Agatha Christie - Anjing Kematian #44



Tapi aku bertekad untuk mengambil tindakan berjaga-jaga sedapat mungkin. sebab aku yakin sekali wanita itu terancam oleh bahaya yang sangat besar. Keesokan malamnya, sebelum ia masuk ke kamarnya, Settle dan aku lebih dulu memeriksa kamar tersebut dengan saksama. Kami sudah sepakat akan bergiliran berjaga di lorong.

      Aku mendapat giliran pertama. Tidak terjadi apa-apa. Pada jam tiga pagi, Settle menggantikanku. Aku lelah sekali setelah semalam sebelumnya tak bisa tidur. Jadi aku langsung terlelap. Dan aku mendapat mimpi yang sangat aneh.
      Aku bermimpi bahwa kucing kelabu itu duduk dikaki tempat tidurku, sepasang matanya menatap mataku dengan sorot permohonan yang aneh. Kemudian seperti biasanya dalam mimpi, dengan mudah aku mengetahui bahwa makhluk itu ingin aku mengikutinya. Aku pun mengikuti, dan ia membawaku menuruni tangga yang luas itu, langsung ke sayap rumah yang berlawanan, menuju ke sebuah ruangan yang jelas-jelas ruang perpustakaan.
      Kucing itu berhenti sejenak di satu sisi ruang tersebut dan mengangkat kedua kaki depannya, hingga menyentuh salah satu rak buku di sebelah bawah, sementara tatapannya kembali terarah padaku dengan sorot memohon yang mengibakan.
      Kemudian kucing dan perpustakaan itu memudar, dan aku terbangun mendapati pagi telah datang.
      Giliran jaga Settle juga lewat begitu saja, tanpa kejadian apa pun, namun ia sangat tertarik mendengar cerita tentang mimpiku. Atas permintaanku, ia membawaku ke ruang perpustakaan, yang situasinya persis sama dengan apa yang kulihat dalam mimpiku. Aku bahkan dapat menunjukkan tempat persisnya kucing itu menatapku dengan sedih untuk terakhir kali.
      Kami sama-sama berdiri di situ dalam diam, dan kebingungan.
      Sekonyong-konyong sebuah gagasan terlintas di kepalaku. Aku membungkuk untuk membaca judul buku di tempat tersebut. Kuperhatikan ada tempat lowong di antara deretannya.
      “Ada buku yang telah diambil dari sini,” kataku pada Settle.
      Ia juga membungkuk untuk melihat.
      “Wah, wah,” katanya. “Ada paku di bagian belakang sini, yang telah merobek sepotong lembar buku yang hilang itu.”
      Ia mengambil potongan kertas kecil itu dengan hati-hati. Besarnya tidak lebih dari satu inci... namun di atasnya tercetak sebuah kata penting: ”Kucing...”
      “Aku jadi merinding,” kata Settle. “Ini benar-benar menyeramkan.”
      “Aku ingin sekali tahu,” kataku, “buku apa yang tadinya ada di sini. Menurutmu mungkinkah kita mencari tahu?”
      “Mungkin ada katalognya di suatu tempat. Barangkali Lady Carmichael...”
      Aku menggelengkan kepala.
      “Lady Carmichael tidak bakal mau memberitahukan apa-apa.”
      “Menurutmu begitu?”
      “Aku yakin sekali. Sementara kita menebak-nebak dan meraba-raba dalam gelap, Lady Carmichael tahu persis apa yang terjadi. Dan untuk alasan-alasannya sendiri, dia menolak mengatakan apa pun. Dia lebih memilih menanggung risiko yang paling mengerikan daripada membuka mulut.”
      Hari itu berlalu tanpa kejadian penting apa pun yang mengingatkanku akan suasana tenang sebelum badai. Dan aku mempunyai perasaan aneh bahwa masalah ini hampir bisa dipecahkan. Aku memang masih meraba-raba dalam gelap, tapi tak lama lagi aku akan melihat. Semua faktanya sudah ada di sana, siap, menunggu sedikit cahaya terang yang akan menyatukan semuanya dan menunjukkan arti penting mereka.
