Beberapa
saat kemudian kami pun sampai, dan aku mengikuti temanku itu ke ruang duduk
berwarna hijau. Teh sudah dihidangkan.
Seorang wanita setengah baya yang masih
tampak cantik bangkit berdiri ketika kami masuk. Ia maju dan mengulurkan
tangannya.
“Ini teman saya, Dr. Carstairs, Lady
Carrnichael.”
Aku tak bisa menjelaskan gelombang
perasaan tak senang yang menyapu diriku saat aku menyambut uluran tangan wanita
yang anggun dan memesona ini, yang bergerak dengan keluwesan misterius dan
gemulai yang membuatku teringat bahwa ia memiliki darah Asia, seperti dikatakan
Settle.
“Baik sekali Anda bersedia datang, Dr.
Carstairs,” katanya dengan suara rendah dan merdu, “untuk mencoba membantu kami
dalam kesusahan besar ini.”
Aku menjawab dengan berbasa-basi, dan ia
mengulurkan teh padaku.
Beberapa menit kemudian, gadis yang tadi
kulihat di pekarangan rumput di luar, masuk ke dalam ruangan. Kucing kelabu itu
tidak lagi bersamanya, tapi ia masih membawa keranjang berisi bunga-bunga mawar
itu di tangannya. Settle memperkenalkanku padanya dan ia menyambut dengan penuh
semangat.
“Oh, Dr. Carstairs. Dr. Settle sudah
banyak sekali bercerita tentang Anda. Saya merasa Anda akan bisa berbuat
sesuatu untuk menolong Arthur yang malang.”
Miss Patterson jelas seorang gadis yang
sangat cantik. Walau kedua pipinya pucat dan ada lingkaran-lingkaran gelap di
bawah sepasang matanya yang jujur.
“Nona yang baik,” kataku, berusaha
menenangkannya, “Anda tidak boleh putus asa. Kasus-kasus kehilangan ingatan,
atau kepribadian sekunder, sering kali tidak berlangsung lama. Si pasien bisa
kembali ke keadaannya semula, setiap saat.”
Miss Patterson menggelengkan kepala. “Saya
tidak percaya bahwa ini kasus kepribadian sekunder,” katanya. “Ini sama sekali bukan
Arthur. Ini bukanlah kepribadiannya. Ini bukan dia. Saya...”
“Phyllis sayang,” kata dengan suara lembut, ini tehmu.”
Sorot matanya ketika menatap gadis itu
membuatku tersadar bahwa Lady Carmichael tidak begitu menyukai calon menantunya
ini.
Miss Patterson menolak tawaran teh itu,
dan untuk melancarkan percakapan aku berbasa-basi, “Apa kucing Anda tidak
diberi sepiring susu?”
Miss Patterson menatapku dengan agak
heran.
“Kucing?”
“Ya. kucing yang menemani Anda beberapa
saat yang lalu di kebun...”
Kalimatku terputus oleh suara barang
pecah. Lady Carmichael telah menjatuhkan poci teh, dan air panas di dalamnya
tumpah ke lantai. Aku memungut poci itu, dan Phyllis Patterson menatap Settle dengan
bertanya-tanya. Settle bangkit berdiri.
“Kau mau melihat pasienmu sekarang,
Carstairs?”
Aku langsung mengikutinya. Miss Patterson
ikut bersama kami.
Kami naik ke ruang atas, dan Settle
mengeluarkan kunci dari sakunya.
“Kadang-kadang dia suka kabur mengembara.”
Settle menjelaskan. “Maka biasanya pintu ini kukunci kalau aku sedang tidak
berada di rumah.”
Ia memutar kunci di lubangnya, lalu masuk
ke dalam.
Anak muda itu sedang duduk di tepi jendela
di mana sisa-sisa cahaya matahari terbenam menyorot masuk dalam lajur-lajur
lebar dan kuning. Ia duduk tak bergerak, kedua bahunya agak bungkuk, dan setiap
ototnya tampak santai. Mulanya kupikir ia sama sekali tidak menyadari kehadiran
kami, namun sekonyong-konyong kulihat bahwa di bawah kelopak matanya yang tidak
bergerak-gerak, ia sebenamya tengah mengawasi kami dengan saksama. Ia menurunkan
tatapannya saat beradu pandang denganku, dan mengerjap-ngerjapkan mata. Namun
ia tidak bergerak.
