Episode 10
LOTUS LIN duduk di muka cermin kuningan berbentuk oval
yang dipoles dengan baik. Cermin itu berbingkai emas. Wajahnya sudah dihias
dengan warna putih-merah, rambutnya diminyaki, diberi parfum, dan ditata ke
atas. Ia sudah mengenakan gaun pengantinnya yang berlapis-lapis, namun banyak
yang masih harus dikenakannya.
Sambil
menatap para pelayan yang memenuhi ruangan itu, ia berkata, “Kalian boleh
keluar sekarang. Jasmine membantuku dengan persiapan terakhirnya.”
Setelah
para pelayan keluar, Jasmine mendekat untuk membantunya. Rok pengantinnya yang
paling luar berwarna merah dan memiliki tepatnya seratus lipitan. Sepuluh butir
mutiara menghiasi setiap lipitan, sebagai simbol kemurnian si pengantin wanita.
Bagian atas gaun merah itu disulam dengan seratus kuntum krisan berwarna keemasan,
masing-masing dengan sebuah batu ruby di tengah-tengahnya. Ini akan membawa
kebahagiaan baginya selama seratus tahun berikutnya.
Mahkotanya
setengah meter tingginya, berhiaskan bunga-bunga buatan dari batu-batu ruby dan
koral sebagai kelopaknya, dan batu kemala sebagai daun-daunnya. Untaian-untaian
mutiara panjang menggelantung di bagian muka mahkota itu, membentuk semacam
cadar. Saat itu untaian-untaian itu dijepitkan ke samping, tapi akan diturunkan
untuk menutupi wajah si pengantin.
Sembilan
merupakan simbol sesuatu yang abadi sifatnya. Sembilan untaian rantai emas
murni menggelantung dari lehernya. Sembilan kupu-kupu tersulam pada
masing-masing sepatunya yang merah. Sembilan batu ruby menghiasi masing-masing
anting-anting yang mencapai pundaknya.
“Oh,
Buddha!” desah Jasmine. “Pakaian-pakaian ini lebih berat dari tubuhmu. Teganya
mereka berharap kau dapat bergerak setelah mengenakan itu semua. Agaknya aku harus
membopongmu di punggungku, nonaku yang malang...” Jasmine tidak meneruskan
ocehannya begitu melihat air mata berlinang di mata si pengantin. “Kau teringat
ibumu lagi tentunya?” tanyanya lembut.
Diam-diam
Lotus mengangguk, sambil berusaha keras menahan air matanya.
Wali
Kota Lu sudah mengundang Bangsawan Lin dan istrinya untuk menghadiri pernikahan
anak perempuan mereka, namun Bangsawan Lin menampik undangan itu dan melarang
keras istrinya untuk hadir.
Bunyi
gong menggema dari halaman belakang, langsung disusul suara petasan. Sebentar
lagi upacara perkawinan itu akan dilangsungkan. Lotus menengok ke langit tak berbulan
sekali lagi. “Mama, aku mencintaimu dan amat merindukanmu. Sayang sekali Mama
tak bisa hadir di sini menghadiri hari terpenting dalam hidupku,” bisiknya.
Jasmine
menepukkan tangan agar pelayan-pelayan lain masuk. Dituntun oleh empat orang di
antara mereka, pengantin wanita melangkah senti demi senti menuju bangsal
utama. Saat ia mengangkat kepala sedikit di bawah mahkotanya yang berat untuk
mengintip melalui cadar mutiaranya, ia melihat lautan manusia dalam pakaian-pakaian
upacara yang semarak. Di antara mereka terdapat banyak orang asing, semua
sedang berbincang-bincang, tertawa, atau menatap dirinya. Ia menundukkan
kepala, kemudian melanjutkan langkah sambil memusatkan perhatian hanya ke arah
sepatunya.
Perjalanan
menuju bangsal utama itu seakan bermil-mil jauhnya. Alat-alat musik gesek
terus-menerus dibunyikan. Lotus amat lelah ketika akhirnya ia sampai dan
melihat sepasang sepatu laki-laki di sebelah sepatunya sendiri.
