Episode
12
DI tengah-tengah musim semi, permukaan Sungai Kuning
sudah kembali penuh dengan kuntum-kuntum bunga pohon apel yang putih dan
kemerahan. Di daerah pinggiran sebuah desa pertanian yang termasuk dalam Provinsi
Honan, delapan pemuda melangkah gontai di bawah sinar matahari pagi, menuju
sungai. Penampilan mereka yang berantakan membuat anak-anak gadis yang berkumpul
di bawah pepohonan rimbun itu ketakutan. Mereka langsung memungut cucian
mereka, menyambar keranjang-keranjang rotan mereka, kemudian kabur sambil menjerit-jerit.
“Dasar
tolol! Kenapa kalian kabur melihat kami? Bukankah kami sebangsa dengan kalian,
bukan orang-orang Mongol!”
Kemudian
mereka melihat bayangan mereka di air keruh. Pakaian mereka lusuh dan kumal,
sandal-sandal mereka sobek. Wajah mereka kotor, rambut mereka seperti ijuk, dan
cambang mereka panjang. Kebanyakan di antara mereka mempunyai luka-luka
terbuka, baik di wajah maupun tubuh. Penampilan mereka seperti binatang yang sudah
biasa dikejar-kejar sebagai mangsa.
Mereka
tidak berlama-lama mengamati bayangan mereka. Mereka langsung menjatuhkan diri
ke tanah, dan dengan tangan-tangan kotor, membawa air berlumpur itu ke bibir
mereka yang pecah-pecah, lalu minum sebagaimana layaknya orang-orang kehausan.
“Cukup!”
seru salah seorang di antara mereka. “Kalau kalian minum lebih banyak lagi,
kalian akan sakit.”
Mendengar
itu, mereka langsung berdiri. Mereka percaya pada Shu si Tangguh, yang sudah
membuktikan kemampuannya memimpin mereka keluar dari mara bahaya.
“Desa
di depan kita tampaknya cukup tenang. Mungkin kita bisa mendapat makanan di
sana, entah dengan cara bagaimana,” ujar Shu, sambil melihat ke arah padang
hijau serta rumah-rumah kecil di kejauhan itu.
Tubuhnya
lebih tinggi dan besar setelah setahun, meskipun kenyataannya ia tak pernah
kenyang. Ketujuh temannya yang kelaparan tampak seperti bocah-bocah di sisinya.
Mereka juga korban nasib yang tak berbelas kasihan, yang merenggut rumah serta
orang-orang yang mereka cintai. Tak seorang pun di antara mereka mau masuk
biara, tapi semua bertekad untuk tetap bertahan hidup. Shu bertemu dengan yang
pertama begitu ia meninggalkan Lembah Zamrud. Bersama-sama mereka menelusuri
Sungai Kuning, saling berbagi duka dan amarah. Kemudian mereka bertemu dengan
anggota ketiga, sesudah ltu yang keempat dan kelima.
Kedelapan
pemuda itu memutuskan untuk bergabung agar dapat saling mendukung. Ternyata Shu
yang paling besar dan kuat di antara mereka, juga paling bijaksana dan banyak
akal. Kelihaiannya menjadikannya pelindung dan pemimpin mereka, sedangkan
kekuatan fisiknya membuat kata-katanya dipatuhi.
Selama
setahun terakhir ini, kelompok itu hidup sebagai pengemis, pencuri, dan
sesekali buruh saat ada yang mau mempekerjakan mereka. Cara mereka mengisi perut
amat beragam, namun langkah-langkah mereka mantap menuju Selatan, berkat tekad
Shu yang bersikeras bahwa mereka harus ke Sungai Yangtze. Kelompok itu tak
pernah mempertanyakan tujuan mereka yang terletak di Provinsi Kiangsi dan
ternyata jarak tempuhnya lebih dari tujuh ratus mil.
“Kita
akan menemukan sebuah kota bernama Phoenix, yang merupakan tempat asal
keluargaku. Ayahku mengatakan tempat itu kota terindah di seluruh Cina. Musim
dinginnya tidak terlalu dingin, sedangkan musim panasnya panjang,” ujar Shu
berulang kali selama perjalanan yang seakan tak pernah berakhir. “Begitu sampai
di sana, kita akan mendapat pekerjaan tetap, lalu bisa menetap. Dari luar kita
akan tampil sebagai penduduk biasa, sambil mengumpulkan lebih banyak orang
untuk memperbesar kelompok kita. Kelak kita akan cukup kuat untuk menghadapi
orang-orang Mongol dan membalas kematian keluarga kita.”
