Cahaya
fajar mulai menyelinap masuk dari jendela. Aku memandang ke pekarangan rumput
di bawah sana.
“Cepat berpakaian dan keluarlah,” kataku
lekas-lekas pada Settle. “Lady Carmichael tidak akan apa-apa sekarang.”
Settle siap tak lama kemudian, dan kami
pun beranjak ke kebun bersama-sama.
“Apa yang akan kaulakukan?”
“Menggali mayat kucing itu.” jawabku
singkat. “Aku mesti yakin...”
Aku menemukan sekop di gudang perkakas,
dan kami pun mulai menggali di bawah pohon copper beech yang besar itu.
Akhirnya penggalian kami membuahkan hasil. Bukan pekerjaan yang menyenangkan.
Binatang itu sudah sepekan berlalu mati, tapi aku melihat apa yang ingin
kulihat.
“Itu dia kucingnya,” kataku. “Sama dengan
kucing yang kulihat pada hari pertama aku datang kemari.”
Settle mendengus-dengus. Bau almond yang
pahit masih tetap bisa tercium.
“Asam piussic,” katanya.
Aku mengangguk
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya ingin
tahu.
“Sama dengan pikiranmu.”
Apa yang menjadi perkiraanku bukanlah hal
baru baginya – hal yang sama telah terlintas juga dalam benaknya, bisa kulihat
itu.
“Ini mustahil,” gumamnya. “Mustahil. Ini
bertentangan dengan segala hukum ilmu pengetahuan... hukum alam...” Suaranya semakin
pelan dan menghilang dalam nada ngeri. “Tikus itu semalam…,” katanya. “Tapi...
oh, tak mungkin!”
“Lady Carmichael adalah wanita yang sangat
aneh,” kataku. “Dia memiliki kemampuan okultisme... kekuatan hipnotis. Nenek moyangnya
berasal dari Timur. Mana kita tahu, apa yang telah dia terapkan pada makhluk
lemah yang manis seperti Arthur Carmichael? Dan ingat, Settle, kalau Arthur
Carmichael tetap dalam keadaannya sekarang, sebagai sosok idiot yang begitu
memujanya, seluruh tanah itu akan menjadi milik Lady Carmichael dan anak laki-lakinya
- yang katamu sangat disayanginya. Padahal Arthur akan segera menikah!”
“Lalu apa yang akan kita lakukan,
Carstairs?”
“Tak ada yang bisa dilakukan,” kataku. “Kita
akan sedapat mungkin berusaha mencegah terjadinya pembalasan dendam terhadap
diri Lady Carmichael.”
Lady Carmichael lambat laun sembuh juga.
Luka-lukanya pulih sejauh yang bisa diharapkan - barangkali selama sisa
hidupnya ia mesti menanggung bekas luka akibat serangan mengerikan itu pada
tubuhnya.
Belum pernah aku merasa begitu putus asa
seperti saat itu. Kekuasaan yang mengalahkan kami masih tetap berkeliaran tak terkalahkan,
dan walau saat ini ”sesuatu” itu tengah berdiam diri, kami hanya bisa
menganggap bahwa ”ia” sedang menunggu waktu belaka. Aku sudah memutuskan dengan
tegas, bahwa Lady Carmichael mesti dibawa pergi dari Wolden, begitu ia sudah
cukup sehat dan bisa dipindahkan. Barangkali saja manifestasi mengerikan itu
tak bisa mengikutinya. Maka hari-hari pun berlalu.
Aku
telah menetapkan tanggal 18 September sebagai tanggal kepergian Lady
Carmichael. Namun pada pagi tanggal 14 terjadi sesuatu yang tak terduga-duga.
Aku sedang berada di perpustakaan bersama
Settle, membicarakan detail-detail kasus Lady Carmichael, ketika seorang gadis
pelayan masuk tergopoh-gopoh dengan paniknya.
“Oh, Sir,” serunya. “Cepatlah! Mr.
