Agatha Christie - Anjing Kematian #41



Beberapa saat kemudian kami pun sampai, dan aku mengikuti temanku itu ke ruang duduk berwarna hijau. Teh sudah dihidangkan.

      Seorang wanita setengah baya yang masih tampak cantik bangkit berdiri ketika kami masuk. Ia maju dan mengulurkan tangannya.
      “Ini teman saya, Dr. Carstairs, Lady Carrnichael.”
      Aku tak bisa menjelaskan gelombang perasaan tak senang yang menyapu diriku saat aku menyambut uluran tangan wanita yang anggun dan memesona ini, yang bergerak dengan keluwesan misterius dan gemulai yang membuatku teringat bahwa ia memiliki darah Asia, seperti dikatakan Settle.
      “Baik sekali Anda bersedia datang, Dr. Carstairs,” katanya dengan suara rendah dan merdu, “untuk mencoba membantu kami dalam kesusahan besar ini.”
      Aku menjawab dengan berbasa-basi, dan ia mengulurkan teh padaku.
      Beberapa menit kemudian, gadis yang tadi kulihat di pekarangan rumput di luar, masuk ke dalam ruangan. Kucing kelabu itu tidak lagi bersamanya, tapi ia masih membawa keranjang berisi bunga-bunga mawar itu di tangannya. Settle memperkenalkanku padanya dan ia menyambut dengan penuh semangat.
      “Oh, Dr. Carstairs. Dr. Settle sudah banyak sekali bercerita tentang Anda. Saya merasa Anda akan bisa berbuat sesuatu untuk menolong Arthur yang malang.”
      Miss Patterson jelas seorang gadis yang sangat cantik. Walau kedua pipinya pucat dan ada lingkaran-lingkaran gelap di bawah sepasang matanya yang jujur.
      “Nona yang baik,” kataku, berusaha menenangkannya, “Anda tidak boleh putus asa. Kasus-kasus kehilangan ingatan, atau kepribadian sekunder, sering kali tidak berlangsung lama. Si pasien bisa kembali ke keadaannya semula, setiap saat.”
      Miss Patterson menggelengkan kepala. “Saya tidak percaya bahwa ini kasus kepribadian sekunder,” katanya. “Ini sama sekali bukan Arthur. Ini bukanlah kepribadiannya. Ini bukan dia. Saya...”
      “Phyllis sayang,” kata dengan suara lembut, ini tehmu.”
      Sorot matanya ketika menatap gadis itu membuatku tersadar bahwa Lady Carmichael tidak begitu menyukai calon menantunya ini.
      Miss Patterson menolak tawaran teh itu, dan untuk melancarkan percakapan aku berbasa-basi, “Apa kucing Anda tidak diberi sepiring susu?”
      Miss Patterson menatapku dengan agak heran.
      “Kucing?”
      “Ya. kucing yang menemani Anda beberapa saat yang lalu di kebun...”
      Kalimatku terputus oleh suara barang pecah. Lady Carmichael telah menjatuhkan poci teh, dan air panas di dalamnya tumpah ke lantai. Aku memungut poci itu, dan Phyllis Patterson menatap Settle dengan bertanya-tanya. Settle bangkit berdiri.
      “Kau mau melihat pasienmu sekarang, Carstairs?”
      Aku langsung mengikutinya. Miss Patterson ikut bersama kami.
      Kami naik ke ruang atas, dan Settle mengeluarkan kunci dari sakunya.
      “Kadang-kadang dia suka kabur mengembara.” Settle menjelaskan. “Maka biasanya pintu ini kukunci kalau aku sedang tidak berada di rumah.”
      Ia memutar kunci di lubangnya, lalu masuk ke dalam.
      Anak muda itu sedang duduk di tepi jendela di mana sisa-sisa cahaya matahari terbenam menyorot masuk dalam lajur-lajur lebar dan kuning. Ia duduk tak bergerak, kedua bahunya agak bungkuk, dan setiap ototnya tampak santai. Mulanya kupikir ia sama sekali tidak menyadari kehadiran kami, namun sekonyong-konyong kulihat bahwa di bawah kelopak matanya yang tidak bergerak-gerak, ia sebenamya tengah mengawasi kami dengan saksama. Ia menurunkan tatapannya saat beradu pandang denganku, dan mengerjap-ngerjapkan mata. Namun ia tidak bergerak.