Upacara
itu dirancang sewaktu Konfusius masih hidup, dan selama lebih dari 1.800 tahun
ritus yang sama masih tetap dilaksanakan dengan patuh. Laki-laki yang akan memimpin
upacara itu cendekiawan kalangan atas. Ia mengawalinya dengan mengingatkan
pasangan pengantin itu bahwa untuk menjadikan kehidupan ini harmonis, orang
harus mulai dengan menciptakan harmoni dalam dirinya sendiri.
Lotus
mendengar suara tua itu berkata, “Harmoni hanya dapat tercipta melalui
kepatuhan. Manusia harus mematuhi aturan di dalam keluarga dan masyarakat,
dengan memenuhi tanggung jawabnya dari hari ke hari, serta kewajiban-kewajibannya
yang lebih luhur. Tidak patuh pada yang lebih tinggi merupakan dosa yang tidak terampuni.
Seorang wanita harus selalu ingat bahwa suaminya lebih tinggi dari dirinya…”
Lotus
teringat pada hari ia meninggalkan ibunya, kemudian tersenyum. Lu takkan pernah
memaksanya bersikap tidak patuh terhadapnya. Lu akan selalu lembut, baik dan
sayang padanya, dan ia akan selalu bersikap hormat kepada suami yang juga
tuannya itu. Dengan ibu jarinya, Lotus meraba cincin-cincin batu kemala di jari-jarinya.
Lu-lah yang mengukir cincin-cincin ini untuknya sejak ia pindah ke rumah
keluarga Lu. Lotus tahu ia akan menikahi seorang cendekiawan, bangsawan,
patriot, yang juga seniman.
Setelah
ber-kowtow ke arah langit, bumi, roh para leluhur serta. Kaum kerabat dan para
tamu, Lu dan Lotus akhirnya resmi menjadi suami-istri. Mereka digiring ke bagian
rumah yang baru dipugar.
Di sana
terdapat beberapa ruangan dan sebuah kebun yang dikelilingi tembok. Mereka.
akan menikmati hidangan malam di kamar pengantin. Mulai besok mereka akan tinggal
di bawah sayap si bangsawan tua dan istrinya, tapi dengan kebebasan pribadi
penuh. Saat anak-anak mereka cukup besar untuk berkeliaran ke mana-mana,
suara-suara muda mereka takkan mengganggu ketenangan bagian rumah yang didiami
para sesepuh ini.
Di
bagian rumah yang didiami oleh orangtua Lu, kaum laki-laki tidak makan
bersama-sama dengan wanita.
Para
tamu itu terdiri atas orang-orang Cina dan Mongol, para pedagang dan duta-duta
dari negeri seberang, kaum misionaris, serta para cendekiawan. Hidangan yang disajikan
beraneka ragam, dan masing-masing menyiratkan makna khusus, umur panjang,
keberuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan untuk pasangan pengantin baru itu
serta semua yang hadir.
Sementara
dilayani oleh gadis-gadis penyanyi, kaum pria juga dihibur dengan program yang
khusus dirancang untuk kesempatan ini. Para biksu memasuki ruangan ini dalam dua
barisan, yang satu berjubah jingga, yang lain kuning. Mereka melangkah tenang
sambil menundukkan kepala. Telapak tangan mereka terkatup dengan ujung jari menyentuh
dagu. Mereka membentuk lingkaran di tengah-tengah ruangan, sehingga setiap
biksu berjubah kuning dari aliran Taois diseling seorang biksu Buddha berjubah
jingga. Mereka memutar tubuh, memunggungi pusat lingkaran, menghadap ke arah
para tamu. Sesudah itu mereka membungkuk dalam-dalam.
“Siapa
mereka?” tanya seorang Inggris pada penerjemahnya.
