Agatha Christie - Anjing Kematian #37



Pipa di tangan Jack yang lemas terjatuh, sementara ia membalikkan tubuh ke arah suara tersebut. Lalu teringat sesuatu, ia menatap terkesiap pada rekannya.

      Lavington tengah memandang ke ujung lapangan, sambil menudungi mata.
      “Agak terlalu pendek - cuma melewati bunker, kurasa.”
      Lavington tidak mendengar apa-apa rupanya.
      Dunia serasa berpusing. Jack mundur selangkah dua langkah, terhuyung-huyung. Setelah pulih kembali, ia mendapati dirinya terbaring di lapangan berumput pendek, dan Lavington tengah membungkuk di atasnya.
      “Nah, tenang saja. Tenanglah.”
      “Apa yang terjadi padaku?”
      “Kau pingsan, anak muda - bisa dikatakan begitu.”
      “Ya Tuhan,” kata Jack, lalu mengerang.
      “Ada apa? Ada yang kaupikirkan?”
      “Akan kuceritakan padamu, tapi sebelumnya aku ingin bertanya dulu.”
      Sang dokter menyalakan pipanya sendiri, kemudian duduk di tepi lapangan. “Silakan menanyakan apa saja yang kauinginkan,” katanya tenang.
      “Kau sudah mengamat-amatiku selama satu-dua hari belakangan ini. Kenapa?”
      Kedua mata Lavington berbinar-binar sedikit. “Pertanyaanmu agak aneh. Kucing boleh saja memandangi raja, bukan?”
      “Jangan mengalihkan. Aku serius. Kenapa? Aku punya alasan penting, bertanya begini.”
      Wajah Lavington menjadi serius. “Aku akan menjawab sejujurnya. Dalam dirimu aku melihat semua tanda-tanda orang yang sedang mengalami ketegangan hebat, dan aku jadi penasaran, ketegangan apa yang sedang kaualami.”
      “Itu bisa kuceritakan dengan mudah,” kata Jack dengan nada pahit. “Aku sudah mau sinting rupanya.” Ia berhenti bicara dengan dramatis, namun berhubung pernyataannya itu sepertinya tidak menghasilkan minat dan kecemasan yang diharapkannya, ia mengulangi ucapannya.
      “Kubilang aku sudah mau sinting rupanya.”
      “Aneh sekali,” gumam Lavington. “Amat sangat aneh.”
      Jack merasa tersinggung. “Kurasa hanya itulah kesan yang kaudapatkan. Dokter memang sangat tidak berperasaan.”
      “Ah, ah, sobat mudaku, kau bicara asal saja. Begini, walaupun aku punya gelar dokter, aku tidak berpraktek. Sebenarnya, aku bukan dokter - maksudku bukan dokter yang menyembuhkan sakit fisik.”
      Jack menatapnya dengan tajam. “Juga bukan dokter jiwa?”
      “Ya, bisa dikatakan begitu, tapi lebih tepatnya aku menyebut diriku dokter penyembuh jiwa.”
      “Oh!”
      “Aku mendeteksi nada meremehkan dalam suaramu, tapi kita mesti menggunakan kata tertentu untuk menunjukkan unsur aktif yang bisa dipisahkan dan punya eksistensi tersendiri, lepas dari tubuh yang menjadi rumahnya. Orang mesti berdamai dengan jiwanya, Sobat, kau tahu itu? Ini bukan sekadar ajaran religius yang diciptakan oleh para pendeta. Tapi kita sebut saja unsur itu sebagai ’pikiran’ atau ’alam bawah sadar’, atau dengan istilah apa pun yang lebih berkenan bagimu. Tadi kau tersinggung mendengar nada ucapanku. Tapi bisa kuyakinkan padamu, aku memang sangat heran, kenapa seorang anak muda yang punya kepribadian seimbang dan sepenuhnya normal seperti kau ini bisa mengalami delusi bahwa dirinya sudah sinting.”
      “Aku memang sudah sinting. Benar-benar sinting.”
      “Maafkan aku, tapi aku tak percaya.”
      “Aku benar-benar mengalami delusi.”
      “Sesudah makan malam?”
      “Tidak, di pagi hari.”
      “Tak mungkin,” kata sang dokter, sambil menyalakan kembali pipanya yang sudah mati
      “Sungguh, aku mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain.”
      “Satu dalam seribu orang bisa melihat bulan-bulan planet Jupiter. Walaupun sembilan ratus sembilan putuh sembilan orang lainnya tak bisa melihat mereka, itu bukan alasan untuk meragukan keberadaan bulan-bulan Jupiter, dan jelas bukan alasan untuk menganggap orang keseribu itu sinting.”
      “Tapi bulan-bulan Jupiter sudah merupakan fakta ilmiah yang terbukti ada.”
