BAGIAN II
Episode
11
1345
SEORANG Mongol setengah baya berderap di atas kuda jantan
hitam yang tinggi, diikuti barisan panjang para pengawalnya.
Angin
mengibaskan stola keunguan Shadow Tamu, yang dilapisi bulu binatang berwarna
putih, menyingkapkan jubahnya yang merah. Di seputar pinggangnya ia mengenakan
sabuk lebar bergesper besar yang dihiasi batu-batu ruby dan zamrud berkilauan.
Tidak seperti orang-orang Mongol yang kulitnya gelap, wajah Shadow Tamu yang
kecil berwarna putih, demikian pula tangan kurusnya yang penuh perhiasan, yang
memegang tali kendali. Bibirnya yang tipis tampak kecokelatan seperti warna darah
kering, matanya yang dalam dan dingin seakan dua lubang tak berdasar yang penuh
dengan es berwarna gelap. Alis matanya hitam dan menyatu dalam satu garis lurus
saat ia melihat ke ujung jalan di kejauhan.
“Menyenangkan
sekali berada kembali di Da-du!” Ujar Shadow pada pengawal di dekatnya. Ia
mengentakkan kaki ke pinggang kudanya, lalu berderap maju lebih cepat.
Dari
jauh Shadow dan para anak buahnya dapat melihat matahari memantulkan sinarnya
yang berkilauan ke atas atap-atap sekian banyak bangunan yang dipakai untuk peribadatan
- kubah-kubah bulat mesjid orang-orang Islam, pucuk-pucuk runcing kuil Buddha,
puncak melengkung tempat pemujaan mereka yang beraliran Taois, salib di atas bangunan
kapel-kapel Katolik Roma. Para khan Mongol takut pada semua dewa, dan menyambut
semua aliran agama untuk membangun tempat-tempat keramat mereka di Cina.
Shadow
Tamu dan para pengawalnya sampai di bagian paling luar tembok kota Da-du yang
terdiri atas tiga lapis. Tembok yang mengelilingi seluruh kota ini terdiri atas
empat sisi yang masing-masing panjangnya delapan mil dan memiliki dua pintu
gerbang yang selalu dijaga oleh serdadu-serdadu Mongol dan ditutup di waktu
malam.
Di
sebelah dalam pintu gerbang merupakan bagian kota yang didiami oleh orang-orang
Mongol kebanyakan dan orang-orang Cina, penuh dengan toko-toko, gedung pertunjukan,
serta tempat-tempat makan. Orang-orang asing dari Jepang, Korea, Turki, serta
negeri-negeri Eropa memenuhi jalan-jalannya yang lebar dan lurus bak garis-garis
di papan catur. Berbagai aksen bahasa serta aroma berbagai makanan memenuhi
udaranya.
Shadow
dan para pengiringnya langsung menuju lapisan tembok kedua, yang mengelilingi
daerah yang didominasi oleh para perwira Mongol. Di bagian tengah keempat sisinya
berdiri sebuah puri yang menakjubkan, dan di setiap sudutnya ada benteng lain.
Di setiap bangunan ini tinggal seorang jenderal Mongol bersama keluarga dan para
serdadu berikut keluarga mereka. Tempatnya cukup luas untuk juga memuat gudang
persediaan makanan, istal kuda, gudang senjata, serta tempat tinggal para budak
Cina.
Begitu
melihat Shadow Tamu, para budak segera berlutut. Para perwira Mongol dan
prajurit menghentikan pekerjaan mereka saat itu untuk membungkuk dalam sikap tegap,
tangan kiri menutupi kepalan tinju tangan kanan. Shadow Tamu mengangguk tanpa menoleh
ke arah mereka, lalu terus bergegas ke bagian dalam tembok terdalam, yang melindungi
bangunan istana kerajaan.
Shadow
Tamu dan para anak buahnya turun dari kuda mereka di sebuah kaki tangga marmer
yang tinggi, kemudian naik menuju sepasang pintu ganda berkilauan yang terbuat
dari tembaga murni, yang tingginya sembilan meter. Para serdadu di dalam sudah
melihat Shadow Tamu dari sekian banyak menara jaga. Empat di antaranya segera membuka
pintu-pintu yang berat itu, kemudian membungkuk, menantikan atasan mereka
beserta pengawal-pengawalnya masuk, lalu menutup pintu-pintu penuh ukiran itu
sekali lagi.
Sambil
melangkah cepat menuju istana, ia menatap atapnya. Jantungnya ikut berdebar
lebih cepat.
Secara
resmi kemenangan gemilang itu dicapai atas nama Khan yang Agung, tapi
sesungguhnya semua itu adalah hasil usahanya. Ia melewati tempat kediaman pangeran
satu per satu, melintasi beberapa kebun sebelum sampai di tempat kediamannya
sendiri yang luas dan kemegahannya hanya nomor dua setelah istana Khan yang Agung.