Mereka
meninggalkan tepi sungai, lalu menuju desa. Semua dalam keadaan penat, lapar,
dan membutuhkan sedikit semangat ekstra. Shu menatap langit biru, sambil menghirup
aroma bunga pohon apel yang memenuhi udara. Sekali lagi ia menceritakan pada
teman-temannya mengenai daerah Selatan, persis sebagaimana kedua orangtuanya
selalu menceritakannya kepadanya.
“Di
daerah Selatan, musim semi terus berlangsung sepanjang tahun, dan langitnya
selalu biru. Bunga-bunganya selalu bermekaran. Kalian dengar kicauan burung
gereja? Di daerah Selatan, mereka berkicau sepanjang tahun…”
Shu
berhenti bercerita begitu mendengar derap kuda dan jeritan panik para penduduk.
Ia memberi aba-aba kepada ketujuh temannya untuk bersembunyi di belakang batu-batu
besar yang berbatasan dengan daerah pertanian itu.
Mereka
menjulurkan leher dan melihat sepasukan serdadu Mongol berkuda memasuki desa.
Pemimpin mereka seorang laki-laki bertubuh besar yang mengendarai kuda jantan
hitam. Ia mengenakan stola merah menyala dan baju perang berkilauan. Suaranya
yang kuat terdengar jelas sampai ke tempat persembunyian mereka. Ia berteriak
dalam bahasa Mongolia agar serdadu-serdadunya bekerja lebih cepat.
Berderet-deret
rumah kecil dibakar, berekar-ekar tanah pertanian yang baru diolah dengan
cermat dirusak. Kerbau-kerbau dibunuh, kaum laki-laki dan perempuan dibantai,
tua-muda dibasmi. Sambil menjerit-jerit penduduk desa berlarian ke segala
penjuru, namun tak banyak yang berhasil melarikan diri. Kuda-kuda mereka amat
cepat, sementara para penunggangnya amat tangkas memainkan tali dan anak panah.
“Cepat!
Kau ini lambat seperti kura-kura!” seru Shu pada seorang bocah lelaki yang
sedang berlari ke arah batu-batu besar tempat ia dan kawan-kawannya
bersembunyi.
Bocah
itu menoleh untuk melihat sampai di mana para pengejarnya. Tiba-tiba, karena
begitu takutnya, ia berhenti berlari. Sebuah anak panah melesat, nyaris
mengenainya. Shu keluar dari tempat persembunyiannya, lari ke arah si bocah,
kemudian setelah menggendongnya, ia berlari kembali ke belakang batu besarnya.
Bocah
yang ketakutan itu, karena mengira ia baru saja ditangkap oleh orang Mongol,
segera meronta-ronta sambil berteriak-teriak, “Lepaskan aku! Guei-tze sialan!”
Shu
tertawa saat meletakkan bocah itu di tanah. “Kau benar-benar tangguh. Peony
juga suka memaki orang-orang Mongol guei-tze...” Ia menelan ludah. Ia tak dapat
meneruskan kata-katanya. Bayangan Peony masih tetap hidup dalam hatinya selama
ini. Namun ia tak suka menyebut-nyebut namanya. “Siapa namamu?” tanyanya.
“Ma si
Umur Panjang,” jawab si bocah sambil mengawasi kedelapan laki-laki bertampang
kumal itu, kemudian menoleh ke arah desanya.
“Bahkan
nama keluargamu sama!” seru Shu, yang langsung menyukai si bocah. Ia meletakkan
tangannya yang besar di pundak kecil bocah itu, lalu memaksanya berjongkok di
belakang batu besar itu. “Jangan mengintip. Kalau masih ada di antara
keluargamu yang hidup, kau dapat menemuinya nanti.”
Tak
mudah bagi Shu untuk menahan Ma agar ia tidak melarikan diri mencari
keluarganya. Tapi lebih berat lagi menahan dirinya beserta ketujuh temannya
agar tidak langsung menghambur ke desa itu untuk membantu penduduknya. “Kita
tak boleh menyia-nyiakan nyawa kita,” ujar Shu berulang kali, mengingatkan
dirinya serta teman-temannya. “Orang-orang Mongol itu banyak, sedangkan kita
cuma berdelapan.”
