’Kau
sedang makan lilin,’ teriak kami.
’Aku yang menyuruhmu, aku yang
menyuruhmu,’ seru Annette sambil menari-nari.
“Sesaat Felicie tertegun. Lalu
perlahan-lahan dia menghampiri Annette.”
’... Jadi kau rupanya yang telah membuatku
diolok-olok? Sepertinya aku ingat. Ah! Akan kubunuh kau nanti.’
“Dia bicara sangat pelan, tapi
sekonyong-konyong Annate lari bersembunyi di belakang saya. ’Tolong aku, Raoul!
Aku takut pada Felicie. Tadi itu hanya gurauan, Felicie. Hanya gurauan.’
’Aku tidak suka gurauan-gurauan ini,’ kata
Felicie. ’Kalian mengerti? Aku benci kalian. Aku benci kalian semua.’
“Mendadak dia menangis dan lari pergi.
Saya rasa Annette menjadi takut akan hasil eksperimennya itu dan tidak mencoba mengulanginya.
Tapi, mulai hari itu, pengaruhnya terhadap Felicie sepertinya semakin kuat. Sekarang
saya yakin bahwa Felicie sejak dulu membenci Annette, tapi dia tak bisa
jauh-jauh dari Annette. Dia selalu mengikuti Annette ke mana-mana, seperti
anjing.”
“Tak lama sesudah itu, Tuan-tuan, saya
mendapat pekerjaan, dan saya pulang hanya sesekali, saat liburan. Keinginan
Annette menjadi penari tidak ditanggapi serius, tapi saat menanjak dewasa dia memiliki
suara yang sangat indah kalau menyanyi, dan Miss Slater setuju dia mendapatkan
pelatihan sebagai penyanyi.”
“Annette sama sekali tidak malas. Dia
berlatih dengan giat, tanpa istirahat. Miss Slater merasa perlu mencegahnya
berlatih begitu keras. Dia pernah bicara pada saya tentang Annette. ’Sejak dulu
kau menyukai Annette,’ katanya. ’Coba bujuk dia supaya tidak bekerja terlalu
keras. Belakangan ini dia suka batuk-batuk sedikit, gelagatnya tidak baik.’
“Tak lama kemudian pekerjaan saya membuat
saya banyak bepergian jauh. Mulanya saya masih menerima satu dua surat dari Annette,
tapi lalu berhenti sama sekali. Selama lima tahun kemudian, saya berada di luar
negeri.”
“Secara kebetulan, ketika kembali ke
Paris, perhatian saya tertarik pada sebuah poster tentang pertunjukan oleh
Annette Ravelli, berikut fotonya yang terpampang di situ. Saya langsung mengenalinya.
Malam itu saya menonton di teater yang disebutkan di poster tersebut. Annette
menyanyi dalam bahasa Prancis dan Italia. Dia sangat hebat di panggung. Selesai
pertunjukan saya menemuinya di ruang ganti. Dia langsung bersedia menerima
kedatangan saya.
’Ah, Raoul,’ serunya sambil mengulurkan
kedua tangannya yang putih pada saya. ’Sungguh menyenangkan. Ke mana saja kau
selama ini?’
“Saya ingin bercerita padanya, tapi dia
tidak benar-benar ingin mendengarkan.”
’Kau lihat, aku hampir mencapai
cita-citaku!’
“Dia membuat gerakan penuh kemenangan
dengan tangannya, menunjuk ruangan yang penuh buket-buket bunga.”
’... Miss Slater yang baik itu pasti
bangga dengan keberhasilanmu.’
’Si tua itu? Tidak. Dia mengarahkanku
untuk menjadi penyanyi Konservatoric. Penyanyi konser yang anggun. Tapi aku
seorang seniman. Di panggung campuran inilah aku bisa mengekspresikan diri.’
“Pada saat itu, seorang pria tampan
setengah baya masuk. Penampilannya sangat berwibawa. Dari sikapnya, dengan
segera saya mengerti bahwa dia pelindung Annette. Dia melirik saya, dan Annette
menjelaskan.
’... Ini teman masa kecilku. Dia sedang
lewat Paris, dan melihat fotoku di poster... et voila!’
“Setelah itu, pria tersebut jadi sangat
ramah dan sopan. Di depan saya dia mengeluarkan sebuah gelang bertatahkan batu
rubi dan berlian, dan memakaikannya di pergelangan tangan Annette. Ketika saya
bangkit untuk pergi, Annette melemparkan pandangan penuh kemenangan pada saya,
dan berbisik,
’Aku berhasil, bukan? Kaulihat? Seluruh
dunia terbentang di hadapanku.’
