Agatha Christie - Anjing Kematian #15


“Untungnya kasus itu dikategorikan sebagai kasus ’aneh’,” kata Sir George. “Kalau kasus itu dikategorikan ’umum’, bisa semakin rumit lagi.”

      “Kondisi itu memang sangat tidak normal,” sang dokter sependapat. “Sayang sekali tidak bisa diadakan penelitian lebih lanjut akibat kematian Felicie yang tak terduga.”
      “Seingatku kematiannya juga agak aneh,” kata Sir George perlahan-lahan.
      Dr. Campbell Dark mengangguk.
      “Peristiwanya sangat misterius. Gadis itu ditemukan tewas di tempat tidurnya, pada suatu pagi. Jelas dia mati dicekik. Tapi, yang mengejutkan semua orang, kelak terbukti tanpa keraguan sedikit pun, bahwa dia telah mencekik dirinya sendiri. Bekas-bekas di lehernya adalah bekas-bekas jemarinya sendiri. Cara bunuh diri seperti itu, walau secara fisik sebenanya tak mungkin dilakukan, pasti membutuhkan kekuatan otot yang luar biasa, dan tekad yang hampir-hampir di luar batas kemampuan manusia. Tak pernah diketahui, apa yang menyebabkan gadis itu berbuat demikian. Memang keseimbangan mentalnya selama itu patut dipertanyakan. Tapi tetap saja kasusnya dianggap misterius. Tapi misteri tentang Felicie Bault sudah tak bakal bisa terungkap sekarang.”
      Pada saat itulah pria di sudut ujung sana tertawa.
      Ketiga orang lainnya terlonjak bagai ditembak. Mereka sama sekali sudah lupa akan kehadiran orang keempat itu di antara mereka. Sementara mereka tertegun memandangnya, pria itu tertawa lagi, masih meringkuk dalam balutan mantelnya.
      “Maafkan saya, Tuan-tuan,” katanya dengan bahasa Inggris yang sempurna, namun menyiratkan sedikit nada asing. Ia duduk tegak, memperlihatkan wajahnya yang pucat, dengan kumis kecil hitam pekat.
      “Ya, maafkan saya,” katanya sambil membungkuk dengan gaya dibuat-buat. “Tapi... ah! Dalam ilmu pengetahuan, adakah yang namanya kata penutup?”
      “Anda tahu sesuatu tentang kasus yang sedang kami bicarakan ini?” tanya Dr. Campbell Dark dengan sopan.
      “Tentang kasus itu? Tidak. Tapi saya kenal dia.”
      “Felicie Bault?”
      “Ya. Dan Annette Ravel juga … Rupanya Anda sekalian belum pernah mendengar tentang Annette Ravel? Padahal cerita tentang mereka saling berkaitan. Percayalah, Anda tidak tahu apa-apa tentang Felicie Bault kalau tidak tahu tentang sejarah Annette Ravel juga.”
      Ia mengeluarkan arlojinya dan melihatnya.
      “Setengah jam lagi kereta tiba di stasiun berikutnya. Saya punya waktu untuk menceritakan kisahnya itu kalau Anda sekalian berminat mendengarnya?”
      “Silakan menceritakan pada kami,” kata sang dokter dengan suara pelan.
      “Dengan senang hati,” kata sang Canon. “Dengan senang hati.”
      Sir George Durand sekadar menunjukkan sikap penuh perhatian, sebagai jawaban.
      Maka penghuni pojok keempat itu pun memulai ceritanya.
      “Nama saya, Tuan-tuan, adalah Raoul Letardeau. Tadi Anda menyebut-nyebut seorang wanita Inggris yang membaktikan dirinya untuk pekerjaan amal. Miss Slater. Saya dilahirkan di desa nelayan di Brittany itu. Ketika kedua orangtua saya meninggal dalam kecelakaan kereta api, Miss Slater-lah yang menyelamatkan dan menolong saya, sehingga saya tidak dimasukkan ke rumah yatim piatu semacam yang Anda kenal di Inggris. Ada sekitar dua puluh orang anak yang diasuhnya, anak-anak laki-laki dan perempuan. Di antara anak-anak itu adalah Felicie Bault dan Annette Ravel. Kalau Anda tak bisa memahami kepribadian Annette, Tuan-tuan, maka Anda tidak akan memahami apa-apa. Dia anak hasil hubungan cinta seorang wanita dengan kekasihnya, yang kemudian ditinggalkan dan meninggal karena radang paru-paru. Ibunya dulu seorang penari, dan Annette juga ingin menjadi penari. Saya pertama kali mengenalnya ketika dia berusia sebelas tahun, seorang gadis kecil dengan sepasang mata menyorotkan ejekan, namun sekaligus menjanjikan makhluk kecil yang lincah dan penuh semangat hidup. Dan dengan segera, ya, dengan segera dia membuat saya menjadi budaknya. Dia selalu menyuruh-nyuruh saya, ’Raoul, lakukan ini.’ ’Raoul, lakukan itu.’ Dan saya, saya mematuhinya. Belum apa-apa saya sudah memujanya, dan dia tahu itu. Kami suka pergi ke tepi pantai, bertiga. Ya, kami bertiga... sebab Felicie selalu ikut dengan kami. Di pantai, Annette akan melepaskan sepatu dan stokingnya, lalu menari di hamparan pasir. Setelah lelah menari, dia akan menjatuhkan diri dengan terengah-engah, lalu menceritakan pada kami tentang impiannya. ’Kalian lihat nanti, aku akan terkenal. Ya, amat sangat terkenal. Aku akan memiliki ratusan dan ribuan stoking dari sutra-sutra yang paling halus. Dan aku akan tinggal di apartemen yang indah. Semua kekasihku muda, tampan, dan kaya. Dan kalau aku menari, seantero Paris akan datang menontonku. Mereka akan berseru-seru, memanggil-manggil, berteriak-teriak, dan kesetanan melihatku menari. Dan di musim-musim dingin aku tidak akan menari. Aku akan pergi ke selatan, yang hangat oleh matahari. Di sana ada vila-vila dengan pohon-pohon jeruk. Aku akan memiliki satu di antaranya. Aku akan berbaring berjemur di bantal-bantal sutra, sambil makan jeruk. Dan kau, Raoul, aku tidak akan pernah melupakanmu, walaupun aku sudah kaya dan terkenal. Aku akan melindungimu dan membantu memajukan kariermu. Felicie akan menjadi pelayanku, tidak, kedua tangannya terlalu canggung. Coba perhatikan, betapa besar dan kasar tangan-tangannya itu.’  Felicie akan marah kalau mendengar Annette mengatakan itu. tapi Annate terus menggodanya.”
     
