Episode
13
MATAHARI mulai naik dari balik gunung yang tinggi, menerangi
bukit-bukit yang mengelilingi kota Gunung Makmur. Seorang gadis bertubuh tinggi
melangkah menuju alun-alun kota dengan punggung lurus dan kepala tegak. Pakaiannya
yang berantakan sudah terlalu pendek untuk kakinya yang panjang, terlalu sempit
untuk tubuhnya yang besar. Peony Ma ternyata masih terus bertumbuh selama setahun
terakhir ini, meskipun ia kurang makan.
Ia
sudah pernah mencuri, menipu, serta berbohong untuk dapat bertahan. Kakinya
yang besar telanjang, sepatunya hilang saat ia lari dari kejaran seorang
penjaja makanan yang mengancam akan membunuhnya karena ia mencuri semangkuk
bakmi darinya. Ia sudah menempuh jarak bermil-mil setelah itu, dan kakinya yang
semula lecet dan berdarah-darah sekarang sudah keras dan kapalan.
Di
ujung alun-alun ia berhenti untuk mengawasi beberapa gadis yang sedang mencuci
pakaian di sebuah kolam. Ia tersenyum, mulutnya yang lebar terbuka, menyingkapkan
sederetan gigi putih yang ternyata amat kontras dengan kulit wajahnya yang
gelap. Ia menatap sekelilingnya dengan matanya yang besar dan bulat, namun tidak
melihat tepi sungai. Senyumnya semakin melebar. Rasanya begitu asyik setelah
akhirnya meninggalkan Sungai Kuning yang menyebalkan itu di belakangnya.
Ia
telah menyusuri tepiannya sejak meninggalkan desa Pinus, menuju ke Selatan.
Setiap pagi, saat akan berangkat, ia selalu memastikan bahwa matahari terbit di
sebelah kirinya. Ayahnya pernah mengajarinya soal arah, dan pengetahuan itu
ternyata amat berguna baginya untuk pergi dari tanah kelahirannya yang
bergelimang darah serta menyimpan begitu banyak kenangan memilukan. “Lebih dari
sekadar memilukan. Tidak tertahankan,” gumamnya. “Baba, Ma'ma, dan Shu, aku
harus pergi jauh, jauh dari tempat kalian dibunuh.”
Ia
mengerutkan wajah begitu matanya tertumbuk pada sebuah pelataran sepi, kemudian
mencoba mereka-reka apa yang terpancang di ujung tonggaknya yang tinggi. Ia menjerit
begitu menyadari bahwa itu kepala manusia. Ia menutup mulut dengan punggung
tangannya, tidak yakin apakah itu hanya imajinasinya atau kepala itu memang sungguh-sungguh
sedang tersenyum.
Ia
mendekat untuk mengamati wajah yang sudah rusak itu dengan lebih baik. Ternyata
kepala itu milik seorang bocah berambut panjang. Bibirnya yang keabu-abuan merekah,
menampakkan sederetan gigi yang sudah patah-patah. Matanya yang kosong terbuka,
seakan menatap ke arah bulan berwarna pucat di langit sebelah barat.
Sekelompok
biksu berjubah jingga muncul di belakang Peony. Melihat kepala itu, mereka
bergegas mendekat. Dua di antara mereka mulai mencabut tiangnya dari tanah. Dua
yang lain menggelar sehelai saputangan lebar di pelataran, siap membungkus
kepala itu.
“Stop!”
Beberapa puluh serdadu Mongol tiba-tiba muncul entah dari mana, sambil
menudingkan pedang panjang mereka ke arah para biksu itu.
“Panglima
jenderal kami memerintahkan untuk menangkap siapa pun yang berani menyentuh
kepala itu!”
Selama
beberapa saat, para biksu seakan terpaku di tempat mereka berdiri. Kemudian
salah seorang di antara mereka, seorang biksu tua beralis putih, melangkah
maju. “Namaku Sumber Kedamaian. Aku kepala para biksu di Kuil Bangau Putih.” Ia
menunjuk ke puncak sebuah gunung di kejauhan. Di sana sebuah atap biru yang
melengkung tampak berkilauan di atas pohon-pohon pinus yang tinggi.
“Antar
aku menghadap panglima jenderalmu.”
