Agatha Christie - Anjing Kematian #39



“Saya mengerti,” kata Lavington dengan ramah. “Dan saya senang Anda datang pada kami, Mademoiselle Marchaud. Seperti Anda ketahui, Hartington ini punya pengalaman serupa dengan Anda. Saya rasa bisa dikatakan kami sudah berada pada jalur yangbenar sekarang. Apakah tidak ada hal lain yang Anda ingat?”

      Felise tersentak.
      “Tentu saja! Bodoh sekali saya! Justru inilah inti keseluruhankisah ini. Coba lihat, Monsieur, apa yang saya temukan di balik salah satu lemari, tergelincir dari tempatnya di belakang rak.” Ia mengulurkan secarik kertas gambar yang sudah kotor pada mereka. Di kertas itu tampak sketsa kasar sosok seorang wanita yang dibuat dengan cat air. Goresan-goresannya sederhana sekali, tapi kemiripannya barangkali cukup nyata. Sosok seorang wanita jangkung berkulit putih, dengan kesan asing yang bukan Inggris di wajahnya. Ia berdiri di samping meja yang di atasnya tampak sebuah guci porselen berwarna biru.
      “Saya menemukan kertas ini tadi pagi,” Felise menjelaskan.
      “Monsieur le docteur, itulah wajah wanita yang saya lihat dalam mimpi saya, dan guci biru itu juga sama dengan yang ada dalam mimpi saya.”
      “Luar biasa,” komentar Lavington. “Jelas bahwa kunci dari misteri ini adalah guci biru itu. Guci itu kelihatannya seperti guci Cina, barangkali sudah tua. Kelihatannya guci itu memiliki pola timbul yang aneh di permukaannya.”
      “Memang guci Cina,” kata Jack. “Aku pernah melihat guci yang sama persis seperti itu dalam koleksi pamanku - pamanku kolektor porselen Cina, dan aku ingat pernah melihat guci seperti ini beberapa waktu yang lalu.”
      “Guci Cina,” renung Lavington. Sesaat ia asyik dengan pikirannya sendiri, kemudian ia mengangkat kepalanya dengan tiba-tiba, kedua. matanya, berbinar-binar. “Hartington, sudah berapa lama pamanmu memiliki guci itu?”
      “Berapa lama? Aku tidak tahu.”
      “Berpikirlah. Apakah dia membelinya belum lama ini?”
      “Aku tidak tahu – ya, setelah kupikir-pikir, dia memang membelinya belum lama ini. Aku sendiri tidak begitu tertarik dengan porselen, tapi aku ingat dia menunjukkan padaku ’perolehannya akhir-akhir ini’, dan guci itu termasuk salah satu di antaranya.”
      “Kurang dan dua bulan yang lalu? Pasangan Turner meninggalkan Heather Cottage dua bulan yang lalu.”
      “Ya, memang dua bulan yang lalu.”
      “Apa pamanmu suka menghadiri acara-acara obral sesekali?”
      “Dia memang selalu hadir pada acara-acara obral.”
      “Kalau begitu, tidak salah kalau kita mengasumsikan bahwa dia membeli guci porselen itu pada penjualan barang-barang milik suami-istri Turner. Suatu kebetulan yang aneh - atau barangkali inilah yang kusebut sebagai uluran tangan keadilan yang buta.
      Hartington, kau mesti segera mencari tahu dari pamanmu, di mana dia membeli guci ini.”
      Jack terperangah.
      “Kurasa itu tidak mungkin. Paman George sedang bepergian. Aku bahkan tidak tahu mesti menyuratinya di mana.”
      “Berapa lama dia pergi?”
      “Tiga minggu sampai sebulan, setidaknya.”
      Hening sejenak. Felise duduk menatap kedua orang itu bergantian dengan cemas.
      “Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?” tanyanya dengan takut-takut.
      “Ya, ada,” kata Lavington, dengan nada bersemangat yang ditahan-tahan. “Barangkali tidak - tidak biasa, tapi aku yakin akan berhasil. Hartington, kau mesti mengambil guci itu. Bawa kemari, dan kalau Mademoiselle mengizinkan kami akan menginap di Heather Cottage dengan membawa guci biru itu.”
      Jack merasa kulitnya meremang ngeri. “Menurutmu, apa yang bakal terjadi?” tanyanya gelisah.
