“Untungnya
kasus itu dikategorikan sebagai kasus ’aneh’,” kata Sir George. “Kalau kasus
itu dikategorikan ’umum’, bisa semakin rumit lagi.”
“Kondisi itu memang sangat tidak normal,”
sang dokter sependapat. “Sayang sekali tidak bisa diadakan penelitian lebih lanjut
akibat kematian Felicie yang tak terduga.”
“Seingatku kematiannya juga agak aneh,”
kata Sir George perlahan-lahan.
Dr. Campbell Dark mengangguk.
“Peristiwanya sangat misterius. Gadis itu
ditemukan tewas di tempat tidurnya, pada suatu pagi. Jelas dia mati dicekik.
Tapi, yang mengejutkan semua orang, kelak terbukti tanpa keraguan sedikit pun,
bahwa dia telah mencekik dirinya sendiri. Bekas-bekas di lehernya adalah
bekas-bekas jemarinya sendiri. Cara bunuh diri seperti itu, walau secara fisik
sebenanya tak mungkin dilakukan, pasti membutuhkan kekuatan otot yang luar
biasa, dan tekad yang hampir-hampir di luar batas kemampuan manusia. Tak pernah
diketahui, apa yang menyebabkan gadis itu berbuat demikian. Memang keseimbangan
mentalnya selama itu patut dipertanyakan. Tapi tetap saja kasusnya dianggap
misterius. Tapi misteri tentang Felicie Bault sudah tak bakal bisa terungkap
sekarang.”
Pada saat itulah pria di sudut ujung sana
tertawa.
Ketiga orang lainnya terlonjak bagai
ditembak. Mereka sama sekali sudah lupa akan kehadiran orang keempat itu di
antara mereka. Sementara mereka tertegun memandangnya, pria itu tertawa lagi,
masih meringkuk dalam balutan mantelnya.
“Maafkan saya, Tuan-tuan,” katanya dengan
bahasa Inggris yang sempurna, namun menyiratkan sedikit nada asing. Ia duduk
tegak, memperlihatkan wajahnya yang pucat, dengan kumis kecil hitam pekat.
“Ya, maafkan saya,” katanya sambil
membungkuk dengan gaya dibuat-buat. “Tapi... ah! Dalam ilmu pengetahuan, adakah
yang namanya kata penutup?”
“Anda tahu sesuatu tentang kasus yang
sedang kami bicarakan ini?” tanya Dr. Campbell Dark dengan sopan.
“Tentang kasus itu? Tidak. Tapi saya kenal
dia.”
“Felicie Bault?”
“Ya. Dan Annette Ravel juga … Rupanya Anda
sekalian belum pernah mendengar tentang Annette Ravel? Padahal cerita tentang
mereka saling berkaitan. Percayalah, Anda tidak tahu apa-apa tentang Felicie
Bault kalau tidak tahu tentang sejarah Annette Ravel juga.”
Ia mengeluarkan arlojinya dan melihatnya.
“Setengah jam lagi kereta tiba di stasiun
berikutnya. Saya punya waktu untuk menceritakan kisahnya itu kalau Anda
sekalian berminat mendengarnya?”
“Silakan menceritakan pada kami,” kata
sang dokter dengan suara pelan.
“Dengan senang hati,” kata sang Canon.
“Dengan senang hati.”
Sir George Durand sekadar menunjukkan
sikap penuh perhatian, sebagai jawaban.
Maka penghuni pojok keempat itu pun memulai
ceritanya.