Penuh
rasa ingin tahu, Peony menanti bersama para biksu lainnya. Si biksu tua
akhirnya kembali dengan senyum puas. “Turunkan kepala itu dan pindahkan tubuhnya
dari bawah pelataran. Kita akan menggali kuburan untuk anak malang ini, di
suatu tempat di belakang kuil-kita.”
Setelah
para biksu itu mengangkut jenazah serta kepala Ma menuju perbukitan, Peony
mengalihkan perhatiannya kembali pada kota yang baru di masukinya itu.
Ia
berjalan di antara kuda dan keledai-keledai, kereta-kereta yang ditarik oleh
sapi, serta para pejalan kaki. Sesaat ia berdiri di dekat si peramal. Perutnya
terasa begitu lapar, sehingga burung kuning mungil itu tiba-tiba menggugah
selera. Ketika si peramal melihatnya menatapi peliharaannya dengan penuh nafsu,
ia segera diusir dari situ.
Peony
mengawasi tukang gigi mengganti gigi seorang wanita dengan sebuah gigi bagus
yang baru dibelinya dari seseorang yang sedang membutuhkan uang. Si tukang gigi
menoleh ke arah Peony, kemudian memintanya membuka mulut. Peony tidak menyadari
apa yang berkecamuk dalam pikiran laki-laki itu dan meluluskan permintaannya.
Ketika si tukang gigi menanyakan apakah ia berminat menjual beberapa di antara
gigi-giginya yang bagus, Peony langsung lari ketakutan.
Saat
melewati beberapa pintu dengan lampu-lampu hijau tergantung di mukanya, ia
teringat bagaimana ibunya selalu mengancamnya dengan mengatakan, kalau seorang gadis
tidur dengan seorang laki-laki sebelum menikah, rumah berlampu hijau akan
menjadi tempat tinggalnya untuk selanjutnya.
Di muka
rumah bordil yang paling besar terdapat kios pedagang rambut. Peony berhenti
untuk mengamati seorang wanita muda yang menawarkan rambutnya. Meskipun
pakaiannya kumal, rambut wanita petani yang panjangnya sampai ke pinggang itu
jatuh bak geraian sutra hitam. Saat pedagang itu mengangkat guntingnya yang besar,
wanita miskin itu menutup matanya. Hanya dalam beberapa detik saja rambutnya
yang panjang sudah terpangkas habis. Sambil terisak si wanita mengeluarkan saputangan
lebar yang sudah ia sediakan sebelumnya dari dalam sakunya, untuk membungkus
kepalanya yang kini tampak berantakan. “Sekarang bayi-bayiku tak perlu mati kelaparan...
setidaknya untuk sementara.”
Peony
meraba rambutnya sendiri. Pita merah yang melilit di kepangnya sudah berubah
menjadi serpihan-serpihan kain kotor keabu-abuan. Ia menarik ranting tanaman
yangliu yang menahan jalinan rambutnya yang membelit di atas kepalanya dalam
bentuk mahkota. Kepangnya yang panjang jatuh sampai ke pinggul.
Ia tahu
rambutnya merupakan satu-satunya kelebihan yang dimilikinya, dan ia selalu
mencucinya dengan teratur di sungai. Baru saat itulah terlintas dalam dirinya
bahwa penampilannya sudah tak berartl lagi baginya sekarang. Shu sudah tiada,
dan ia tak berminat mengabdikan diri pada laki-laki lain.
“Berapa
yang dapat kuperoleh untuk rambutku?” tanyanya pada si pedagang.
“Lima
keping uang tembaga,” jawab pedagang itu, sambil berusaha menyembunyikan rasa
senangnya. Rambut Peony berkilauan bak permukaan mutiara hitam. Seorang nyonya kaya
yang rambutnya sudah mulai menipis pasti bersedia membayar banyak untuk sebuah
wig yang dibuat dari potongan rambut indah ini.
“Itu
cukup untuk membeli bakpao selama sepuluh hari,” ujar Peony sambil membuka
kepangnya. Namun persis saat rambutnya sudah tergerai lepas, sekelompok serdadu
Mongol muncul dari dalam rumah berlampu hijau itu.
Separo
di antara mereka ditugaskan untuk menjaga pelataran, sementara yang separo lagi
mengawal panglima jenderal mereka di dalam bordil. Yang terakhir ini sekarang dalam
keadaan mabuk, sehingga yang tampak di mata mereka bukanlah wajah kotor Peony
serta pakaiannya yang sudah compang-camping, melainkan tubuhnya yang masih muda
serta geraian rambutnya yang indah berkilauan.
