Selesai
makan malam, kami kembali duduk di ruang duduk hijau itu. Kami baru selesai
minum kopi, dan sedang bercakap-cakap dengan agak canggung mengenai topik-topik
hari itu, ketika kudengar si kucing mulai mengeong-ngeong mengibakan di depan pintu
minta diperbolehkan masuk. Tidak ada yang memperhatikan, dan berhubung aku
menyukai binatang, sesaat kemudian aku pun bangkit dari kursiku.
“Boleh saya membiarkan kucing malang itu
masuk?” tanyaku pada Lady Carmichael.
Wajah wanita itu menjadi sangat pucat,
tapi ia membuat gerakan samar dengan kepalanya, yang kuartikan sebagai tanda mengizinkan.
Maka aku pergi ke pintu dan membukanya. Namun tidak ada apa-apa di koridor di
luar.
“Aneh,” kataku. “Saya berani sumpah, tadi
saya mendengar suara kucing.”
Saat aku kembali ke kursiku, kuperhatikan
mereka semua tengah memandangiku dengan saksama. Tatapan mereka membuatku jadi merasa
agak tidak nyaman.
Kami
tidur lebih awal. Settle menemaniku ke kamarku.
“Segala keperluanmu sudah disiapkan?”
tanyanya sambil memandang sekeliling ruangan.
“Ya, terima kasih.”
Ia masih berlama-lama dengan agak
canggung, seakan-akan ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tapi tak sanggup ia
ucapkan.
“Omong-omong,” kataku, “katamu ada sesuatu
yang tidak biasa tentang rumah ini? Tapi sejauh ini kelihatannya normal-normal
saja.”
“Menurutmu rumah ini suasananya riang?”
“Sama sekali tidak, mengingat apa yang
sedang berlangsung saat ini. Jelas rumah ini berada di bawah bayang-bayang
kesedihan besar. Tapi kalau menyangkut pengaruh abnormal, menurutku sama sekali
tidak ada.”
“Selamat malam,” kata Settle cepat-cepat.
“Semoga mimpi indah.”
Dan
aku memang bermimpi. Kucing kelabu Miss Patterson sepertinya telah menancapkan
sosoknya dalam kepalaku. Sepanjang malam rasanya aku bermimpi tentang binatang
malang itu.
Aku terbangun dengan mendadak, dan
sekonyong-konyong kusadari kenapa kucing itu terasa begitu nyata dalam
pikiranku. Binatang itu rupanya tengah mengeong-ngeong tanpa henti di luar pintu
kamarku. Tak mungkin aku bisa tidur dengan adanya suara gaduh seperti itu. Maka
aku pun menyalakan lilin dan beranjak ke pintu. Tapi lorong di luar kamarku
kosong, walau suara meong itu masih terus berlanjut. Sebuah gagasan baru
hinggap di benakku.
Binatang malang itu pasti terkunci entah
di mana, dan tak bisa keluar. Di sebelah kiri adalah ujung lorong, tempat kamar
Lady Carmichael berada. Karenanya aku berjalan ke kanan. Tapi baru beberapa
langkah aku berjalan, suara meong itu terdengar lagi dari belakangku. Aku
membalikkan tubuh dengan cepat dan suara itu terdengar kembali, kali ini
jelas-jelas dari arah sebelah kananku.
Sesuatu membuatku merinding, mungkin
embusan angin di koridor. Cepat-cepat aku kembali ke kamarku. Suasana sudah hening
sekarang, dan tak lama kemudian aku kembali tertidur dan terbangun disambut
oleh pagi musim panas yang cerah.
Saat sedang berpakaian, dari jendelaku
kulihat si pengganggu tidurku semalam itu. Si kucing kelabu sedang
mengendap-endap perlahan-lahan dan mencuri-curi melintasi pekarangan rumput.
Kuperkirakan sasaran serangannya adalah
sekelompok kecil burung-burung yang sedang sibuk bercericip sambil membersihkan
bulu mereka, tak jauh dari situ.
Kemudian sesuatu yang sangat aneh terjadi.
Si kucing maju dan lewat tepat di tengah burung-burung itu, bulunya
hampir-hampir menyapu mereka - tapi burung-burung itu tidak terbang pergi. Aku jadi
tak mengerti - pemandangan tersebut benar-benar tak masuk akal.
Begitu terkesannya aku oleh pemandangan
itu, hingga aku tak tahan untuk tidak menyebutkannya saat sarapan pagi.
“Anda tahu?” kataku pada Lady Carmichael,
“bahwa Anda mempunyai kucing yang sangat tidak biasa?”
Terdengar suara denting cangkir di
tatakannya, dan kulihat Phyllis Patterson tengah memandangiku dengan tajam,
kedua bibirnya merekah dan napasnya naik-turun dengan cepat. Suasana hening
sejenak, kemudian Lady Carmichael berkata dengan sikap yang jelas-jelas tidak
menyenangkan. “Saya rasa Anda keliru. Tidak ada kucing di sini. Saya tidak
pernah mempunyai kucing.”
Jelas bahwa aku telah merusak suasana,
maka aku pun cepat-cepat mengubah topik pembicaraan.
