Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #10



Episode 9

SEPANJANG pesisir Sungai Kuning, pohon-pohon apel sudah tidak berbunga lagi. Bagian tengah kuntum bunganya yang keputihan sudah berubah menjadi bintik-bintik buah berwarna hijau. Sambil berjalan di bawah pohon-pohon itu, Peony menelusuri jalan yang biasanya ditempuhnya bersama kedua orangtuanya dalam perjalanan mereka menuju ke desa Pinus. Sementara itu, semua makanan yang diberikan Welas Asih sudah habis, dan ia merasa lapar sekali.

        Begitu sampai di sebuah desa Peony melihat seorang penjual tahu. Ia mengikuti laki-laki itu dari belakang. Si pedagang mendorong gerobak yang penuh dengan tahu. Ia melewati rumah para petani satu per satu, sambil mendentingkan sumpit bambu untuk menjajakan barang dagangannya, yang akan ia lepas baik dengan cara menjual atau menukarkannya dengan telur atau gandum.
        Peony mengawasinya selagi ia sedang tawar-menawar dengan seorang wanita tua, menimbang-nimbang gandumnya di atas sebuah timbangan sederhana yang terbuat dari tongkat, kayu, piring kecil, dan beberapa anak timbangan. Saat mereka berdebat dengan sengit, Peony menyambar sepotong tahu yang besar kemudian kabur.
        Si penjual mengejarnya selama beberapa waktu, kemudian menyerah, khawatir bahwa penduduk desa akan menyapu habis seluruh isi gerobaknya. Peony berhenti di tepi sungai, lalu duduk untuk memakan tahunya yang hambar. Sambil melakukan itu, ia mengawasi beberapa lampion kertas yang terapung-apung lewat di mukanya.
        Pembantaian yang dilakukan orang-orang Mongol sudah meluas ke mana-mana. Di seluruh pelosok penduduk meratapi orang-orang yang mereka cintai. Di antara para pelarung lampion, Peony mendengar seorang anak perempuan memanggil-manggil ayah dan ibunya, lalu menyerukan bahwa ia akan menceburkan dirinya ke dalam air agar seluruh keluarganya dapat berkumpul kembali. Peony merasakan tenggorokannya bak tersumbat. Cepat-cepat ia meninggalkan tepi sungai untuk melanjutkan perjalanannya.
        Tak lama kemudian perutnya mulai kosong lagi. Tidak hanya itu, langit pun berubah gelap. Dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya, ia dan kedua orangtuanya selalu menginap di rumah teman ayahnya yang tinggal di desa berikutnya. Mengingat ini, ia segera mempercepat langkahnya.
        Sesampainya di sana, ternyata dinding pondok yang diplester tanah dan beratap rumbia itu sudah tiada. Sebagai gantinya berdiri sederetan bangunan batu dan sebuah istal. Ia menyipitkan mata dan melihat papan dengan tanda bergambar guci anggur dan wadah makanan di bawah sinar bulan musim semi itu.
        Ia mendekat, kemudian bersembunyi di belakang pohon pinus yang tinggi. Ia mendengar derai tawa dari sebuah ruangan yang jendelanya terbuka. Ia dapat mencium bau daging dimasak. Aromanya membuatnya meninggalkan persembunyiannya. Ia menghampiri jendela itu untuk mengintip ke dalam.
        Ia melihat enam orang Mongol duduk mengelilingi meja sambil minum-minum. Seekor anak kambing utuh dipanggang di atas api terbuka, di bagian lain ruangan itu. Kulit binatang itu.sudah cokelat keemasan. Sarinya menetes ke atas bara kayu api, membuat lidah-lidah api menjilat ke atas dan mengeluarkan bunyi mendesis.
        Peony menelan ludah saat melihat dua pelayan Cina mengantarkan daging panggang itu ke meja. Orang-orang Mongol langsung mengulurkan tangan untuk mencomot daging yang masih panas itu. Mereka mencabik keratan-keratan besar dari tubuh kambing itu, mengunyah dengan lahap, sesudah itu menjilati jari-jari mereka yang terbakar. Salah seorang di antara mereka yang duduk dengan punggung menghadap jendela, berada begitu dekat dengan Peony, sehingga seakan-akan sengaja melambai-lambaikan daging di tangannya ke mukanya.
        Seorang petugas istal muncul untuk menanyakan apakah besok mereka ingin melanjutkan perjalanan dengan kuda-kuda mereka sendiri atau yang disediakan di pos penginapan itu. Si Mongol yang duduk di dekat jendela menyandarkan tubuh untuk berpikir. Selagi ia menopangkan siku di ambang jendela, kaki kambing di tangannya nyaris menyentuh ujung hidung Peony.
