Dokter
Campbell melanjutkan. “Apa kita bahkan bisa yakin bahwa cuma ada satu roh dalam
tubuh manusia, apa tidak mungkin ada lebih dari satu roh?”
“Lebih dari satu roh?” tanya Sir George
Durand sambil mengangkat alisnya dengan heran.
“Ya.” Dr. Campbell Clark mengalihkan
pandang kepadanya. Ia mencondongkan tubuh ke depan dan mengetuk pelan dada pengacara
itu. “Apa Anda begitu yakin,” katanya dengan sungguhsungguh, “bahwa hanya ada
satu penghuni di dalam struktur ini, sebab tubuh kita ini memang cuma suatu
struktur di dalam hunian menyenangkan untuk diisi selama tujuh, dua puluh satu,
empat puluh satu, tujuh puluh satu, atau entah berapa lama tahun ini? Dan pada
akhirnya si penghuni itu mengeluarkan barang-barangnya sedikit demi sedikit
lalu meninggalkan rumah itu sepenuhnya, maka runtuhlah rumah itu, menjadi
puing-puing dan rongsokan. Anda adalah sang tuan rumah. Kita akui itu. Tapi
apakah Anda tidak pernah menyadari kehadiran yang lain-lainnya? Para pelayan dengan
langkah-langkah kaki yang tidak kedengaran, hampir-hampir tak pernah
diperhatikan, kalau bukan karena pekerjaan yang mereka lakukan, pekerjaan yang
tidak Anda sadari telah dilakukan? Atau kehadiran teman-teman berbagai suasana
hati yang memengaruhi Anda dan membuat Anda, untuk sementara menjadi orang yang
berbeda, seperti kata pepatah? Anda adalah raja di kastil itu, memang benar,
tapi yakinlah bahwa di sana pun ada ’si bajingan kotor’.”
“Clark yang baik,” kata Sir George, “Anda
membuatku menjadi sangat tidak nyaman. Apa benar pikiranku ini merupakan medan pertempuran
dari sekian banyak kepribadian yang saling bertentangan? Begitukah penemuan
terbaru ilmu pengetahuan?”
Giliran sang dokter angkat bahu.
“Tubuh kita jelas merupakan medan
pertempuran,” katanya dengan nada datar. “Kalau bisa terjadi pada tubuh, kenapa
tidak pada pikiran juga?”
“Menarik sekali,” kata Canon Parfitt. “Ah!
Ilmu pengetahuan yang luar biasa, luar biasa.” Dan dalam hati ia berpikir, “Aku
bisa menjadikan topik itu bahan khotbah yang sangat menarik.”
Namun Dr. Campbell sudah bersandar di
tempat duduknya, semangatnya yang berapi-api tadi sudah terpuaskan.
“Sebenarnya ada kasus kepribadian ganda
yang membawaku ke Newcastle malam ini,” katanya dengan sikap profesional yang tenang.
“Kasus yang sangat menarik. Pengidap neurotik, tentu saja. Tapi ini sungguhan,
tidak dibuat-buat.”
“Kepribadian ganda,” kata Sir George
Durand sambil berpikir. “Menurutku itu tidak terlalu istimewa. Pasti ada
kehilangan memori juga, bukan? Aku tahu masalah itu muncul dalam kasus di Pengadilan
Penetapan Ahli Waris waktu itu.”
Dr. Clark mengangguk.
“Tapi kasus klasik tentang kepribadian
ganda adalah kasus Felicie Bault. Anda mungkin ingat pernah mendengarnya?”
katanya.
“Tentu saja,” kata Canon Parfitt. “Aku
ingat pernah membaca tentang kasus itu di surat-surat kabar, tapi itu sudah
lama sekali sekitar tujuh tahun yang lalu.”
Dr. Campbell Clark mengangguk.
“Gadis itu menjadi salah satu tokoh paling
terkenal di Prancis. Para ilmuwan dari seluruh dunia datang ingin melihatnya.
Dia memiliki empat kepribadian, yang dikenal sebagai Felicie 1. Felicie 2. Felicie
3, dan seterusnya.”
“Bukankah ada dugaan semuanya itu tipuan
belaka?” tanya Sir George dengan waspada.
“Kepribadian Felicie 3 dan Felicie 4
memang agak meragukan,” sang dokter mengakui. “Tapi takta-fakta utamanya tetap
diterima.
Felicie Bault adalah seorang gadis petani
dari Brittany. Dia anak ketiga dari lima bersaudara, ayahnya pemabuk dan ibunya
mengalami kelainan mental. Suatu ketika, saat berada di bawah pengaruh minuman
keras, si ayah mencekik sang ibu dan, seingatku, dipenjara seumur hidup. Waktu
itu Felicie berumur lima tahun. Oleh beberapa orang yang tergerak memperhatikan
nasib anak-anak, Felicie diambil dan dibesarkan serta dididik oleh seorang
wanita Inggris yang tidak menikah, yang memiliki semacam rumah untuk anak-anak
miskin. Tapi tidak banyak yang bisa dilakukannya terhadap Felicie. Menurut
penuturannya, gadis itu amat sangat lamban dan bodoh, hanya bisa diajari
membaca dan menulis dengan susah payah, dan sangat canggung menggunakan tangannya.
Wanita ini, Miss Slater, mencoba mengajari gadis itu untuk bekerja sebagal
pembantu, dan berhasil mencarikan beberapa lowongan kerja untuknya, setelah dia
cukup umur. Tapi dia tak pernah bertahan lama di mana pun, karena kebodohannya
dan kemalasannya yang luar biasa.”
