Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #13



Episode 12

DI tengah-tengah musim semi, permukaan Sungai Kuning sudah kembali penuh dengan kuntum-kuntum bunga pohon apel yang putih dan kemerahan. Di daerah pinggiran sebuah desa pertanian yang termasuk dalam Provinsi Honan, delapan pemuda melangkah gontai di bawah sinar matahari pagi, menuju sungai. Penampilan mereka yang berantakan membuat anak-anak gadis yang berkumpul di bawah pepohonan rimbun itu ketakutan. Mereka langsung memungut cucian mereka, menyambar keranjang-keranjang rotan mereka, kemudian kabur sambil menjerit-jerit.

        “Dasar tolol! Kenapa kalian kabur melihat kami? Bukankah kami sebangsa dengan kalian, bukan orang-orang Mongol!”
        Kemudian mereka melihat bayangan mereka di air keruh. Pakaian mereka lusuh dan kumal, sandal-sandal mereka sobek. Wajah mereka kotor, rambut mereka seperti ijuk, dan cambang mereka panjang. Kebanyakan di antara mereka mempunyai luka-luka terbuka, baik di wajah maupun tubuh. Penampilan mereka seperti binatang yang sudah biasa dikejar-kejar sebagai mangsa.
        Mereka tidak berlama-lama mengamati bayangan mereka. Mereka langsung menjatuhkan diri ke tanah, dan dengan tangan-tangan kotor, membawa air berlumpur itu ke bibir mereka yang pecah-pecah, lalu minum sebagaimana layaknya orang-orang kehausan.
        “Cukup!” seru salah seorang di antara mereka. “Kalau kalian minum lebih banyak lagi, kalian akan sakit.”
        Mendengar itu, mereka langsung berdiri. Mereka percaya pada Shu si Tangguh, yang sudah membuktikan kemampuannya memimpin mereka keluar dari mara bahaya.
        “Desa di depan kita tampaknya cukup tenang. Mungkin kita bisa mendapat makanan di sana, entah dengan cara bagaimana,” ujar Shu, sambil melihat ke arah padang hijau serta rumah-rumah kecil di kejauhan itu.
        Tubuhnya lebih tinggi dan besar setelah setahun, meskipun kenyataannya ia tak pernah kenyang. Ketujuh temannya yang kelaparan tampak seperti bocah-bocah di sisinya. Mereka juga korban nasib yang tak berbelas kasihan, yang merenggut rumah serta orang-orang yang mereka cintai. Tak seorang pun di antara mereka mau masuk biara, tapi semua bertekad untuk tetap bertahan hidup. Shu bertemu dengan yang pertama begitu ia meninggalkan Lembah Zamrud. Bersama-sama mereka menelusuri Sungai Kuning, saling berbagi duka dan amarah. Kemudian mereka bertemu dengan anggota ketiga, sesudah ltu yang keempat dan kelima.
        Kedelapan pemuda itu memutuskan untuk bergabung agar dapat saling mendukung. Ternyata Shu yang paling besar dan kuat di antara mereka, juga paling bijaksana dan banyak akal. Kelihaiannya menjadikannya pelindung dan pemimpin mereka, sedangkan kekuatan fisiknya membuat kata-katanya dipatuhi.
        Selama setahun terakhir ini, kelompok itu hidup sebagai pengemis, pencuri, dan sesekali buruh saat ada yang mau mempekerjakan mereka. Cara mereka mengisi perut amat beragam, namun langkah-langkah mereka mantap menuju Selatan, berkat tekad Shu yang bersikeras bahwa mereka harus ke Sungai Yangtze. Kelompok itu tak pernah mempertanyakan tujuan mereka yang terletak di Provinsi Kiangsi dan ternyata jarak tempuhnya lebih dari tujuh ratus mil.
        “Kita akan menemukan sebuah kota bernama Phoenix, yang merupakan tempat asal keluargaku. Ayahku mengatakan tempat itu kota terindah di seluruh Cina. Musim dinginnya tidak terlalu dingin, sedangkan musim panasnya panjang,” ujar Shu berulang kali selama perjalanan yang seakan tak pernah berakhir. “Begitu sampai di sana, kita akan mendapat pekerjaan tetap, lalu bisa menetap. Dari luar kita akan tampil sebagai penduduk biasa, sambil mengumpulkan lebih banyak orang untuk memperbesar kelompok kita. Kelak kita akan cukup kuat untuk menghadapi orang-orang Mongol dan membalas kematian keluarga kita.”