Peony
menjerit saat serdadu pertama meletakkan tangan di pundaknya. Ia mulai
menendang dan menggigit saat yang kedua meraih payudaranya. Mula-mula ia membenamkan
gigi-giginya yang tajam pada tangan kurang ajar itu, kemudian pada tangan yang
berada di pundaknya.
Kedua
serdadu itu mengaduh kesakitan. Di pihak lain, si penjual takjub melihat
keberanian gadis jangkung itu. Peony segera merenggut gunting besar dari tangan
si penjual yang gemetaran, sebelum salah seorang di antara para serdadu itu
menyergapnya. Ia mengacungkan senjata barunya ke arah para serdadu itu sambil
melangkah mundur. “Kalau ada di antara kalian yang mengejarku, akan kucungkil
matanya!” serunya, kemudian tiba-tiba ia membalikkan tubuh, lalu kabur.
Napas
Peony tersengal-sengal saat ia tiba di kaki bukit pertama. Ia mendaki sampai ke
puncaknya, kemudian beristirahat di belakang sebatang pohon pinus tinggi sampai
pinggangnya tidak terasa sakit lagi. Sesudah itu ia mendaki bukit berikutnya,
lalu yang berikutnya, terus ke arah bangunan beratap biru di atas gunung tinggi
itu.
Angin malam mendesir melalui pohon-pohon pinus yang menjulang
ke langit dan mengelilingi bangunan Kuil Bangau Putih. Dalam mimpi Peony,
suaranya terdengar bak orang yang sedang meratap. Peony membuka mata, kemudian
langsung duduk tegak, mengawasi suasana sekelilingnya yang gelap serta
mendengarkan suara napas teratur sekian banyak wanita yang tertidur nyenyak
dalam ruangan itu.
Perlahan-lahan
pikirannya kembali jernih. Perutnya tak terasa pedih, seperti biasanya setiap
kali ia terjaga dari tidur. Para biksuni kuil itu telah memberinya makanan, dan
seperangkat pakaian petani yang bersih dan hanya koyak sedikit.
Sinar
bulan membias masuk melalui kertas merang yang menutupi lubang jendela,
menerangi ke-23 sosok lain yang sedang terbaring di tikar-tikar jerami. Peony
teringat apa yang diungkapkan Sumber Kedamaian padanya, bahwa mereka semua
membutuhkan perlindungan seperti dirinya. Peony tahu wanita-wanita ini akan
segera menjadi biksuni untuk menghindari kekerasan dunia luar. Ia menghela napas.
Saat ini ia sendiri pun tergoda untuk menjadikan kuil ini tempat bernaungnya
untuk selamanya, meskipun peraturan-peraturan yang diberlakukan di sini amat
keras.
Selama
setahun terakhir ini, sesekali ia bernaung di kuil-kuil. Tapi setiap kali
tenaganya pulih, ia kembali ke jalan. “Lama-lama rasanya berat juga bertahan
hidup seorang diri,” bisiknya pada diri sendiri. Ia menarik napas, lalu menatap
ke arah jendela.
Mula-mula
ia menyangka melihat bayangan sebatang pohon pinus. Namun ia teringat bahwa
beberapa saat yang lalu ia tidak melihat bayangan apa-apa di situ. Pohon pinus tidak
bisa muncul dan menghilang begitu saja.
Sementara
ia bengong, bayangan itu mulai bergerak. “Burung bangau!” Peony menahan napas.
Makhluk
anggun itu mengembangkan sayapnya, kemudian mengepakkannya perlahan-lahan dalam
gerakan amat gemulai. Ia memutar tubuh, lalu mulai melesat menjauhi jendela,
menuju bulan. Sementara itu, semakin banyak wujudnya terungkap.
“Bangau
itu memiliki kepala seperti manusia!” Sambil menahan napas, Peony berdiri.
Tapi
begitu ia selesai berpakaian, bangau itu sudah menghilang. Sesaat ia menatap ke
arah jendela yang diterangi sinar bulan. Kemudian ia teringat bahwa di sisi lain
bangunan itu ada sebuah tempat terbuka. Diam-diam ia menyelinap di antara kaum
wanita yang sedang tidur.
Sebuah
patung Buddha menjaga halaman terbuka itu. Dari baliknya, Peony mengintip para biksu
yang menyebar mulai dari pelataran batu sampai ke daerah perbukitan di kejauhan.