        Tanpa berpikir Peony langsung meraih daging itu. Ia tak menyangka si Mongol mencengkeram keratan daging itu dengan begitu kuat. Ia terpaksa merenggutnya dari tangannya.
        Si Mongol terkejut oleh ulah tangan yang tidak tampak itu. Ia langsung berteriak, lalu memutar tubuhnya sementara Peony kabur ke dalam kegelapan.
        Di belakangnya terdengar orang-orang Mongol memaki-maki para pelayan Cina agar segera menggeledah daerah sekitar pos penginapan itu. Namun orang-orang Cina itu melakukan perintah mereka dengan setengah hati. Peony dapat menangkap kata-kata mereka saat mereka melaporkan pada orang-orang Mongol bahwa tak ada siapa pun di luar.
        Di bawah penerangan cahaya bulan, Peony sampai di Sungai Kuning. Ia duduk di tepinya, lalu mulai makan. Baginya daging itu adalah makanan terenak yang pernah disantapnya seumur hidup, sementara riak air sungai seakan menjanjikan ia akan segera bertemu dengan Shu. Ia menggeliatkan tubuh di rumput. Bayangan terakhir baginya malam itu adalah bentangan langit dengan cahaya ribuan bintang dan sebentuk bulan yang indah.
        Ia terbangun begitu fajar menyingsing, lalu melanjutkan perjalanan. Ia merasa lebih bugar karena energi yang diperolehnya dari daging kambing pada malam sebelumnya.
        Sekitar tengah hari ia mulai mendaki gunung yang menghadap ke desa Pinus. Ia teringat kisah-kisah para pencari kayu yang diterkam harimau di tempat ini. Ia berlari melintasi hutan itu, dan begitu sampai di tempat yang agak terbuka, ia melayangkan pandangan sekilas ke arah desa Pinus. Ia mengerutkan alis melihat sedikitnya petani yang bekerja di sawah. Di manakah para pemuda? Bahkan dari jauh ia dapat melihat bahwa kebanyakan di antara mereka yang menggiring kerbau untuk meratakan dan membajak tanah yang tergenang air itu terdiri atas kaum wanita dan orang-orang tua.
        Kecemasannya berkurang saat ia melihat beberapa bocah bermain di sebuah kolam dangkal yang memantulkan bayangan langit biru serta awan-awan putih selembut kapas. Panoramanya indah sekali, dan hidupnya akan semakin menyenangkan lagi begitu ia bertemu dengan Shu nanti. Peony berdiri lebih tegak, tersenyum, kemudian menggunakan lengan bajunya untuk membersihkan wajah semampunya.
        Desa itu sudah tidak seperti yang diingatnya. Jumlah penduduknya lebih sedikit, sehingga tempat itu terasa lenggang. Ia mengenali pohon ek kembar yang tumbuh di antara rumah keluarga Shu dan tetangga mereka. Kemudian ia melihat ranting-ranting pohon yang menjorok ke rumah keluarga Shu hangus. Di tempat rumah keluarga itu semula berdiri, kini hanya ada tumpukan puing bekas kebakaran.
        Peony berlari mendekati lelaki tua yang sedang berjongkok di antara kedua pohon itu. Sambil menunjuk ke arah puing-puing kehitaman, ia berseru, “Apa yang terjadi? Di mana mereka semua?”
        Orang tua itu tidak mengangkat wajahnya, juga tidak melihat ke mana Peony menunjuk. Ia ada di sana untuk menengok kedelapan gundukan baru yang merupakan makam para anggota keluarganya, dan pikirannya masih dipenuhi oleh kematian mereka.
        “Mati,” gumamnya, sambil mengacungkan tangannya yang gemetar ke makam-makam baru yang berderet di belakangnya. “Orang-orang Mongol... kuda... tali menjerat leher mereka... busur dan anak panah... semua mati... tak satu pun lolos.”
        “Tidak!” jerit Peony, kemudian berlari meninggalkan orang tua itu. Ia menghitung gundukan kuburan di tanah milik keluarga Shu. Semua ada enam. Dua untuk kedua orangtua dan empat untuk anak laki-laki mereka.
        “Tidak! Tidak! Tidak!” teriak Peony sambil berlari meninggalkan desa Pinus tanpa berhenti.
        Shu-nya sudah tiada. Ucapan terpatah-patah dari mulut orang tua itu mewujudkan bayangan yang begitu mengerikan baginya. Hatinya penuh amarah dan kesedihan. Andai kata ia menanyakan pada seseorang secara mendetail bagaimana Shu menemui ajal, ia pasti bakal histeris. Harga dirinya terIalu besar untuk membiarkan orang melihat atau mendengarnya menangis, karena itu ia terus berlari tanpa menengok ke belakang lagi.

