Agatha Christie - Anjing Kematian #36



Didengarnya gadis itu berbicara lembut – hampir-hampir dengan nada simpati. “Anda mengalami gangguan saraf bekas berperang?”

      Dalam sekejap Jack memahami ekspresi ketakutan di wajah gadis itu, dan kenapa ia menoleh ke rumahnya. Ia mengira Jack menderita delusi...
      Bagaikan tersiram air dingin, pikiran mengerikan itu muncul dalam benak Jack. Benarkah ia mengalami delusi? Terobsesi oleh kengerian pikiran tersebut, ia membalikkan tubuh dan lekas-lekas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Gadis itu memandanginya pergi, lalu mendesah sambil menggelengkan kepala, dan meneruskan mencabuti rumput.
      Jack berusaha mencari penjelasan yang masuk akal dengan dirinya bendiri. “Kalau aku mendengar jeritan itu lagi pada pukul tujul lewat dua puluh lima menit,” pikirnya, “berarti aku memang mengalami semacam halusinasi. Tapi aku tidak bakal mendengarnya.”

Ia merasa gugup sepanjang hari itu, dan pergi tidur lebih awal, dengan tekad untuk membuktikan hal tersebut keesokan paginya. Barangkali dalam kasus semacam ini wajar saja kalau ia malah tak bisa tidur hampir selama setengah malam itu, dan keesokan paginya ia jadi bangun terlambat. Sudah jam tujuh - lewat dua puluh menit ketika ia keluar dari hotel dan lari ke arah padang golf. Ia menyadari, tak mungkin ia bisa mencapai spot penting itu pada jam tujuh lewat dua puluh lima. Tapi kalau jeritan yang didengarnya itu hanya halusinasinya belaka, tentunya ia akan mendengarnya di mana saja. Ia terus berlari, matanya terpaku pada jarum-jarum arlojinya.
      Sudah lewat dua puluh lima menit. Dari kejauhan terdengar gema suara seorang wanita, memanggil-manggil. Kata-katanya tidak jelas, tapi ia yakin suara itu adalah jeritan yang sama dengan yang ia dengar sebelumnya, dan berasal dari titik yang sama pula, di suatu tempat di sekitar pondok itu.
      Anehnya kenyataan ini justru membuatnya tenang. Bagaimanapun, mungkin saja semua itu tipuan belaka. Walau kelihatannya tak mungkin, bisa saja gadis itu ternyata mempermainkannya. Jack menegakkan bahunya dengan penuh keyakinan, dan mengeluarkan tongkat golf dan tasnya. Ia akan memainkan beberapa hole sampai ke pondok itu.
      Gadis itu ada di kebun, seperti biasa. Pagi ini ia mengangkat wajahnya ke arah Jack, dan ketika Jack mengangkat topi ke arahnya, ia mengucapkan selamat pagi dengan agak malu-malu... Dia tampak lebih cantik daripada biasanya, pikir Jack.
      “Hari yang indah, bukan?” sapa Jack dengan ceria, sambil menyumpahi kalimatnya sendiri yang klise.
      “Ya, hari yang indah sekali.”
      “Bagus untuk berkebun, ya?”
      Si gadis tersenyum sedikit, menampakkan sebuah lesung pipi yang memikat.
      “Ah, tidak. Bunga-bunga saya membutuhkan hujan. Lihat, semuanya kering dan layu.”
      Jack menghampiri pagar tanaman pendek yang memisahkan kebun itu dari lapangan golf, dan melongok ke baliknya. “Kelihatannya mereka baik-baik saja,” katanya dengan canggung, karena menyadari sorot agak iba yang terpancar dalam tatapan gadis itu kepadanya.
      “Mataharinya cerah sekali, bukan?” kata gadis itu. “Bunga-bunga selalu bisa disirami kalau kepanasan. Tapi matahari memberikan kekuatan dan memperbaiki kesehatan. Saya lihat hari ini Monsieur jauh lebih baik.”
      Nadanya yang seperti menawarkan semangat itu membuat Jack sangat jengkel.
      Sial sekali,” pikirnya. “Aku yakin dia berusaha menyembuhkanku dengan memberikan sugesti seperti itu.”
      “Aku baik-baik saja,” kata Jack.
      “Bagus kalau begitu,” si gadis menjawab cepat dengan nada lembut.
      Jack sangat kesal karena merasa gadis itu tidak mempercayainya. Ia memainkan beberapa hole lagi, lagi cepat-cepat pulang untuk sarapan.
      Sambil makan, ia menyadari bukan untuk pertama kalinya - bahwa seorang laki-laki yang duduk di meja sebelahnya tengah mengamatinya dengan saksama. Laki-laki itu berumur sekitar setengah baya, dengan wajah berwibawa. Ia memiliki janggut kecil berwarna gelap dan sepasang mata kelabu yang sangat tajam, sikapnya yang santai dan yakin menandakan ia seorang professional dari kelas yang lebih tinggi. Jack tahu nama orang itu Lavington, dan ia pernah mendengar gosip-gosip samar bahwa Lavington ini seorang spesialis medis terkemuka. Tapi berhubung Jack bukan pengunjung setia Harley Street, nama itu hanya sedikit sekali artinya baginya, atau bahkan sama sekali tidak berarti apa-apa
      Tapi pagi ini ia sangat merasakan tatapan orang itu, dan ia jadi agak takut. Apakah rahasia yang disimpannya jelas-jelas tergambar di wajahnya, dan bisa dilihat setiap orang? Apakah orang ini, berhubung ia seorang profesional, mengetahui bahwa ada yang tidak beres di dalam sel-sel kelabu otaknya yang tersembunyi?
      Pikiran itu membuat Jack merinding. Benarkah itu? Benarkah ia sudah mulai sinting? Apakah keseluruhan peristiwa yang dialaminya hanya halusinasi atau suatu tipuan besar?
      Dan sekonyong-konyong terlintas dalam benaknya suatu cara yang sangat sederhana untuk menguji solusinya. Selama ini ia selalu hanya sendirian saat mendengar suara jeritan itu. Bagaimana kalau ada orang lain bersamanya? Salah satu dari tiga kemungkinan tentunya bakal terjadi. Suara itu tidak akan terdengar lagi. Mereka berdua sama-sama mendengarnya. Atau... hanya dirinya yang mendengar.
      Sore itu ia melaksanakan rencananya. Lavingtonlah yang ingin ia ajak bersamanya. Tidak sulit bagi mereka untuk terlibat percakapan. Mungkin Lavington sendiri sudah menunggu-nunggu kesempatan itu. Untuk alasan tertentu, jelas bahwa ia tertarik pada Jack. Jack tidak mendapat kesulitan mengajak Lavington main golf beberapa hok bersamanya sebelum sarapan. Mereka berjanji akan bertemu keesokan paginya.