“Tapi ketika saya keluar dari ruangan itu,
saya dengar dia terbatuk-batuk; batuk kering yang tajam. Saya tahu apa artinya batuk
itu. Warisan diri ibunya yang menderita radang paru-paru. Saya bertemu lagi
dengannya dua tahun kemudian. Dia sudah kembali pada Miss Slater. Karirnya
telah hancur. Radang paru-parunya sudah mencapai tahap lanjut, dan
dokter-dokter mengatakan tak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya. Ah!
Saya takkan pernah melupakan keadaannya saat itu! Dia berbaring di semacam
tempat berteduh di kebun. Dia sengaja ditaruh di luar siang dan malam. Kedua
pipinya cekung dan merah, matanya berkilat-kilat oleh demam, dan dia batuk
berkali-kali. Dia menyapa saya dengan semacam sikap putus asa yang membuat saya
terperanjat.
’Senang bisa melihatmu lagi, Raoul. Kau
tahu apa kata mereka bahwa aku tidak akan sembuh? Mereka mengatakannya di
belakang punggungku, tahu? Di depanku mereka menunjukkan sikap menghibur dan
menenangkan. Tapi itu tidak benar, Raoul. Itu tidak benar! Takkan kubiarkan
diriku mati. Mati! Sementara hidup yang indah terbentang di hadapanku? Yang
penting adalah tekad untuk hidup. Itulah yang dikatakan dokter-dokter yang
hebat sekarang ini. Aku bukan jenis orang lemah yang akan mati begitu saja.
Sekarang ini pundakku sudah merasa jauh lebih baik... jauh lebih baik,
kaudengar?’
“Dia menopang tubuhnya di satu siku, untuk
menegaskan kata-katanya tadi, tapi lalu terjatuh oleh serangan batuk yang mengguncang
tubuhnya yang kurus.
’Batuk ini... bukan apa-apa,’ katanya
tersengal-sengal. ’Dan perdarahan-perdarahan itu tidak membuatku takut. Aku
akan memberikan kejutan pada dokter-dokter itu, tekad hiduplah yang penting.
Ingat, Raoul, aku akan tetap hidup.’
“Sungguh menyedihkan, amat sangat
menyedihkan. Pada saat itu Felicie Bault masuk membawa nampan, dengan segelas
susu panas. Dia memberikannya pada Annette dan mengawasi Annette meminumnya,
dengan ekspresi yang tidak dapat saya pahami. Semacam ekspresi puas dan
sombong.”
“Annette menangkap tatapan Felicie. Dia
melemparkan gelas itu dengan marah, hingga gelas itu pecah berkeping-keping.
’Kaulihat dia? Seperti itulah dia selalu
menatapku. Dia senang aku akan mati! Ya, dia senang sekali. Sebab dia sendiri
sehat dan kuat. Coba lihat dia. Tak pernah sakit sehari pun! Padahal apa gunanya
kesehatannya itu. Apa gunanya tubuhnya yang kuat itu? Apa dia bisa
memanfaatkannya?’
“Felicie membungkuk dan memunguti
pecahan-pecahan gelas tersebut.
’Aku tidak keberatan dengan ucapannya,’
katanya dengan suara merdu. ’Apa pentingnya? Aku gadis baik-baik. Dia
sendiri... tak lama lagi dia akan merasakan terbakar di Api Pencucian. Aku
orang Kristen yang baik, aku tidak akan bilang apa-apa.’
’Kau benci padaku,’ teriak Annette. ’Sejak
dulu kau membenciku. Ah! Tapi aku tetap bisa membuatmu terpesona. Aku bisa membuatmu
melakukan perintahku. Coba lihat sekarang, kalau kuminta, kau akan berlutut di
rumput, di hadapanku.’
’Omonganmu tidak masuk akal,’ kata Felicie
dengan gelisah.
’Ya, kau akan melakukannya. Kau akan
melakukannya. Untuk membuatku senang. Berlututlah, kuminta kau berlutut. Aku,
Annette. Berlututlah, Felicie.’
“Entah karena nada memohon yang menggugah dalam suara Annette,
atau karena motif yang lebih dalam, Felicie mematuhinya. Dia berlutut
perlahan-lahan, kedua lengannya terentang lebar, wajahnya kosong dan bodoh. Annette
tertawa terbahak-bahak berderai-derai.
