Agatha Christie - Anjing Kematian #16



’Kau sedang makan lilin,’ teriak kami.
      ’Aku yang menyuruhmu, aku yang menyuruhmu,’ seru Annette sambil menari-nari.

      “Sesaat Felicie tertegun. Lalu perlahan-lahan dia menghampiri Annette.”
      ’... Jadi kau rupanya yang telah membuatku diolok-olok? Sepertinya aku ingat. Ah! Akan kubunuh kau nanti.’
      “Dia bicara sangat pelan, tapi sekonyong-konyong Annate lari bersembunyi di belakang saya. ’Tolong aku, Raoul! Aku takut pada Felicie. Tadi itu hanya gurauan, Felicie. Hanya gurauan.’
      ’Aku tidak suka gurauan-gurauan ini,’ kata Felicie. ’Kalian mengerti? Aku benci kalian. Aku benci kalian semua.’
      “Mendadak dia menangis dan lari pergi. Saya rasa Annette menjadi takut akan hasil eksperimennya itu dan tidak mencoba mengulanginya. Tapi, mulai hari itu, pengaruhnya terhadap Felicie sepertinya semakin kuat. Sekarang saya yakin bahwa Felicie sejak dulu membenci Annette, tapi dia tak bisa jauh-jauh dari Annette. Dia selalu mengikuti Annette ke mana-mana, seperti anjing.”
      “Tak lama sesudah itu, Tuan-tuan, saya mendapat pekerjaan, dan saya pulang hanya sesekali, saat liburan. Keinginan Annette menjadi penari tidak ditanggapi serius, tapi saat menanjak dewasa dia memiliki suara yang sangat indah kalau menyanyi, dan Miss Slater setuju dia mendapatkan pelatihan sebagai penyanyi.”
      “Annette sama sekali tidak malas. Dia berlatih dengan giat, tanpa istirahat. Miss Slater merasa perlu mencegahnya berlatih begitu keras. Dia pernah bicara pada saya tentang Annette. ’Sejak dulu kau menyukai Annette,’ katanya. ’Coba bujuk dia supaya tidak bekerja terlalu keras. Belakangan ini dia suka batuk-batuk sedikit, gelagatnya tidak baik.’
      “Tak lama kemudian pekerjaan saya membuat saya banyak bepergian jauh. Mulanya saya masih menerima satu dua surat dari Annette, tapi lalu berhenti sama sekali. Selama lima tahun kemudian, saya berada di luar negeri.”
      “Secara kebetulan, ketika kembali ke Paris, perhatian saya tertarik pada sebuah poster tentang pertunjukan oleh Annette Ravelli, berikut fotonya yang terpampang di situ. Saya langsung mengenalinya. Malam itu saya menonton di teater yang disebutkan di poster tersebut. Annette menyanyi dalam bahasa Prancis dan Italia. Dia sangat hebat di panggung. Selesai pertunjukan saya menemuinya di ruang ganti. Dia langsung bersedia menerima kedatangan saya.
      ’Ah, Raoul,’ serunya sambil mengulurkan kedua tangannya yang putih pada saya. ’Sungguh menyenangkan. Ke mana saja kau selama ini?’
      “Saya ingin bercerita padanya, tapi dia tidak benar-benar ingin mendengarkan.”
      ’Kau lihat, aku hampir mencapai cita-citaku!’
      “Dia membuat gerakan penuh kemenangan dengan tangannya, menunjuk ruangan yang penuh buket-buket bunga.”
      ’... Miss Slater yang baik itu pasti bangga dengan keberhasilanmu.’
      ’Si tua itu? Tidak. Dia mengarahkanku untuk menjadi penyanyi Konservatoric. Penyanyi konser yang anggun. Tapi aku seorang seniman. Di panggung campuran inilah aku bisa mengekspresikan diri.’
      “Pada saat itu, seorang pria tampan setengah baya masuk. Penampilannya sangat berwibawa. Dari sikapnya, dengan segera saya mengerti bahwa dia pelindung Annette. Dia melirik saya, dan Annette menjelaskan.
      ’... Ini teman masa kecilku. Dia sedang lewat Paris, dan melihat fotoku di poster... et voila!’
      “Setelah itu, pria tersebut jadi sangat ramah dan sopan. Di depan saya dia mengeluarkan sebuah gelang bertatahkan batu rubi dan berlian, dan memakaikannya di pergelangan tangan Annette. Ketika saya bangkit untuk pergi, Annette melemparkan pandangan penuh kemenangan pada saya, dan berbisik,
      ’Aku berhasil, bukan? Kaulihat? Seluruh dunia terbentang di hadapanku.’