Begitu ia tiba, para pengawalnya dalam perjalanan digantikan oleh kelompok
lain. Merekalah yang kemudian mengiringinya masuk ke sebuah ruangan berlantai marmer.
Di sana Shadow Tamu lalu ditelanjangi dan dimandikan oleh para pelayan
wanitanya. Tubuhnya dipijat dan diurut dengan minyak, sesudah itu ia didandani kembali
dengan pakaian bersih. Di sepanjang tembok para pengawal mengawasi saat dua
wanita mencicipi makanan yang disajikan di piring-piring emas, untuk memastikan
tidak ada yang diracuni. Shadow Tamu kemudian menikmati seluruh hidangan.
Akhirnya, setelah beristirahat, ia berangkat ke istana untuk menghadap Khan yang
Agung.
Langit-langit
balairung kerajaan yang berlapis emas tingginya mencapai lima belas meter.
Aneka burung yang biasa hidup di gurun dibawa dari Gurun Gobi untuk dibiarkan
beterbangan di atas kepala orang-orang sambil berteriak liar. Lantai marmernya
dipenuhi oleh gadis-gadis muda yang menari-nari, pemuda-pemuda ramping yang melompat
jungkir-balik, para musisi yang memainkan berbagai instrumen, serta para
penyanyi dengan lagu-lagu mereka yang mendayu-dayu.
Di
sebuah kursi sofa lebar yang ditutupi brokat merah dan keemasan duduk santai
Khan Badai Pasir yang Agung. Usianya lima puluhan, sementara jubahnya yang biru
dan penuh bordiran emas dan perak tak dapat menyembunyikan lapisan-lapisan
lemak di tubuhnya. Wajahnya agak sembap dan kepucatan, sedangkan matanya kemerahan.
Sulit rasanya untuk percaya bahwa laki-laki ini pernah berjuang keras untuk
mengalahkan sekian banyak paman, saudara-saudara, dan sepupu-sepupunya untuk memperebutkan
takhta.
“Ah,
Shadow,” ujarnya begitu melihat penasihatnya. “Aku senang sekali kau sudah
kembali. Bagaimana hasil perjalananmu ke Tsinan?” Khan sedang menggenggam cangkir
emas di tangan yang satu, sementara lengannya melingkar di bahu seorang gadis
cantik. Meskipun ajaran Buddha amat menghargai gaya hidup membujang, baik para
khan maupun para penasihat mereka tak pernah mengindahkan bagian khusus doktrin
tersebut.
“Perjalananku
biasa-biasa saja, hanya kemajuan pembangunan kanal itu kurang begitu cepat,”
ujar Shadow Tamu. Setelah membungkuk sebentar, ia menegakkan tubuh kembali,
lalu mengambil tempat di sofa di sebelah Khan. Ia ke Tsinan untuk mengawasi
pembangunan Kanal Hui-Tung, yang sudah dimulai sekitar enam decade sebelumnya.
Kanal itu akhirnya akan berakhir di Sungai Kuning, sehingga mempermudah
hubungan antara Da-du dan bagian-bagian lain Negeri Cina.
Beberapa
gadis muda langsung mengelilingi Shadow Tamu. Ia membiarkan dua gadis Mongol
duduk di sampingnya, kemudian memberikan tanda pada gadis-gadis Cina sisanya
untuk duduk di dekat kakinya. Sebagai bujangan, ia punya banyak selir. Ia
berniat menikahi wanita pertama yang dapat memberikan anak laki-laki padanya,
tapi sejauh ini ia belum juga mendapat keturunan. Orang-orang Mongol
menghormati Kaum wanita mereka yang selalu membantu mereka bertahan menghadapi
kehidupan keras di padang gurun. Oleh karena itu, Shadow Tamu dan para anak
buahnya menempatkan kaum wanita Cina lebih tinggi daripada kaum laki-laki Cina.
“Sekarang,
setelah kau kembali, aku membutuhkan nasihat yang cukup baik darimu,” ujar
Khan. “Aku jenuh sekali. Hidup begitu membosankan. Aku membutuhkan sesuatu
untuk menggairahkannya.”
Shadow
Tamu menatap Khan yang mulai uzur itu, yang nafsunya terhadap wanita-wanita
muda masih tidak terpuaskan. “Bak kebun di musim gugur, kehidupan Khan-ku yang
Agung hanya dapat disemarakkan oleh bunga-bunga musim semi. Aku akan
mengirimkan utusan-utusan untuk menelusuri seluruh Cina dan mencari anak-anak
perawan, yang akan dibawa ke sini dan dijadikan gadis istana. Tapi andai kata
Khan-ku yang Agung bosan pada gadis-gadis Cina serta tertarik untuk bertemu dengan
gadis Mongol tercantik di muka bumi ini...” Shadow Tamu berhenti sebentar untuk
menggugah rasa ingin tahu khan-nya.