“Nama saya, Tuan-tuan, adalah Raoul
Letardeau. Tadi Anda menyebut-nyebut seorang wanita Inggris yang membaktikan
dirinya untuk pekerjaan amal. Miss Slater. Saya dilahirkan di desa nelayan di
Brittany itu. Ketika kedua orangtua saya meninggal dalam kecelakaan kereta api,
Miss Slater-lah yang menyelamatkan dan menolong saya, sehingga saya tidak
dimasukkan ke rumah yatim piatu semacam yang Anda kenal di Inggris. Ada sekitar
dua puluh orang anak yang diasuhnya, anak-anak laki-laki dan perempuan. Di antara
anak-anak itu adalah Felicie Bault dan Annette Ravel. Kalau Anda tak bisa
memahami kepribadian Annette, Tuan-tuan, maka Anda tidak akan memahami apa-apa.
Dia anak hasil hubungan cinta seorang wanita dengan kekasihnya, yang kemudian
ditinggalkan dan meninggal karena radang paru-paru. Ibunya dulu seorang penari,
dan Annette juga ingin menjadi penari. Saya pertama kali mengenalnya ketika dia
berusia sebelas tahun, seorang gadis kecil dengan sepasang mata menyorotkan
ejekan, namun sekaligus menjanjikan makhluk kecil yang lincah dan penuh
semangat hidup. Dan dengan segera, ya, dengan segera dia membuat saya menjadi budaknya.
Dia selalu menyuruh-nyuruh saya, ’Raoul, lakukan ini.’ ’Raoul, lakukan itu.’
Dan saya, saya mematuhinya. Belum apa-apa saya sudah memujanya, dan dia tahu
itu. Kami suka pergi ke tepi pantai, bertiga. Ya, kami bertiga... sebab Felicie
selalu ikut dengan kami. Di pantai, Annette akan melepaskan sepatu dan
stokingnya, lalu menari di hamparan pasir. Setelah lelah menari, dia akan menjatuhkan
diri dengan terengah-engah, lalu menceritakan pada kami tentang impiannya. ’Kalian lihat nanti, aku akan terkenal. Ya,
amat sangat terkenal. Aku akan memiliki ratusan dan ribuan stoking dari
sutra-sutra yang paling halus. Dan aku akan tinggal di apartemen yang indah.
Semua kekasihku muda, tampan, dan kaya. Dan kalau aku menari, seantero Paris
akan datang menontonku. Mereka akan berseru-seru, memanggil-manggil,
berteriak-teriak, dan kesetanan melihatku menari. Dan di musim-musim dingin aku
tidak akan menari. Aku akan pergi ke selatan, yang hangat oleh matahari. Di
sana ada vila-vila dengan pohon-pohon jeruk. Aku akan memiliki satu di antaranya.
Aku akan berbaring berjemur di bantal-bantal sutra, sambil makan jeruk. Dan
kau, Raoul, aku tidak akan pernah melupakanmu, walaupun aku sudah kaya dan
terkenal. Aku akan melindungimu dan membantu memajukan kariermu. Felicie akan menjadi
pelayanku, tidak, kedua tangannya terlalu canggung. Coba perhatikan, betapa
besar dan kasar tangan-tangannya itu.’
Felicie akan marah kalau mendengar Annette mengatakan itu. tapi Annate
terus menggodanya.”
“Dia begitu anggun, kan, si
Felicie? Begitu elegan, begitu halus. Dia seperti putri yang sedang menyamar,
ha.. ha...”
“Setidaknya ayah dan ibuku menikah, tidak seperti orang tuamu,”
Felicie akan menggeram dengan marah.
“Ya, dan ayahmu membunuh ibumu. Bagus sekali, menjadi anak pembunuh.”
“Ayahmu sendiri meninggalkan ibumu sampai mati,” balas Felicie.
“Ah! Ya.” Annette merenungkan hal itu. “Pauvre Maman, ibu yang
malang. Orang memang mesti kuat dan sehat. Kuat dan sehat itu penting sekali.”
“Aku kuat seperti kuda,” Felicie membanggakan.
