IV
“Ada
seorang wanita ingin menemui Anda, Sir.”
“Eh?” Macfarlane menatap kosong pada induk
semangnya. “Oh, maaf, Mrs. Rowse, saya suka melihat hantu belakangan ini.”
“Benarkah, Sir? Saya tahu, banyak hal-hal
aneh yang bisa dilihat di padang belantara sesudah malam turun. Ada wanita
bergaun putih, pandai besi setan, si pelaut dan orang gipsi...”
“Apa? Pelaut dan orang gipsi?”
“Begitulah kata orang, Sir. Cerita itu
cukup terkenal pada zaman saya masih muda. Kabarnya mereka saling jatuh cinta,
lama berselang... Tapi mereka sudah lama tidak gentayangan lagi sekarang.”'
“Tidak lagi? Saya jadi ingin tahu,
barangkali... sekarang mereka akan mulai muncul lagi...”
“Astaga. Sir, ada-ada saja Anda! Tentang
wanita muda?”
“Wanita muda apa?”
“Yang menunggu untuk menemui Anda. Dia ada
di ruang duduk. Katanya, namanya Miss Lawes.”
“Oh!”
Rachel!
Macfarlane merasakan suatu kontraksi yang aneh, pergeseran perspektif. Sejauh
ini ia telah memandang ke sebuah dunia lain. Ia telah melupakan Rachel, sebab
tempat Rachel hanyalah dalam kehidupan ini... Lagi-lagi pergeseran perspektif
yang aneh itu, perpindahan kembali ke dalam dunia yang hanya berupa tiga
dimensi.
Ia membuka pintu ruang duduk.
Rachel—dengan sepasang mata cokelatnya yang jujur. Dan sekonyong-konyong,
seperti orang terbangun dari mimpi, perasaan bahagia yang hangat menyapu dirinya.
Ia hidup - hidup! Ia berpikir. “Hanya
satu kehidupan yang, bisa dipastikan manusia. Kehidupan yang sedang dijalani
ini!”
“Rachel!” katanya, lalu diangkatnya dagu gadis itu dan dikecupnya
bibirnya.