“Tentu
saja aku tertarik,” jawab Khan tak sabar. “Siapa dia? Mana dia? Kapan aku bisa
memperolehnya?”
Shadow
Tamu membungkuk sekali lagi. “Namanya Kilau Bintang, dan dia masih di Mongolia.
Khan-ku yang Agung dapat bertemu dengannya saat terang bulan berikutnya, kalau
kita mengirim orang untuk menjemputnya sekarang.” Si penasihat menatap Khan,
lalu berkata perlahan-lahan, “Kilau Bintang adalah adik kandungku sendiri.”
Nadanya
yang rendah tidak lagi terdengar keras dan dingin, melainkan lembut dijiwai
oleh pengabdian, dan hangat oleh kepedulian yang mendalam. “Ibuku tak ingin tinggal
di Cina lagi setelah ayahku gugur, kemudian kembali ke Mongolia membawa kedua
anaknya yang paling muda bersamanya. Kilau Bintang tiga belas tahun lebih muda dariku.
Dia baru berusia tujuh tahun ketika kami berpisah. Aku menengok keluargaku
beberapa tahun sekali, dan aku melihat betapa kecantikannya semakin berkembang
dari tahun ke tahun. Sekarang dia berusia dua puluh tahun dan dia bunga
tercantik di Gurun Gobi. Mengingat ibuku sudah meninggal dan Kilau Bintang
sudah cukup umur untuk dinikahkan, aku bermaksud membawanya. kembali ke Cina.”
Shadow
Tamu tidak mengungkapkan bahwa ia telah menyimpan adiknya itu untuk seorang
laki-laki yang dapat dikendalikan oleh seorang wanita yang pintar dan cantik. Pengaruhnya
sudah besar sekali, namun ia menginginkan lebih. Ia mengangkat bahunya dengan
ringan, lalu berkata, “Tapi tentu saja Khan-ku yang Agung tidak harus memeliharanya.
Andai kata Paduka kurang berkenan padanya, akan kucarikan suami lain baginya.”
Khan
Badai Pasir, yang mengekspresikan rasa antusiasme yang besar untuk mendapatkan
gadis Mongol yang cantik, kemudian bertanya dengan ringan, “Kaubilang ibumu
membawa dua adikmu ke Mongolia. Apakah yang satunya juga seorang gadis?”
“Tidak,”
jawab Shadow Tamu sambil membungkuk lagi dengan rendah hati. “Yang satunya
laki-laki, sepuluh tahun lebih muda dariku. Namanya Pedang Dahsyat, dan dialah yang
akan mengawal Kilau Bintang ke Da-du.” Kemudian sambil lalu ia menambahkan,
“Pedang Dahsyat pun dapat mengabdikan diri demi kejayaan Khan-ku yang Agung.”
Kilau Bintang adalah kaktus gurun, cantik dengan duri-duri
beracun. Ia bermain cinta untuk pertama kalinya saat berusia empat belas tahun,
dan sesudah itu terus berganti-ganti pasangan. Keterampilannya di tempat tidur betul-betul
seimbang dengan kecantikannya yang memesona. Bersamanya di tempat tidur, Khan
Badai Pasir yang Agung merasa dirinya muda kembali. Dalam waktu singkat si Khan
sudah berada di bawah telapak kakinya. Biasanya Ia memelihara selir-selirnya di
berbagai istana dan memanggil mereka bergantian. Sekarang ia menempatkan Kilau
Bintang di tempat kediamannya sendiri, serta tidak menginginkan siapa pun lagi
selain adik Shadow Tamu itu.
Suatu
malam Khan memasuki kamar Kilau Bintang dan melihat gadis itu terbaring di
sebuah sofa. Jubah merahnya nyaris tidak menutupi tubuhnya yang merangsang. Bergegas
Khan mendekat untuk merengkuhnya dalam pelukannya.
Namun
wanita itu menampiknya. “Jangan sentuh aku saat aku sedang gundah.”
Khan
menatap wajah cantiknya yang cemberut.
“Akan
kubunuh siapa pun yang berani membuat hatimu gundah. Dan aku bersedia melakukan
apa pun untuk membuatmu tersenyum lagi.”
Kilau
Bintang menarik napas dalam-dalam, membusungkan buah dadanya yang penuh,
kemudian mendesah panjang. “Aku rindu suasana gurun. Semalam aku bermimpi
tentang padang-padang itu lagi. Aku menunggang kudaku, dan angin menerpa
wajahku. Aku begitu bahagia dalam mimpiku. Kemudian aku terbangun dan menyadari
bahwa aku berada di Cina - negeri yang sama sekali tidak menyenangkan dan penuh
manusia.”