      “Tapi ketika saya keluar dari ruangan itu, saya dengar dia terbatuk-batuk; batuk kering yang tajam. Saya tahu apa artinya batuk itu. Warisan diri ibunya yang menderita radang paru-paru. Saya bertemu lagi dengannya dua tahun kemudian. Dia sudah kembali pada Miss Slater. Karirnya telah hancur. Radang paru-parunya sudah mencapai tahap lanjut, dan dokter-dokter mengatakan tak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya. Ah! Saya takkan pernah melupakan keadaannya saat itu! Dia berbaring di semacam tempat berteduh di kebun. Dia sengaja ditaruh di luar siang dan malam. Kedua pipinya cekung dan merah, matanya berkilat-kilat oleh demam, dan dia batuk berkali-kali. Dia menyapa saya dengan semacam sikap putus asa yang membuat saya terperanjat.
      ’Senang bisa melihatmu lagi, Raoul. Kau tahu apa kata mereka bahwa aku tidak akan sembuh? Mereka mengatakannya di belakang punggungku, tahu? Di depanku mereka menunjukkan sikap menghibur dan menenangkan. Tapi itu tidak benar, Raoul. Itu tidak benar! Takkan kubiarkan diriku mati. Mati! Sementara hidup yang indah terbentang di hadapanku? Yang penting adalah tekad untuk hidup. Itulah yang dikatakan dokter-dokter yang hebat sekarang ini. Aku bukan jenis orang lemah yang akan mati begitu saja. Sekarang ini pundakku sudah merasa jauh lebih baik... jauh lebih baik, kaudengar?’
      “Dia menopang tubuhnya di satu siku, untuk menegaskan kata-katanya tadi, tapi lalu terjatuh oleh serangan batuk yang mengguncang tubuhnya yang kurus.
      ’Batuk ini... bukan apa-apa,’ katanya tersengal-sengal. ’Dan perdarahan-perdarahan itu tidak membuatku takut. Aku akan memberikan kejutan pada dokter-dokter itu, tekad hiduplah yang penting. Ingat, Raoul, aku akan tetap hidup.’
      “Sungguh menyedihkan, amat sangat menyedihkan. Pada saat itu Felicie Bault masuk membawa nampan, dengan segelas susu panas. Dia memberikannya pada Annette dan mengawasi Annette meminumnya, dengan ekspresi yang tidak dapat saya pahami. Semacam ekspresi puas dan sombong.”
      “Annette menangkap tatapan Felicie. Dia melemparkan gelas itu dengan marah, hingga gelas itu pecah berkeping-keping.
      ’Kaulihat dia? Seperti itulah dia selalu menatapku. Dia senang aku akan mati! Ya, dia senang sekali. Sebab dia sendiri sehat dan kuat. Coba lihat dia. Tak pernah sakit sehari pun! Padahal apa gunanya kesehatannya itu. Apa gunanya tubuhnya yang kuat itu? Apa dia bisa memanfaatkannya?’
      “Felicie membungkuk dan memunguti pecahan-pecahan gelas tersebut.
      ’Aku tidak keberatan dengan ucapannya,’ katanya dengan suara merdu. ’Apa pentingnya? Aku gadis baik-baik. Dia sendiri... tak lama lagi dia akan merasakan terbakar di Api Pencucian. Aku orang Kristen yang baik, aku tidak akan bilang apa-apa.’
      ’Kau benci padaku,’ teriak Annette. ’Sejak dulu kau membenciku. Ah! Tapi aku tetap bisa membuatmu terpesona. Aku bisa membuatmu melakukan perintahku. Coba lihat sekarang, kalau kuminta, kau akan berlutut di rumput, di hadapanku.’
      ’Omonganmu tidak masuk akal,’ kata Felicie dengan gelisah.
      ’Ya, kau akan melakukannya. Kau akan melakukannya. Untuk membuatku senang. Berlututlah, kuminta kau berlutut. Aku, Annette. Berlututlah, Felicie.’
      “Entah karena nada memohon yang menggugah dalam suara Annette, atau karena motif yang lebih dalam, Felicie mematuhinya. Dia berlutut perlahan-lahan, kedua lengannya terentang lebar, wajahnya kosong dan bodoh. Annette tertawa terbahak-bahak berderai-derai.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...