Tapi
aku bertekad untuk mengambil tindakan berjaga-jaga sedapat mungkin. sebab aku
yakin sekali wanita itu terancam oleh bahaya yang sangat besar. Keesokan malamnya,
sebelum ia masuk ke kamarnya, Settle dan aku lebih dulu memeriksa kamar
tersebut dengan saksama. Kami sudah sepakat akan bergiliran berjaga di lorong.
Aku mendapat giliran pertama. Tidak
terjadi apa-apa. Pada jam tiga pagi, Settle menggantikanku. Aku lelah sekali
setelah semalam sebelumnya tak bisa tidur. Jadi aku langsung terlelap. Dan aku mendapat
mimpi yang sangat aneh.
Aku bermimpi bahwa kucing kelabu itu duduk
dikaki tempat tidurku, sepasang matanya menatap mataku dengan sorot permohonan
yang aneh. Kemudian seperti biasanya dalam mimpi, dengan mudah aku mengetahui
bahwa makhluk itu ingin aku mengikutinya. Aku pun mengikuti, dan ia membawaku
menuruni tangga yang luas itu, langsung ke sayap rumah yang berlawanan, menuju
ke sebuah ruangan yang jelas-jelas ruang perpustakaan.
Kucing itu berhenti sejenak di satu sisi
ruang tersebut dan mengangkat kedua kaki depannya, hingga menyentuh salah satu
rak buku di sebelah bawah, sementara tatapannya kembali terarah padaku dengan
sorot memohon yang mengibakan.
Kemudian kucing dan perpustakaan itu
memudar, dan aku terbangun mendapati pagi telah datang.
Giliran jaga Settle juga lewat begitu
saja, tanpa kejadian apa pun, namun ia sangat tertarik mendengar cerita tentang
mimpiku. Atas permintaanku, ia membawaku ke ruang perpustakaan, yang situasinya
persis sama dengan apa yang kulihat dalam mimpiku. Aku bahkan dapat menunjukkan
tempat persisnya kucing itu menatapku dengan sedih untuk terakhir kali.
Kami sama-sama berdiri di situ dalam diam,
dan kebingungan.
Sekonyong-konyong sebuah gagasan terlintas
di kepalaku. Aku membungkuk untuk membaca judul buku di tempat tersebut. Kuperhatikan
ada tempat lowong di antara deretannya.
“Ada buku yang telah diambil dari sini,”
kataku pada Settle.
Ia juga membungkuk untuk melihat.
“Wah, wah,” katanya. “Ada paku di bagian
belakang sini, yang telah merobek sepotong lembar buku yang hilang itu.”
Ia mengambil potongan kertas kecil itu
dengan hati-hati. Besarnya tidak lebih dari satu inci... namun di atasnya
tercetak sebuah kata penting: ”Kucing...”
“Aku jadi merinding,” kata Settle. “Ini
benar-benar menyeramkan.”
“Aku ingin sekali tahu,” kataku, “buku apa
yang tadinya ada di sini. Menurutmu mungkinkah kita mencari tahu?”
“Mungkin ada katalognya di suatu tempat.
Barangkali Lady Carmichael...”
Aku menggelengkan kepala.
“Lady Carmichael tidak bakal mau
memberitahukan apa-apa.”
“Menurutmu begitu?”
“Aku yakin sekali. Sementara kita
menebak-nebak dan meraba-raba dalam gelap, Lady Carmichael tahu persis apa yang
terjadi. Dan untuk alasan-alasannya sendiri, dia menolak mengatakan apa pun. Dia
lebih memilih menanggung risiko yang paling mengerikan daripada membuka mulut.”
Hari itu berlalu tanpa kejadian penting
apa pun yang mengingatkanku akan suasana tenang sebelum badai. Dan aku mempunyai
perasaan aneh bahwa masalah ini hampir bisa dipecahkan. Aku memang masih
meraba-raba dalam gelap, tapi tak lama lagi aku akan melihat. Semua faktanya
sudah ada di sana, siap, menunggu sedikit cahaya terang yang akan menyatukan
semuanya dan menunjukkan arti penting mereka.