“Sama
sekali tidak! Kita bersembilan! Aku juga bisa berkelahi!” seru Ma sambil
menatap Shu berapi-api. “Berani-beraninya kau lupa menghitung aku?”
“Kau
juga suka marah-marah seperti Peony!” ujar Shu sambil mengacau-ngacaukan rambut
Ma yang panjang dan dibiarkan lepas. “Berapa umurmu? Rambutmu saja belum dikepang.”
“Sebentar
lagi umurku empat belas. Aku hampir dewasa, dan ibuku sudah berjanji akan
mengepang rambutku pada hari ulang tahunku yang akan datang.” Begitu teringat ibunya,
Ma menjulurkan leher. Shu langsung menarlknya ke dekatnya.
Bersembilan
mereka menanti dari pagi sampai sore. Akhirnya orang-orang Mongol meninggalkan
desa dalam kabut debu kekuningan. Kesembilan pemuda itu kemudian berlari
menerobos kabut debu, untuk mencari keluarga Ma serta siapa saja yang selamat.
Tubuh
orang-orang Cina bergelimpangan di mana-mana, baik yang sudah mati ataupun yang
sekarat, darah mereka merembes di tanah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama
untuk menemukan ibu Ma, ayahnya, kemudian kakak laki-laki dan adik
perempuannya.
Seorang
lelaki tua yang sekarat mengenali Ma, lalu mencoba berbicara. “Ini semua
gara-gara tuan tanah kita. Orang-orang Mongol itu ke sini beberapa hari yang
lalu, untuk meminta perak dan emas. Si tuan tanah ketakutan, tapi terlalu pelit
untuk berpisah dengan uangnya. Orang-orang Mongol itu akan kembali dengan
penggiling yang ditarik oleh kuda-kuda mereka. Mereka akan meratakan desa kita,
untuk dijadikan padang rumput. Aku mendengar pembicaraan mereka tadi. Sebaiknya
kaukubur yang mati cepat-cepat, lalu pergi dari sini, dan jangan kembali lagi
...” Tiba-tiba ia roboh, mati.
Shu
membantu Ma mengubur keluarganya di bawah cahaya matahari terbenam, kemudian
mengajak bocah itu menjadi anggota tambahan dalam rombongannya. Ia melangkah di
samping si bocah, namun tidak mengungkapkan kepadanya bahwa ia telah menemukan adik
yang sudah lama dirindukannya.
Mereka
terpaksa tidur dengan perut kosong sepanjang malam. Pagi berikutnya mereka
sudah terlalu lemah karena kelaparan, saat mereka tiba di sebuah kota besar
yang dikelilingi bukit-bukit dan gunung tinggi. Tak lama kemudian mereka mulai
mengerti bahwa Gunung Makmur adalah kota terbesar di Provinsi Honan Utara.
“Coba
lihat orang yang lalu-lalang,” ujar Shu, sambil mengawasi begitu banyak kuda,
keledai, kereta yang ditarik sapi, serta pejalan kaki. “Kita pasti akan
mendapat makanan di sini. Aku begitu lapar, sampai hampir tidak kuat mengangkat
kakiku sendiri. Dan aku yakin kalian semua sama laparnya seperti aku.”
Pada
saat itu sebuah tandu tertutup melintas di hadapan mereka. Tirainya disingkap
oleh sebuah tangan kepucatan. Wajah seorang wanita setengah baya dengan
dandanan mencolok muncul dari baliknya. Ia menatap tajam ke arah mereka, lalu
berbisik, “Kalau kalian mau makan, datanglah ke rumah ketiga dari jalan pertama
yang berlampu hijau.”
Sementara
tandu tertutup itu menghilang, kesembilan pemuda itu berpandangan.
Ma
berkata, “Rumah berlampu hijau? Aku tak pernah mendekati tempat-tempat seperti
itu. Babaku akan memukuli aku.” Kemudian ia teringat bahwa ayahnya sudah tiada.
“Di
pihak lain,” ujar Shu, “para pelacur bisa saja berhati baik. Wanita itu mau
memberi kita makan. Kenapa kita harus menolak uluran tangannya?” Ia menatap si
bocah yang tampak ketakutan itu, lalu tertawa. “Kau mesti ikut. Ini perintah.”
Begitu
memasuki alun-alun kota, mereka terpukau melihat suasananya yang serba sibuk.