        Mereka meninggalkan tepi sungai, lalu menuju desa. Semua dalam keadaan penat, lapar, dan membutuhkan sedikit semangat ekstra. Shu menatap langit biru, sambil menghirup aroma bunga pohon apel yang memenuhi udara. Sekali lagi ia menceritakan pada teman-temannya mengenai daerah Selatan, persis sebagaimana kedua orangtuanya selalu menceritakannya kepadanya.
        “Di daerah Selatan, musim semi terus berlangsung sepanjang tahun, dan langitnya selalu biru. Bunga-bunganya selalu bermekaran. Kalian dengar kicauan burung gereja? Di daerah Selatan, mereka berkicau sepanjang tahun…”
        Shu berhenti bercerita begitu mendengar derap kuda dan jeritan panik para penduduk. Ia memberi aba-aba kepada ketujuh temannya untuk bersembunyi di belakang batu-batu besar yang berbatasan dengan daerah pertanian itu.
        Mereka menjulurkan leher dan melihat sepasukan serdadu Mongol berkuda memasuki desa. Pemimpin mereka seorang laki-laki bertubuh besar yang mengendarai kuda jantan hitam. Ia mengenakan stola merah menyala dan baju perang berkilauan. Suaranya yang kuat terdengar jelas sampai ke tempat persembunyian mereka. Ia berteriak dalam bahasa Mongolia agar serdadu-serdadunya bekerja lebih cepat.
        Berderet-deret rumah kecil dibakar, berekar-ekar tanah pertanian yang baru diolah dengan cermat dirusak. Kerbau-kerbau dibunuh, kaum laki-laki dan perempuan dibantai, tua-muda dibasmi. Sambil menjerit-jerit penduduk desa berlarian ke segala penjuru, namun tak banyak yang berhasil melarikan diri. Kuda-kuda mereka amat cepat, sementara para penunggangnya amat tangkas memainkan tali dan anak panah.
        “Cepat! Kau ini lambat seperti kura-kura!” seru Shu pada seorang bocah lelaki yang sedang berlari ke arah batu-batu besar tempat ia dan kawan-kawannya bersembunyi.
        Bocah itu menoleh untuk melihat sampai di mana para pengejarnya. Tiba-tiba, karena begitu takutnya, ia berhenti berlari. Sebuah anak panah melesat, nyaris mengenainya. Shu keluar dari tempat persembunyiannya, lari ke arah si bocah, kemudian setelah menggendongnya, ia berlari kembali ke belakang batu besarnya.
        Bocah yang ketakutan itu, karena mengira ia baru saja ditangkap oleh orang Mongol, segera meronta-ronta sambil berteriak-teriak, “Lepaskan aku! Guei-tze sialan!”
        Shu tertawa saat meletakkan bocah itu di tanah. “Kau benar-benar tangguh. Peony juga suka memaki orang-orang Mongol guei-tze...” Ia menelan ludah. Ia tak dapat meneruskan kata-katanya. Bayangan Peony masih tetap hidup dalam hatinya selama ini. Namun ia tak suka menyebut-nyebut namanya. “Siapa namamu?” tanyanya.
        “Ma si Umur Panjang,” jawab si bocah sambil mengawasi kedelapan laki-laki bertampang kumal itu, kemudian menoleh ke arah desanya.
        “Bahkan nama keluargamu sama!” seru Shu, yang langsung menyukai si bocah. Ia meletakkan tangannya yang besar di pundak kecil bocah itu, lalu memaksanya berjongkok di belakang batu besar itu. “Jangan mengintip. Kalau masih ada di antara keluargamu yang hidup, kau dapat menemuinya nanti.”
        Tak mudah bagi Shu untuk menahan Ma agar ia tidak melarikan diri mencari keluarganya. Tapi lebih berat lagi menahan dirinya beserta ketujuh temannya agar tidak langsung menghambur ke desa itu untuk membantu penduduknya. “Kita tak boleh menyia-nyiakan nyawa kita,” ujar Shu berulang kali, mengingatkan dirinya serta teman-temannya. “Orang-orang Mongol itu banyak, sedangkan kita cuma berdelapan.”