Dan memang petunjuk itu datang juga!
Dengan cara yang amat sangat aneh!
Peristiwanya terjadi ketika kami semua
sedang duduk bersama-sama di ruang duduk hijau itu, seperti biasanya sesudah
makan malam. Kami semua tidak berbicara. Begitu hening suasana di ruangan itu.
Lalu seekor tikus kecil lari melintas di lantai... dan dalam sekejap peristiwa
itu terjadi.
Dengan satu lompatan panjang, Arthur
Carmichael melompat dari kursinya. Tubuhnya yang gemetar melesat secepat anak
panah mengejar si tikus. Tikus itu telah menghilang di belakang panel kayu, dan
di sanalah Sir Arthur berjongkok - begitu waspada. Tubuhnya masih gemetar penuh
penantian.
Sungguh mengerikan. Belum pernah aku
mengalami saat yang begitu mengagetkan seperti demikian. Aku tak lagi bingung,
makhluk apa sebenarnya yang mengingatkanku akan gerakan yang ditunjukkan Arthur
Carmichael--dengan langkah kakinya yang diam-diam dan sorot matanya yang
waspada. Dalam sekejap, penjelasan itu menyapu benakku - luar, luar biasa, dan
sulit dipercaya. Kucoba menolaknya dan menganggapnya tak mungkin - tak
terbayangkan.
Namun aku tak sanggup mengenyahkannya dari
pikiranku. Aku hampir-hampir tak ingat apa yang terjadi selanjutnya.
Keseluruhan peristiwa itu terasa kabur dan
tidak nyata. Aku tahu bahwa akhirnya kami naik ke ruang atas dan mengucapkan
selamat malam dengan singkat, hampir-hampir merasa takut untuk saling beradu
pandang, kalau-kalau kami melihat konfirmasi atas perasaan takut kami sendiri
di mata yang lainnya.
Settle menempatkan diri di depan pintu
kamar Lady Carmichael, mengambil giliran jaga pertama dan ia akan
membangunkanku pada jam tiga pagi. Aku tidak terlalu mencemaskan Lady
Carmichael. Aku terlalu sibuk dengan teoriku yang fantastis dan mustahil itu.
Kukatakan pada diriku bahwa itu mustahil -
namun pikiranku selalu kembali pada teori tersebut dengan terpesona.
Kemudian, sekonyong-konyong, keheningan
malam itu terganggu. Settle berteriak memanggilku. Aku bergegas keluar ke lorong.
Settle tengah menggedor-gedor pintu kamar
Lady Carmichael sekuat tenaga.
“Sial wanita itu!” serunya. “Dia mengunci
pintunya.”
“Tapi...”
“Makhluk itu ada di dalam sana!
Bersamanya! Apa kau tidak dengar?”
Dari balik pintu yang tertutup itu
terdengar lolongan panjang seekor kucing, disusul oleh jeritan yang
mengerikan... lagi dan lagi... jeritan yang kukenali sebagai suara Lady
Carmichael.
“Pintunya!” teriakku. “Kita mesti
mendobraknya. Sebentar lagi kita pasti terlambat.”
Kami pun menghantamkan bahu kami di sana,
sekuat tenaga.
Akhirnya pintu itu roboh... dan kami
hampir-hampir terjungkal ke dalam ruangan.
Lady Carmichael terbaring bersimbah darah
di tempat tidurnya. Jarang aku melihat pemandangan yang lebih mengerikan
daripada itu. Jantungnya masih berdetak, namun luka-lukanya sangat parah, sebab
kulit tenggorokannya terkoyak dan robek seluruhnya... dengan merinding aku
berbisik, “Cakar itu...” Suara kengerian yang bersifat takhayul merambati
tubuhku.
Dengan hati-hati kubalut luka-luka wanita
itu, dan kusarankan pada Settle agar penyebab pasti luka-luka itu dirahasiakan,
terutama diri Miss Patterson. Aku menulis telegram yang mesti dikirimkan segera
begitu kantor telegraf dibuka, minta dikirim seorang perawat rumah sakit ke
rumah ini.