Shu sudah amat lelah ketika sampai di Sungai Kuning. Ia beristirahat di tepinya. Ia sudah menghabiskan seluruh bekal yang diterimanya dari Naga Tanah beberapa waktu yang lalu. Ia amat lapar dan tubuhnya lemah.
        Akhirnya ia memaksa diri untuk berdiri, kemudian melangkah sampai ia melihat sebuah pos penginapan di kejauhan. Ia bersembunyi di belakang pohon pinus ketika melihat sekelompok orang Mongol berkuda ke arahnya. Ia pindah ke sisi lain batang pohon besar itu ketika mereka lewat. Setelah menduduki Cina selama beberapa dekade, orang-orang Mongol belajar menguasai bahasa Cina. Keenam penunggang kuda itu berbincang-bincang dalam lafal yang sudah mereka kuasai. Shu dapat mendengar kata-kata mereka dengan jelas, namun tidak mengerti maksud mereka.
        Salah satu di antara mereka sedang berkata bahwa hantu sebetulnya memang ada. Kalau seorang Cina meninggal karena kelaparan, rohnya akan kembali untuk menghantui orang-orang Mongol yang bertanggung jawab atas kematiannya. Caranya menghantui dilaksanakan dengan berbagai cara aneh; salah satunya adalah membuat makanan menghilang begitu saja dari genggaman orang Mongol.
        Begitu mereka hilang dari pandangan, Shu keluar dari tempat persembunyiannya, lalu menuju tempat sampah yang tertumpuk di luar bangunan pos penginapan itu. Ia menemukan beberapa potong tulang kambing yang masih banyak dagingnya. Setelah mengumpulkannya, ia meneruskan perjalanan sambil makan. Ia bersenandung sambil mengunyah, kemudian melemparkan tulang demi tulang yang sudah habis dagingnya ke belakangnya. Sesaat ia dapat melupakan kematian keluarganya. Setelah lepas dari omelan si biksu tua, dan menyadari bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menemui Peony-nya, hatinya terasa lebih ringan.
        Ketika malam tiba, ia beristirahat di pinggir hutan pinus di bawah langit terbuka. Ia menggunakan daun pinus tua yang lembut sebagai alas tidur, kemudian melipat lengannya sebagai bantal. Ia menerawangi langit yang diterangi cahaya bulan melalui puncak pepohonan, sampai kelopak matanya terasa berat.
        Keesokan paginya, seekor kelinci liar melompati Shu dan membangunkannya. Ia mengusap wajahnya dengan lengan baju, kemudian memungut buntelannya. Dalam waktu singkat ia sudah memasuki desa terakhir menjelang desa yang didiami Peony, dan mendapati dirinya melangkah di belakang pedagang tahu. Ia ingin menghantam si penjaja yang terus menoleh curiga ke arahnya, seakan ia berniat mencuri sepotong tahunya yang tawar itu.
        Saat melintasi desa, di antara banyak rumah yang rumputnya dibiarkan tumbuh liar, ia melihat sebuah rumah yang dipercantik oleh sederetan tanaman bunga azalea merah yang marak. Pada saat itu juga ia memutuskan bahwa begitu ia dan Peony menikah, mereka akan memiliki rumah penuh tanaman azalea seperti itu.
        Ia juga melihat hampir setiap rumah memiliki dua pintu yang masing-masing dihiasi sepotong kertas merah yang sudah memudar bertuliskan sebait karya seorang cendekiawan kota itu, yang mengharapkan keberuntungan di Tahun Baru yang lalu. Shu memutuskan bahwa setelah menikah, ia menginginkan sebuah bait yang mengungkapkan bahwa rumah mereka akan menjadi tempat tinggal banyak anak. Membayangkan ini, Shu tersenyum-senyum sendiri. Ia memasuki Lembah Zamrud dengan semangat menggebu-gebu.
        Namun hatinya segera menciut begitu melihat desa yang sudah porak-poranda itu. Ia mencengkam pundak kurus seorang wanita tua, lalu bertanya, “Apa yang telah terjadi?”
        Perempuan tua itu menatapnya ketakutan, kemudian mengatakan bahwa desa itu sudah dua kali diserang beberapa hari terakhir ini. Yang pertama gara-gara seorang pedagang yang menolak uang kertas dari tangan orang Mongol, yang kedua gara-gara seorang penambang batu kemala yang diam-diam mencoba menjual sepotong batu berharga itu. Pembantaian terakhir baru saja terjadi kemarin, pagi-pagi. Selain membunuhi penduduk, orang-orang Mongol itu juga membakar semua rumah di desa itu, kecuali bangunan Kuil Langit.
        Shu menanyakan keadaan keluarga penambang Ma kepada si wanita tua, namun wanita berambut putih itu menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata, “Ma adalah nama yang sangat umum. Ada lebih dari dua puluh keluarga penambang yang memakai nama yang sama. Nah, lepaskan aku sekarang!”
