Agatha Christie - Anjing Kematian #17



’Coba lihat dia, dengan wajahnya yang tolol itu! Betapa konyol ekspresinya. Kau boleh bangkit berdiri sekarang, Felicie, terima kasih! Tak perlu cemberut begitu padaku. Aku majikanmu. Kau mesti mematuhi perintahku.’

      “… Lalu Annette berbaring kembali di bantalnya, kelelahan. Felicie mengangkat nampannya dan beranjak pergi perlahan-lahan. Satu kali dia menoleh, dan sorot kebencian yang amat sangat di matanya membuat saya terperanjat. Saya tidak ada di sana ketika Annette meninggal. Tapi sepertinya keadaannya sangat menyedihkan. Dia berjuang mempertahankan hidupnya. Dia berjuang melawan kematian, seperti wanita sinting. Berkali-kali dia berkata dengan tersengal-sengal,
      ’Aku tidak akan mati... kaudengar itu? Aku tidak akan mati. Aku akan tetap hidup... hidup...’
      “Miss Slater menceritakan semua itu pada saya ketika saya datang menemuinya enam bulan kemudian.
      ’Raoul yang malang,’ katanya dengan ramah. ’Kau mencintainya. Bukan?’
      ’Selalu... selalu. Tapi apa gunanya saya bagi dia? Tak usahlah kita membicarakannya. Dia sudah tiada... dia yang begitu cemerlang, begitu penuh semangat hidup yang membara....’
      “Miss Slater wanita yang simpatik. Dia mengalihkan pembicaraan pada hal-hal lain. Dia sangat cemas tentang Felicie, katanya. Gadis itu telah mengilhami semacam keruntuhan saraf yang aneh, dan sejak saat itu tingkah lakunya juga sangat aneh.
      ’Kau tahu bahwa dia sedang belajar main piano?’ kata Miss Slater setelah ragu-ragu sejenak.
      “Saya tidak mengetahuinya, dan sangat terkejut mendengarnya. Felicie... belajar main piano! Saya berani menyatakan bahwa gadis itu tidak bisa membedakan nada sama sekali.”
      ’Mereka bilang, dia berbakat,’ Miss Slater melanjutkan. ’Aku tidak mengerti. Sejak dulu aku menganggap dia, yeah, Raoul, kau tahu sendiri sejak dulu dia bodoh, kan?’
      “Saya mengangguk.”
      ’Kadang-kadang perilakunya begitu aneh… aku benar-benar tidak mengerti.’
      “Beberapa menit kemudian, saya melangkah ke Salle de Lecture. Felicie sedang memainkan piano. Dia membawakan nada-nada yang pernah saya dengar dinyanyikan oleh Annette di Paris. Anda tentunya mengerti, Tuan-tuan, kalau saya jadi sangat terkejut. Mendengar saya datang, dia berhenti main dengan mendadak, dan memutar tubuh melihat saya, sorot matanya penuh ejekan dan kecerdasan. Sesaat saya berpikir... ah, saya tidak akan mengatakan pada Anda. Apa yang terlintas di benak saya.
      ’Biens!’ katanya. ’Jadi, kau rupanya Monsieur Raoul.’
      “Saya tak bisa menggambarkan cara dia mengatakannya. Sejak dulu Annette selalu menyebut saya Raoul. Tapi Felicie, sejak kami bertemu sebagai orang dewasa, selalu menyebut saya dengan Monsieur Raoul. Tapi cara dia mengucapkannya saat itu berbeda... seolah-olah kata Monsieur itu terdengar sangat lucu, dengan diberi sedikit tekanan.
      ’Wah, Felicie,’ kata saya terbata-bata. ’Kau tampak berbeda sekali hari ini.’
      ’O ya?’ tanyanya sambil merenung. ’Aneh sekali. Tapi jangan serius begitu, Raoul. Aku memanggilmu Raoul saja. Bukankah kita pernah menjadi teman bermain ketika masih kecil? Hidup ini mesti diisi dengan tawa. Mari kita membicarakan Annette yang malang... yang sudah meninggal dan dikuburkan. Apa dia berada di Api Pencucian? Atau di mana?’
      “Lalu dia menggumamkan sepotong lagu. Nadanya tidak terlalu bagus. Tapi kata-katanya menarik perhatian saya.
      ’Felicie!’ saya berseru. ’Kau bisa bicara bahasa Italia.’
      ’Kenapa tidak, Raoul? Barangkali aku tidak sebodoh yang pura-pura kuperlihatkan.’ Dia tertawa melihat kebingungan saya.
      ’Aku tidak mengerti,’ saya memulai.
      ’... Akan kuberitahukan padamu. Aku aktris yang sangat hebat, walau tak seorang pun tahu itu. Aku bisa memainkan banyak peran... dengan sangat baik pula.’
      “Dia tertawa lagi dan lari keluar dari ruangan itu sebelum saya sempat menghentikannya. Saya bertemu lagi dengannya sebelum berangkat. Dia sedang tertidur di kursi, mendengkur sangat keras. Saya berdiri memandanginya. Terpesona. Tapi juga dengan perasaan muak. Sekonyong-konyong dia bangun dengan kaget. Kedua matanya yang kosong dan tidak berbahaya bertemu pandang dengan mata saya.