Arthur... dia jatuh ke kolam. Dia naik ke perahu dan perahu itu terdorong
bersamanya. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke danau! Saya melihatnya
dari jendela.”
Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku
langsung lari keluar, diikuti oleh Settle. Phyllis ada di luar dan telah
mendengar cerita gadis pelayan itu. Ia ikut lari bersama kami.
“Tapi Anda tak perlu takut,” serunya. “Arthur
perenang yang hebat.”
Namun aku tetap merasa ngeri, dan aku pun
mempercepat langkahku. Permukaan danau itu tampak tenang tak beriak. Perahu kosong
itu mengapung perlahan-lahan di permukaannya – tidak tampak tanda-tanda Arthur
di mana pun.
Settle melepaskan mantel dan membuka
sepatu botnya. “Aku mau masuk ke danau,” katanya. “Kau ambillah kait perahu dan
coba mencari-cari dengan perahu satunya. Danau ini tidak begitu dalam.”
Rasanya lama sekali kami mencari-cari
dengan sia-sia. Menit-menit berlalu. Kemudian, ketika kami sudah hampir putus
asa, kami menemukannya. Kami pun membawa tubuh Arthur Carmichael yang
sepertinya sudah tak bernyawa lagi itu ke tepian.
Selama hidupku aku takkan pernah melupakan
ekspresi kesedihan yang amat sangat di wajah Phyllis. “Tidak... tidak...”
Bibirnya menolak mengucapkan kata yang
menakutkan itu.
“Tidak. tidak, sayangku,” seruku. “Kami
akan menyadarkannya, tak usah takut.”
Namun dalam hati aku merasa harapan kami
kecil sekali. Arthur sudah setengah jam berada di dalam air. Aku meminta Settle
mengambil selimut-selimut panas dan berbagai keperluan lainnya di rumah,
sementara aku sendiri mulai memberikan pernapasan buatan.
Selama lebih dari satu jam kami berusaha
menyadarkan Arthur Carmichael tapi tetap tak ada tanda-tanda kehidupan. Kuminta
Settle menggantikan tempatku sementara aku mendekati Phyllis.
“Saya khawatir tak ada gunanya,” kataku
dengan lembut. “Arthur sudah tidak tertolong lagi.”
Phyllis berdiri diam selama beberapa saat,
kemudian sekonyong-konyong ia melemparkan dirinya ke tubuh yang sudah tidak bemyawa
itu.
“Arthur!” jeritnya putus asa. “Arthur!
Kembalilah padaku! Arthur... kembalilah... kembalilah!”
Suaranya menggema makin samar, kemudian
diam.
Sekonyong-konyong aku menyentuh lengan
Settle. “Lihat,” kataku.
Sebersit warna samar merayapi wajah pria
muda yang tenggelam itu. Aku meraba jantungnya.
“Teruskan memberinya bantuan pernapasan!”
seruku “Dia mulai sadar!”
Sekarang detik-detik berlalu bagaikan
terbang. Dalam waktu yang sangat singkat, kedua mata Arthur Carmichael membuka.
Dan sekonyong-konyong aku menyadari
perbedaannya. Sepasang mata itu menyorotkan kecerdasan, mata manusia... Dan
kedua mata itu tertuju pada Phyllis.
“Halo, Phil,” kata Arthur dengan lemah. “Kaukah
itu? Kupikir kau baru datang besok.”
Phyllis belum sanggup berkata-kata, tapi
ia tersenyum pada Arthur. Arthur melayangkan pandang ke sekitarnya dengan kebingungan
yang makin menjadi-jadi.
“Tapi, omong-omong, aku berada di mana?
Dan... aduh, aku merasa tidak keruan! Ada apa denganku? Halo, Dr. Settle.”
“Kau hampir tenggelam .. itu sebabnya,”
Settle menjawab dengan serius.
Sir Arthur menyeringai.
“Aku sudah sering dengar, sangat tidak
menyenangkan begitu sadar dari pingsan. Tapi bagaimana kejadiannya. Apa aku
berjalan dalam tidur?”
