Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #14



Episode 13

MATAHARI mulai naik dari balik gunung yang tinggi, menerangi bukit-bukit yang mengelilingi kota Gunung Makmur. Seorang gadis bertubuh tinggi melangkah menuju alun-alun kota dengan punggung lurus dan kepala tegak. Pakaiannya yang berantakan sudah terlalu pendek untuk kakinya yang panjang, terlalu sempit untuk tubuhnya yang besar. Peony Ma ternyata masih terus bertumbuh selama setahun terakhir ini, meskipun ia kurang makan.

        Ia sudah pernah mencuri, menipu, serta berbohong untuk dapat bertahan. Kakinya yang besar telanjang, sepatunya hilang saat ia lari dari kejaran seorang penjaja makanan yang mengancam akan membunuhnya karena ia mencuri semangkuk bakmi darinya. Ia sudah menempuh jarak bermil-mil setelah itu, dan kakinya yang semula lecet dan berdarah-darah sekarang sudah keras dan kapalan.
        Di ujung alun-alun ia berhenti untuk mengawasi beberapa gadis yang sedang mencuci pakaian di sebuah kolam. Ia tersenyum, mulutnya yang lebar terbuka, menyingkapkan sederetan gigi putih yang ternyata amat kontras dengan kulit wajahnya yang gelap. Ia menatap sekelilingnya dengan matanya yang besar dan bulat, namun tidak melihat tepi sungai. Senyumnya semakin melebar. Rasanya begitu asyik setelah akhirnya meninggalkan Sungai Kuning yang menyebalkan itu di belakangnya.
        Ia telah menyusuri tepiannya sejak meninggalkan desa Pinus, menuju ke Selatan. Setiap pagi, saat akan berangkat, ia selalu memastikan bahwa matahari terbit di sebelah kirinya. Ayahnya pernah mengajarinya soal arah, dan pengetahuan itu ternyata amat berguna baginya untuk pergi dari tanah kelahirannya yang bergelimang darah serta menyimpan begitu banyak kenangan memilukan. “Lebih dari sekadar memilukan. Tidak tertahankan,” gumamnya. “Baba, Ma'ma, dan Shu, aku harus pergi jauh, jauh dari tempat kalian dibunuh.”
        Ia mengerutkan wajah begitu matanya tertumbuk pada sebuah pelataran sepi, kemudian mencoba mereka-reka apa yang terpancang di ujung tonggaknya yang tinggi. Ia menjerit begitu menyadari bahwa itu kepala manusia. Ia menutup mulut dengan punggung tangannya, tidak yakin apakah itu hanya imajinasinya atau kepala itu memang sungguh-sungguh sedang tersenyum.
        Ia mendekat untuk mengamati wajah yang sudah rusak itu dengan lebih baik. Ternyata kepala itu milik seorang bocah berambut panjang. Bibirnya yang keabu-abuan merekah, menampakkan sederetan gigi yang sudah patah-patah. Matanya yang kosong terbuka, seakan menatap ke arah bulan berwarna pucat di langit sebelah barat.
        Sekelompok biksu berjubah jingga muncul di belakang Peony. Melihat kepala itu, mereka bergegas mendekat. Dua di antara mereka mulai mencabut tiangnya dari tanah. Dua yang lain menggelar sehelai saputangan lebar di pelataran, siap membungkus kepala itu.
        “Stop!” Beberapa puluh serdadu Mongol tiba-tiba muncul entah dari mana, sambil menudingkan pedang panjang mereka ke arah para biksu itu.
        “Panglima jenderal kami memerintahkan untuk menangkap siapa pun yang berani menyentuh kepala itu!”
        Selama beberapa saat, para biksu seakan terpaku di tempat mereka berdiri. Kemudian salah seorang di antara mereka, seorang biksu tua beralis putih, melangkah maju. “Namaku Sumber Kedamaian. Aku kepala para biksu di Kuil Bangau Putih.” Ia menunjuk ke puncak sebuah gunung di kejauhan. Di sana sebuah atap biru yang melengkung tampak berkilauan di atas pohon-pohon pinus yang tinggi.
        “Antar aku menghadap panglima jenderalmu.”