Kedua orang itu berangkat pukul tujuh kurang sedikit. Hari itu hari yang sangat sempurna, tak berangin dan tak berawan, tapt tidak terlalu panas. Sang dokter bermain sangat bagus, sedangkan Jack bermain sangat buruk. Keseluruhan pikirannya tertuju pada peristiwa yang bakal terjadi. Ia terus-menerus melirik jam tangannya. Mereka mencapai tee ketujuh pada pukul tujuh lewat dua puluh. Pondok itu terletak antara tee tersebut dan hole yang dituju.
      Si gadis, seperti biasa, ada di kebun, ketika mereka lewat ia tidak mengangkat wajah.
      Dua buah bola tergeletak di rumput. Bola Jack di dekat lubang, bola sang dokter agak jauh.
      “Ini dia “ kata Lavington. “Aku mesti berhasil, kurasa.” Ia membungkuk, memperkirakan kekuatan pukulan yang mesti diambilnya. Jack berdiri kaku, matanya terpaku pada arlojinya. Saat itu pukul tujuh lewat dua puluh lima menit tepat.
      Bola tersebut bergulir cepat di rumput, berhenti di tepi lubang, terdiam sebentar. Lalu masuk ke dalam lubang.
      “Pukulan bagus,” kata Jack. Suaranya terdengar serak, tidak seperti suaranya sendiri... Ia mendorong arlojinya naik di lengannya, sambil mendesah lega. Tidak terjadi apa-apa. Kutukan itu sudah lewat rupanya.
      “Kalau Anda tidak keberatan, aku ingin mengisap pipa,” katanya.
      Mereka berhenti sejenak di tee kedelapan. Jack mengisi pipanya dan menyalakannya dengan jemari agak gemetar. Sebuah beban berat serasa terangkat dari pikirannya.
      “Hi-ni-n, betapa indahnya hari ini,” katanya sambil memandang ke depan dengan perasaan puas yang amat sangat. “Teruskan, Lavington, pukulanmu.”
      Kemudian terjadilah hal itu. Tepat saat sang dokter hendak melakukan pukulan. Jeritan seorang wanita tinggi dan ketakutan. “Pembunuhan... Tolong! Pembunuhan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...