“Para
biksu dari Yin-tin,” jawab si penerjemah. “Kalau Anda pernah ke Gunung Emas
Ungu, Anda tentunya pernah memperhatikan bahwa jauh di tengah hutannya, jauh
dari rumah kediaman Gubernur Mongol, terdapat dua kuil. Yang didiami para biksu
Buddha dikenal dengan nama Bintang-bintang Damai, yang didiami para biksu Tao,
Gaung Sunyi. Wali Kota Lu adalah pelindung kedua kuil itu. Sekarang para biksu
itu akan menunjukkan penghargaan mereka...” Ia berhenti bicara saat para biksu
tiba-tiba bergerak.
Mereka
melepaskan jubah-jubah mereka secara serentak, kemudian meletakkan pakaian
mereka di tengah-tengah lingkaran, dalam tumpukan rapi. Di bawah jubah itu
mereka hanya mengenakan sepasang celana panjang hitam dan sepatu lembut. Bagian
atas tubuh mereka yang telanjang membuat para tamu menahan napas.
“Tak
kusangka kalian orang-orang Cina daerah Selatan begitu berotot!” seru seorang
tamu Mongol sambil berdiri lebih tegak dan bertolak pinggang. Namun
kegusarannya berubah menjadi ketakutan begitu kedamaian yang meliputi wajah
para biksu itu menghilang. Ekspresi mereka yang sebelumnya tampak lembut
menjadi keras. Para biksu itu bergerak seakan mereka satu. Semua mengambil satu
langkah ke samping dengan kaki kiri. Kepalan kiri mereka mengembang, membentuk
lingkaran horizontal. Tinju kanan dientakkan ke muka, dengan punggung tangan menghadap
ke atas. Semua mata menatap lurus ke depan, bersinar oleh suatu kekuatan yang
memancar dari dalam. Tiba-tiba kaki kanan menendang ke atas, tinju kiri menghunjam
ke depan, seakan menghantam musuh yang tidak tampak dengan cara mematikan.
Secepat
angin masing-masing biksu menggunakan kaki kanan untuk maju selangkah, lalu
mengambil ancang-ancang untuk melompat tinggi. Begitu berada di udara,
masing-masing mengangkat lutut kiri sambil mengayunkan kedua lengan ke muka,
lalu ke atas. Sebuah suara dahsyat kemudian terdengar saat telapak tangan kiri menghantam
punggung tangan kanan.
Sebelum
mendarat, masing-masing biksu mengentakkan kaki kanan mereka dengan keras,
kemudian berdiri di atas kaki kiri tanpa suara, sementara kaki kanan masih
tinggi di atas. Mata mereka menatap tajam ke arah penonton, seakan menantang
siapa saja untuk mau dan mencoba peruntungan.
Selagi
peragaan itu berlangsung, para hadirin sama sekali melupakan hidangan yang
tersaji di piring-piring mereka.
Para anggota
Liga Rahasia bertukar pandang penuh arti. Mereka adalah bapak angkat para biksu
kungfu ini, dan mereka tahu bahwa biksu-biksu di seluruh pelosok Cina sudah
menciptakan cara untuk melindungi negeri mereka. Hanya mereka yang mengenali
kemarahan yang terpancar dari mata para biksu ini: semangat juang orang-orang
Cina takkan pernah dapat dipadamkan hanya dengan merenggut senjata-senjata
mereka.
Di ruang makan khusus wanita, para nyonya dihibur oleh
drama musikal berjudul Cinta di Bawah
Sinar Bulan, yang ditulis oleh salah seorang di antara sekian banyak cendekiawan
melarat yang dikucilkan dari istana penguasa Mongol, sehingga terpaksa hidup
dari menulis cerita untuk umum.
“Pemeran
utama wanitanya cantik sekali!” komentar seorang nyonya dari Turki.
Penerjemahnya
berkata, “Pemeran utama wanita, itu sebetulnya laki-laki, budak dalam rumah
tangga keluarga Lu.” Ia menambahkan dengan menjelaskan bahwa sebuah keluarga
kaya memiliki banyak budak yang dibeli saat mereka masih kecil. Anak laki-laki
yang parasnya tampan akan diajari menyanyi, menari, dan berakting oleh aktor
tua yang juga merupakan bagian dari rumah tangga itu; yang parasnya biasa-biasa
saja akan menjadi pelayan. Anak-anak perempuan juga dibagi berdasarkan paras
mereka. Yang cantik akan menjadi selir beberapa tuan, yang kurang menarik
menjadi pelayan, sampai mereka cukup tua untuk menikah dengan pelayan
laki-laki.