      ’Monsieur Raoul,’ gumamnya otomatis.
      ’Ya, Felicie, aku akan pergi sekarang. Maukah kau main piano lagi untukku sebelum aku berangkat.’
      ’Aku? Main piano? Kau mengolok-olokku, Monsieur Raoul.’ Dia menggelengkan kepala. ’Aku main piano? Mana mungkin gadis bodoh seperti aku main piano?’
      “Dia diam sejenak, seperti sedang berpikir, kemudian dia memanggil saya agar lebih mendekat.
      ’Monsieur Raoul, ada peristiwa- peristiwa aneh terjadi di rumah ini! Mereka sengaja mempermainkan aku. Menghentikan jam-jam di sini. Ya, ya, aku tahu betul apa yang kukatakan ini. Dan semua ini adalah ulahnya.’
      ’Ulah siapa?’ tanya saya, terperanjat.
      ’Ulah Annette. Si jahat itu. Ketika masih hidup, dia selalu menyiksaku. Sekarang, sesudah mati pun, dia datang dari dunia orang mati untuk menyiksaku.’
      “Saya terpaku menatap Felicie. Bisa saya lihat bahwa dia benar-benar ketakutan, kedua matanya melotot lebar.
      ’Dia memang jahat. Ya, dia jahat. Dia akan mengambil roti dari mulutmu, pakaian dari punggungmu, jiwa dari dalam tubuhmu…’
      “Sekonyong-konyong dia mencengkeram saya.
      ’Aku takut... takut. Aku mendengar suaranya, bukan di telingaku, tidak, bukan di telingaku. Di sini, di dalam kepalaku...’ Dia mengetuk dahinya. ’Dia akan mengusirku pergi, mengusirku pergi sepenuhnya, lalu apa yang mesti kulakukan, apa yang akan terjadi denganku?’
      “Suaranya meninggi, hampir-hampir melengking. Matanya menyorotkan ketakutan seekor binatang buas yang tengah terpojok.... Sekonyong-konyong dia tersenyum, senyum manis yang licik. Ada sesuatu yang membuat saya merinding dalam senyumnya itu.
      ’Kalau terpaksa, Monsieur Raoul, kedua tanganku ini sangat kuat, amat sangat kuat.’
      “Sebelumnya saya tidak pernah memerhatikan tangannya. Saat itu saya memerhatikannya, dan mau tak mau saya merinding. Jemarinya yang persegi tampak brutal. dan seperti kata Felicie, sangat kuat... saya tak bisa menjelaskan pada Anda sekalian rasa mual yang menyapu diri saya. Pasti dengan kedua tangan seperti itulah ayahnya dulu mencekik ibunya... Itulah terakhir kalinya saya melihat Felicie Bault. Tak lama kemudian, saya berangkat ke luar negeri, ke Amerika Selatan. Saya pulang dari sana dua tahun setelah kematiannya. Karena berita yang saya baca di surat-surat kabar tentang kehidupannya dan kematiannya yang mendadak. Malam ini saya telah mendengar detail-detail yang lebih lengkap dari Anda sekalian, Tuan-tuan. Felicie 3 dan Felicie 4. Saya jadi bertanya-tanya. Dia aktris yang hebat, tahu?”
      Kereta sekonyong-konyong mengurangi kecepatan. Pria di sudut keempat itu duduk tegak dan mengancingkan mantelnya lebih rapat.
      “Apa teori Anda?” tanya Sir George sambil mencondongkan tubuh ke depan.
      “Aku hampir-hampir tak percaya...,” Canon Parfitt memulai, namun lalu terdiam.
      Sang dokter tidak mengatakan apa-apa. Ia tengah memandangi Raoul Letardeau dengan tajam.
      “Pakaian dari punggung, dan jiwa dari dalam tubuhmu,” kata orang Prancis itu dengan nada ringan. Lalu ia berdiri dari duduknya.


      “Menurut saya, Messiuers, sejarah kehidupan Felicie Bault adalah juga sejarah kehidupan Annette Ravel. Anda tidak mengenal dia, Tuan-tuan. Tapi saya mengenalnva. Dia sangat mencintai kehidupan...”

      Dengan satu tangan di pintu, siap melompat keluar, ia berbalik dengan tiba-tiba, dan membungkuk sambil mengetuk dada Canon Parfitt.
      “M. le docteur di sana itu, tadi dia berkata bahwa semua ini,” tangannya menyapu perut sang Canon dan sang Canon berjengkit, “hanyalah sebuah tempat hunian. Coba katakan, kalau Anda mendapati ada pencuri di rumah Anda, apa yang Anda lakukan? Menembaknya, bukan?”
      “Tidak,” seru sang Canon. “Tidak, tentu saja maksud saya tidak di negara ini.”
      Tapi ia berbicara, pada udara kosong belaka. Pintu gerbang terbanting membuka.
      Sang Canon, sang pengacara, dan sang dokter hanya bertiga.
      Sudut keempat itu sudah kosong.
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...