“Dan memang kuat seperti kuda. Tenaganya
dua kali lipat dari tenaga gadis mana pun di rumah itu. Dan dia tidak pernah
sakit. Tapi dia bodoh sekali, bodoh seperti binatang buas. Saya seringkali
merasa heran, kenapa dia selalu mengikuti Annette ke mana-mana. Dia seperti
terpesona. Kadang-kadang saya pikir dia sebenarnya benci pada Annette, dan
memang Annette jahat kepadanya. Dia suka mengejek kelambanan dan kebodohan
Felicie, dan suka memancing-mancingnya di depan anak-anak lain. Saya pernah
melihat Felicie pucat pasi karena marah. Kadang saya mengira dia akan
mencengkeramkan jemarinya di leher Annette dan mencekik Annette sampai mati.
Dia tidak cukup cerdas untuk menjawab ejekan-ejekan Annette, tapi akhinya dia
belajar membalas dengan satu ucapan yang selalu mengena. Yaitu dengan menyebutkan
kesehatan dan kekuatannya. Dia akhirnya menyadari (sementara saya sendiri sudah
lama tahu) bahwa Annette iri akan fisiknya yang kuat, dan secara naluriah dia
menyerang titik lemah lawannya ini.”
“Suatu hari Annette mendatangi saya dengan
sangat gembira. ’Raoul,’ katanya. ’Hari ini kita akan bersenang-senang dengan
si tolol Felicie itu. Kita akan mati tertawa.’ ... Apa yang akan kaulakukan? ’... Ayo kita ke gudang kecil itu, nanti
kuceritakan.’ Rupanya Annette menemukan sebuah buku. Sebagian isinya tidak dia
pahami, dan memang isi buku itu terlalu berat untuknya. Buku itu sebuah buku
lama tentang hipnotis.”
“Objek yang terang, menurut buku ini.
Tombol kuningan di tempat tidurku bisa berputar. Aku menyuruh Felicie
memandanginya semalam. ’Pandangi terus,’ kataku. ’Jangan mengalihkan matamu
dari situ.’ Lalu aku memutarnya. Raoul,
aku takut sekali. Kedua matanya kelihatan sangat aneh. ’Felicie, kau akan
selalu menuruti perintahku,’ kataku. '’Aku akan selalu menuruti perintahmu,
Annette,’ jawabnya. Lalu... lalu... aku berkata, ’Besok kau akan membawa
sebatang lilin ke lapangan bermain pada jam dua belas siang, dan mulai
memakannya. Kalau ada yang bertanya, kau akan bilang bahwa lilin itu adalah
gazette paling enak yang pernah kaucicipi. ’Oh! Raoul, coba bayangkan!’ ... ’Tapi
dia tidak bakal mau berbuat begitu,’ kata saya.
“Di buku itu dikatakan demikian. Aku
sendiri tidak benar-benar percaya... tapi,
oh! Raoul, kalau apa yang dikatakan buku itu benar, kita bisa tertawa
habis-habisan hari ini.
“Saya juga menganggap gagasan itu sangat
lucu. Kami menyebarkan berita itu pada anak-anak lainnya, dan pada jam dua belas
siang, kami semua berkumpul di lapangan bermain. Tepat waktu sampai ke
menit-menitnya, Felicie keluar dengan membawa sepotong lilin di tangannya.
Bisakah Anda sekalian mempercayainya, Messieurs, dia mulai menggigiti lilin itu
dengan takzim? Kami semua tertawa terbahak-bahak! Sesekali salah seorang anak
akan mendekatinya dan berkata dengan takzim, ’Enak, ya, apa yang kaumakan itu,
Felicie?’ Dan dia akan menjawab ’Ya, ini gazette paling enak yang pernah
kucicipi.’ Lalu kami semua tertawa lagi terbahak-bahak. Rupanya kami tertawa
begitu keras, hingga akhirnya membuat Felicie tersadar akan apa yang sedang dilakukannya.
Dia mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung, memandangi lilin itu, lalu
memandangi kami. Dia menempelkan tangan di dahinya.
’Apa yang sedang kulakukan di sini?’
gumamnya.