Ia
berhenti sesaat, lalu menatap Khan dengan mata berlinang. “Aku mau pulang -
kecuall kalau Paduka dapat mengubah Cina menjadi padang berkuda bagiku. Kakakku
mengatakan Paduka khan yang hebat dan dapat melakukan segalanya.” Ia berhenti
dengan bibir basah yang merekah sensual, menantikan jawaban Khan.
Badai
Pasir berkata mantap, “Apa yang dikatakan kakakmu memang benar. Aku khan yang
hebat, dan Cina adalah milikku.” Sesudah itu ia menjentikkan jarinya. Setengah
lusin pengawal langsung muncul. “Panggil penasihatku!”
Shadow
Tamu memang sudah menantikan panggilan ini, namun ia tiba dengan wajah penuh
tanya. Ia mendengarkan kata-kata Khan dengan penuh perhatian, seakan sama sekali
tidak tahu apa-apa mengenai ulah adiknya.
Penasihat
Khan sudah menyurvei Cina dalam sekian banyak perjalanannya dan ternyata para
petani miskin bekerja untuk menghasilkan sesuatu bagi tuan tanah mereka yang
kaya, yang sepatutnya dipaksa berbagi kekayaan dengan keluarga Tamu.
“Ya,
Khan-ku yang Agung, itu dapat dilaksanakan, tapi...” Ia pura-pura berpikir keras.
“Orang-orang Cina sudah mulai kurang dapat diatur belakangan ini. Untuk dapat membongkar
tanah pertanian yang sudah ada agar dapat diratakan untuk dijadikan padang
rumput, kita membutuhkan seorang jenderal tangguh untuk melaksanakan komando
seperti itu. Kita harus mendapatkan seorang perwira muda yang mampu melakukan
tugas berat itu. Siapa, ya, yang mampu untuk itu? Coba, sebentar...” Ia
mengetuk-ngetukkan jari-jarinya yang seperti cakar burung itu pada dagunya,
sambil mengerutkan alis.
Badai
Pasir menyebutkan nama beberapa perwira, namun Shadow Tamu menampiknya satu per
satu. Akhirnya Kilau Bintang kehilangan kesabarannya. “Tak ada satu perwira pun
yang setangguh kakakku, si Pedang Dahsyat.” Ia menatap Khan sambil tersenyum
amat yakin. “Panggil saja dia dari Mongolia, dan masalah itu akan terpecahkan.
Aku akan mendapatkan padang berkudaku dan tinggal di Cina untuk selamanya “
Tak
lama sesudah itu Pedang Dahsyat muncul di kota Da-du, langsung memasuki gerbang
istana di atas kuda jantan hitamnya yang besar. Ia mengenakan stola merah, pakaian
perang kuningan, dan sepatu bot tinggi. Ia menyandang busur dan anak-anak panah
di pundaknya, dan sebilah pedang berat yang sudah sering menembus jantung
manusia mapun binatang. Ia berusia 26 tahun, tampan, bertubuh kekar serta
tinggi besar.
Ia
sudah menunggu di pinggiran kota Da-du selama beberapa waktu, untuk menantikan
saat memasuki kota dengan segala kemegahannya. Ia sudah tak sabar lagi untuk segera
ikut menikmati pengaruh serta kekayaan kakaknya. Sama halnya dengan Shadow,
ternyata ia pun aktor yang baik. Setelah mendengarkan ucapan Khan-nya yang
Agung, ia pura-pura tidak antusias menerima tawaran itu.
“Aku
berat meninggalkan tanah kelahiranku,” ujarnya, mengulangi kata-kata yang
diinstruksikan kakaknya sebelumnya. “Aku akan mempertimbangkan penawaran untuk
tinggal di Cina hanya kalau aku diberi mandat untuk menguasai seluruh tentara
kerajaan. Untuk itu aku membutuhkan pangkat setingkat panglima tertinggi.”
Khan
Badai Pasir yang Agung menatap wajah perwira muda yang tangguh itu, kemudian
penasihatnya yang lihai, sambil menimbang-nimbang apakah cukup bijaksana membiarkan
dua orang dari satu keluarga menduduki jabatan-jabatan setinggi itu. Sesudah
itu ia menatap wajah Kilau Bintang yang menawan serta tubuhnya yang menggiurkan.
Ia menyingkirkan semua keraguan dari kepalanya, lalu tersenyum pada wanita itu
sambil menghela napas. “Kau milikku. Kedua kakakmu adalah kakak-kakak iparku.
Sebaiknya aku mempercayal kalian bertiga.”
Khan
Badai Pasir mengangkat Pedang Dahsyat Tamu sebagai panglima tertinggi tentara
kerajaan. Sejak hari itu, secara tak langsung Cina dikuasai oleh Shadow Tamu,
Kilau Bintang, dan Pedang Dahsyat.
