Agatha Christie - Anjing Kematian #43



“Aku melihat Miss Patterson berjalan melintasi pekarangan rumput. Itu saja.”
      Aku mulai mengerti. “Kalau begitu,” kataku, “kucing itu...?”
      Ia mengangguk.

      “Aku ingin tahu, apakah kalau-kalau tidak diberitahu sebelumnya - akan mendengar apa yang kami semua sudah dengar?”
      “Kalau begitu, kalian semua mendengarnya juga?”
      Ia mengangguk lagi.
      “Aneh,” gumamku sambil berpikir-pikir. “Aku belum pernah dengar ada kucing menghantui suatu tempat.”
      Kukatakan padanya apa yang kudengar dari si penjaga pintu, dan ia menunjukkan ekspresi terkejut.
      “Itu baru berita bagiku. Aku tidak tahu itu.”
      “Tapi apa artinya?” tanyaku tak berdaya.
      Ia menggelengkan kepala. “Entahlah. Tapi dengar, Carstairs... aku takut. Suara... suara makhluk itu kedengaran... penuh ancaman.”
      “Penuh ancaman?” kataku dengan tajam- “terhadap siapa?”
      Ia merentangkan kedua tangannya. “Tak bisa kukatakan.”

Baru malam itulah, setelah makan malam, aku menyadari maksud Settle. Kami sedang duduk di ruang duduk hijau itu, seperti pada malam kedatanganku. Lalu suara itu terdengar - suara meong keras yang tidak henti-hentinya dari kucing di luar pintu. Tapi kali ini suara itu jelas-jelas bernada marah - suara lolongan kucing yang galak, tinggi melengking dan penuh ancaman. Kemudian, ketika suara itu tidak terdengar lagi, gagang pintu dari kuningan di luar diguncang-guncang keras, seperti oleh cakar kucing.
      Settle duduk tegak.
      “Aku berani sumpah, suara itu benar-benar nyata,” serunya. Ia bergegas ke pintu dan membukanya.
      Tidak ada apa-apa di luar.
      Ia kembali ke kursinya sambil menyeka dahinya. Phyllis tampak pucat dan gemetar, Lady Carmichael juga pucat pasi. Hanya Arthur yang berjongkok senang seperti anak kecil, kepalanya bersandar di lutut ibu tirinya. Ia begitu tenang dan sama sekali tidak terganggu. Miss Patterson menaruh satu tangannya di lenganku dan kami naik ke ruang atas.
      “Oh, Dr. Carstairs,” serunya. “Apa itu tadi? Apa maksudnya semua itu?”
      “Kami pun belum tahu, Nak.” kataku. “Tapi saya akan mencari tahu. Anda tak perlu takut. Saya yakin bahaya itu tidak akan menimpa Anda.”
      Ia menatapku dengan ragu. “Menurut Anda begitu?”
      “Saya yakin sekali,” aku menjawab tegas. Aku ingat bagaimana kucing kelabu itu telah melilitkan dirinya dengan penuh sayang di kaki gadis ini, dan aku jadi semakin yakin. Ancaman itu tidak ditujukan terhadap dirinya.
      Aku agak sulit terlelap, namun akhirya aku pun tertidur tidak nyenyak, dan terbangun dengan perasaan sangat kaget. Aku mendengar suara garukan keras, seperti ada sesuatu yang dirobek atau dicakar dengan ganas. Aku melompat bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar ke lorong. Pada saat yang sama, Settle juga keluar dari kamarnya yang berseberangan. Suara itu berasal dari sebelah kiri kami.
      “Kau mendengarnya, Carstairs?” serunya. “Kau mendengar itu?”
      Kami cepat-cepat menuju pintu kamar Lady Carmichael. Tidak ada yang melewati kami, tapi suara itu sudah berganti. Lilin-lilin kami berkelap-kelip pada panel-panel mengilap pintu Lady Carmichael. Kami saling pandang.
      “Kau tahu suara apa itu tadi?” kata Settle, setengah berbisik.
      Aku mengangguk. “Suara cakar kucing merobek-robek dan mengoyak-ngoyak sesuatu.” Aku agak merinding. Sekonyong-konyong aku berseru dan menurunkan lilin yang tengah kupegang.
      “Coba lihat ini, Settle.”
      Di tembok bersandar sebuah kursi dan bagian tempat duduknya sudah terkoyak dan robek dalam guratan-guratan panjang...
      Kami memeriksa kursi itu dengan saksama. Settle menatapku, dan aku mengangguk.
      “Bekas cakar kucing,” katanya sambil menarik napas dengan tercekat. “Tak salah lagi.” Matanya beralih dari kursi itu ke pintu kamar yang terkunci. “Itu dia orang yang menjadi sasarannya. Lady Carmichael.”
      Malam itu aku tak bisa tidur lagi. Sampai di sini, situasinya sudah berada pada tahap di mana kami mesti bertindak. Sejauh yang kuketahui, hanya satu orang yang memegang kunci atas situasi ini.
      Aku curiga Lady Carmichael tahu lebih banyak daripada yang bersedia ia sampaikan.
     
Wajah Lady Carmichael pucat pasi ketika ia turun ke ruang bawah keesokan paginya, dan ia hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya. Aku yakin hanya tekad kuatlah yang membuat ia sanggup bertahan seperti itu. Selesai sarapan aku minta diizinkan bicara dengannya. Dan aku langsung pada pokok permasalahannya.
      “Lady Carmichael,” kataku. “Saya punya alasan untuk mengatakan bahwa Anda berada dalam bahaya besar.”
      “O, ya?” Ia mengucapkan itu dengan sikap tak peduli yang menakjubkan.
      “Di rumah ini ada sesuatu,” kataku, “suatu... kehadiran... yang jelas-jelas tidak menyukai Anda.”
      “Omong kosong,” gumamnya dengan nada mencemooh. “Jangan harap saya percaya pada omong kosong semacam itu.”
      “Kursi di depan pintu kamar Anda itu,” kataku dengan nada datar, “dirobek-robek habis semalam.”
      “O, ya?” Ia menaikkan alisnya, pura-pura terkejut, tapi kulihat bahwa ia sebenarnya sudah tahu hal ini. “Cuma lelucon konyol saja, saya rasa.”
      “Sama sekali tidak,” sahutku dengan agak emosional. “Dan saya ingin Anda mengatakan pada saya - demi keselamatan Anda sendiri...” Aku diam sejenak.
      “Mengatakan apa?” tanyanya.
      “Apa saja yang bisa menjelaskan masalah ini,” kataku dengan nada sungguh-sungguh.
      Ia tertawa. “Saya tidak tahu apa-apa,” katanya. “Sama sekali tidak tahu apa-apa.”
      Dan tak ada yang bisa menggoyahkan tekadnya untuk tutup mulut, meski ia sudah diperingatkan akan bahayanya. Namun aku yakin bahwa sebenarnya ia tahu banyak sekali, lebih banyak daripada kami semua, dan bahwa ia memiliki petunjuk yang sama sekali tidak kami ketahui atas kasus ini. Namun kulihat tak mungkin memaksanya berbicara.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...