        “Sama sekali tidak! Kita bersembilan! Aku juga bisa berkelahi!” seru Ma sambil menatap Shu berapi-api. “Berani-beraninya kau lupa menghitung aku?”
        “Kau juga suka marah-marah seperti Peony!” ujar Shu sambil mengacau-ngacaukan rambut Ma yang panjang dan dibiarkan lepas. “Berapa umurmu? Rambutmu saja belum dikepang.”
        “Sebentar lagi umurku empat belas. Aku hampir dewasa, dan ibuku sudah berjanji akan mengepang rambutku pada hari ulang tahunku yang akan datang.” Begitu teringat ibunya, Ma menjulurkan leher. Shu langsung menarlknya ke dekatnya.
        Bersembilan mereka menanti dari pagi sampai sore. Akhirnya orang-orang Mongol meninggalkan desa dalam kabut debu kekuningan. Kesembilan pemuda itu kemudian berlari menerobos kabut debu, untuk mencari keluarga Ma serta siapa saja yang selamat.
        Tubuh orang-orang Cina bergelimpangan di mana-mana, baik yang sudah mati ataupun yang sekarat, darah mereka merembes di tanah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan ibu Ma, ayahnya, kemudian kakak laki-laki dan adik perempuannya.
        Seorang lelaki tua yang sekarat mengenali Ma, lalu mencoba berbicara. “Ini semua gara-gara tuan tanah kita. Orang-orang Mongol itu ke sini beberapa hari yang lalu, untuk meminta perak dan emas. Si tuan tanah ketakutan, tapi terlalu pelit untuk berpisah dengan uangnya. Orang-orang Mongol itu akan kembali dengan penggiling yang ditarik oleh kuda-kuda mereka. Mereka akan meratakan desa kita, untuk dijadikan padang rumput. Aku mendengar pembicaraan mereka tadi. Sebaiknya kaukubur yang mati cepat-cepat, lalu pergi dari sini, dan jangan kembali lagi ...” Tiba-tiba ia roboh, mati.
        Shu membantu Ma mengubur keluarganya di bawah cahaya matahari terbenam, kemudian mengajak bocah itu menjadi anggota tambahan dalam rombongannya. Ia melangkah di samping si bocah, namun tidak mengungkapkan kepadanya bahwa ia telah menemukan adik yang sudah lama dirindukannya.
        Mereka terpaksa tidur dengan perut kosong sepanjang malam. Pagi berikutnya mereka sudah terlalu lemah karena kelaparan, saat mereka tiba di sebuah kota besar yang dikelilingi bukit-bukit dan gunung tinggi. Tak lama kemudian mereka mulai mengerti bahwa Gunung Makmur adalah kota terbesar di Provinsi Honan Utara.
        “Coba lihat orang yang lalu-lalang,” ujar Shu, sambil mengawasi begitu banyak kuda, keledai, kereta yang ditarik sapi, serta pejalan kaki. “Kita pasti akan mendapat makanan di sini. Aku begitu lapar, sampai hampir tidak kuat mengangkat kakiku sendiri. Dan aku yakin kalian semua sama laparnya seperti aku.”
        Pada saat itu sebuah tandu tertutup melintas di hadapan mereka. Tirainya disingkap oleh sebuah tangan kepucatan. Wajah seorang wanita setengah baya dengan dandanan mencolok muncul dari baliknya. Ia menatap tajam ke arah mereka, lalu berbisik, “Kalau kalian mau makan, datanglah ke rumah ketiga dari jalan pertama yang berlampu hijau.”
        Sementara tandu tertutup itu menghilang, kesembilan pemuda itu berpandangan.
        Ma berkata, “Rumah berlampu hijau? Aku tak pernah mendekati tempat-tempat seperti itu. Babaku akan memukuli aku.” Kemudian ia teringat bahwa ayahnya sudah tiada.
        “Di pihak lain,” ujar Shu, “para pelacur bisa saja berhati baik. Wanita itu mau memberi kita makan. Kenapa kita harus menolak uluran tangannya?” Ia menatap si bocah yang tampak ketakutan itu, lalu tertawa. “Kau mesti ikut. Ini perintah.”