“Ayolah, Arthur.” Settle berkata dengan
riang. “Miss Patterson dan seorang temanku datang untuk menjengukmu.”
Tapi anak muda yang duduk di tepi jendela
itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Namun sesaat kemudian kulihat ia
kembali mengawasi kami dengan mencuri-curi dan diam-diam.
“Mau minum?” tanya Settle, masih dengan
suara keras dan riang, seakan-akan bicara pada anak kecil. Ia meletakkan
secangkir susu di meja. Aku mengangkat kedua alisku dengan heran, dan Settle
tersenyum.
“Memang aneh,” katanya. “Dia hanya mau
minum susu.”
Tak lama kemudian, tanpa tergesa-gesa
sedikit pun, Sir Arthur bergerak dari posisi duduknya yang agak membungkuk itu,
dan berjalan perlahan-lahan menghampiri meja. Sekonyong-konyong kusadari bahwa
gerak-geriknya benar-benar tanpa suara, kaki-kakinya juga tidak menimbulkan
bunyi ketika melangkah. Tiba di dekat meja, ia meregangkan tubuh dengan
nikmatnya, satu kakinya maju ke depan, kaki satunya lagi terjulur ke belakang.
Ia meregangkan tubuh sepuas-puasnya, kemudian menguap. Belum pernah aku melihat
orang menguap seperti itu! Mulutnya terbuka lebar, seakan-akan menelan
keseluruhan wajahnya.
Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada
susu itu. Ia membungkuk di atas meja, sampai bibirnya menyentuh susu tersebut.
Settle menjawab sorot bertanya-tanya di
mataku.
“Sama sekali tidak mau menggunakan
tangannya. Dia seperti sudah kembali ke sifat primitif. Aneh, bukan?”
Aku merasa Phyllis Patterson agak
merapatkan diri padaku dengan takut. Kutaruh tanganku di lengannya untuk
menenangkan.
Susu itu akhimya habis. Arthur Carmichael
meregangkan tubuh sekali lagi, kemudian dengan langkah-langkah pelan tanpa
suara, ia kembali ke tepi jendela, duduk membungkuk seperti tadi, mengerjap-ngerjapkan
mata pada kami.
Miss Patterson mengajak kami ke koridor.
Seluruh tubuhnya gemetar.
“Oh, Dr. Carstairs!” serunya. “Itu bukan sosok
dia di sana itu, bukan Arthur! Saya bisa merasakan .. saya pasti tahu...”
Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan
sedih.
“Otak manusia bisa memainkan tipuan-tipuan
aneh, Miss Patterson.”
Mesti kuakui, aku merasa bingung dengan
kasus ini. Unsur-unsurnya sangat tidak biasa. Meski sebelumnya aku tak pernah melihat
Arthur Carmichael, ada sesuatu dalam cara berjalannya yang aneh, dan cara ia
mengedap-ngedapkan mata, yang mengingatkanku pada seseorang atau sesuatu yang
tak dapat benar-benar kupastikan.
Makan malam berlangsung dalam suasana
hening, percakapan diambil alih oleh Lady Carmichael dan aku sendiri. Setelah
para wanita mengundurkan diri, Settle menanyakan kesanku tentang nyonya rumah
kami.
“Mesti kuakui,” kataku, "tanpa sebab
ataupun alasan jelas, aku sangat tidak menyukainya. Kau benar sekali, dia
mempunyai darah Timur, dan rasanya juga memiliki kekuatan-kekuatan sihir yang sangat
kentara. Wanita ini mempunyai daya magnetis yang sangat luar biasa.”
Settle sepertinya hendak mengatakan sesuatu, tapi mengurungkannya.
Sesaat kemudian, ia hanya berkata, “Dia sayang sekali pada anak laki-lakinya
yang masih kecil.”