Mereka anak-anak desa yang belum pernah melihat begitu banyak toko serta tempat-tempat
makan di satu jalan. Meskipun masih pagi, mereka melihat ada beberapa rumah
berlampu hijau yang menyala terang. Begitu mereka sampai di muka rumah ketiga,
pintunya terbuka, dan wanita yang tadi mengendarai tandu tertutup itu
memberikan tanda kepada mereka untuk masuk.
“Baba
akan mengamuk di surga,” ujar Ma sambil berpegangan pada ambang pintu.
“Kalau
kau tidak mau melepaskan pintu itu, aku akan mengamuk di sini,” Ujar Shu,
mengacungkan tinjunya.
Si
wanita menggiring mereka ke dapur. “Beri mereka makan sampai kenyang, lalu beri
mereka bekal untuk di jalan,” ujarnya pada seorang koki tua, lalu pergi.
Si koki
memberi kesembilan pemuda kelaparan itu masing-masing semangkuk penuh bakmi
yang dimasak dalam saus daging kental. “Nyonya kami memang baik sekali,”
ujarnya sambil mengumpulkan beberapa bakpao untuk mereka, yang kemudian
dibungkusnya dalam daun kol lebar. “Tapi ada kisah sedih di balik alasannya
memberi kalian makan.”
Wanita
itu menghela napas. “Anak tunggal Nyonya, seorang putra yang baik, sudah besar
dan kuat tubuhnya sewaktu berumur empat belas tahun, ketika orang-orang Mongol
menelusuri seluruh kota mencari anak-anak muda untuk dipekerjakan di Kanal
Hui-tung. Mereka mengambil si bocah. Dia kabur dari lokasi kerjanya di Tsinan
dan mencoba pulang. Dalam perjalanan panjangnya dia mengemis untuk mendapatkan
makanan. Karena tak ada yang mau memberi, dia terpaksa mencuri. Dia tertangkap tak
jauh dari sini, ketika hampir sampai di rumah. Tangannya dipenggal, kemudian
dia mati karena perdarahan. Ketika nyonya kami melihat jenazah anaknya, dia
bersumpah akan menolong semua pemuda Cina yang tampaknya sedang melarikan diri
dari kejaran orang-orang Mongol.”
Perut
mereka kenyang dan hati mereka penuh semangat saat meninggalkan rumah berlampu
hijau itu menjelang siang, membawa bungkusan berisi bakpao. Mereka mengeluyur
dari sisi jalan yang satu ke sisi yang lain, sambil memperhatikan segalanya.
Suatu
saat mereka lewat di muka seorang peramal yang duduk di belakang meja kecil. Di
atasnya terdapat sangkar dengan burung kuning di dalamnya, serta banyak
gulungan kertas yang tertumpuk di piring, masing-masing selesar jarum. Seorang
wanita berhenti dan meletakkan sekeping uang tembaga. Si peramal melepaskan
burung yang sudah terlatih itu dan menunggu sampai binatang tersebut menjumput
sebuah gulungan kertas dengan paruhnya.
“Peruntungan
bagus,” baca si peramal setelah membuka gulungan kertas itu. “Dengan syarat
andai kata bulan sedang purnama, Anda tidak melangkah ke arah selatan dari
tenggara.”
“Ke
arah selatan dari tenggara…” ulang wanita itu sambil melanjutkan langkah dan
mengangguk-angguk. Ekspresinya begitu serius, sehingga ke sembilan pengamatnya
mulai cekikikan seperti kanak-kanak.
Tak
jauh dari tempat si peramal, seorang tukang gigi sedang mencabut gigi seorang
laki-laki. Sementara pasiennya berteriak-teriak kesakitan, si tukang gigi berseru,
“Bukankah sudah kubilang tidak akan terasa sakit! Coba, ingat-ingat itu, nanti
sakitnya akan hilang!”
Shu dan
kawan-kawannya tertawa keras-keras. Betapa menyenangkan rasanya dapat tertawa
lagi.
“Orang-orang
Cina ini menertawakan kita!” seru seorang serdadu Mongol yang muncul dari balik
kios si tukang gigi.
“Kita
harus memberi pelajaran pada orang-orang tak tahu aturan ini!” tambah orang
Mongol kedua.
Shu
menelan tawanya. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa mereka dikepung
oleh dua puluh orang Mongol yang muncul dari semua jurusan. “Lari!” perintahnya
pada teman-temannya yang berdiri terpaku ketakutan.