        Begitu memasuki alun-alun kota, mereka terpukau melihat suasananya yang serba sibuk. Mereka anak-anak desa yang belum pernah melihat begitu banyak toko serta tempat-tempat makan di satu jalan. Meskipun masih pagi, mereka melihat ada beberapa rumah berlampu hijau yang menyala terang. Begitu mereka sampai di muka rumah ketiga, pintunya terbuka, dan wanita yang tadi mengendarai tandu tertutup itu memberikan tanda kepada mereka untuk masuk.
        “Baba akan mengamuk di surga,” ujar Ma sambil berpegangan pada ambang pintu.
        “Kalau kau tidak mau melepaskan pintu itu, aku akan mengamuk di sini,” Ujar Shu, mengacungkan tinjunya.
        Si wanita menggiring mereka ke dapur. “Beri mereka makan sampai kenyang, lalu beri mereka bekal untuk di jalan,” ujarnya pada seorang koki tua, lalu pergi.
        Si koki memberi kesembilan pemuda kelaparan itu masing-masing semangkuk penuh bakmi yang dimasak dalam saus daging kental. “Nyonya kami memang baik sekali,” ujarnya sambil mengumpulkan beberapa bakpao untuk mereka, yang kemudian dibungkusnya dalam daun kol lebar. “Tapi ada kisah sedih di balik alasannya memberi kalian makan.”
        Wanita itu menghela napas. “Anak tunggal Nyonya, seorang putra yang baik, sudah besar dan kuat tubuhnya sewaktu berumur empat belas tahun, ketika orang-orang Mongol menelusuri seluruh kota mencari anak-anak muda untuk dipekerjakan di Kanal Hui-tung. Mereka mengambil si bocah. Dia kabur dari lokasi kerjanya di Tsinan dan mencoba pulang. Dalam perjalanan panjangnya dia mengemis untuk mendapatkan makanan. Karena tak ada yang mau memberi, dia terpaksa mencuri. Dia tertangkap tak jauh dari sini, ketika hampir sampai di rumah. Tangannya dipenggal, kemudian dia mati karena perdarahan. Ketika nyonya kami melihat jenazah anaknya, dia bersumpah akan menolong semua pemuda Cina yang tampaknya sedang melarikan diri dari kejaran orang-orang Mongol.”
        Perut mereka kenyang dan hati mereka penuh semangat saat meninggalkan rumah berlampu hijau itu menjelang siang, membawa bungkusan berisi bakpao. Mereka mengeluyur dari sisi jalan yang satu ke sisi yang lain, sambil memperhatikan segalanya.
        Suatu saat mereka lewat di muka seorang peramal yang duduk di belakang meja kecil. Di atasnya terdapat sangkar dengan burung kuning di dalamnya, serta banyak gulungan kertas yang tertumpuk di piring, masing-masing selesar jarum. Seorang wanita berhenti dan meletakkan sekeping uang tembaga. Si peramal melepaskan burung yang sudah terlatih itu dan menunggu sampai binatang tersebut menjumput sebuah gulungan kertas dengan paruhnya.
        “Peruntungan bagus,” baca si peramal setelah membuka gulungan kertas itu. “Dengan syarat andai kata bulan sedang purnama, Anda tidak melangkah ke arah selatan dari tenggara.”
        “Ke arah selatan dari tenggara…” ulang wanita itu sambil melanjutkan langkah dan mengangguk-angguk. Ekspresinya begitu serius, sehingga ke sembilan pengamatnya mulai cekikikan seperti kanak-kanak.
        Tak jauh dari tempat si peramal, seorang tukang gigi sedang mencabut gigi seorang laki-laki. Sementara pasiennya berteriak-teriak kesakitan, si tukang gigi berseru, “Bukankah sudah kubilang tidak akan terasa sakit! Coba, ingat-ingat itu, nanti sakitnya akan hilang!”
        Shu dan kawan-kawannya tertawa keras-keras. Betapa menyenangkan rasanya dapat tertawa lagi.
        “Orang-orang Cina ini menertawakan kita!” seru seorang serdadu Mongol yang muncul dari balik kios si tukang gigi.
        “Kita harus memberi pelajaran pada orang-orang tak tahu aturan ini!” tambah orang Mongol kedua.
        Shu menelan tawanya. Ia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa mereka dikepung oleh dua puluh orang Mongol yang muncul dari semua jurusan. “Lari!” perintahnya pada teman-temannya yang berdiri terpaku ketakutan.
