Agatha Christie - Anjing Kematian #38



Malam itu Jack pulang dengan perasaan ingin tahu yang sangat besar. Sekarang ia sudah menyerahkan kepercayaannya pada Lavington sepenuhnya. Dokter itu telah menerima permasalahannya dengan sikap sangat wajar, telah memberikan respons tegas dan sama sekali tidak terpengaruh, hingga Jack merasa sangat terkesan.

      Ia mendapati teman barunya itu tengah menunggunya di koridor, ketika ia turun untuk makan malam. Sang dokter menyarankan mereka makan malam bersama, di meja yang sama. “Ada berita, Sir?” tanya Jack dengan harap-harap cemas.
      “Aku sudah mengumpulkan sejarah keberadaan Heather Coltage, pondok itu. Penyewa pertamanya adalah seorang tukang kebun tua bersama istrinya. Setelah tukang kebun itu meninggal, istrinya pindah, tinggal bersama anak perempuannya. Pondok itu jatuh ke tangan seorang pembangun, yang berhasil memperbaharuinya dengan sangat sukses, lalu menjualnya pada seorang pria dari kota, yang menggunakan pondok itu untuk berakhir minggu. Sekitar setahun yang lalu, dia menjual pondok itu pada pasangan bernama Turner - Mr. dan Mrs. Turner. Dari kesimpulanku, pasangan itu sepertinya agak aneh. Sang suami orang Inggris, istrinya diperkirakan punya darah Rusia - seorang wanita yang sangat cantik dan eksotis. Mereka hidup sangat tertutup, tidak bergaul dengan siapa pun, dan hampir tak pernah keluar darl kebun pondok itu. Berdasarkan gosip lokal, mereka takut akan sesuatu – tapi menurutku, kita tidak bisa berpegang pada gosip itu.
      “Lalu sekonyong-konyong, suatu hari mereka pergi, berangkat pagi-pagi sekali, dan tidak pernah kembali. Agen di sini menerima surat dan Mr. Turner, ditulis dari London, menginstruksikan dia untuk menjual pondok itu secepat mungkin. Perabotnya dijual semua, dan pondok itu sendiri dijual pada seorang Mr. Mauleverer. Dia tinggal di situ hanya selama dua minggu - lalu dia mengiklankan pondok itu untuk disewakan, berikut perabotnya. Orang-orang yang tinggal di situ sekarang adalah seorang profesor Prancis yang sakit radang paru-paru, bersama anak perempuannya. Mereka baru sepuluh hari tinggal di sana.”
      Jack menerima berita ini tanpa mengatakan apa-apa.
      “Tapi ini tidak memberikan penjelasan lebih jauh pada kita,” katanya akhirnya. “Atau ada?”
      “Aku ingin tahu lebih banyak tentang pasangan Turner itu,” kata Lavington pelan. “Ingat, mereka berangkat meninggalkan pondok pagi-pagi sekali. Sejauh yang dapat kusimpulkan, tak seorang pun benar-benar melihat mereka pergi. Pernah ada yang melihat Mr. Turner sesudahnya - tapi tak ada orang yang pernah melihat Mrs. Turner.”
      Wajah Jack memucat. “Tak mungkin... maksudmu…”
      “Jangan terlalu berdebar-debar dulu, Anak Muda. Pengaruh orang yang sedang menjelang ajal - dan terutama kalau kematiannya berbau kekerasan - pada lingkungan sekitarnya sangatlah kuat. Lingkungan itu bisa saja menyerap pengaruh tersebut, kemudian mentransmisikannya pada seorang penerima yang tepat - dalam hal ini adalah dirimu.”
      “Tapi kenapa aku?” gumam Jack, tak mau menerima. “Kenapa bukan orang lain yang bisa membantu?”
      “Kau menganggap kekuatan itu sebagai sesuatu yang punya akal dan tujuan, bukan sekadar buta dan mekanis sifatnya. Aku sendiri tidak percaya pada roh-roh gentayangan yang suka menghantui tempat tertentu untuk tujuan tertentu. Tapi apa yang pernah kulihat berkali-kali - hingga aku tak bisa lagi menganggapnya sebagai suatu kebetulan semata-mata adalah semacam gerakan meraba-raba yang buta ke arah keadilan. Suatu kekuatan buta yang bergerak di bawah tanah, selalu mengarah ke akhir yang sama itu...”
      Sang dokter mengguncangkan tubuhnya sendiri seakan-akan hendak mengenyahkan suatu obsesi yang menyelimutinya, lalu ia beralih lagi pada Jack dengan senyum ramah di bibirnya.
      “Mari kita lupakan saja topik ini - setidaknya untuk malam ini,” sarannya.
      Jack dengan segera menyetujuinya, tapi ia merasa tidak mudah mengenyahkan topik tersebut dari pikirannya.
      Selama akhir minggu itu, ia mengadakan penyelidikan-penyelidikan gencar sendiri, tapi hasilnya tidak lebih banyak daripada yang sudah diperoleh sang dokter. Ia benar-benar sudah tidak lagi main golf sebelum sarapan.