Sang dokter berhenti bercerita sejenak.
Sang Canon, yang tengah menyilangkan kembali kakinya dan mengatur letak selimutnya
agar lebih rapat menutupi tubuhnya, sekonyong-konyong menyadari bahwa laki-laki
yang duduk berhadapan dengannya bergerak sedikit. Kedua matanya, yang tadi
terpejam, sekarang terbuka dan ada sesuatu dalam sorot mata itu, sesuatu yang
menyiratkan ejekan dan kesan tak terlukiskan yang membuat sang Canon terkejut.
Laki laki itu seakan-akan tengah mendengarkan percakapan mereka, dan diam-diam
merasakan kepuasan yang jahat akan apa yang didengarnya.
“Ada sebuah foto Felicie Bault yang
diambil saat dia berumur tujuh belas tahun,” sang dokter melanjutkan. “Dalam
foto itu, dia tampak sebagai seorang gadis petani yang kasar dan kekar. Tak ada
apa pun dalam foto itu yang menunjukkan bahwa kelak dia akan menjadi salah satu
orang paling terkenal di Prancis.”
“Lima tahun kemudian, ketika berumur 22
tahun, Felicie Bault mengalami sakit saraf yang parah, dan saat dia berangsur
sembuh, fenomena aneh itu mulai menampakkan diri. Berikut ini adalah fakta-fakta
yang telah dibuktikan kebenarannya oleh banyak ilmuwan terkemuka. Kepribadian
yang disebut Felicie l sama sekali tak
bisa dibedakan dari Felicie Bault selama dua puluh dua tahun belakangan ini.
Felicie l tidak bisa menulis dengan baik dalam bahasa Prancis, tidak bisa
bicara bahasa asing apa pun, dan tidak bisa main piano. Sebaliknya, Felicie 2 bisa berbahasa Italia dengan sangat
fasih dan cukup mahir berbahasa Jerman. Tulisan tangannya sangat berbeda dari
tulisan tangan Felicie 1, dan dia bisa menulis dengan lancar dan ekspresif
dalam bahasa Prancis. Dia bisa membahas topik-topik politik dan seni, dan
sangat suka main piano. Felicie 3
banyak punya kemiripan dengan Felicie 2. Dia cerdas, dan kelihatannya
berpendidikan baik, tapi karakter moralnya sangat berlawanan. Tampaknya dia
sosok yang benar-benar tak bermoral, tapi tak bermoral ala Paris, bukan secara
kampungan. Dia tahu semua jargon-jargon Paris dan cara berbicara seorang demi monde yang chic. Bahasanya kotor, dan dia suka mencerca agama serta orang-orang
terhormat dengan istilah-istilah yang sangat kasar. Lalu ada kepribadian Felicie 4 sosok pemimpi yang
hampir-hampir setengah idiot, amat sangat alim dan kabarnya punya kemampuan supranatural,
tapi kepribadian keempat ini sangat tidak memuaskan, tidak jelas, dan kadang
kadang dianggap merupakan tipuan yang sengaja ditampilkan oleh Felicie 3,
semacam lelucon yang dimainkannya pada publik yang tidak menaruh curiga. Aku berani
bilang bahwa (mungkin dengan perkecualian terhadap Felicie 4) masing-masing
kepribadian itu sama menonjolnya, saling terpisah, dan tidak saling mengenal.
Felide 2 jelas merupakan yang paling dominan dan kadang-kadang bisa bertahan
sampai dua minggu, setiap kali muncul. Kemudian Felicie l akan muncul sebentar
selama sehari dua hari. Setelah itu barangkali Felicie 3 atau 4, tapi yang dua
ini jarang bertahan selama lebih dari beberapa jam. Setiap perubahan
kepribadian selalu disertai dengan sakit kepala yang amat sangat dan tidur
lelap, dan dalam setiap kasus selalu ada kehilangan ingatan total terhadap
keadaan-keadaan sebelumnya; kepribadian yang sedang muncul itu meneruskan
episode dari kemunculan sebelumnya, tidak sadar akan waktu yang berlalu.”
“Menakjubkan,” gumam sang Canon. “Sangat
menakjubkan. Sampai sekarang boleh dibilang kita tidak tahu apa-apa tentang keajaiban-keajaiban
di alam semesta ini.”
“Tapi kita tahu bahwa di alam semesta ini
ada penipu-penipu yang sangat cerdik,” kata Sir George dengan nada datar.
“Kasus Felicie Bault ini diselidiki oleh
para pengacara, dokter-dokter, dan ilmuwan-ilmuwan.” Dr. Campbell Dark
cepat-cepat berkata. “Anda sekalian tentu ingat, Maitre Quimbellier mengadakan
penyelidikan yang sangat saksama, dan mengonfirmasikan pandangan-pandangan para
ilmuwan tersebut. Bagaimanapun, kenapa kita mesti seterkejut itu sebenarnya? Bukankah
kita tahu ada telur yang punya kuning telur ganda? Dan pisang kembar? Kenapa
tak mungkin ada jiwa ganda... di dalam satu tubuh?”
“Jiwa ganda?” protes sang Canon.
Dr. Campbell Dark mengalihkan tatapan mata
birunya yang tajam pada Canon Parfitt.
“Bagaimana lagi kita mesti menyebutnya? Itu kalau seandainya...
kepribadian bisa dianggap jiwa?”
