II
“Aku
perlu nasihatmu, Seldon.”
Seldon mendorong kursinya sedikit menjauhi
meja. Ia sudah bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan obrolan basa-basi ini. Ia jarang
bertemu Hamer sejak musim dingin, dan malam ini ia merasa ada perubahan yang
tak bisa dijelaskan dalam diri temannya ini.
“Cuma ini,” kata jutawan itu, “aku cemas
akan diriku sendiri.”
Seldon tersenyum sambil memandang ke
seberang meja. “Tampaknya kau sehat-sehat saja.”
“Bukan itu.” Hamer diam sejenak, lalu
menambahkan pelan, “Aku khawatir aku sudah sinting.”
Spesialis saraf itu mengangkat wajah
dengan minat besar yang muncul tiba-tiba. Dengan gerakan agak pelan ia menuang
segelas anggur untuk dirinya sendiri, kemudian ia berkata pelan dengan tatapan
tajam ke arah teman bicaranya, “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Sesuatu telah terjadi padaku. Sesuatu
yang tak bisa dijelaskan dan sulit dipercaya. Tapi itu tak mungkin benar-benar
terjadi, berarti akulah yang mulai sinting.”
“Pelan-pelan saja,” kata Seldon, “dan
ceritakan padaku, apa yang terjadi.”
“Aku tidak percaya akan hal-hal yang
bersifat supranatural,” Hamer memulai. “Sejak dulu pun tidak. Tapi yang satu
ini... yah, sebaiknya kuceritakan keseluruhan kisahnya sejak dari awal. Dimulai
pada suatu malam di musim dingin yang lalu, sesudah aku makan malam bersamamu.”
Kemudian dengan singkat dan ringkas ia
memaparkan apa-apa yang dialaminya dalam perjalanan pulang serta kelanjutannya
yang aneh.
“Itulah awal dari semuanya. Aku tak bisa
menjelaskan dengan semestinya padamu - maksudku tentang perasaanku - tapi apa
yang kurasakan itu sungguh luar biasa! Belum pernah aku merasakan atau bermimpi
seperti itu. Yah, dan perasaan itu terus berlanjut. Tidak setiap malam, hanya
sesekali. Musik itu, perasaan terangkat dari tanah, terbang jauh ke
ketinggian... lalu perasaan tertekan yang tak tertahankan ditarik kembali ke
bumi, dan sesudahnya rasa sakit itu. Rasa sakit fisik saat terbangun. Rasanya
seperti baru turun dari gunung tinggi - kau tahu kan, rasa sakit di telinga,
yang dirasakan orang setelah turun gunung? Nah, ini sama, tapi lebih intens - diiringi
dengan perasaan berat yang amat sangat – perasaan terkurung, tak bisa
bernapas...”
Ia berhenti bicara. Sejenak hening di
antara mereka.
“Para pelayan sudah menganggap aku
sinting. Aku tidak tahan terkurung oleh atap dan tembok-tembok rumah - aku
sudah membuat tempat di bagian puncak rumah terbuka ke arah langit, tanpa
perabot atau karpet, atau apa pun yang membuat sesak napas... tapi melihat
rumah-rumah di sekitarku pun aku tidak tahan. Aku ingin tempat terbuka, di mana
aku bisa bernapas...” Ia menatap Seldon. “Nah, bagaimana menurutmu? Bisakah kau
memberi penjelasan?”
“Hmm.” kata Seldon. “Banyak penjelasannya.
Kau sudah terhipnotis atau kau menghipnotis dirimu sendiri. Saraf-sarafmu sudah
tak beres. Atau barangkali yang kaualami itu hanya mimpi.”
Hamer menggelengkan kepala. “Tidak ada
penjalasanmu yang tepat.”
“Masih ada lagi,” kata Seldon perlahan-lahan,
“tapi biasanya penjelasan ini tidak diakui.”
“Kamu sendiri siap mengakuinya?”