      “Aku sendiri tidak tahu - tapi aku sepenuhnya yakin bahwa misteri ini bisa diungkap dan hantu itu dipaksa keluar. Kemungkinan besar guci itu memiliki alas palsu, dan ada sesuatu disembunyikan di dalamnya. Kalau tidak terjadi fenomena apa pun, kita mesti menggunakan kecerdikan kita sendiri.”
      Felise mengatupkan kedua tangannya. “Gagasan yang sangat bagus,” serunya.
      Kedua matanya berbinar-binar antusias. Jack sendiri tidak terlalu antusias - malah dalam hati ia sebenarnya sangat ketakutan, tapi ia tentu saja tak sudi mengakui hal ini di hadapan Felise. Sang dokter sendiri bersikap seolah-olah sarannya itu sangatlah wajar.
      “Kapan Anda bisa membawa guci itu?” tanya Felise, beralih pada Jack.
      “Besok,” sahut Jack dengan setengah hati. Ia mesti meneruskan partisipasinya dalam urusan ini, namun ingatan terhadap teriakan ketakutan yang menghantuinya setiap pagi itu mesti ditekan jauh-jauh dan tidak boleh terlalu banyak dipikirkan.

Keesokan sorenya ia berangkat ke rumah pamannya dan mengambil guci yang dimaksud. Ketika melihat benda itu, ia jadi semakin yakin bahwa guci itu memang sama dengan yang ada pada sketsa cat air tersebut, tapi kalaupun ia sudah memeriksanya dengan hati-hati, ia tidak melihat tanda-tanda ada wadah rahasia apa pun pada guci tersebut.
      Sudah pukul sebelas ketika ia dan Lavington tiba di Heather Cottage. Felise sudah menunggu mereka dan membuka pintu dengan lembut bahkan sebelum mereka sempat mengetuk.
      “Masuklah,” bisiknya. “Ayah saya sedang tidur di ruang atas. Jangan sampai kita membuatnya terbangun. Saya sudah membuatkan kopi untuk Anda di sini.”
      Ia berjalan mendahului ke ruang tamu yang kecil dan nyaman. Sebuah lampu spinitus berdiri di atas perapian. Ia membungkuk di atasnya, dan membuatkan kopi harum untuk mereka berdua. Kemudian Jack mengeluarkan guci itu dari bungkusannya yang berlapis-lapis. Felise terkesiap ketika melihatnya.
      “Oh... oh,” serunya dengan antusias. “Memang itu dia gucinya... saya pasti mengenalinya di mana pun.”
      Sementara itu, Lavington melakukan persiapan-persiapan sendiri. Ia memindahkan segala benda yang ada di sebuah meja kecil, kemudian ia menaruh meja itu di tengah ruangan. Di seputarnya ia meletakkan tiga buah kursi. Kemudian diambilnya guci biru itu dari Jack, dan didirikannya di tengah-tengah meja.
      “Nah, sekarang kita sudah siap,” katanya. “Matikan lampu, dan marilah kita duduk mengitari meja, dalam gelap.”
      Kedua orang lainnya mematuhi. Lalu kembali terdengar suara Lavington berbicara dari kegelapan. “Jangan memikirkan apa pun - kosongkan pikiran. Jangan memaksakan pikiran apa-apa. Ada kemungkinan salah satu dari kita di sini memiliki kekuatan sebagai medium. Kalau demikian halnya, maka orang tersebut akan kemasukan roh. Ingat, tak ada yang perlu ditakuti. Buang jauh-jauh rasa takut dari hati kalian, dan melayanglah... melayanglah...”
      Suaranya semakin samar, lalu hening. Menit demi menit, keheningan itu semakin berkembang, menyimpan berbagai kemungkinan. Mudah saja bagi Lavington mengatakan “Buang jauh-jauh rasa takut”. Bukan rasa takut yang dirasakan Jack – melainkan rasa panik. Dan ia hampir yakin bahwa Felise pun merasakan hal yang sama. Sekonyong-konyong ia mendengar suara gadis itu, pelan dan ketakutan.
      “Sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Saya bisa merasakannya.”
      “Buang jauh-jauh rasa takut,” kata Lavington. “Jangan melawan pengaruh yang mendatangi.”
