Agatha Christie - Anjing Kematian #42



Selesai makan malam, kami kembali duduk di ruang duduk hijau itu. Kami baru selesai minum kopi, dan sedang bercakap-cakap dengan agak canggung mengenai topik-topik hari itu, ketika kudengar si kucing mulai mengeong-ngeong mengibakan di depan pintu minta diperbolehkan masuk. Tidak ada yang memperhatikan, dan berhubung aku menyukai binatang, sesaat kemudian aku pun bangkit dari kursiku.

      “Boleh saya membiarkan kucing malang itu masuk?” tanyaku pada Lady Carmichael.
      Wajah wanita itu menjadi sangat pucat, tapi ia membuat gerakan samar dengan kepalanya, yang kuartikan sebagai tanda mengizinkan. Maka aku pergi ke pintu dan membukanya. Namun tidak ada apa-apa di koridor di luar.
      “Aneh,” kataku. “Saya berani sumpah, tadi saya mendengar suara kucing.”
      Saat aku kembali ke kursiku, kuperhatikan mereka semua tengah memandangiku dengan saksama. Tatapan mereka membuatku jadi merasa agak tidak nyaman.

Kami tidur lebih awal. Settle menemaniku ke kamarku.
      “Segala keperluanmu sudah disiapkan?” tanyanya sambil memandang sekeliling ruangan.
      “Ya, terima kasih.”
      Ia masih berlama-lama dengan agak canggung, seakan-akan ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tapi tak sanggup ia ucapkan.
      “Omong-omong,” kataku, “katamu ada sesuatu yang tidak biasa tentang rumah ini? Tapi sejauh ini kelihatannya normal-normal saja.”
      “Menurutmu rumah ini suasananya riang?”
      “Sama sekali tidak, mengingat apa yang sedang berlangsung saat ini. Jelas rumah ini berada di bawah bayang-bayang kesedihan besar. Tapi kalau menyangkut pengaruh abnormal, menurutku sama sekali tidak ada.”
      “Selamat malam,” kata Settle cepat-cepat. “Semoga mimpi indah.”
     
Dan aku memang bermimpi. Kucing kelabu Miss Patterson sepertinya telah menancapkan sosoknya dalam kepalaku. Sepanjang malam rasanya aku bermimpi tentang binatang malang itu.
      Aku terbangun dengan mendadak, dan sekonyong-konyong kusadari kenapa kucing itu terasa begitu nyata dalam pikiranku. Binatang itu rupanya tengah mengeong-ngeong tanpa henti di luar pintu kamarku. Tak mungkin aku bisa tidur dengan adanya suara gaduh seperti itu. Maka aku pun menyalakan lilin dan beranjak ke pintu. Tapi lorong di luar kamarku kosong, walau suara meong itu masih terus berlanjut. Sebuah gagasan baru hinggap di benakku.
      Binatang malang itu pasti terkunci entah di mana, dan tak bisa keluar. Di sebelah kiri adalah ujung lorong, tempat kamar Lady Carmichael berada. Karenanya aku berjalan ke kanan. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, suara meong itu terdengar lagi dari belakangku. Aku membalikkan tubuh dengan cepat dan suara itu terdengar kembali, kali ini jelas-jelas dari arah sebelah kananku.
      Sesuatu membuatku merinding, mungkin embusan angin di koridor. Cepat-cepat aku kembali ke kamarku. Suasana sudah hening sekarang, dan tak lama kemudian aku kembali tertidur dan terbangun disambut oleh pagi musim panas yang cerah.
      Saat sedang berpakaian, dari jendelaku kulihat si pengganggu tidurku semalam itu. Si kucing kelabu sedang mengendap-endap perlahan-lahan dan mencuri-curi melintasi pekarangan rumput.
      Kuperkirakan sasaran serangannya adalah sekelompok kecil burung-burung yang sedang sibuk bercericip sambil membersihkan bulu mereka, tak jauh dari situ.
      Kemudian sesuatu yang sangat aneh terjadi. Si kucing maju dan lewat tepat di tengah burung-burung itu, bulunya hampir-hampir menyapu mereka - tapi burung-burung itu tidak terbang pergi. Aku jadi tak mengerti - pemandangan tersebut benar-benar tak masuk akal.
      Begitu terkesannya aku oleh pemandangan itu, hingga aku tak tahan untuk tidak menyebutkannya saat sarapan pagi.
      “Anda tahu?” kataku pada Lady Carmichael, “bahwa Anda mempunyai kucing yang sangat tidak biasa?”
      Terdengar suara denting cangkir di tatakannya, dan kulihat Phyllis Patterson tengah memandangiku dengan tajam, kedua bibirnya merekah dan napasnya naik-turun dengan cepat. Suasana hening sejenak, kemudian Lady Carmichael berkata dengan sikap yang jelas-jelas tidak menyenangkan. “Saya rasa Anda keliru. Tidak ada kucing di sini. Saya tidak pernah mempunyai kucing.”
      Jelas bahwa aku telah merusak suasana, maka aku pun cepat-cepat mengubah topik pembicaraan.
      Tapi masalah ini membuatku bingung. Kenapa Lady Carmichael mengatakan tidak ada kucing di rumah ini? Mungkinkah kucing itu milik Miss Patterson, dan kehadirannya sengaja disembunyikan dari nyonya rumah di sini? Mungkin Lady Carmichael tidak suka pada kucing seperti sering dijumpai pada orang-orang di zaman sekarang ini. Penjelasan itu sebenarnya sama sekali tidak memuaskan, tapi untuk sementara aku mesti merasa puas dengan itu.