Mata rantai berikutnya datang dari sudut yang sama sekali tak terduga. Suatu hari, sekembalinya di hotel, Jack diberitahu bahwa ada seorang wanita muda menunggunya. Ia sangat terperanjat ketika melihat tamunya adalah gadis di kebun itu - gadis bunga pansy itu. Gadis itu tampak sangat gugup dan bingung.
      “Maafkan saya, Monsieur, datang menemui Anda seperti ini. Tapi ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Anda... saya...” Ia melayangkan pandang ke sekeillingnya dengan tidak yakin.
      “Masuklah,” Jack lekas-lekas berkata. Sambil berjalan mendahului ke Ruang Duduk Wanda yang sekarang sudah kosong di hotel itu. Ruangan itu suram, dan didominasi oleh beledu merah di mana-mana. “Silakan duduk, Miss, Miss...”
      “Marchaud, Monsieur. Felise Marchaud.”
      “Duduklah, Mademoiselie Marchaud, dan katakan maksud kedatangan Anda.”
      Felise duduk dengan patuh. Ia mengenakan gaun warna hijau gelap hari ini, dan kecantikan serta pesona wajah mungilnya yang penuh harga diri itu tampak lebih kentara daripada biasanya.
      Jantung Jack berdebar lebih cepat saat ia duduk di samping gadis itu.
      “Begini,” kata Felise, “kami belum lama tinggal di pondok itu, dan sejak awal kami mendengar bahwa rumah itu - rumah kecil kami yang sangat manis itu - berhantu. Tidak ada pelayan yang mau tinggal di sana. Itu tidak terialu penting - saya bisa memasak dan mengurus rumah itu sendirian.”
      Mengagumkan,” pikir Jack yang hatinya sudah terpikat. “Dia benar-benar mengagumkan.
      Tapi ia tetap menunjukkan sikap formal.
      “Menurut pendapat saya, segala ocehan tentang hantu-hantu ini omong kosong belaka – sampai empat hari yang lalu. Monsieur, selama empat malam berturut-turut saya mendapatkan mimpi yang sama. Seorang wanita berdiri di sana - dia cantik, jangkung, dan sangat putih. Di kedua tangannya dia memegang sebuah guci porselen berwarna biru. Dia tampak sangat cemas - amat sangat cemas, dan dia terus-menerus mengulurkan guci itu pada saya, seolah-olah meminta saya melakukan sesuatu dengan benda itu - tapi... ah! Dia tak bisa bicara, dan saya... saya tidak tahu apa yang diinginkannya. Begitulah mimpi saya selama dua malam pertama - tapi dua malam yang lalu, mimpi saya lebih panjang. Sosok wanita dan guci biru itu memudar, dan sekonyong-konyong saya mendengar suaranya berteriak - saya tahu pasti itu suaranya -dan, oh! Monsieur, kata-kata yang diucapkannya sama dengan kata-kata yang Anda ucapkan pada saya pagi itu. ’Pembunuhan - Tolong! Pembunuhan!’ Saya terbangun dengan ketakutan. Saya berkata pada diri saya sendiri: Ini cuma mimpi buruk. Kata-kata yang kaudengar itu cuma kebetulan. Tapi kemarin malam mimpi itu datang kembali. Monsieur, ada apa sebenarnya? Anda juga sudah mendengar teriakan itu. Apa yang mesti kita lakukan?”
      Wajah Felise tampak ketakutan. Kedua tangannya yang mungil terkatup rapat, dan ia menatap Jack dengan pandangan memohon. Jack pura-pura tak peduli, walau sebenarnya tidak demikian.
      “Tidak apa-apa, Mademoiselle Marchaud. Anda tak usah khawatir. Begini saja, kalau Anda tidak keberatan, saya minta. Anda mengulangi keseluruhan cerita ini pada seorang teman saya yang tinggal di sini juga, namanya Dr. Lavington.”
      Felise menyatakan kesediaannya, dan Jack pun pergi mencari Lavington. Ia kembali bersama sang dokter beberapa menit kemudian.
      Lavington memandangi gadis itu dengan saksama saat Jack memperkenalkan mereka dengan terburu-buru. Dengan beberapa ucapan yang menenangkan, Lavington berhasil meredakan kecemasan gadis itu, kemudian pada gillrannya ia mendengarkan cerita gadis itu dengan penuh perhatian.
      “Aneh sekali,” katanya setelah Felise selesai bercerita. “Anda sudah menceritakan ini pada ayah Anda?”
      Felise menggelengkan kepala.
      “Saya tak ingin membuat ayah saya cemas. Dia masih sakit keras,” matanya basah oleh air mata, “saya tidak mau menceritakan apa pun yang bisa membuatnya cemas atau gelisah.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...