Jumlah mereka begitu banyak, sehingga Peony yakin seluruh populasi biksu kuil
itu berada di sana. Jubah panjang mereka sudah dilepaskan. Mereka hanya mengenakan
sepasang celana longgar, sepatu lembut, dan sehelai baju pendek berlengan
lebar.
Sementara
ia mengintai, mereka mengembangkan lengan perlahan-lahan, sehingga lengan baju
mereka yang ringan berkibas-kibas ditiup angin. “Aku menemukan burung-burung
bangauku!” ujar Peony pada dirinya.
Begitu
kata-kata itu terlompat keluar dari mulutnya, biksu-biksu itu tersentak.
“Ada
yang memata-matai kita!” seru seorang biksu muda.
Peony
tidak mendengar ada yang bergerak, namun pada saat berikutnya ia sudah menjadi
tawanan, terbelenggu oleh jarl-jari besi dan lengan-lengan baja. Ia berusaha meronta,
tapi tak dapat melonggarkan cekalan itu sedikit pun. Ia bahkan tak dapat
berteriak. Sebuah telapak tangan yang dingin dan keras membekap mulutnya.
Ia
diangkat dari tempatnya berdiri, dan merasa seakan dibawa terbang melintasi
halaman dalam cekalan beberapa biksu. Mereka menurunkan dirinya di hadapan
Sumber Kedamaian.
Bulan
menyinarkan cahayanya ke atas alis putih si biksu tua yang tampak menyatu.
Perlahan-lahan ia menggeleng, lalu berkata, “Perasaanku memang sudah mengatakan
bahwa kau banyak ulah seiak kau memperlihatkan gunting itu kepadaku. Seharusnya
aku tahu, seorang gadis yang berani mengancam orang-orang Mongol akan
berkeliaran di kuilku di tengah malam.- Aku tak punya pilihan lain. Aku terpaksa
mengusirmu dari sini. Begitu fajar menyingsing, kau harus pergi dengan seuntal
uang logam dan sebuah buntelan makanan.”
Setelah
bebas, Peony menggosok-gosok pergelangan tangannya, lalu bergumam, “Aku memang
sudah berniat angkat kaki. Untuk menjadi biksuni dan harus mematuhi peraturan-peraturan
konyol itu demi atap di atas kepalaku serta sedikit makanan untuk mengisi
perutku rasanya terlalu berat untukku. Omong-omong, bolehkah aku makan sampai
kenyang sebelum berangkat? Selain itu, aku ingin meminta gunting itu kembali.
Siapa tahu aku membutuhkannya lagi.”
Ia
mengangkat dagunya, membayangkan betapa enaknya andai kata ia dapat bergerak
begitu cepat dan ringan seperti para biksu itu. Ia bisa mencuri makanan dan pakaian
serta apa saja yang dibutuhkannya, kemudian menghilang begitu saja seperti
angin lalu.
Sumber
Kedamaian mengangguk. “Kau boleh makan sekenyangmu dan memperoleh guntingmu
kembali. Tapi kau harus berjanji tidak akan pernah mengungkapkan pada siapa pun
apa yang sudah kausaksikan malam ini.”
Peony
menatap mata si biksu tua, lalu menangkap sedikit kekhawatiran. Dalam
perjalanan ia mendengar diberlakukannya sebuah peraturan baru, yang melarang dipraktekkannya
teknik-teknik bela diri gaya Cina dalam bentuk apa pun. Dengan cepat ia menarik
kesimpulan, lalu mendoyongkan tubuh ke arah Sumber Kedamaian. Ia mempelajari
ekspresi di wajahnya untuk menandaskan kecurigaannya. Ya, orang tua ini memang
betul-betul khawatir.
Peony
tersenyum. Ia melangkah mundur, menegakkan pundaknya, lalu berkata tenang,
“Shih-fu yang kuhormati, aku berubah pikiran.”
“Apa
maksudmu?” Biksu tua itu mengumpati dirinya. Ekspresinya saat itu tak lagi
sesuai dengan namanya.
“Aku
mau tinggal di sini dan mempelajari apa yang sedang kalian lakukan. Tapi aku
tak ingin menjadi biksuni, atau digunduli dan terikat berbagai peraturan.”