Sandiwara
itu terdiri atas dialog-dialog yang dilantunkan, lagu-lagu bagus, serta
tari-tarian indah. Para nyonya amat menikmati acara itu sambil makan – kecuali seorang.
Di
usianya yang 31 tahun, Sesame ibarat bunga yang masih mekar, yang membutuhkan
air agar tidak layu. Ia perlu merasa bahagia untuk memberi sinar pada wajahnya yang
cantik, agar tidak semakin cepat layu. Pakaiannya yang hijau lebih bagus
daripada seragam kelabu para pelayan lainnya, dan ia ikut makan, bukannya
melayani para tamu. Namun ia duduk menyendiri di sebuah sudut yang tidak
diterangi cahaya lampu, bersama tiga wanita lain yang juga berwajah sedih, tapi
jauh lebih tua. Ketiga wanita. yang lebih tua itu adalah selir-selir Wali Kota
Lu yang sudah terlupakan, sedangkan Sesame adalah wanita pertama dalam
kehidupan Lu si Bijak.
Sesame
dijual oleh kedua orangtuanya ketika ia baru berusia enam tahun. Ketika Lu
lahir, ia berusia tiga belas tahun, dan ia pernah membantu si pengasuh menjaga
si bayi. Mengingat ia cerdas dan cantik, Bangsawan Lu dan istrinya
mengangkatnya menjadi selir Lu, yang ketika itu berusia dua tahun. Kedudukan
barunya membuat statusnya lebih tinggi daripada pelayan, dan pada waktu
bersamaan Bangsawan Lu dan istrinya tahu ia akan mengabdikan diri sepenuhnya
untuk melindungi serta memberikan kesenangan kepada anak mereka.
Para
tuan muda harus belajar menguasai seni bercinta, yang juga dikenal dengan
istilah meluluhkan awan dan mencurahkan hujan. Para orangtua lebih suka
putra-putra mereka memperoleh keterampilan ini dari selir-selir pilihan yang
kesehatannya terjamin dan tidak bergaul sembarangan. Ketika Lu berusia empat
belas tahun, Wali Kota Lu memerintahkan salah seorang selir tuanya untuk mengajarkan
seni itu pada Sesame, yang kemudian akan meneruskannya pada tuan mudanya yang
belum berpengalaman itu.
Tradisi
masih akan terus berlanjut, sehingga para pengantin wanita bangsawan selalu
akan memperoleh pasangan yang sudah terlatih baik. Namun si selir yang telah
memberikan pelajaran pertama mengenai salah satu segi kehidupan pada pemuda itu
akhirnya terpaksa mundur. Dan pada hari perkawinan si tuan muda, ia terpaksa
menyembunyikan air mata di belakang senyum yang dipaksakannya.
Sesame
menjumput makanan di piringnya tanpa nafsu. Terbayang olehnya Lu di kamar
pengantinnya, mengajarkan seni yang didapatnya darinya pada pengantin wanita
yang masih perawan.
Semua ritus sudah dilaksanakan, semua tradisi
dipenuhi. Para pelayan sudah menutup pintu-pintu di belakang mereka, sehingga
pasangan pengantin itu akhirnya tinggal berduaan.
Hiasan
kepala Lotus serta berlapis-lapis pakaian upacaranya sudah dilepaskan. Sekarang
ia mengenakan jubah merah muda dan duduk di hadapan sebuah cermin kuningan,
mengawasi bayangan Lu dalam pakaian merahnya. Suara jantungnya terdengar
bergemuruh di telinga. Ia sudah pernah mendengar mengenai awan yang meluluh
serta hujan yang tercurah, tapi masih tak terbayang olehnya apa itu serta
mengapa hal itu disebut demikian.