Kondisi pasien kami masih tetap tidak mengalami perubahan. Kali ini aku melakukan pemeriksaan menyeluruh, dan bisa mempelajarinya dengan lebih saksama daripada malam sebelumnya. Atas saranku, diatur agar Sir Arthur menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama keluarganya. Selain berharap mendapat kesempatan lebih baik untuk mengamatinya saat ia sedang tidak waspada, aku juga berpendapat bahwa rutinitas sehari-hari ini mungkin bisa membangkitkan sedikit kesadarannya.
      Namun tingkah lakunya tetap tidak mengalami perubahan. Ia tetap pendiam dan tenang, sepertinya menerawang, namun sebenarnya ia amat sangat waspada, dengan kesan agak licik malah. Ada satu hal yang membuatku terkejut, yakni perasaan sayang yang besar, yang diperlihatkannya terhadap ibu tirinya. Miss Patterson sama sekali tidak diacuhkannya, tapi ia selalu ingin duduk sedekat mungkin dengan Lady Carmichael, dan pernah kulihat ia menggosok-gosokkan kepalanya di bahu wanita itu dengan ekspresi sayang tanpa kata.
      Aku merasa cemas dengan kasus ini. Mau tak mau, aku merasa ada petunjuk yang lolos dari pengamatanku, yang bisa menjelaskan keseluruhan kasus ini.
      “Kasus ini sangat aneh,” kataku pada Settle.
      “Ya,” sahutnya, “amat sangat... sugestif.”
      Ia menatapku dengan tatapan mencuri-curi.
      “Coba katakan,” katanya. “Apa dia tidak... mengingatkanmu akan sesuatu?”
      Ucapannya itu mengejutkanku, mengingatkanku akan kesanku sendiri kemarin.
      “Mengingatkan akan apa?” tanyaku.
      Settle menggelengkan kepala.
      “Mungkin itu cuma bayanganku saja,” gerutunya. “Cuma bayanganku.”
      Dan ia tidak mau bicara lebih lanjut tentang urusan tersebut.
     
Secara keseluruhan, kasus ini diselubungi misteri. Aku masih juga terobsesi oleh perasaan membingungkan itu, bahwa aku telah kehilangan petunjuk yang bisa menjelaskan kasus ini. Selain itu, ada suatu misteri lain. Maksudku, masalah kecil tentang kucing kelabu itu. Dengan satu dan lain alasan, masalah kucing itu membuatku penasaran. Aku bermimpi tentang kucing-kucing – aku terus-menerus merasa mendengar suara kucing itu. Sesekali, di kejauhan, aku menangkap selintas sosok binatang indah itu. Dan kenyataan bahwa ada misteri yang terkait dengan kucing ini membuatku sangat jengkel. Akhirnya suatu siang aku memutuskan untuk bertanya pada penjaga pintu.
      “Bisakah Anda memberitahu saya tentang kucing yang saya lihat itu?” tanyaku.
      “Kucing, Sir?” ia tampak agak terkejut.
      “Apa dulu... atau sekarang... ada kucing di sini?”
      “Nyonya dulu punya kucing, Sir. Hewan peliharaan yang indah.mTapi mesti disuntik mati. Sayang sekali, sebab binatang itu cantik sekali.”
      “Kucing kelabu?” tanyaku perlahan-lahan.
      “Ya, Sir. Kucing Persia.”
      “Dan Anda bilang kucing itu mesti disuntik mati?”
      “Ya, Sir.”
      “Anda yakin sekali dia disuntik mati?”
      “Oh, yakin sekali, Sir. Nyonya tidak mengizinkan kucing itu dikirim ke dokter hewan - Nyonya sendiri yang melakukannya. Sudah hampir seminggu yang lalu. Dia dikubur di luar sana, di bawah pohon copper beech itu, Sir.” Lalu ia keluar dari ruangan, meninggalkan aku yang termenung-menung sendiri.
     
Kenapa Lady Carmichael begitu tegas menyatakan bahwa ia tidak pernah mempunyai kucing?
      Intuisiku mengatakan bahwa masalah kucing, yang kelihatannya sepele ini sebenamya penting sekali. Kucari Settle dan kuajak dia bicara berdua saja.
      “Settle,” kataku, “aku ingin menanyakan sesuatu. Pernah atau tidak pernahkah kau melihat dan mendengar suara kucing di rumah ini?”
      Ia tidak kelihatan terkejut dengan pertanyaanku itu. Ia malah seperti sudah menduganya.
      “Aku pernah mendengarnya,” katanya. “Tapi belum pernah melihatnya.”
      “Tapi pada hari pertama itu,” seruku. “Di pekarangan rumput, dengan Miss Patterson!”
      Ia menatapku dengan tajam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...