        Suaranya yang berwibawa menyadarkan mereka. Mereka langsung kabur, membaur di antara kerumunan orang, dan dengan pakaian mereka yang lusuh dan kumal langsung menyatu dengan rekan-rekan sebangsanya. Orang-orang Mongol yang mengejar mereka menjadi bingung. Semua orang Cina tampak sama di mata mereka.
        Shu masih berdiri di dekat kios tukang gigi. Sebagai pemimpin, ia selalu yang terakhir melarikan diri. Setelah melihat teman-temannya selamat, baru ia kabur. Ia merasa seseorang mencolek punggungnya. Ia berpaling, kemudian melihat Ma yang berada tepat di belakangnya, menunjuk ke seberang jalan itu. “Itu orang yang memberikan perintah untuk membunuh keluargaku!”
        Seekor kuda jantan hitam berderap ke arah mereka. Stola merah si penunggang berkibas diembus angin di belakangnya. Shu begitu tertegun, sehingga lupa lari. Hampir semua orang Mongol memiliki postur tubuh besar, tapi yang ini betul-betul raksasa.
        Shu melihat baju perangnya yang berkilauan, sepatu botnya yang tinggi, pedangnya yang berat, serta busur dan anak-anak panahnya yang menakjubkan. Begitu melihat wajah si penunggang, ia tak dapat mengalihkan mata darinya. Laki-laki itu lebih dari sekadar tampan. Ia amat arogan dan sombong. Matanya berkilauan bak mata binatang buas, tapi pembawaannya seperti bangsawan yang amat berkuasa.
        Shu langsung membencinya, melebihi kebencian yang biasa dirasakannya terhadap orang-orang Mongol lain pada umumnya. Selain musuh, orang itu juga membuatnya merasa seperti kelinci yang tak berdaya saat berhadapan dengan harimau yang buas. Rasa kecil hati itu seakan membakar seluruh keberadaan Shu.
        Pedang Dahsyat baru saja keluar dari sebuah rumah berlampu hijau yang terbesar di kota itu, dan saat itu masih belum menyadari bahwa serdadu-serdadunya sedang mengejar-ngejar beberapa orang Cina. Ia takkan pernah menaruh perhatian pada kedua sosok yang menyedihkan itu, andai kata mereka tidak begitu terang-terangan memandangi dirinya.
        Pedang Dahsyat tidak terbiasa menghadapi orang-orang Cina yang berani menatap dirinya. Ia tak peduli pada bocah ceking itu. Tapi ketika melihat kebencian yang terpancar di wajah Shu, ia menarik tali kudanya.
        Sambil mendekat perlahan-lahan, Pedang Dahsyat menatap pemuda yang daya tariknya memancar dari balik pakaian kumalnya itu. Si panglima mengamati postur tubuh tinggi serta fisik kuat pemuda petani itu. Ia mengamati wajah Shu yang gelap, hidungnya yang lebar, serta bibirnya yang tebal. Begitu melihat ke dalam matanya yang tajam, ia menghentikan langkah kudanya.
        Kebencian yang terpancar dari dalam mata anak petani Cina ini membuatnya merinding, meskipun saat itu ia bersenjata lengkap. Si jenderal dapat merasakan tubuhnya menggigil, dan itu membuatnya sangat kesal. “Kaupikir kau siapa? Berani-beraninya kau menatapku geperti itu!” serunya dengan suara menggelegar, sambil mengangkat pedangnya.
        Mata pedang itu berkilauan di bawah terik sinar matahari sore, membuat mata Shu silau sesaat. Kemudian ia kembali tersadar dan mulai berlari sambil berseru kepada Ma, “Ayo! Ikut aku!”
        Shu langsung berlari ke arah kerumunan orang.
        Bak bunglon ia langsung melebur di antara para pedagang dan orang-orang yang berbelanja. Ketika ia berusaha mengembalikan napasnya, barulah ia menyadari bahwa semua orang di sekitarnya masih melihat ke arah kios tukang gigi. Shu menoleh, lalu berteriak, “Ma!”
        Bocah itu berada dalam genggaman tangan raksasa si jenderal Mongol, bak seekor belalang. Kesal karena Shu berhasil lolos dari cengkeramannya, Pedang Dahsyat sekarang melampiaskan amarahnya pada Ma.
        Para serdadu berlarian menghampiri jenderal mereka, menantikan perintahnya. Pedang Dahsyat melemparkan si bocah pada seseorang yang berdiri di dekatnya, kemudian sambil mengertakkan gigi memerintahkan, “Bunuh bocah ini pelan-pelan, kemudian penggal kepalanya untuk dipancang di depan umum.”