Melalui
pantulan cermin ia melihat pasangannya melangkah menghampirinya. Wajahnya
langsung memerah. Begitu ia merasakan tangan Lu di pundaknya, seluruh tubuhnya
bergetar.
“Aku
punya hadiah untukmu,” ujar Lu lembut.
Lotus
menengadahkan kepalanya dan melihat di cermin bahwa Lu sedang menggenggam
sebuah gulungan kertas. Ekspresinya amat tenang. Perlahan-lahan Lotus memutar tubuh.
Saat Lu
membuka gulungan kertasnya, sebuah lukisan yang menggambarkan sepasang manusia
tampak di atasnya. Seorang pria bangsawan yang mirip Lu, dan wanita bangsawan
yang mirip Lotus.
“Kau
seniman hebat,” ujar Lotus. Ia mulai lebih percaya diri. Ia berpaling ke kotak
perhiasannya, dan begitu menemukan sisir batu kemalanya, ia berdiri untuk membandingkannya
dengan gambar itu. “Lukisan ini bahkan lebih bagus lagi daripada ukiran pada
sisirku ini,” ujarnya. “Ada baiknya kau mewujudkan bakatmu di atas sesuatu yang
proporsinya lebih besar.”
Ia
sudah tidak begitu ketakutan dan malu lagi. Ketika Lu meletakkan lukisan itu di
bufet, lalu menggenggam tangannya, ia sudah merasa jauh lebih rileks.
Lu
berkata, “Kelak aku akan menemukan sebongkah batu kemala yang besar, lalu aku
akan memahat sepasang kekasih.” Ia membimbing Lotus ke tempat tidur. “Seperti dalam
ukiran dan lukisan itu, wanita cantiknya akan mirip kau, dan tuan muda yang
terpesona oleh kecantikannya akan mirip aku.”
Dengan
lembut Lu menarik Lotus duduk di sebelahnya di tempat tidur, kemudian mulai
membuka baju luarnya. Begitu menyadari tubuh Lotus mulai gemetar lagi, Lu mulai
berbicara mengenai hal-hal yang tidak berhubungan dengan malam pengantin
mereka. Dengan lembut ia berkata, “Batu kemala adalah jenis batu yang amat
berharga. Warnanya yang anggun tak ‘kan memudar, juga kilaunya yang indah.
Pasangan kekasih dari batu kemala akan mengungkapkan cinta kita yang abadi.”
Ia
merangkul Lotus dalam pelukannya, kemudian dengan hati-hati mengecup pipinya,
lalu bibirnya. Ia merebahkan kepalanya di bantal sambil melepaskan jubah sutranya
sendiri pada saat bersamaan. Ia melepaskan pakaian dalam Lotus dengan
jari-jarinya yang sensitif, namun tak sekali pun menyentuh sepatunya. Ia sudah belajar
bahwa kaki wanita hanya boleh terlihat saat sudah terbebat dan terselubung
rapi.
Lu
mencondongkan tubuh untuk mengecupinya kembali. Ciumannya semakin hangat,
tangannya membangkitkan sesuatu yang sudah lama terpendam dalam tubuh Lotus yang
muda.
Dua
gumpalan awan beriringan melintasi langit. Sebuah tangan yang tidak kelihatan
menyatukan mereka. Awan laki-laki bergerak dengan amat hati-hati, menyelimuti
awan wanita dengan keberadaannya sendiri. Tanpa terburu-buru sama sekali
akhirnya ia melebur dengan pasangannya.
Dua
menjadi satu, bergulung-gulung di langit. Angin berembus kencang,
bintang-bintang berjatuhan. Matahari dan bulan bertukar tempat, namun dua
gumpalan awan itu terus melayang semakin tinggi.
Petir
menggelegar, dan pada saat bersamaan membuat mereka terguncang. Kilat
menyilaukan sekeliling mereka, bumi bergetar di bawah mereka, sampai akhirnya segalanya
mereda. Akhirnya kedua awan itu luluh, menjadi tetesan air hujan hangat yang
menyimbur ke ranjang pengantin mereka.