        Shu melepaskan pundak wanita tua itu, yang kemudian dengan langkah sempoyongan meninggalkan desa dengan benda-benda yang berhasil dikumpulkannya dalam pelukan lengannya yang seperti tongkat. Ia menuju jembatan gantung yang akan membawanya ke seberang Sungai Kuning, kemudian terus ke gunung, ke arah Kuil Langit.
        Shu memperhatikan langkah-langkahnya dari belakang, lalu mengawasi sekelilingnya. Rupanya wanita tua itu merupakan penduduk terakhir yang meninggalkan desa itu. Kecuali beberapa orang yang berada di sisi lain tepi sungai, ia berada seorang diri di antara tumpukan-tumpukan puing. Dan setiap tumpukan membubung alur-alur asap yang menari-nari bak pita-pita hitam di bawah embusan angin. Saat itu juga Shu teringat akan pita-pita merah yang menghiasi jalinan kepang Peony. Dengan hati berdebar-debar ia melangkah ke arah rumah keluarga Ma, perasaannya was-was.
        Ketiga tubuh yang ditemukannya berada dalam keadaan hangus dan sama sekali tak dapat dikenali. Namun demikian, Shu masih dapat membedakan bahwa mereka terdiri atas seorang laki-laki dewasa, seorang wanita dewasa, dan seorang gadis. Tidak, ia tak ingin menerima kenyataan bahwa mereka adalah suami-istri Ma dan Peony. Ia menatap kuil yang letaknya agak tersembunyi di gunung, sambil menimbang-nimbang akan ke sana untuk mendapat kepastian mengenai nasib keluarga Ma dari para biksu dan biksuni. Tapi ia pun teringat pada Naga Tanah. Semua orang suci sama saja. Mereka hanya akan mengomeli dirinya seperti biksu-tua yang sudah hampir pikun itu.
        Ia menatap jenazah-jenazah yang hangus itu, sampai akhirnya ia yakin mereka betul-betul Peony dan kedua orangtuanya. Dalam bayangannya ia dapat mendengar suara mereka mengatakan betapa teganya ia membiarkan mereka tergeletak di situ begitu saja.
        Shu berlutut di samping tubuh-tubuh itu, kemudian untuk sesaat kehilangan kendali. Namun setelah melampiaskan air mata selama beberapa saat, tiba-tiba ia sadar, lalu malu dan marah. Ia menghapus air mata dengan punggung tangannya, kemudian berdiri tegak. Ia mengayunkan tinjunya ke langit, lalu berteriak. Berulang kali ia berteriak, bak binatang terluka yang kesakitan.
        Suaranya menjadi serak dan tenggorokannya terasa berdarah. Ia berhenti berteriak, kemudian menjatuhkan diri dengan lemas. Seluruh harapannya sirna. Akhirnya ia berdiri untuk mencari tajak.
        Sesuai dengan ketentuan orang-orang Mongol, setiap sepuluh keluarga berbagi sebuah tajak. Shu terpaksa mencari di antara tumpukan-tumpukan puing yang terbakar sebelum dapat menemukan satu, namun hampir seluruh gagangnya sudah habis dimakan api. Ia menguburkan ketiga jenazah itu di dekat rumah keluarga Ma. Sesudah itu ia memasukkan tajak yang sudah tak utuh lagi ke dalam buntelannya, lalu membungkuk di muka makam baru itu untuk minta diri.
        Setelah beberapa langkah ia berhenti, kemudian kembali ke makam-makam itu. Ia mengangkat wajah ke langit, kemudian berseru sekali lagi,
        “Peony! Kematianmu pasti terbalas! Kaudengar aku? Aku akan membalas kematianmu!” Ucapannya yang terpatah-patah itu menggema ke seluruh lembah, membuat kepala orang-orang yang berkumpul di tepi sungai berpaling. Lampion mereka yang sederhana berkedip-kedip di kejauhan, mengingatkan Shu bahwa kewajibannya terhadap keluarga Ma belum tuntas seluruhnya. Masih dalam keadaan marah ia melangkah menuju sungai.
        Ia tak punya uang untuk membeli lampion-lampion yang dibutuhkannya, dan ia sama sekali tidak berminat meminta-minta sedekah dari orang-orang yang tak dikenalnya itu. Ia merampas tiga lampion berikut api untuk menyalakannya dari seorang wanita yang berdiri di dekatnya, kemudian kabur. Ia terus berlari sampai jauh. Akhirnya ia berjongkok di tepi air, menyalakan lampion-lampion yang sudah sedikit sobek itu, kemudian melarungkannya di sungai. Dengan hati hancur ia mengawasi lampion-lampion itu menjauh.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...