Peony membungkuk dalam-dalam, kemudian melanjutkan sambil tersenyum lebar, “Aku
tak berani mengancam Anda, shih-fu yang kuhormati. Tapi aku bermulut besar.
Sungguh berbahaya membiarkanku meninggalkan kuil ini dan melantur mengenai
berbagai macam hal di kota Gunung Makmur. Kalau aku tidak keliru, orang-orang
Mongol itu masih ada di sana.”
Para
biksu di belakangnya bergerak mendekat, seakan menggertak. Melihat mereka dari
sudut matanya, Peony meninggikan suaranya, “Tentu saja kalian dapat mengurungku
dengan mudah untuk selamanya. Kalian dapat membunuhku, kemudian menguburkan
mayatku di sebelah kuburan si bocah. Orang-orang Mongol itu toh sudah membantai
habis seluruh keluargaku. Biar bagaimanapun, aku cuma gadis miskin yang tak
punya siapa-siapa lagi.” Suaranya agak tersendat pada akhir kalimatnya. Tapi
itu tidak sulit. Ia tak perlu bersandiwara untuk itu.
Sumber
Kedamaian mengangkat matanya ke arah bulan, menggeleng-gelengkan kepala, lalu mendesah
tak berdaya.
Peony
diperbolehkan ikut ambil bagian malam itu juga, tapi tidak bersama para biksu
di halaman belakang yang terbuka. Ia diantar ke sebuah ruang tertutup. Di sana
enam biksu muda yang masih baru di kuil itu sedang mendapat pelajaran pertama.
Instrukturnya,
seorang biksu berusia tiga puluh tahun, sedikit enggan menerima Peony sebagai
murid, namun sebagai biksu yang baik ia terpaksa menerima nasibnya. Ia bahkan
mengulangi pelajaran pertama untuknya.
Katanya,
“Apa yang akan kaupelajari ini dinamakan jurus tai chi, jurus paling canggih.
Gayanya paling lembut di antara sekian jenis kungfu, tapi secara praktis paling
kuat. Diciptakan persis sebelum orang-orang Mongol menguasai Cina, sebagai
bentuk latihan jasmani untuk biksu-biksu Shaolin. Namun orang-orang Mongol
memaksa kita mengubah serta mengembangkannya menjadi jurus mematikan.”
Sinar
bulan mengungkapkan sorot kebencian yang tersembunyi di balik mata biksu yang
sudah setengah baya itu. Ia memejamkan mata selama beberapa saat. Ketika ia membukanya
kembali, kedengkian yang terpancar dari dalamnya sudah hilang, dan ia tampak
kembali damai dengan dirinya. Sesudah itu ia melanjutkan, “Intinya adalah kombinasi
pikiran serta gerakan fisik. Kalian harus berkonsentrasi dan menggunakan tenaga
dalam sebagai sumber gerak kalian.”
Peony
belajar berdiri tegak dengan kedua tangan di dekat pinggang. Padanya dikatakan
bahwa ia harus rileks serta bernapas teratur. Dengan tumit bersentuhan sekadarnya
ia menekuk lutut, lalu merenggangkan kaki selebar bahunya. Sedikit demi sedikit
ia menurunkan tubuhnya, sehingga bokongnya nyaris menyentuh tanah, kemudian
perlahan-lahan dan dengan luwes ia harus menegakkan diri kembali. Dengan lembut
ia mengangkat lengannya ke muka, hingga sejajar dengan bahu, sementara telapak
tangannya mengarah ke bawah. Sesudah itu ia mengembalikan posisi lengannya ke
dekat pinggang lagi. Dan ia harus mengulangi proses Ini berulang kali.
“Jurus
berikut ini dinamakan menyentuh ekor burung,” ujar si instruktur sambil
memperagakan gerakan itu. “Raih dengan tangan kirimu dan bayangkan kau sedang memegang
leher seekor burung mungil yang rapuh. Kemudian gerakkan tangan kananmu dengan
gemulai ke bawah, seakan membelai bulu-bulu halus ekor si burung yang panjang
dan indah. Perlahan-lahan, perlahan-lahan sekali, pindahkan berat tubuhmu ke
kaki kiri.”
Peony
mengikuti instruksi si biksu, lalu mendapati dirinya bermandikan keringat. Ia
menutup mata, lalu teringat bahwa beberapa tahun yang lalu, ketika keluarga Shu
dan Ma sedang kumpul-kumpul, Shu menangkap seekor burung yang kemudian
dihadiahkannya kepadanya. Sekarang Peony membayangkan ia memegang burung yang sama.