Suaranya
yang berwibawa menyadarkan mereka. Mereka langsung kabur, membaur di antara
kerumunan orang, dan dengan pakaian mereka yang lusuh dan kumal langsung
menyatu dengan rekan-rekan sebangsanya. Orang-orang Mongol yang mengejar mereka
menjadi bingung. Semua orang Cina tampak sama di mata mereka.
Shu
masih berdiri di dekat kios tukang gigi. Sebagai pemimpin, ia selalu yang
terakhir melarikan diri. Setelah melihat teman-temannya selamat, baru ia kabur.
Ia merasa seseorang mencolek punggungnya. Ia berpaling, kemudian melihat Ma
yang berada tepat di belakangnya, menunjuk ke seberang jalan itu. “Itu orang yang
memberikan perintah untuk membunuh keluargaku!”
Seekor
kuda jantan hitam berderap ke arah mereka. Stola merah si penunggang berkibas
diembus angin di belakangnya. Shu begitu tertegun, sehingga lupa lari. Hampir
semua orang Mongol memiliki postur tubuh besar, tapi yang ini betul-betul
raksasa.
Shu
melihat baju perangnya yang berkilauan, sepatu botnya yang tinggi, pedangnya
yang berat, serta busur dan anak-anak panahnya yang menakjubkan. Begitu melihat
wajah si penunggang, ia tak dapat mengalihkan mata darinya. Laki-laki itu lebih
dari sekadar tampan. Ia amat arogan dan sombong. Matanya berkilauan bak mata binatang
buas, tapi pembawaannya seperti bangsawan yang amat berkuasa.
Shu
langsung membencinya, melebihi kebencian yang biasa dirasakannya terhadap
orang-orang Mongol lain pada umumnya. Selain musuh, orang itu juga membuatnya merasa
seperti kelinci yang tak berdaya saat berhadapan dengan harimau yang buas. Rasa
kecil hati itu seakan membakar seluruh keberadaan Shu.
Pedang
Dahsyat baru saja keluar dari sebuah rumah berlampu hijau yang terbesar di kota
itu, dan saat itu masih belum menyadari bahwa serdadu-serdadunya sedang mengejar-ngejar
beberapa orang Cina. Ia takkan pernah menaruh perhatian pada kedua sosok yang
menyedihkan itu, andai kata mereka tidak begitu terang-terangan memandangi
dirinya.
Pedang
Dahsyat tidak terbiasa menghadapi orang-orang Cina yang berani menatap dirinya.
Ia tak peduli pada bocah ceking itu. Tapi ketika melihat kebencian yang
terpancar di wajah Shu, ia menarik tali kudanya.
Sambil
mendekat perlahan-lahan, Pedang Dahsyat menatap pemuda yang daya tariknya
memancar dari balik pakaian kumalnya itu. Si panglima mengamati postur tubuh tinggi
serta fisik kuat pemuda petani itu. Ia mengamati wajah Shu yang gelap,
hidungnya yang lebar, serta bibirnya yang tebal. Begitu melihat ke dalam
matanya yang tajam, ia menghentikan langkah kudanya.
Kebencian
yang terpancar dari dalam mata anak petani Cina ini membuatnya merinding,
meskipun saat itu ia bersenjata lengkap. Si jenderal dapat merasakan tubuhnya menggigil,
dan itu membuatnya sangat kesal. “Kaupikir kau siapa? Berani-beraninya kau
menatapku geperti itu!” serunya dengan suara menggelegar, sambil mengangkat pedangnya.
Mata
pedang itu berkilauan di bawah terik sinar matahari sore, membuat mata Shu
silau sesaat. Kemudian ia kembali tersadar dan mulai berlari sambil berseru kepada
Ma, “Ayo! Ikut aku!”
Shu
langsung berlari ke arah kerumunan orang.
Bak
bunglon ia langsung melebur di antara para pedagang dan orang-orang yang
berbelanja. Ketika ia berusaha mengembalikan napasnya, barulah ia menyadari bahwa
semua orang di sekitarnya masih melihat ke arah kios tukang gigi. Shu menoleh,
lalu berteriak, “Ma!”
Bocah
itu berada dalam genggaman tangan raksasa si jenderal Mongol, bak seekor
belalang. Kesal karena Shu berhasil lolos dari cengkeramannya, Pedang Dahsyat sekarang
melampiaskan amarahnya pada Ma.
Para
serdadu berlarian menghampiri jenderal mereka, menantikan perintahnya. Pedang
Dahsyat melemparkan si bocah pada seseorang yang berdiri di dekatnya, kemudian
sambil mengertakkan gigi memerintahkan, “Bunuh bocah ini pelan-pelan, kemudian
penggal kepalanya untuk dipancang di depan umum.”
