Pipa
di tangan Jack yang lemas terjatuh, sementara ia membalikkan tubuh ke arah
suara tersebut. Lalu teringat sesuatu, ia menatap terkesiap pada rekannya.
Lavington tengah memandang ke ujung
lapangan, sambil menudungi mata.
“Agak terlalu pendek - cuma melewati
bunker, kurasa.”
Lavington tidak mendengar apa-apa rupanya.
Dunia serasa berpusing. Jack mundur
selangkah dua langkah, terhuyung-huyung. Setelah pulih kembali, ia mendapati
dirinya terbaring di lapangan berumput pendek, dan Lavington tengah membungkuk
di atasnya.
“Nah, tenang saja. Tenanglah.”
“Apa yang terjadi padaku?”
“Kau pingsan, anak muda - bisa dikatakan
begitu.”
“Ya Tuhan,” kata Jack, lalu mengerang.
“Ada apa? Ada yang kaupikirkan?”
“Akan kuceritakan padamu, tapi sebelumnya
aku ingin bertanya dulu.”
Sang dokter menyalakan pipanya sendiri,
kemudian duduk di tepi lapangan. “Silakan menanyakan apa saja yang
kauinginkan,” katanya tenang.
“Kau sudah mengamat-amatiku selama
satu-dua hari belakangan ini. Kenapa?”
Kedua mata Lavington berbinar-binar
sedikit. “Pertanyaanmu agak aneh. Kucing boleh saja memandangi raja, bukan?”
“Jangan mengalihkan. Aku serius. Kenapa?
Aku punya alasan penting, bertanya begini.”
Wajah Lavington menjadi serius. “Aku akan
menjawab sejujurnya. Dalam dirimu aku melihat semua tanda-tanda orang yang
sedang mengalami ketegangan hebat, dan aku jadi penasaran, ketegangan apa yang
sedang kaualami.”
“Itu bisa kuceritakan dengan mudah,” kata
Jack dengan nada pahit. “Aku sudah mau sinting rupanya.” Ia berhenti bicara
dengan dramatis, namun berhubung pernyataannya itu sepertinya tidak menghasilkan
minat dan kecemasan yang diharapkannya, ia mengulangi ucapannya.
“Kubilang aku sudah mau sinting rupanya.”
“Aneh sekali,” gumam Lavington. “Amat
sangat aneh.”
Jack merasa tersinggung. “Kurasa hanya
itulah kesan yang kaudapatkan. Dokter memang sangat tidak berperasaan.”
“Ah, ah, sobat mudaku, kau bicara asal
saja. Begini, walaupun aku punya gelar dokter, aku tidak berpraktek.
Sebenarnya, aku bukan dokter - maksudku bukan dokter yang menyembuhkan sakit
fisik.”
Jack menatapnya dengan tajam. “Juga bukan
dokter jiwa?”
“Ya, bisa dikatakan begitu, tapi lebih
tepatnya aku menyebut diriku dokter penyembuh jiwa.”
“Oh!”
“Aku mendeteksi nada meremehkan dalam
suaramu, tapi kita mesti menggunakan kata tertentu untuk menunjukkan unsur
aktif yang bisa dipisahkan dan punya eksistensi tersendiri, lepas dari tubuh
yang menjadi rumahnya. Orang mesti berdamai dengan jiwanya, Sobat, kau tahu
itu? Ini bukan sekadar ajaran religius yang diciptakan oleh para pendeta. Tapi
kita sebut saja unsur itu sebagai ’pikiran’ atau ’alam bawah sadar’, atau
dengan istilah apa pun yang lebih berkenan bagimu. Tadi kau tersinggung
mendengar nada ucapanku. Tapi bisa kuyakinkan padamu, aku memang sangat heran,
kenapa seorang anak muda yang punya kepribadian seimbang dan sepenuhnya normal
seperti kau ini bisa mengalami delusi bahwa dirinya sudah sinting.”
“Aku memang sudah sinting. Benar-benar
sinting.”
“Maafkan aku, tapi aku tak percaya.”
“Aku benar-benar mengalami delusi.”
“Sesudah makan malam?”
“Tidak, di pagi hari.”
“Tak mungkin,” kata sang dokter, sambil
menyalakan kembali pipanya yang sudah mati
“Sungguh, aku mendengar suara-suara yang
tidak didengar orang lain.”
“Satu dalam seribu orang bisa melihat
bulan-bulan planet Jupiter. Walaupun sembilan ratus sembilan putuh sembilan
orang lainnya tak bisa melihat mereka, itu bukan alasan untuk meragukan keberadaan
bulan-bulan Jupiter, dan jelas bukan alasan untuk menganggap orang keseribu itu
sinting.”
“Tapi bulan-bulan Jupiter sudah merupakan
fakta ilmiah yang terbukti ada.”