        Penuh rasa ingin tahu, Peony menanti bersama para biksu lainnya. Si biksu tua akhirnya kembali dengan senyum puas. “Turunkan kepala itu dan pindahkan tubuhnya dari bawah pelataran. Kita akan menggali kuburan untuk anak malang ini, di suatu tempat di belakang kuil-kita.”
        Setelah para biksu itu mengangkut jenazah serta kepala Ma menuju perbukitan, Peony mengalihkan perhatiannya kembali pada kota yang baru di masukinya itu.
        Ia berjalan di antara kuda dan keledai-keledai, kereta-kereta yang ditarik oleh sapi, serta para pejalan kaki. Sesaat ia berdiri di dekat si peramal. Perutnya terasa begitu lapar, sehingga burung kuning mungil itu tiba-tiba menggugah selera. Ketika si peramal melihatnya menatapi peliharaannya dengan penuh nafsu, ia segera diusir dari situ.
        Peony mengawasi tukang gigi mengganti gigi seorang wanita dengan sebuah gigi bagus yang baru dibelinya dari seseorang yang sedang membutuhkan uang. Si tukang gigi menoleh ke arah Peony, kemudian memintanya membuka mulut. Peony tidak menyadari apa yang berkecamuk dalam pikiran laki-laki itu dan meluluskan permintaannya. Ketika si tukang gigi menanyakan apakah ia berminat menjual beberapa di antara gigi-giginya yang bagus, Peony langsung lari ketakutan.
        Saat melewati beberapa pintu dengan lampu-lampu hijau tergantung di mukanya, ia teringat bagaimana ibunya selalu mengancamnya dengan mengatakan, kalau seorang gadis tidur dengan seorang laki-laki sebelum menikah, rumah berlampu hijau akan menjadi tempat tinggalnya untuk selanjutnya.
        Di muka rumah bordil yang paling besar terdapat kios pedagang rambut. Peony berhenti untuk mengamati seorang wanita muda yang menawarkan rambutnya. Meskipun pakaiannya kumal, rambut wanita petani yang panjangnya sampai ke pinggang itu jatuh bak geraian sutra hitam. Saat pedagang itu mengangkat guntingnya yang besar, wanita miskin itu menutup matanya. Hanya dalam beberapa detik saja rambutnya yang panjang sudah terpangkas habis. Sambil terisak si wanita mengeluarkan saputangan lebar yang sudah ia sediakan sebelumnya dari dalam sakunya, untuk membungkus kepalanya yang kini tampak berantakan. “Sekarang bayi-bayiku tak perlu mati kelaparan... setidaknya untuk sementara.”
        Peony meraba rambutnya sendiri. Pita merah yang melilit di kepangnya sudah berubah menjadi serpihan-serpihan kain kotor keabu-abuan. Ia menarik ranting tanaman yangliu yang menahan jalinan rambutnya yang membelit di atas kepalanya dalam bentuk mahkota. Kepangnya yang panjang jatuh sampai ke pinggul.
        Ia tahu rambutnya merupakan satu-satunya kelebihan yang dimilikinya, dan ia selalu mencucinya dengan teratur di sungai. Baru saat itulah terlintas dalam dirinya bahwa penampilannya sudah tak berartl lagi baginya sekarang. Shu sudah tiada, dan ia tak berminat mengabdikan diri pada laki-laki lain.
        “Berapa yang dapat kuperoleh untuk rambutku?” tanyanya pada si pedagang.
        “Lima keping uang tembaga,” jawab pedagang itu, sambil berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Rambut Peony berkilauan bak permukaan mutiara hitam. Seorang nyonya kaya yang rambutnya sudah mulai menipis pasti bersedia membayar banyak untuk sebuah wig yang dibuat dari potongan rambut indah ini.
        “Itu cukup untuk membeli bakpao selama sepuluh hari,” ujar Peony sambil membuka kepangnya. Namun persis saat rambutnya sudah tergerai lepas, sekelompok serdadu Mongol muncul dari dalam rumah berlampu hijau itu.
        Separo di antara mereka ditugaskan untuk menjaga pelataran, sementara yang separo lagi mengawal panglima jenderal mereka di dalam bordil. Yang terakhir ini sekarang dalam keadaan mabuk, sehingga yang tampak di mata mereka bukanlah wajah kotor Peony serta pakaiannya yang sudah compang-camping, melainkan tubuhnya yang masih muda serta geraian rambutnya yang indah berkilauan.