Ia membelai bulu-bulunya yang halus serta menikmati kelembutannya. Saat membuka
mata, ia melihat gurunya mengangguk-angguk puas ke arahnya.
Yang
membuat Peony kecewa adalah jurus tai chi tak dapat dipelajari dengan mudah
atau cepat. Selama setahun ia tinggal di Kuil Bangau Putih, membantu para
biksuni memasak serta mencuci sepanjang hari. Setiap malam ia bergabung dengan
keenam biksu muda untuk berlatih jurus keras yang menjadi dasar seluruh aliran
itu, hingga ia dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pada tingkat ini ia dilatih
untuk menguasai jurus lembut yang amat sulit dan berat.
Ketika
musim semi tahun 1346 tiba, Peony berhasil menguasai tiga puluh dari seratus
variasi jurus yang ada. Ia masih belum dapat bergerak secepat dan selembut para
biksu, tapi sudah dianggap cukup menguasai ilmunya. Pada suatu malam, ketika
kelasnya kembali berlatih di bawah sinar bulan musim semi, akhirnya ia berhasil
menguasai langkah-langkah bangau putih dengan benar. Ia begitu antusias,
sehingga dirangkulnya biksu yang berdiri paling dekat dengannya saat itu,
sambil berteriak, “Asyiknya!”
Para
biksu menghentikan gerakan mereka. Tak seorang pun mengeluarkan suara. Wajah
biksu yang dirangkul Peony merah padam. Sumber Kedamaian menghentikan latihan,
kemudian memerintahkan Peony kembali ke kamarnya.
Sebelum
Peony memprotes, biksu itu sudah menggeleng-gelengkan kepala dengan tegas. “Kau
boleh berjanji takkan pernah merangkul seorang biksu lagi, dan aku yakin kau
akan selalu mengingat janjimu. Tapi itu tidak cukup.”
Biksu
tua itu menyatukan alisnya yang putih, sambil mempelajari tubuh remaja Peony
seperti ayah mengamati anaknya yang sudah beranjak dewasa. Peony mendapat makan
secara teratur dan tidak lagi kurus kering. Di balik berlapis-lapis pakaian
taninya, bentuk tubuhnya mengingatkan biksu tua itu pada apel ranum yang lezat.
Para biksu itu sebetulnya hanyalah laki-laki normal, lahir dengan nafsu lapar,
dahaga, dan berahi. Melihat buah lezat yang amat menggiurkan itu, tak sulit
bagi mereka untuk melupakan sumpah mereka.
“Kau
satu-satunya wanita di kuil ini yang bukan biksuni. Kau akan mengganggu
konsentrasi para biksu muda, terutama selama latihan tai chi, di mana kontak
fisik sulit dihindarkan.”
Ia
mendoyongkan tubuh ke muka, lalu berkata, “Kalau kau masih belum berminat
menjadi biksuni, kau harus pergi. Sadarilah, tak ada gunanya mengancamku kali ini.”
Peony
menatap mata biksu tua itu dengan berani, tapi ketika orang tua itu tidak juga
mengalihkan pandang, ia tersenyum, lalu mengangguk. “Aku takkan mempersulit Anda.
Aku akan segera angkat kaki.” Peony membungkuk dalam-dalam di hadapan biksu
yang belakangan ini semakin dihormatinya. “Semua di sini telah amat berbalik hati
padaku, dan aku amat berterima kasih. Shih-fu yang kuhormati, aku ingin Anda
tahu bahwa setahun yang lalu, bahkan andai kata Anda menolak mengajarkan tai
chi kepadaku dan memaksaku angkat kaki, aku takkan mengadukan Anda pada
orang-orang Mongol.”
Sumber
Kedamaian mengangguk tenang. “Aku tahu. Demikian pula para biksu lainnya. Kalau
tidak, sudah lama kau terkubur di samping bocah malang itu.” Biksu itu tersenyum
melihat ekspresi tercengang yang terpancar dari mata Peony. “Jangan lupa
menikmati makanan gratismu yang terakhir, serta untaian uang logam untuk bekal
perjalananmu. Tapi aku tak akan mengembalikan guntingmu. Dengan tai chi-mu, kau
tidak membutuhkan senjata untuk melindungi dirimu.”
Sebelumnya - Selanjutnya