Sangat mungkin bahwa apa yang terjadi hari
ini berupa delusi, kelak menjadi fakta ilmiah yang terbukti nyata. Mau tak mau,
sikap tegas Lavington berpengaruh juga terhadap Jack. Ia merasa jauh lebih
tenang dan gembira. Dokter itu mengamatinya dengan saksama selama sesaat,
kemudian mengangguk
“Begitu lebih baik,” katanya. “Masalahnya,
kalian anak-anak muda suka terlalu yakin bahwa tak ada apa pun di luar apa-apa
yang kalian yakini keberadaannya, sehingga kalian terkejut setengah mati kalau
terjadi sesuatu yang membuat keyakinan kalian goyah. Coba kita dengarkan
alasan-alasanmu menganggap dirimu sudah sinting, lalu kita putuskan, apakah kau
memang perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.”
Sedapat mungkin Jack memaparkan rangkaian
peristiwa yang dialaminya.
“Yang tidak bisa kumengerti,” katanya,
“kenapa pagi ini jeritan itu terdengar pada jam setengah delapan - terlambat
lima menit.”
Lavington berpikir sejenak. Kemudian...
“Jam berapa sekarang, menurut arlojimu?”
“Jam delapan kurang lima belas,” sahut
Jack, sambil melihat arlojinya.
“Kalau begitu, sederhana saja. Menurut
arlojiku, sekarang jam delapan kurang dua puluh menit. Arlojimu terlalu cepat
lima menit. Itu point yang sangat menarik dan penting bagiku. Bahkan sangat berharga.”
“Berharga bagaimana?” Jack mulai merasa
tertarik.
“Yah, penjelasan yang paling jelas. Pada
pagi pertama itu kau memang mendengar teriakan tersebut - mungkin teriakan itu
hanya gurauan, mungkin juga tidak. Pada pagi-pagi berikutnya, kau mensugestikan
dirimu mendengar teriakan itu pada jam yang sama.”
“Aku yakin tidak begitu kejadiannya.”
“Tidak secara sadar tentunya, tapi alam
bawah sadar suka mempermainkan kita, tahu? Tapi, bagaimanapun, penjelasan itu tidak
bisa diambil begitu saja. Kalau ini sekadar masalah sugesti, kau pasti akan mendengar
jeritan itu pada jam tujuh lewat dua puluh lima menit, menurut arlojimu, dan
kau tak mungkin mendengarnya saat kejadian itu sudah lewat, seperti yang
kaukira.”
“Jadi?”
“Jadi... sudah jelas bukan? Teriakan minta
tolong itu menempati waktu dan tempat tertentu di alam semesta ini. Tempatnya
adalah di lingkungan pondok itu, dan waktunya adalah jam tujuh lewat dua puluh
lima menit.”
“Ya, tapi kenapa mesti aku yang
mendengarnya? Aku tidak percaya pada hantu dan semacam segala pemanggilan roh
dan sebagainya. Kenapa mesti aku yang mendengar teriakan itu?”
“Ah, soal itu belum bisa kita ketahui
sebabnya saat ini. Anehnya, banyak medium terbaik pada mulanya adalah
orang-orang yang sangat skeptis. Bukan orang-orang yang tertarik pada fenomena okultisme
yang mendapatkan berbagai manifestasi. Ada orang-orang yang bisa melihat dan
mendengar hal-hal yang tidak dilihat dan didengar orang-orang lain - kita tidak
tahu sebabnya, dan sembilan dari sepuluh kemungkinan. Mereka tidak ingin
melihat atau mendengar hal-hal tersebut, dan mereka yakin bahwa mereka
menderita defusi - seperti dirimu. Ini sama halnya dengan arus listrik. Ada
substansi-substansi tertentu yang merupakan penghantar listrik yang baik, dan
ada juga yang buruk. Untuk waktu lama, kita tidak tahu sebabnya, dan mesti puas
dengan menerima saja kenyataan itu. Tapi sekarang ini kita sudah tahu sebabnya.
Aku yakin suatu hari nanti kita akan tahu, kenapa kau mendengar teriakan itu,
sementara aku dan gadis itu tidak mendengarnya.
Segalanya diatur oleh hukum alam - tidak
ada yang namanya hal-hal supranatural itu. Menemukan hukum-hukum yang mengatur
apa yang dinamakan fenomena psikis akan merupakan pekerjaan yang sangat sulit -
tapi kemajuan yang hanya sedikit pun bisa membantu.”
“Tapi, apa yang mesti kulakukan?” tanya
Jack.
Lavington mendecak.
“Kau orang yang berpikiran praktis
rupanya. Nah, sobat mudaku, kau mesti sarapan yang enak, lalu berangkat ke kota
tanpa perlu memikirkan lebih lanjut hal-hal yang tidak kaupahami. Sebaliknya, aku
akan mengendus-endus dan mencari tahu tentang pondok di sana itu. Aku berani
sumpah, di sanalah pusat misteri tersebut.”
Jack bangkit berdiri.
“Baiklah, Sir, aku akan berangkat, tapi...”
“Ya?”
Wajah Jack memerah malu.
“Aku yakin gadis itu tidak ada kaitannya,”
katanya pelan.
Lavington tampak geli.
“Kau tidak bilang gadis itu cantik. Nah,
tenanglah, kurasa misteri itu berawal sebelum dia lahir.”