“Secara keseluruhan, ya! Banyak sekali
hal-hal yang tidak bisa kita pahami, dan tidak bisa dijelaskan secara normal.
Masih banyak yang mesti kita cari tahu kebenarannya, dan aku selalu berusaha
berpikiran terbuka.”
“Kau menyarankan aku berbuat apa?” tanya
Hamer setelah diam sejenak.
Seldon mencondongkan tubuh dengan gerakan
sigap. “Salah satunya saja. Tinggalkan London, carilah tempat terbuka yang kauimpikan.
Mimpi-mimpimu itu mungkin akan berhenti.”
“Tidak bisa,” kata Hamer cepat. “Masalahnya,
aku tidak bisa hidup tanpa mimpi-mimpi itu. Aku tidak mau.”
“Ah, sudah kuduga. Alternatif lainnya,
cari orang itu, laki-laki cacat itu. Kau telah mengaitkan banyak unsur
supranatural terhadap dirinya. Bicaralah dengannya. Hancurkan pesona itu.”
Hamer kembali menggelengkan kepala.
“Kenapa tidak?”
“Aku takut,” sahut Hamer singkat saja.
Seldon membuat gerakan tak sabar. “Jangan
percaya bulat-bulat begitu saja! Nada yang dia mainkan itu, yang memulai semua
ini, seperti apa bunyinya?”
Hamer menggumamkannya, dan Seldon
mendengarkan sambil menggerenyit bingung.
“Mirip penggalan nada Overture Rienzi.
Memang ada kesan melegakan pada nada itu - seakan-akan nada itu bersayap. Tapi
aku toh tidak sampai terbawa terbang olehnya. Nah, penerbangan-penerbanganmu itu,
apa semuanya persis sama?”
“Tidak, tidak.” Hamer mencondongkan tubuh
dengan bersemangat. “Mereka berkembang setiap kali aku melihat lebih banyak.
Sulit menjelaskannya. Aku selalu sadar telah mencapai titik tertentu - musik
itu membawaku ke sana - tidak secara langsung, tapi melalui serangkaian
gelombang, masing-masing lebih tinggi daripada yang sebelumnya, sampai di suatu
titik tertinggi, di mana orang tidak bisa naik lebih jauh lagi. Aku tetap di
sana sampai aku diseret pulang. Aku tidak mengacu pada tempat, tapi lebih
pada... suasana hati. Yah, mulanya tidak begitu, tapi setelah beberapa lama,
aku mulai menyadari bahwa di sekitarku ada hal-hal lain yang menunggu, sampai
aku sanggup memahaminya. Bayangkan seekor anak kucing. Anak kucing itu punya
mata, tapi mulanya dia tidak bisa mellhat. Dia buta, dan mesti belajar melihat.
Nah, seperti itulah yang kualami. Mata dan telinga manusia tidak ada gunanya
bagiku, tapi ada sesuatu yang berkaitan dengan mata dan telinga itu yang belum
dikembangkan - sesuatu yang sama sekali tidak bersifat fisik. Dan sedikit demi
sedikit, sesuatu itu berkembang... ada sensasi-sensasi akan cahaya... lalu
suara-suara... lalu warna... semuanya sangat samar dan tidak terumuskan. Lebih
pada mengetahui keberadaan semua itu, daripada melihat atau mendengarnya.
Mulanya aku melihat cahaya, cahaya yang semakin terang dan semakin jelas - lalu
pasir, bentangan luar pasir kemerahan... dan di sana-sini ada garis-garis air
yang panjang dan lurus, seperti kanal-kanal...”
Seldon menarik napas dengan tajam. “Kanal!
Itu menarik. Teruskan.”
“Tapi semua itu tidak penting - tidak
penting lagi. Yang penting adalah apa-apa yang belum bisa kulihat - tapi aku bisa
mendengarnya... bunyinya seperti desir kepak sayap... entah bagaimana, aku tak
bisa menjelaskan, tapi perasaan itu sungguh luar biasa! Tak ada yang bisa
menyamainya di sini. Lalu muncul perasaan menakjubkan lainnya - aku bisa
melihat mereka – Sayap-sayap itu! Oh, Seldon, Sayap-sayap itu!”
