Agatha Christie - Anjing Kematian #45



Cahaya fajar mulai menyelinap masuk dari jendela. Aku memandang ke pekarangan rumput di bawah sana.
      “Cepat berpakaian dan keluarlah,” kataku lekas-lekas pada Settle. “Lady Carmichael tidak akan apa-apa sekarang.”

      Settle siap tak lama kemudian, dan kami pun beranjak ke kebun bersama-sama.
      “Apa yang akan kaulakukan?”
      “Menggali mayat kucing itu.” jawabku singkat. “Aku mesti yakin...”
      Aku menemukan sekop di gudang perkakas, dan kami pun mulai menggali di bawah pohon copper beech yang besar itu. Akhirnya penggalian kami membuahkan hasil. Bukan pekerjaan yang menyenangkan. Binatang itu sudah sepekan berlalu mati, tapi aku melihat apa yang ingin kulihat.
      “Itu dia kucingnya,” kataku. “Sama dengan kucing yang kulihat pada hari pertama aku datang kemari.”
      Settle mendengus-dengus. Bau almond yang pahit masih tetap bisa tercium.
      “Asam piussic,” katanya.
      Aku mengangguk
      “Bagaimana menurutmu?” tanyanya ingin tahu.
      “Sama dengan pikiranmu.”
      Apa yang menjadi perkiraanku bukanlah hal baru baginya – hal yang sama telah terlintas juga dalam benaknya, bisa kulihat itu.
      “Ini mustahil,” gumamnya. “Mustahil. Ini bertentangan dengan segala hukum ilmu pengetahuan... hukum alam...” Suaranya semakin pelan dan menghilang dalam nada ngeri. “Tikus itu semalam…,” katanya. “Tapi... oh, tak mungkin!”
      “Lady Carmichael adalah wanita yang sangat aneh,” kataku. “Dia memiliki kemampuan okultisme... kekuatan hipnotis. Nenek moyangnya berasal dari Timur. Mana kita tahu, apa yang telah dia terapkan pada makhluk lemah yang manis seperti Arthur Carmichael? Dan ingat, Settle, kalau Arthur Carmichael tetap dalam keadaannya sekarang, sebagai sosok idiot yang begitu memujanya, seluruh tanah itu akan menjadi milik Lady Carmichael dan anak laki-lakinya - yang katamu sangat disayanginya. Padahal Arthur akan segera menikah!”
      “Lalu apa yang akan kita lakukan, Carstairs?”
      “Tak ada yang bisa dilakukan,” kataku. “Kita akan sedapat mungkin berusaha mencegah terjadinya pembalasan dendam terhadap diri Lady Carmichael.”
      Lady Carmichael lambat laun sembuh juga. Luka-lukanya pulih sejauh yang bisa diharapkan - barangkali selama sisa hidupnya ia mesti menanggung bekas luka akibat serangan mengerikan itu pada tubuhnya.
      Belum pernah aku merasa begitu putus asa seperti saat itu. Kekuasaan yang mengalahkan kami masih tetap berkeliaran tak terkalahkan, dan walau saat ini ”sesuatu” itu tengah berdiam diri, kami hanya bisa menganggap bahwa ”ia” sedang menunggu waktu belaka. Aku sudah memutuskan dengan tegas, bahwa Lady Carmichael mesti dibawa pergi dari Wolden, begitu ia sudah cukup sehat dan bisa dipindahkan. Barangkali saja manifestasi mengerikan itu tak bisa mengikutinya. Maka hari-hari pun berlalu.
     