        Peony menjerit saat serdadu pertama meletakkan tangan di pundaknya. Ia mulai menendang dan menggigit saat yang kedua meraih payudaranya. Mula-mula ia membenamkan gigi-giginya yang tajam pada tangan kurang ajar itu, kemudian pada tangan yang berada di pundaknya.
        Kedua serdadu itu mengaduh kesakitan. Di pihak lain, si penjual takjub melihat keberanian gadis jangkung itu. Peony segera merenggut gunting besar dari tangan si penjual yang gemetaran, sebelum salah seorang di antara para serdadu itu menyergapnya. Ia mengacungkan senjata barunya ke arah para serdadu itu sambil melangkah mundur. “Kalau ada di antara kalian yang mengejarku, akan kucungkil matanya!” serunya, kemudian tiba-tiba ia membalikkan tubuh, lalu kabur.
        Napas Peony tersengal-sengal saat ia tiba di kaki bukit pertama. Ia mendaki sampai ke puncaknya, kemudian beristirahat di belakang sebatang pohon pinus tinggi sampai pinggangnya tidak terasa sakit lagi. Sesudah itu ia mendaki bukit berikutnya, lalu yang berikutnya, terus ke arah bangunan beratap biru di atas gunung tinggi itu.

Angin malam mendesir melalui pohon-pohon pinus yang menjulang ke langit dan mengelilingi bangunan Kuil Bangau Putih. Dalam mimpi Peony, suaranya terdengar bak orang yang sedang meratap. Peony membuka mata, kemudian langsung duduk tegak, mengawasi suasana sekelilingnya yang gelap serta mendengarkan suara napas teratur sekian banyak wanita yang tertidur nyenyak dalam ruangan itu.
        Perlahan-lahan pikirannya kembali jernih. Perutnya tak terasa pedih, seperti biasanya setiap kali ia terjaga dari tidur. Para biksuni kuil itu telah memberinya makanan, dan seperangkat pakaian petani yang bersih dan hanya koyak sedikit.
        Sinar bulan membias masuk melalui kertas merang yang menutupi lubang jendela, menerangi ke-23 sosok lain yang sedang terbaring di tikar-tikar jerami. Peony teringat apa yang diungkapkan Sumber Kedamaian padanya, bahwa mereka semua membutuhkan perlindungan seperti dirinya. Peony tahu wanita-wanita ini akan segera menjadi biksuni untuk menghindari kekerasan dunia luar. Ia menghela napas. Saat ini ia sendiri pun tergoda untuk menjadikan kuil ini tempat bernaungnya untuk selamanya, meskipun peraturan-peraturan yang diberlakukan di sini amat keras.
        Selama setahun terakhir ini, sesekali ia bernaung di kuil-kuil. Tapi setiap kali tenaganya pulih, ia kembali ke jalan. “Lama-lama rasanya berat juga bertahan hidup seorang diri,” bisiknya pada diri sendiri. Ia menarik napas, lalu menatap ke arah jendela.
        Mula-mula ia menyangka melihat bayangan sebatang pohon pinus. Namun ia teringat bahwa beberapa saat yang lalu ia tidak melihat bayangan apa-apa di situ. Pohon pinus tidak bisa muncul dan menghilang begitu saja.
        Sementara ia bengong, bayangan itu mulai bergerak. “Burung bangau!” Peony menahan napas.
        Makhluk anggun itu mengembangkan sayapnya, kemudian mengepakkannya perlahan-lahan dalam gerakan amat gemulai. Ia memutar tubuh, lalu mulai melesat menjauhi jendela, menuju bulan. Sementara itu, semakin banyak wujudnya terungkap.
        “Bangau itu memiliki kepala seperti manusia!” Sambil menahan napas, Peony berdiri.
        Tapi begitu ia selesai berpakaian, bangau itu sudah menghilang. Sesaat ia menatap ke arah jendela yang diterangi sinar bulan. Kemudian ia teringat bahwa di sisi lain bangunan itu ada sebuah tempat terbuka. Diam-diam ia menyelinap di antara kaum wanita yang sedang tidur.