      Kegelapan terasa semakin pekat dan keheningan pun semakin dalam. Perasaan bakal datang sesuatu yang jahat itu jadi semakin dekat dan semakin dekat. Jack merasa tersedak - tak bisa bernapas - pengaruh jahat itu sudah sangat dekat... Kemudian saat-saat penuh konflik itu berlalu, ia serasa melayang-melayang turun - kelopak matanya terkatup – Kedamaian Kegelapan…
      Jack bergerak sedikit. Kepalanya terasa berat - sangat berat, seperti timbal. Di mana ia berada? Cahaya matahari... burung-burung... ia tergeletak menatap langit.
      Lalu ia teringat kembali semua peristiwa itu. Pemanggilan roh.
      Ruangan kecil itu... Felise dan sang dokter. Apa yang telah terjadi?
      Ia duduk tegak, kepalanya berdenyut-denyut sakit dan ia melayangkan pandang ke sekelilingnya. Ia tengah tergeletak di segerumbulan semak-semak kecil, tidak jauh dari pondok itu. Tidak ada orang lain di dekatnya. Ia mengeluarkan arlojinya. Sudah jam setengah satu. Ia terkejut sekali.
      Jack bangkit berdiri dengan susah payah, kemudian lari secepat mungkin ke arah pondok itu. Felise dan Lavington pasti sangat khawatir ketika ia tidak segera tersadar maka mereka membawanya ke udara terbuka.
      Tiba di pondok tersebut, Jack mengetuk pintunya keras-keras, tapi tidak ada jawaban Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu. Mereka pasti sudah pergi mencari pertolongan. Atau... perasaan takut yang tak bisa dijelaskan menyelimuti diri Jack. Apa yang telah terjadi semalam?
      Ia kembali ke hotelnya secepat mungkin. Ketika hendak bertanya di kantor hotel tersebut, seseorang menghantam tulang rusuknya, hingga ia nyaris terjungkal jatuh. Dengan agak marah ia menoleh, dan melihat seorang pria tua berambut putih terkekeh-kekeh gembira.
      “Tidak sangka aku pulang, ya? Tidak sangka, bukan?” kata orang itu.
      “Wah, Paman George, kupikir Paman masih jauh dari sini, entah di mana - di Italia.”
      “Ah, nyatanya tidak. Aku mendarat di Dover semalam. Kupikir aku pergi saja ke kota dan mampir menemuimu dalam perjalanan. Tapi coba, apa yang kutemukan? Kau keluar semalaman ya? Bagus sekali...”
      “Paman George,” Jack menyela dengan tegas. “Ada cerita yang mesti kusampaikan pada Paman. Luar biasa sekali. Aku berani jamin Paman takkan percaya.”
      “Aku juga yakin tidak bakal percaya,” kata pria tua itu sambil tertawa. “Coba ceritakan saja, Nak.”
      “Tapi aku mesti makan dulu,” Jack melanjutkan, “Aku lapar sekali.”
      Ia berjalan mendahului ke ruang makan, dan sambil melahap makanannya, ia menceritakan keseluruhan kisahnya. “Entah apa yang terjadi pada mereka,” ia mengakhiri ceritanya.
      Pamannya seperti kena serangan ayan.
      “Guci itu,” akhirnya ia berhasil berbicara. “GUCI BIRU ITU! Apa yang terjadi dengan guci itu?”
      Jack melongo menatapnya, tak mengerti, tapi di tengah semburan kata-kata pamannya yang menyusul kemudian, ia mulai mengerti.
      Kata-kata pamannya keluar bagai rentetan. “Mingunik - koleksiku yang paling berharga - nilainya setidaknya sepuluh ribu pound - sudah ditawar oleh Hoggenheimer, jutawan Amerika itu – hanya satu-satunya di dunia - cepat katakan, apa yang telah kaulakukan dengan GUCI BIRU milikku?”
      Jack bergegas keluar dari ruangan tersebut. Ia mesti menemukan Lavington. Wanita muda di kantor hotel itu menatapnya dengan dingin.
      “Dr. Lavington sudah pergi larut malam kemarin naik motor. Dia meninggalkan surat untuk Anda.”
      Jack membuka surat itu. Isinya pendek saja, dan langsung ke pokoknya.

SAHABAT MUDAKU YANG BAIK,
Apakah masa-masa supranatural sudah berakhir? Tidak juga terutama kalau disampaikan dalam bahasa ilmiah yang baru.
Salam paling manis dari Felise, ayah yang sakit-sakitan, dan aku sendiri. Kami punya waktu dua belas jam, pasti cukup.
Hormatku,
AMBROSE LAVINGTON,
Dokter Penyembuh Jiwa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...