Bulan musim semi naik periahan-lahan, memancarkan kilau mencekam di atas alun-alun kota itu. Shu dan teman-temannya yang lain sudah saling bertemu, dan saat itu berjongkok di balik tembok yang runtuh sebagian.
        Salah seorang di antara mereka berbisik, “Kita harus menurunkan kepalanya dari tiang itu, dan mengambil tubuhnya dari bawah panggung. Kepala dan tubuhnya harus disatukan. Kalau tidak, arwah Ma yang malang akan terus gentayangan, mencari kepalanya.”
        Shu tidak menjawab. Giginya terkatup rapat, demikian pula tinjunya. Matanya kering, air mata hanya ada di dalam hatinya. Pandangannya menerobos kerumunan orang banyak yang berkumpul di jalan malam itu, serta toko-toko yang diterangi sinar lampu. Perhatiannya hanya tertuju pada sebuah panggung yang biasanya dipakai untuk upacara-upacara istimewa. Tempat itu masih basah setelah disirami beberapa ember air.
        Shu menggigit bibir, sementara matanya perlahan-lahan beralih ke arah sebuah tiang bambu yang tinggi di belakang panggung itu. Di bawah cahaya bulan, ujung tiang yang pucat tampak gelap oleh tetesan darah.
        Shu menutup mata dan sekali lagi terdengar olehnya jeritan si bocah sepanjang sore itu, selagi ia disiksa. Para serdadu telah menderanya dengan penuh keahlian. Setiap kali bocah itu hampir pingsan, mereka memberinya waktu untuk memulihkan diri, agar dapat merasakan siksaan berikutnya. Si jenderal tetap berdiri tegak di sebelah panggung sambil memunggungi Ma, menatap kerumunan orang banyak untuk mencari teman si bocah.
        Sementara itu Shu sudah menemukan beberapa temannya. Mereka terpaksa mengerahkan segenap kekuatan untuk merobohkan serta menahannya di tanah, sambil memohonnya untuk diam. Ketika Shu terus meraung-raung, salah seorang di antara mereka membuka bajunya untuk disumbatkan ke mulutnya. Setelah itu ia hanya dapat memukuli tanah dengan tinjunya, sambil mendengar jeritan-jeritan Ma yang seakan tiada akhirnya.
        Shu mengamati tinjunya yang penuh darah.
        Orang-orang Mongol sudah tak ada di pelataran itu, namun mereka masih berada di sekitar situ untuk menangkap siapa pun yang tetap nekat menyentuh tubuh Ma atau menurunkan kepalanya.
        Shu menatap ketujuh temannya, lalu berkata, “Sebaiknya kita berkepala dingin. Ma sudah meninggal. Hanya menguburkan kepalanya bersama tubuhnya saja takkan membuatnya beristirahat dengan tenang. Kita harus meninggalkan kota ini malam ini juga, dan berangkat ke Selatan sesuai rencana. Begitu kita sudah menjadi kelompok yang kuat, akan kita bantai orang-orang Mongol yang kejam ini. Baru kemudian Ma akan tersenyum di alam baka.”
        Berdelapan mereka meninggalkan kota Gunung Makmur saat bulan tertutup kabut. Begitu berada di luar alun-alun kota, mereka berpaling. Mereka masih dapat melihat pucuk tiang bambu itu dengan jelas.
        Shu berdiri terpaku di tempatnya. Ia melihat cahaya bulan membias di antara kabut, menerangi wajah Ma yang rusak dengan cahayanya yang keperakan. Air mata merambah di mata Shu. Samar-samar seakan Ma tersenyum ke arahnya. Darahnya terasa mengalir meninggalkan tubuhnya. Telinganya berdesing, kemudian ia mendengar sebuah suara yang mirip suara polos sahabat kecilnya.
        “Ibuku ada di sini! Masa kau tak bisa melihat lengannya merangkulku dengan penuh kasih sayang?” Suara itu berdesir bagai dibawa angin. “Semua deritaku sudah berakhir dan terlupakan. Sobatku yang perkasa, pergilah.”
        Tiba-tiba Shu memutar tubuh, kemudian melangkah pergi sebelum larut oleh perasaan dukanya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...