        Sebuah patung Buddha menjaga halaman terbuka itu. Dari baliknya, Peony mengintip para biksu yang menyebar mulai dari pelataran batu sampai ke daerah perbukitan di kejauhan. Jumlah mereka begitu banyak, sehingga Peony yakin seluruh populasi biksu kuil itu berada di sana. Jubah panjang mereka sudah dilepaskan. Mereka hanya mengenakan sepasang celana longgar, sepatu lembut, dan sehelai baju pendek berlengan lebar.
        Sementara ia mengintai, mereka mengembangkan lengan perlahan-lahan, sehingga lengan baju mereka yang ringan berkibas-kibas ditiup angin. “Aku menemukan burung-burung bangauku!” ujar Peony pada dirinya.
        Begitu kata-kata itu terlompat keluar dari mulutnya, biksu-biksu itu tersentak.
        “Ada yang memata-matai kita!” seru seorang biksu muda.
        Peony tidak mendengar ada yang bergerak, namun pada saat berikutnya ia sudah menjadi tawanan, terbelenggu oleh jarl-jari besi dan lengan-lengan baja. Ia berusaha meronta, tapi tak dapat melonggarkan cekalan itu sedikit pun. Ia bahkan tak dapat berteriak. Sebuah telapak tangan yang dingin dan keras membekap mulutnya.
        Ia diangkat dari tempatnya berdiri, dan merasa seakan dibawa terbang melintasi halaman dalam cekalan beberapa biksu. Mereka menurunkan dirinya di hadapan Sumber Kedamaian.
        Bulan menyinarkan cahayanya ke atas alis putih si biksu tua yang tampak menyatu. Perlahan-lahan ia menggeleng, lalu berkata, “Perasaanku memang sudah mengatakan bahwa kau banyak ulah seiak kau memperlihatkan gunting itu kepadaku. Seharusnya aku tahu, seorang gadis yang berani mengancam orang-orang Mongol akan berkeliaran di kuilku di tengah malam.- Aku tak punya pilihan lain. Aku terpaksa mengusirmu dari sini. Begitu fajar menyingsing, kau harus pergi dengan seuntal uang logam dan sebuah buntelan makanan.”
        Setelah bebas, Peony menggosok-gosok pergelangan tangannya, lalu bergumam, “Aku memang sudah berniat angkat kaki. Untuk menjadi biksuni dan harus mematuhi peraturan-peraturan konyol itu demi atap di atas kepalaku serta sedikit makanan untuk mengisi perutku rasanya terlalu berat untukku. Omong-omong, bolehkah aku makan sampai kenyang sebelum berangkat? Selain itu, aku ingin meminta gunting itu kembali. Siapa tahu aku membutuhkannya lagi.”
        Ia mengangkat dagunya, membayangkan betapa enaknya andai kata ia dapat bergerak begitu cepat dan ringan seperti para biksu itu. Ia bisa mencuri makanan dan pakaian serta apa saja yang dibutuhkannya, kemudian menghilang begitu saja seperti angin lalu.
        Sumber Kedamaian mengangguk. “Kau boleh makan sekenyangmu dan memperoleh guntingmu kembali. Tapi kau harus berjanji tidak akan pernah mengungkapkan pada siapa pun apa yang sudah kausaksikan malam ini.”
        Peony menatap mata si biksu tua, lalu menangkap sedikit kekhawatiran. Dalam perjalanan ia mendengar diberlakukannya sebuah peraturan baru, yang melarang dipraktekkannya teknik-teknik bela diri gaya Cina dalam bentuk apa pun. Dengan cepat ia menarik kesimpulan, lalu mendoyongkan tubuh ke arah Sumber Kedamaian. Ia mempelajari ekspresi di wajahnya untuk menandaskan kecurigaannya. Ya, orang tua ini memang betul-betul khawatir.
        Peony tersenyum. Ia melangkah mundur, menegakkan pundaknya, lalu berkata tenang, “Shih-fu yang kuhormati, aku berubah pikiran.”
        “Apa maksudmu?” Biksu tua itu mengumpati dirinya. Ekspresinya saat itu tak lagi sesuai dengan namanya.