“Tapi apa sebenarnya sayap-sayap itu?
Manusia malaikat - burung-burung?”
“Aku tidak tahu. Aku tak bisa melihatnya -
belum bisa. Tapi warna mereka! Warna sayap - kita tidak memilikinya di sini – warna
yang sangat indah.”
“Warna sayap?” ulang Seldon. “Seperti
apa?”
Hamer mengibaskan kedua tangannya dengan
tak sabar. “Mana bisa kugambarkan? Seperti menjelaskan warna biru pada orang buta.
Warna itu warna yang tak pernah kaulihat-warna Sayap!”
“Lalu?”
“Lalu? Itu saja. Hanya sejauh itulah yang
kualami. Tapi setiap kali aku kembali, rasanya jadi lebih berat - lebih
menyakitkan. Aku tak mengerti. Aku yakin ragaku tak pernah meninggalkan tempat
tidur. Di tempat yang kudatangi itu, aku yakin aku tidak punya badan fisik. Lalu
kenapa rasanya begitu menyakitkan?”
Seldon menggelengkan kepala tanpa
mengatakan apa-apa.
“Menyakitkan sekali - proses kembali itu.
Aku serasa ditarik –lalu rasa sakit itu, rasa sakit di setiap anggota tubuhku
dan setiap saat, telingaku serasa akan meledak. Segalanya begitu menekan. Berat
sekali, perasaan terkurung yang amat sangat. Aku merindukan cahaya, udara,
ruang - terutama ruang untuk bernapas! Dan aku menginginkan kebebasan.”
“Lalu bagaimana dengan hal-hal lain yang
biasanya begitu berarti bagimu?” tanya Seldon.
“Itulah yang paling menyedihkan. Aku masih
tetap menyukai hal-hal lama itu, malah bisa dikatakan melebihi semula. Tapi
hal-hal itu - kenyamanan, kemewahan, kesenangan - sepertinya menarikku ke arah
yang berlawanan dengan Sayap-sayap itu. Seperti tarik-menarik abadi di antara
keduanya - dan aku tak tahu kapan itu akan berakhir.”
Seldon duduk dalam diam. Kisah aneh yang
di dengarnya ini cukup fantastis dalam semua kebenarannya. Apakah semua itu hanya
delusi, halusinasi liar atau adakah kemungkinan bahwa semua itu benar? Dan
kalau ya, kenapa Hamer, dari sekian banyak orang ...? Mestinya pria materialis
ini, yang mencintai kesenangan fisik dan mengingkari kehidupan spiritual,
bukanlah orang yang bakal mendapat penglihatan ke dunia lain.
Di hadapannya, Hamer memandanginya dengan
harap-harap cemas.
“Kurasa kau hanya bisa menunggu,” kata
Seldon perlahan-lahan. “Menunggu dan melihat apa yang terjadi.”
“Aku tak bisa. Sungguh, aku tak bisa.
Dengan berkata begitu berarti kau tidak mengerti. Aku terbelah - dua dalam
tarik-menarik mengerikan ini pertarungan mematikan yang terus-menerus antara...
antara...” Ia ragu-ragu.
“Raga dan jiwa?” Seldon membantu.
Hamer menatap tajam ke depan. “Mungkin
seperti itulah. Yang jelas, rasanya tak tertahankan... aku tak bisa bebas...”
Sekali lagi Bernard Seldon menggelengkan
kepala. Ia terjebak dalam cengkeraman sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ia
memberikan satu saran lagi. “Kalau aku jadi kau,” katanya, “aku akan mencari
laki-laki itu.”
Tapi dalam perjalanan pulang ia bergumam sendiri, “Kanal...
aneh.”
