Agatha Christie - Anjing Kematian #46



Settle menggelengkan kepala.
      “Kita mesti membawanya ke rumah,” kataku sambil melangkah maju.
      Sir Arthur menatapku, dan Phyllis memperkenalkanku. “Ini Dr. Carstairs, yang sedang berkunjung di sini.”

      Kami menopang Arthur di kiri-kanan dan mulai melangkah ke arah rumah. Namun sekonyong-konyong ia mengangkat wajah, seperti baru teringat sesuatu. “Omong-omong, Dokter, ini tidak bakal membuatku berhalangan untuk tanggal 12, kan?”
      “Tanggal 12?” kataku perlahan-lahan. “Maksud Anda tanggal 12 Agustus?”
      “Ya... hari Jumat minggu depan.”
      “Hari ini tanggal 14 September,” kata Settle lekas-lekas. Sir Arthur jelas tampak kebingungan.
      “Tapi... tapi kupikir sekarang ini tanggal 8 Agustus? Berarti aku sakit selama itu?”
      Phyllis menyela agak tergesa-gesa dengan suaranya yang lembut. “Ya,” katanya. “Kau sakit sangat parah.”
      Sir Arthur mengerutkan kening. “Aku tidak mengerti. Aku sehat-sehat saja ketika pergi tidur semalam... tapi mungkin tidak benar-benar semalam. Aku banyak bermimpi. Aku ingat, mimpi-mimpi ..”
      Kerutan di keningnya semakin dalam saat ia berusaha mengingat-ingat.
      “Ada sesuatu... apa ya? Sesuatu yang mengerikan... seseorang telah melakukannya terhadapku... dan aku marah... amat sangat marah…. Kemudian aku bermimpi menjadi kucing - ya, kucing. Lucu, kan? Tapi mimpi itu sama sekali tidak lucu. Mengerikan malah! Tapi aku tak ingat. Semuanya lenyap begitu saja jika aku memikirkannya.”
      Kutaruh satu tanganku di bahunya. “Jangan coba memikirkannya, Sir Arthur,” kataku dengan sungguh-sungguh. “Lupakan sajalah.”
      Ia memandangku dengan ekspresi bingung, kemudian mengangguk. Kudengar Phyllis menarik napas lega. Kami sudah tiba di rumah.
      “Omong-omong,” kata Sir Arthur dengan tiba-tiba, “di mana ibu?”
      “Oh, dia... sakit,” kata Phyllis setelah diam sejenak.
      “Oh, ibu yang malang!” suara Sir Arthur benar-benar menyiratkan nada cemas yang tulus. “Di mana dia? Ada di kamarnya?”
      “Ya,” kataku, “tapi sebaiknya Anda tidak mengganggu ...” Kalimatku terhenti di bibir. Pintu ruang duduk terbuka, dan Lady Carmichael melangkah ke luar, mengenakan mantel kamarnya. Matanya terpaku pada Arthur dan baru kali itu aku melihat sorot mata yang menyiratkan perasaan ngeri yang amat sangat, bercampur perasaan bersalah. Wajahnya hampir-hampir tidak seperti wajah manusia dalam kengerian beku yang ditampilkannya. Tangannya terangkat ke tenggorokan.
      Arthur melangkah mendekatinya dengan sikap sayang yang kekanak-kanakan.
      “Halo, Ibu. Jadi, Ibu juga sakit? Wah, aku sedih sekali mendengamya.”
      Lady Carmichael mundur ketakutan di hadapannya, kedua bola matanya berputar-putar. Kemudian, sekonyong-konyong, dengan sebuah jeritan nyaring jiwa yang tersiksa, ia jatuh terjengkang ke pintu yang terbuka.
      Aku bergegas membungkuk di atasnya, kemudian memanggil Settle.
      “Sst,” kataku. “Bawa Sir Arthur ke atas pelan-pelan, lalu turunlah lagi. Lady Carmichael sudah meninggal.”
      Settle kembali beberapa menit kemudian.
      “Apa penyebabnya?” tanyanya. “Apa?”
      “Shock,” kataku dengan muram. “Shock karena melihat Arthur Carmichael hidup kembali. Atau bisa dikatakan dia kena hukuman Tuhan.”
      “Maksudmu...,” Settle ragu-ragu.
      Aku menatapnya lekat-lekat, sehingga ia mengerti. “Nyawa ditukar nyawa,” kataku dengan jelas.
      “Tapi ...”
      “Oh, aku tahu bahwa kecelakaan aneh yang tak disangka-sangkalah yang telah memungkinkan roh Arthur Carmichael masuk kembali ke dalam raganya. Tapi, bagaimanapun, Arthur Carmicahel sebenarnya telah dibunuh.”
      Settle menatapku dengan setengah takut-takut. “Dengan asam pnissic?” tanyanya dalam nada rendah.
      “Ya,” jawabku. “Dengan asam pnissic.”
      Settle dan aku tak pernah membicarakan keyakinan kami itu. Kemungkinan besar pun tak akan ada yang mau percaya.
      Berdasarkan sudut pandang umum, Arthur Carmichael hanya mengalami kehilangan ingatan, Lady Carmichael merobek-robek tenggorokannya sendiri karena mengalami histeria sementara, dan kemunculan Kucing Kelabu itu hanyalah imajinasi belaka.
      Namun ada dua fakta yang tak mungkin disangkal lagi bagiku. Satu adalah kursi yang koyak-koyak itu di koridor. Satunya lagi bahkan lebih jelas. Katalog perpustakaan akhirnya ditemukan, dan setelah pencarian yang melelahkan, terbukti bahwa buku yang hilang itu adalah sebuah buku kuno dan aneh mengenai kemungkinan-kemungkinan metamorfosis manusia menjadi binatang.
      Satu hal lagi. Aku bersyukur bahwa Arthur tidak tahu apa-apa. Phyllis telah menyimpan rahasia tentang peristiwa selama beberapa pekan itu di dalam hatinya, dan aku yakin ia tidak akan pernah menyampaikannya pada suami yang amat sangat dicintainya itu, yang telah kembali dari ambang kematian karena mendengar panggilan suaranya.

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...