        “Aku mau tinggal di sini dan mempelajari apa yang sedang kalian lakukan. Tapi aku tak ingin menjadi biksuni, atau digunduli dan terikat berbagai peraturan.” Peony membungkuk dalam-dalam, kemudian melanjutkan sambil tersenyum lebar, “Aku tak berani mengancam Anda, shih-fu yang kuhormati. Tapi aku bermulut besar. Sungguh berbahaya membiarkanku meninggalkan kuil ini dan melantur mengenai berbagai macam hal di kota Gunung Makmur. Kalau aku tidak keliru, orang-orang Mongol itu masih ada di sana.”
        Para biksu di belakangnya bergerak mendekat, seakan menggertak. Melihat mereka dari sudut matanya, Peony meninggikan suaranya, “Tentu saja kalian dapat mengurungku dengan mudah untuk selamanya. Kalian dapat membunuhku, kemudian menguburkan mayatku di sebelah kuburan si bocah. Orang-orang Mongol itu toh sudah membantai habis seluruh keluargaku. Biar bagaimanapun, aku cuma gadis miskin yang tak punya siapa-siapa lagi.” Suaranya agak tersendat pada akhir kalimatnya. Tapi itu tidak sulit. Ia tak perlu bersandiwara untuk itu.
        Sumber Kedamaian mengangkat matanya ke arah bulan, menggeleng-gelengkan kepala, lalu mendesah tak berdaya.
        Peony diperbolehkan ikut ambil bagian malam itu juga, tapi tidak bersama para biksu di halaman belakang yang terbuka. Ia diantar ke sebuah ruang tertutup. Di sana enam biksu muda yang masih baru di kuil itu sedang mendapat pelajaran pertama.
        Instrukturnya, seorang biksu berusia tiga puluh tahun, sedikit enggan menerima Peony sebagai murid, namun sebagai biksu yang baik ia terpaksa menerima nasibnya. Ia bahkan mengulangi pelajaran pertama untuknya.
        Katanya, “Apa yang akan kaupelajari ini dinamakan jurus tai chi, jurus paling canggih. Gayanya paling lembut di antara sekian jenis kungfu, tapi secara praktis paling kuat. Diciptakan persis sebelum orang-orang Mongol menguasai Cina, sebagai bentuk latihan jasmani untuk biksu-biksu Shaolin. Namun orang-orang Mongol memaksa kita mengubah serta mengembangkannya menjadi jurus mematikan.”
        Sinar bulan mengungkapkan sorot kebencian yang tersembunyi di balik mata biksu yang sudah setengah baya itu. Ia memejamkan mata selama beberapa saat. Ketika ia membukanya kembali, kedengkian yang terpancar dari dalamnya sudah hilang, dan ia tampak kembali damai dengan dirinya. Sesudah itu ia melanjutkan, “Intinya adalah kombinasi pikiran serta gerakan fisik. Kalian harus berkonsentrasi dan menggunakan tenaga dalam sebagai sumber gerak kalian.”
        Peony belajar berdiri tegak dengan kedua tangan di dekat pinggang. Padanya dikatakan bahwa ia harus rileks serta bernapas teratur. Dengan tumit bersentuhan sekadarnya ia menekuk lutut, lalu merenggangkan kaki selebar bahunya. Sedikit demi sedikit ia menurunkan tubuhnya, sehingga bokongnya nyaris menyentuh tanah, kemudian perlahan-lahan dan dengan luwes ia harus menegakkan diri kembali. Dengan lembut ia mengangkat lengannya ke muka, hingga sejajar dengan bahu, sementara telapak tangannya mengarah ke bawah. Sesudah itu ia mengembalikan posisi lengannya ke dekat pinggang lagi. Dan ia harus mengulangi proses Ini berulang kali.
        “Jurus berikut ini dinamakan menyentuh ekor burung,” ujar si instruktur sambil memperagakan gerakan itu. “Raih dengan tangan kirimu dan bayangkan kau sedang memegang leher seekor burung mungil yang rapuh. Kemudian gerakkan tangan kananmu dengan gemulai ke bawah, seakan membelai bulu-bulu halus ekor si burung yang panjang dan indah. Perlahan-lahan, perlahan-lahan sekali, pindahkan berat tubuhmu ke kaki kiri.”
        Peony mengikuti instruksi si biksu, lalu mendapati dirinya bermandikan keringat. Ia menutup mata, lalu teringat bahwa beberapa tahun yang lalu, ketika keluarga Shu dan Ma sedang kumpul-kumpul, Shu menangkap seekor burung yang kemudian dihadiahkannya kepadanya. Sekarang Peony membayangkan ia memegang burung yang sama. Ia membelai bulu-bulunya yang halus serta menikmati kelembutannya. Saat membuka mata, ia melihat gurunya mengangguk-angguk puas ke arahnya.