      Sangat mungkin bahwa apa yang terjadi hari ini berupa delusi, kelak menjadi fakta ilmiah yang terbukti nyata. Mau tak mau, sikap tegas Lavington berpengaruh juga terhadap Jack. Ia merasa jauh lebih tenang dan gembira. Dokter itu mengamatinya dengan saksama selama sesaat, kemudian mengangguk
      “Begitu lebih baik,” katanya. “Masalahnya, kalian anak-anak muda suka terlalu yakin bahwa tak ada apa pun di luar apa-apa yang kalian yakini keberadaannya, sehingga kalian terkejut setengah mati kalau terjadi sesuatu yang membuat keyakinan kalian goyah. Coba kita dengarkan alasan-alasanmu menganggap dirimu sudah sinting, lalu kita putuskan, apakah kau memang perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.”
      Sedapat mungkin Jack memaparkan rangkaian peristiwa yang dialaminya.
      “Yang tidak bisa kumengerti,” katanya, “kenapa pagi ini jeritan itu terdengar pada jam setengah delapan - terlambat lima menit.”
      Lavington berpikir sejenak. Kemudian...
      “Jam berapa sekarang, menurut arlojimu?”
      “Jam delapan kurang lima belas,” sahut Jack, sambil melihat arlojinya.
      “Kalau begitu, sederhana saja. Menurut arlojiku, sekarang jam delapan kurang dua puluh menit. Arlojimu terlalu cepat lima menit. Itu point yang sangat menarik dan penting bagiku. Bahkan sangat berharga.”
      “Berharga bagaimana?” Jack mulai merasa tertarik.
      “Yah, penjelasan yang paling jelas. Pada pagi pertama itu kau memang mendengar teriakan tersebut - mungkin teriakan itu hanya gurauan, mungkin juga tidak. Pada pagi-pagi berikutnya, kau mensugestikan dirimu mendengar teriakan itu pada jam yang sama.”
      “Aku yakin tidak begitu kejadiannya.”
      “Tidak secara sadar tentunya, tapi alam bawah sadar suka mempermainkan kita, tahu? Tapi, bagaimanapun, penjelasan itu tidak bisa diambil begitu saja. Kalau ini sekadar masalah sugesti, kau pasti akan mendengar jeritan itu pada jam tujuh lewat dua puluh lima menit, menurut arlojimu, dan kau tak mungkin mendengarnya saat kejadian itu sudah lewat, seperti yang kaukira.”
      “Jadi?”
      “Jadi... sudah jelas bukan? Teriakan minta tolong itu menempati waktu dan tempat tertentu di alam semesta ini. Tempatnya adalah di lingkungan pondok itu, dan waktunya adalah jam tujuh lewat dua puluh lima menit.”
      “Ya, tapi kenapa mesti aku yang mendengarnya? Aku tidak percaya pada hantu dan semacam segala pemanggilan roh dan sebagainya. Kenapa mesti aku yang mendengar teriakan itu?”
      “Ah, soal itu belum bisa kita ketahui sebabnya saat ini. Anehnya, banyak medium terbaik pada mulanya adalah orang-orang yang sangat skeptis. Bukan orang-orang yang tertarik pada fenomena okultisme yang mendapatkan berbagai manifestasi. Ada orang-orang yang bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak dilihat dan didengar orang-orang lain - kita tidak tahu sebabnya, dan sembilan dari sepuluh kemungkinan. Mereka tidak ingin melihat atau mendengar hal-hal tersebut, dan mereka yakin bahwa mereka menderita defusi - seperti dirimu. Ini sama halnya dengan arus listrik. Ada substansi-substansi tertentu yang merupakan penghantar listrik yang baik, dan ada juga yang buruk. Untuk waktu lama, kita tidak tahu sebabnya, dan mesti puas dengan menerima saja kenyataan itu. Tapi sekarang ini kita sudah tahu sebabnya. Aku yakin suatu hari nanti kita akan tahu, kenapa kau mendengar teriakan itu, sementara aku dan gadis itu tidak mendengarnya.
      Segalanya diatur oleh hukum alam - tidak ada yang namanya hal-hal supranatural itu. Menemukan hukum-hukum yang mengatur apa yang dinamakan fenomena psikis akan merupakan pekerjaan yang sangat sulit - tapi kemajuan yang hanya sedikit pun bisa membantu.”
      “Tapi, apa yang mesti kulakukan?” tanya Jack.
      Lavington mendecak.
      “Kau orang yang berpikiran praktis rupanya. Nah, sobat mudaku, kau mesti sarapan yang enak, lalu berangkat ke kota tanpa perlu memikirkan lebih lanjut hal-hal yang tidak kaupahami. Sebaliknya, aku akan mengendus-endus dan mencari tahu tentang pondok di sana itu. Aku berani sumpah, di sanalah pusat misteri tersebut.”
      Jack bangkit berdiri.
      “Baiklah, Sir, aku akan berangkat, tapi...”
      “Ya?”
      Wajah Jack memerah malu.
      “Aku yakin gadis itu tidak ada kaitannya,” katanya pelan.
      Lavington tampak geli.
      “Kau tidak bilang gadis itu cantik. Nah, tenanglah, kurasa misteri itu berawal sebelum dia lahir.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...