Tapi masalah ini membuatku bingung. Kenapa
Lady Carmichael mengatakan tidak ada kucing di rumah ini? Mungkinkah kucing itu
milik Miss Patterson, dan kehadirannya sengaja disembunyikan dari nyonya rumah
di sini? Mungkin Lady Carmichael tidak suka pada kucing seperti sering dijumpai
pada orang-orang di zaman sekarang ini. Penjelasan itu sebenarnya sama sekali
tidak memuaskan, tapi untuk sementara aku mesti merasa puas dengan itu.
Kondisi
pasien kami masih tetap tidak mengalami perubahan. Kali ini aku melakukan
pemeriksaan menyeluruh, dan bisa mempelajarinya dengan lebih saksama daripada
malam sebelumnya. Atas saranku, diatur agar Sir Arthur menghabiskan waktu
sebanyak mungkin bersama keluarganya. Selain berharap mendapat kesempatan lebih
baik untuk mengamatinya saat ia sedang tidak waspada, aku juga berpendapat
bahwa rutinitas sehari-hari ini mungkin bisa membangkitkan sedikit
kesadarannya.
Namun tingkah lakunya tetap tidak
mengalami perubahan. Ia tetap pendiam dan tenang, sepertinya menerawang, namun
sebenarnya ia amat sangat waspada, dengan kesan agak licik malah. Ada satu hal
yang membuatku terkejut, yakni perasaan sayang yang besar, yang
diperlihatkannya terhadap ibu tirinya. Miss Patterson sama sekali tidak
diacuhkannya, tapi ia selalu ingin duduk sedekat mungkin dengan Lady
Carmichael, dan pernah kulihat ia menggosok-gosokkan kepalanya di bahu wanita
itu dengan ekspresi sayang tanpa kata.
Aku merasa cemas dengan kasus ini. Mau tak
mau, aku merasa ada petunjuk yang lolos dari pengamatanku, yang bisa
menjelaskan keseluruhan kasus ini.
“Kasus ini sangat aneh,” kataku pada
Settle.
“Ya,” sahutnya, “amat sangat... sugestif.”
Ia menatapku dengan tatapan mencuri-curi.
“Coba katakan,” katanya. “Apa dia tidak...
mengingatkanmu akan sesuatu?”
Ucapannya itu mengejutkanku,
mengingatkanku akan kesanku sendiri kemarin.
“Mengingatkan akan apa?” tanyaku.
Settle menggelengkan kepala.
“Mungkin itu cuma bayanganku saja,”
gerutunya. “Cuma bayanganku.”
Dan ia tidak mau bicara lebih lanjut
tentang urusan tersebut.
Secara
keseluruhan, kasus ini diselubungi misteri. Aku masih juga terobsesi oleh
perasaan membingungkan itu, bahwa aku telah kehilangan petunjuk yang bisa
menjelaskan kasus ini. Selain itu, ada suatu misteri lain. Maksudku, masalah
kecil tentang kucing kelabu itu. Dengan satu dan lain alasan, masalah kucing itu
membuatku penasaran. Aku bermimpi tentang kucing-kucing – aku terus-menerus merasa
mendengar suara kucing itu. Sesekali, di kejauhan, aku menangkap selintas sosok
binatang indah itu. Dan kenyataan bahwa ada misteri yang terkait dengan kucing
ini membuatku sangat jengkel. Akhirnya suatu siang aku memutuskan untuk bertanya
pada penjaga pintu.
“Bisakah Anda memberitahu saya tentang
kucing yang saya lihat itu?” tanyaku.
“Kucing, Sir?” ia tampak agak terkejut.
“Apa dulu... atau sekarang... ada kucing
di sini?”
“Nyonya dulu punya kucing, Sir. Hewan
peliharaan yang indah.mTapi mesti disuntik mati. Sayang sekali, sebab binatang
itu cantik sekali.”
“Kucing kelabu?” tanyaku perlahan-lahan.
“Ya, Sir. Kucing Persia.”
“Dan Anda bilang kucing itu mesti disuntik
mati?”
“Ya, Sir.”
“Anda yakin sekali dia disuntik mati?”
“Oh, yakin sekali, Sir. Nyonya tidak
mengizinkan kucing itu dikirim ke dokter hewan - Nyonya sendiri yang
melakukannya. Sudah hampir seminggu yang lalu. Dia dikubur di luar sana, di bawah
pohon copper beech itu, Sir.” Lalu ia
keluar dari ruangan, meninggalkan aku yang termenung-menung sendiri.
Kenapa
Lady Carmichael begitu tegas menyatakan bahwa ia tidak pernah mempunyai kucing?
Intuisiku mengatakan bahwa masalah kucing,
yang kelihatannya sepele ini sebenamya penting sekali. Kucari Settle dan kuajak
dia bicara berdua saja.
“Settle,” kataku, “aku ingin menanyakan
sesuatu. Pernah atau tidak pernahkah kau melihat dan mendengar suara kucing di
rumah ini?”
Ia tidak kelihatan terkejut dengan
pertanyaanku itu. Ia malah seperti sudah menduganya.
“Aku pernah mendengarnya,” katanya. “Tapi
belum pernah melihatnya.”
“Tapi pada hari pertama itu,” seruku. “Di
pekarangan rumput, dengan Miss Patterson!”
Ia menatapku dengan tajam.