        Yang membuat Peony kecewa adalah jurus tai chi tak dapat dipelajari dengan mudah atau cepat. Selama setahun ia tinggal di Kuil Bangau Putih, membantu para biksuni memasak serta mencuci sepanjang hari. Setiap malam ia bergabung dengan keenam biksu muda untuk berlatih jurus keras yang menjadi dasar seluruh aliran itu, hingga ia dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pada tingkat ini ia dilatih untuk menguasai jurus lembut yang amat sulit dan berat.
        Ketika musim semi tahun 1346 tiba, Peony berhasil menguasai tiga puluh dari seratus variasi jurus yang ada. Ia masih belum dapat bergerak secepat dan selembut para biksu, tapi sudah dianggap cukup menguasai ilmunya. Pada suatu malam, ketika kelasnya kembali berlatih di bawah sinar bulan musim semi, akhirnya ia berhasil menguasai langkah-langkah bangau putih dengan benar. Ia begitu antusias, sehingga dirangkulnya biksu yang berdiri paling dekat dengannya saat itu, sambil berteriak, “Asyiknya!”
        Para biksu menghentikan gerakan mereka. Tak seorang pun mengeluarkan suara. Wajah biksu yang dirangkul Peony merah padam. Sumber Kedamaian menghentikan latihan, kemudian memerintahkan Peony kembali ke kamarnya.
        Sebelum Peony memprotes, biksu itu sudah menggeleng-gelengkan kepala dengan tegas. “Kau boleh berjanji takkan pernah merangkul seorang biksu lagi, dan aku yakin kau akan selalu mengingat janjimu. Tapi itu tidak cukup.”
        Biksu tua itu menyatukan alisnya yang putih, sambil mempelajari tubuh remaja Peony seperti ayah mengamati anaknya yang sudah beranjak dewasa. Peony mendapat makan secara teratur dan tidak lagi kurus kering. Di balik berlapis-lapis pakaian taninya, bentuk tubuhnya mengingatkan biksu tua itu pada apel ranum yang lezat. Para biksu itu sebetulnya hanyalah laki-laki normal, lahir dengan nafsu lapar, dahaga, dan berahi. Melihat buah lezat yang amat menggiurkan itu, tak sulit bagi mereka untuk melupakan sumpah mereka.
        “Kau satu-satunya wanita di kuil ini yang bukan biksuni. Kau akan mengganggu konsentrasi para biksu muda, terutama selama latihan tai chi, di mana kontak fisik sulit dihindarkan.”
        Ia mendoyongkan tubuh ke muka, lalu berkata, “Kalau kau masih belum berminat menjadi biksuni, kau harus pergi. Sadarilah, tak ada gunanya mengancamku kali ini.”
        Peony menatap mata biksu tua itu dengan berani, tapi ketika orang tua itu tidak juga mengalihkan pandang, ia tersenyum, lalu mengangguk. “Aku takkan mempersulit Anda. Aku akan segera angkat kaki.” Peony membungkuk dalam-dalam di hadapan biksu yang belakangan ini semakin dihormatinya. “Semua di sini telah amat berbalik hati padaku, dan aku amat berterima kasih. Shih-fu yang kuhormati, aku ingin Anda tahu bahwa setahun yang lalu, bahkan andai kata Anda menolak mengajarkan tai chi kepadaku dan memaksaku angkat kaki, aku takkan mengadukan Anda pada orang-orang Mongol.”
        Sumber Kedamaian mengangguk tenang. “Aku tahu. Demikian pula para biksu lainnya. Kalau tidak, sudah lama kau terkubur di samping bocah malang itu.” Biksu itu tersenyum melihat ekspresi tercengang yang terpancar dari mata Peony. “Jangan lupa menikmati makanan gratismu yang terakhir, serta untaian uang logam untuk bekal perjalananmu. Tapi aku tak akan mengembalikan guntingmu. Dengan tai chi-mu, kau tidak membutuhkan senjata untuk melindungi dirimu.”

Sebelumnya - Selanjutnya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...