Aku telah menetapkan tanggal 18 September sebagai tanggal kepergian Lady Carmichael. Namun pada pagi tanggal 14 terjadi sesuatu yang tak terduga-duga.
      Aku sedang berada di perpustakaan bersama Settle, membicarakan detail-detail kasus Lady Carmichael, ketika seorang gadis pelayan masuk tergopoh-gopoh dengan paniknya.
      “Oh, Sir,” serunya. “Cepatlah! Mr. Arthur... dia jatuh ke kolam. Dia naik ke perahu dan perahu itu terdorong bersamanya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke danau! Saya melihatnya dari jendela.”
      Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung lari keluar, diikuti oleh Settle. Phyllis ada di luar dan telah mendengar cerita gadis pelayan itu. Ia ikut lari bersama kami.
      “Tapi Anda tak perlu takut,” serunya. “Arthur perenang yang hebat.”
      Namun aku tetap merasa ngeri, dan aku pun mempercepat langkahku. Permukaan danau itu tampak tenang tak beriak. Perahu kosong itu mengapung perlahan-lahan di permukaannya – tidak tampak tanda-tanda Arthur di mana pun.
      Settle melepaskan mantel dan membuka sepatu botnya. “Aku mau masuk ke danau,” katanya. “Kau ambillah kait perahu dan coba mencari-cari dengan perahu satunya. Danau ini tidak begitu dalam.”
      Rasanya lama sekali kami mencari-cari dengan sia-sia. Menit-menit berlalu. Kemudian, ketika kami sudah hampir putus asa, kami menemukannya. Kami pun membawa tubuh Arthur Carmichael yang sepertinya sudah tak bernyawa lagi itu ke tepian.
      Selama hidupku aku takkan pernah melupakan ekspresi kesedihan yang amat sangat di wajah Phyllis. “Tidak... tidak...”
      Bibirnya menolak mengucapkan kata yang menakutkan itu.
      “Tidak. tidak, sayangku,” seruku. “Kami akan menyadarkannya, tak usah takut.”
      Namun dalam hati aku merasa harapan kami kecil sekali. Arthur sudah setengah jam berada di dalam air. Aku meminta Settle mengambil selimut-selimut panas dan berbagai keperluan lainnya di rumah, sementara aku sendiri mulai memberikan pernapasan buatan.
      Selama lebih dari satu jam kami berusaha menyadarkan Arthur Carmichael tapi tetap tak ada tanda-tanda kehidupan. Kuminta Settle menggantikan tempatku sementara aku mendekati Phyllis.
      “Saya khawatir tak ada gunanya,” kataku dengan lembut. “Arthur sudah tidak tertolong lagi.”
      Phyllis berdiri diam selama beberapa saat, kemudian sekonyong-konyong ia melemparkan dirinya ke tubuh yang sudah tidak bemyawa itu.
      “Arthur!” jeritnya putus asa. “Arthur! Kembalilah padaku! Arthur... kembalilah... kembalilah!”
      Suaranya menggema makin samar, kemudian diam.
      Sekonyong-konyong aku menyentuh lengan Settle. “Lihat,” kataku.
      Sebersit warna samar merayapi wajah pria muda yang tenggelam itu. Aku meraba jantungnya.
      “Teruskan memberinya bantuan pernapasan!” seruku “Dia mulai sadar!”
      Sekarang detik-detik berlalu bagaikan terbang. Dalam waktu yang sangat singkat, kedua mata Arthur Carmichael membuka.
      Dan sekonyong-konyong aku menyadari perbedaannya. Sepasang mata itu menyorotkan kecerdasan, mata manusia... Dan kedua mata itu tertuju pada Phyllis.
      “Halo, Phil,” kata Arthur dengan lemah. “Kaukah itu? Kupikir kau baru datang besok.”
      Phyllis belum sanggup berkata-kata, tapi ia tersenyum pada Arthur. Arthur melayangkan pandang ke sekitarnya dengan kebingungan yang makin menjadi-jadi.
      “Tapi, omong-omong, aku berada di mana? Dan... aduh, aku merasa tidak keruan! Ada apa denganku? Halo, Dr. Settle.”
      “Kau hampir tenggelam .. itu sebabnya,” Settle menjawab dengan serius.
      Sir Arthur menyeringai.
      “Aku sudah sering dengar, sangat tidak menyenangkan begitu sadar dari pingsan. Tapi bagaimana kejadiannya. Apa aku berjalan dalam tidur?”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...