tua itu berhenti berbicara, takjub melihat pemuda yang berlari ke arah suara
yang terdengar di kejauhan itu.
Saat bulan kembali penuh, Shu akhirnya terbiasa
rutin mengerjakan penggalian yang ternyata menuntut banyak tenaga itu. Ia sudah
dapat membungkuk dan menegakkan tubuhnya dari pagi hingga malam tanpa merasa punggungnya
akan patah. Lepuh di telapak tangannya telah berubah menjadi lapisan kulit
tebal. Otot-otot di lengan dan pundaknya tidak terasa linu lagi saat ia
mengangkat tajaknya yang berat.
Orang-orang
Mongol melihat tenaga Shu semakin bertambah dari hari ke hari, dan saat ia
mengambil jatah bakpao dan bubur lebih dari semestinya, mereka pura-pura tidak
melihat. Panglima Tertinggi Pedang Dahsyat sudah menetapkan jadwal, kapan
saluran air itu harus mencapai kota Yin-tin, dan para mandor membutuhkan lebih
banyak pekerja seperti Shu untuk memenuhl tuntutan itu.
Shu
melihat Pedang Dahsyat persis setelah ia diterima bekerja di situ. Panglima
jenderal itu muncul bersama para pengawalnya untuk menginspeksi pembangunan
saluran tersebut. Shu segera menundukkan kepala dan mengalihkan perhatian ke
arah lain sampai si jenderal pergi. Ia sudah mendapat pelajaran dengan nyawa Ma
sebagai bayaran. Ia yakin jenderal itu akan mengenalinya begitu pandangan
mereka bertemu.
Karena
jadwalnya sudah sangat mendesak, para kuil terpaksa terus bekerja di bawah
sinar bulan musim semi itu. Pedang Dahsyat beserta para serdadunya muncul lagi untuk
inspeksi mendadak. Shu mengertakkan gigi sambil mencengkeram gagang tajaknya
kuat-kuat. Namun ia tidak mengangkat wajahnya sampai mendengar derap langkah rombongan
berkuda itu menjauh.
Bulu kuda jantan Pedang Dahsyat
berkilauan di bawah cahaya bulan, mewujudkan sosok berwarna hitam legam. Stola
merah si jenderal berkibas di belakangnya diembus angin malam. Di mata Shu,
warna itu bak aliran darah – darah Peony dan kedua orangtuanya, si bocah Ma,
serta ketujuh temannya yang kurang beruntung itu.