Bulan musim semi naik periahan-lahan, memancarkan kilau
mencekam di atas alun-alun kota itu. Shu dan teman-temannya yang lain sudah
saling bertemu, dan saat itu berjongkok di balik tembok yang runtuh sebagian.
Salah
seorang di antara mereka berbisik, “Kita harus menurunkan kepalanya dari tiang
itu, dan mengambil tubuhnya dari bawah panggung. Kepala dan tubuhnya harus
disatukan. Kalau tidak, arwah Ma yang malang akan terus gentayangan, mencari
kepalanya.”
Shu
tidak menjawab. Giginya terkatup rapat, demikian pula tinjunya. Matanya kering,
air mata hanya ada di dalam hatinya. Pandangannya menerobos kerumunan orang banyak
yang berkumpul di jalan malam itu, serta toko-toko yang diterangi sinar lampu.
Perhatiannya hanya tertuju pada sebuah panggung yang biasanya dipakai untuk upacara-upacara
istimewa. Tempat itu masih basah setelah disirami beberapa ember air.
Shu
menggigit bibir, sementara matanya perlahan-lahan beralih ke arah sebuah tiang
bambu yang tinggi di belakang panggung itu. Di bawah cahaya bulan, ujung tiang
yang pucat tampak gelap oleh tetesan darah.
Shu
menutup mata dan sekali lagi terdengar olehnya jeritan si bocah sepanjang sore
itu, selagi ia disiksa. Para serdadu telah menderanya dengan penuh keahlian.
Setiap kali bocah itu hampir pingsan, mereka memberinya waktu untuk memulihkan
diri, agar dapat merasakan siksaan berikutnya. Si jenderal tetap berdiri tegak
di sebelah panggung sambil memunggungi Ma, menatap kerumunan orang banyak untuk
mencari teman si bocah.
Sementara
itu Shu sudah menemukan beberapa temannya. Mereka terpaksa mengerahkan segenap kekuatan
untuk merobohkan serta menahannya di tanah, sambil memohonnya untuk diam.
Ketika Shu terus meraung-raung, salah seorang di antara mereka membuka bajunya
untuk disumbatkan ke mulutnya. Setelah itu ia hanya dapat memukuli tanah dengan
tinjunya, sambil mendengar jeritan-jeritan Ma yang seakan tiada akhirnya.
Shu
mengamati tinjunya yang penuh darah.
Orang-orang
Mongol sudah tak ada di pelataran itu, namun mereka masih berada di sekitar
situ untuk menangkap siapa pun yang tetap nekat menyentuh tubuh Ma atau
menurunkan kepalanya.
Shu
menatap ketujuh temannya, lalu berkata, “Sebaiknya kita berkepala dingin. Ma
sudah meninggal. Hanya menguburkan kepalanya bersama tubuhnya saja takkan membuatnya
beristirahat dengan tenang. Kita harus meninggalkan kota ini malam ini juga,
dan berangkat ke Selatan sesuai rencana. Begitu kita sudah menjadi kelompok
yang kuat, akan kita bantai orang-orang Mongol yang kejam ini. Baru kemudian Ma
akan tersenyum di alam baka.”
Berdelapan
mereka meninggalkan kota Gunung Makmur saat bulan tertutup kabut. Begitu berada
di luar alun-alun kota, mereka berpaling. Mereka masih dapat melihat pucuk tiang
bambu itu dengan jelas.
Shu
berdiri terpaku di tempatnya. Ia melihat cahaya bulan membias di antara kabut,
menerangi wajah Ma yang rusak dengan cahayanya yang keperakan. Air mata merambah
di mata Shu. Samar-samar seakan Ma tersenyum ke arahnya. Darahnya terasa
mengalir meninggalkan tubuhnya. Telinganya berdesing, kemudian ia mendengar
sebuah suara yang mirip suara polos sahabat kecilnya.
“Ibuku
ada di sini! Masa kau tak bisa melihat lengannya merangkulku dengan penuh kasih
sayang?” Suara itu berdesir bagai dibawa angin. “Semua deritaku sudah berakhir
dan terlupakan. Sobatku yang perkasa, pergilah.”
Tiba-tiba Shu memutar tubuh, kemudian
melangkah pergi sebelum larut oleh perasaan dukanya.