      Dan memang petunjuk itu datang juga! Dengan cara yang amat sangat aneh!
      Peristiwanya terjadi ketika kami semua sedang duduk bersama-sama di ruang duduk hijau itu, seperti biasanya sesudah makan malam. Kami semua tidak berbicara. Begitu hening suasana di ruangan itu. Lalu seekor tikus kecil lari melintas di lantai... dan dalam sekejap peristiwa itu terjadi.
      Dengan satu lompatan panjang, Arthur Carmichael melompat dari kursinya. Tubuhnya yang gemetar melesat secepat anak panah mengejar si tikus. Tikus itu telah menghilang di belakang panel kayu, dan di sanalah Sir Arthur berjongkok - begitu waspada. Tubuhnya masih gemetar penuh penantian.
      Sungguh mengerikan. Belum pernah aku mengalami saat yang begitu mengagetkan seperti demikian. Aku tak lagi bingung, makhluk apa sebenarnya yang mengingatkanku akan gerakan yang ditunjukkan Arthur Carmichael--dengan langkah kakinya yang diam-diam dan sorot matanya yang waspada. Dalam sekejap, penjelasan itu menyapu benakku - luar, luar biasa, dan sulit dipercaya. Kucoba menolaknya dan menganggapnya tak mungkin - tak terbayangkan.
      Namun aku tak sanggup mengenyahkannya dari pikiranku. Aku hampir-hampir tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
      Keseluruhan peristiwa itu terasa kabur dan tidak nyata. Aku tahu bahwa akhirnya kami naik ke ruang atas dan mengucapkan selamat malam dengan singkat, hampir-hampir merasa takut untuk saling beradu pandang, kalau-kalau kami melihat konfirmasi atas perasaan takut kami sendiri di mata yang lainnya.
      Settle menempatkan diri di depan pintu kamar Lady Carmichael, mengambil giliran jaga pertama dan ia akan membangunkanku pada jam tiga pagi. Aku tidak terlalu mencemaskan Lady Carmichael. Aku terlalu sibuk dengan teoriku yang fantastis dan mustahil itu.
      Kukatakan pada diriku bahwa itu mustahil - namun pikiranku selalu kembali pada teori tersebut dengan terpesona.
      Kemudian, sekonyong-konyong, keheningan malam itu terganggu. Settle berteriak memanggilku. Aku bergegas keluar ke lorong.
      Settle tengah menggedor-gedor pintu kamar Lady Carmichael sekuat tenaga.
      “Sial wanita itu!” serunya. “Dia mengunci pintunya.”
      “Tapi...”
      “Makhluk itu ada di dalam sana! Bersamanya! Apa kau tidak dengar?”
      Dari balik pintu yang tertutup itu terdengar lolongan panjang seekor kucing, disusul oleh jeritan yang mengerikan... lagi dan lagi... jeritan yang kukenali sebagai suara Lady Carmichael.
      “Pintunya!” teriakku. “Kita mesti mendobraknya. Sebentar lagi kita pasti terlambat.”
      Kami pun menghantamkan bahu kami di sana, sekuat tenaga.
      Akhirnya pintu itu roboh... dan kami hampir-hampir terjungkal ke dalam ruangan.
      Lady Carmichael terbaring bersimbah darah di tempat tidurnya. Jarang aku melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada itu. Jantungnya masih berdetak, namun luka-lukanya sangat parah, sebab kulit tenggorokannya terkoyak dan robek seluruhnya... dengan merinding aku berbisik, “Cakar itu...” Suara kengerian yang bersifat takhayul merambati tubuhku.
      Dengan hati-hati kubalut luka-luka wanita itu, dan kusarankan pada Settle agar penyebab pasti luka-luka itu dirahasiakan, terutama diri Miss Patterson. Aku menulis telegram yang mesti dikirimkan segera begitu kantor telegraf dibuka, minta dikirim seorang perawat rumah sakit ke rumah ini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...