      “Ayolah, Arthur.” Settle berkata dengan riang. “Miss Patterson dan seorang temanku datang untuk menjengukmu.”
      Tapi anak muda yang duduk di tepi jendela itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Namun sesaat kemudian kulihat ia kembali mengawasi kami dengan mencuri-curi dan diam-diam.
      “Mau minum?” tanya Settle, masih dengan suara keras dan riang, seakan-akan bicara pada anak kecil. Ia meletakkan secangkir susu di meja. Aku mengangkat kedua alisku dengan heran, dan Settle tersenyum.
      “Memang aneh,” katanya. “Dia hanya mau minum susu.”
      Tak lama kemudian, tanpa tergesa-gesa sedikit pun, Sir Arthur bergerak dari posisi duduknya yang agak membungkuk itu, dan berjalan perlahan-lahan menghampiri meja. Sekonyong-konyong kusadari bahwa gerak-geriknya benar-benar tanpa suara, kaki-kakinya juga tidak menimbulkan bunyi ketika melangkah. Tiba di dekat meja, ia meregangkan tubuh dengan nikmatnya, satu kakinya maju ke depan, kaki satunya lagi terjulur ke belakang. Ia meregangkan tubuh sepuas-puasnya, kemudian menguap. Belum pernah aku melihat orang menguap seperti itu! Mulutnya terbuka lebar, seakan-akan menelan keseluruhan wajahnya.
      Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada susu itu. Ia membungkuk di atas meja, sampai bibirnya menyentuh susu tersebut.
      Settle menjawab sorot bertanya-tanya di mataku.
      “Sama sekali tidak mau menggunakan tangannya. Dia seperti sudah kembali ke sifat primitif. Aneh, bukan?”
      Aku merasa Phyllis Patterson agak merapatkan diri padaku dengan takut. Kutaruh tanganku di lengannya untuk menenangkan.
      Susu itu akhimya habis. Arthur Carmichael meregangkan tubuh sekali lagi, kemudian dengan langkah-langkah pelan tanpa suara, ia kembali ke tepi jendela, duduk membungkuk seperti tadi, mengerjap-ngerjapkan mata pada kami.
      Miss Patterson mengajak kami ke koridor. Seluruh tubuhnya gemetar.
      “Oh, Dr. Carstairs!” serunya. “Itu bukan sosok dia di sana itu, bukan Arthur! Saya bisa merasakan .. saya pasti tahu...”
      Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih.
      “Otak manusia bisa memainkan tipuan-tipuan aneh, Miss Patterson.”
      Mesti kuakui, aku merasa bingung dengan kasus ini. Unsur-unsurnya sangat tidak biasa. Meski sebelumnya aku tak pernah melihat Arthur Carmichael, ada sesuatu dalam cara berjalannya yang aneh, dan cara ia mengedap-ngedapkan mata, yang mengingatkanku pada seseorang atau sesuatu yang tak dapat benar-benar kupastikan.
      Makan malam berlangsung dalam suasana hening, percakapan diambil alih oleh Lady Carmichael dan aku sendiri. Setelah para wanita mengundurkan diri, Settle menanyakan kesanku tentang nyonya rumah kami.
      “Mesti kuakui,” kataku, "tanpa sebab ataupun alasan jelas, aku sangat tidak menyukainya. Kau benar sekali, dia mempunyai darah Timur, dan rasanya juga memiliki kekuatan-kekuatan sihir yang sangat kentara. Wanita ini mempunyai daya magnetis yang sangat luar biasa.”
      Settle sepertinya hendak mengatakan sesuatu, tapi mengurungkannya. Sesaat kemudian, ia hanya berkata, “Dia sayang sekali pada anak laki-lakinya yang masih kecil.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...