“Dia begitu anggun, kan, si Felicie? Begitu elegan, begitu halus. Dia seperti putri yang sedang menyamar, ha.. ha...”
        “Setidaknya ayah dan ibuku menikah, tidak seperti orang tuamu,” Felicie akan menggeram dengan marah.
        “Ya, dan ayahmu membunuh ibumu. Bagus sekali, menjadi anak pembunuh.”
        “Ayahmu sendiri meninggalkan ibumu sampai mati,” balas Felicie.
        “Ah! Ya.” Annette merenungkan hal itu. “Pauvre Maman, ibu yang malang. Orang memang mesti kuat dan sehat. Kuat dan sehat itu penting sekali.”
        “Aku kuat seperti kuda,” Felicie membanggakan.
      “Dan memang kuat seperti kuda. Tenaganya dua kali lipat dari tenaga gadis mana pun di rumah itu. Dan dia tidak pernah sakit. Tapi dia bodoh sekali, bodoh seperti binatang buas. Saya seringkali merasa heran, kenapa dia selalu mengikuti Annette ke mana-mana. Dia seperti terpesona. Kadang-kadang saya pikir dia sebenarnya benci pada Annette, dan memang Annette jahat kepadanya. Dia suka mengejek kelambanan dan kebodohan Felicie, dan suka memancing-mancingnya di depan anak-anak lain. Saya pernah melihat Felicie pucat pasi karena marah. Kadang saya mengira dia akan mencengkeramkan jemarinya di leher Annette dan mencekik Annette sampai mati. Dia tidak cukup cerdas untuk menjawab ejekan-ejekan Annette, tapi akhinya dia belajar membalas dengan satu ucapan yang selalu mengena. Yaitu dengan menyebutkan kesehatan dan kekuatannya. Dia akhirnya menyadari (sementara saya sendiri sudah lama tahu) bahwa Annette iri akan fisiknya yang kuat, dan secara naluriah dia menyerang titik lemah lawannya ini.”
      “Suatu hari Annette mendatangi saya dengan sangat gembira. ’Raoul,’ katanya. ’Hari ini kita akan bersenang-senang dengan si tolol Felicie itu. Kita akan mati tertawa.’ ... Apa yang akan kaulakukan? ’... Ayo kita ke gudang kecil itu, nanti kuceritakan.’ Rupanya Annette menemukan sebuah buku. Sebagian isinya tidak dia pahami, dan memang isi buku itu terlalu berat untuknya. Buku itu sebuah buku lama tentang hipnotis.”
      “Objek yang terang, menurut buku ini. Tombol kuningan di tempat tidurku bisa berputar. Aku menyuruh Felicie memandanginya semalam. ’Pandangi terus,’ kataku. ’Jangan mengalihkan matamu dari situ.’ Lalu aku memutarnya. Raoul, aku takut sekali. Kedua matanya kelihatan sangat aneh. ’Felicie, kau akan selalu menuruti perintahku,’ kataku. '’Aku akan selalu menuruti perintahmu, Annette,’ jawabnya. Lalu... lalu... aku berkata, ’Besok kau akan membawa sebatang lilin ke lapangan bermain pada jam dua belas siang, dan mulai memakannya. Kalau ada yang bertanya, kau akan bilang bahwa lilin itu adalah gazette paling enak yang pernah kaucicipi. ’Oh! Raoul, coba bayangkan!’ ... ’Tapi dia tidak bakal mau berbuat begitu,’ kata saya.
      “Di buku itu dikatakan demikian. Aku sendiri tidak benar-benar percaya... tapi, oh! Raoul, kalau apa yang dikatakan buku itu benar, kita bisa tertawa habis-habisan hari ini.
      “Saya juga menganggap gagasan itu sangat lucu. Kami menyebarkan berita itu pada anak-anak lainnya, dan pada jam dua belas siang, kami semua berkumpul di lapangan bermain. Tepat waktu sampai ke menit-menitnya, Felicie keluar dengan membawa sepotong lilin di tangannya. Bisakah Anda sekalian mempercayainya, Messieurs, dia mulai menggigiti lilin itu dengan takzim? Kami semua tertawa terbahak-bahak! Sesekali salah seorang anak akan mendekatinya dan berkata dengan takzim, ’Enak, ya, apa yang kaumakan itu, Felicie?’ Dan dia akan menjawab ’Ya, ini gazette paling enak yang pernah kucicipi.’ Lalu kami semua tertawa lagi terbahak-bahak. Rupanya kami tertawa begitu keras, hingga akhirnya membuat Felicie tersadar akan apa yang sedang dilakukannya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung, memandangi lilin itu, lalu memandangi kami. Dia menempelkan tangan di dahinya.
      ’Apa yang sedang kulakukan di sini?’ gumamnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...