Agatha Christie - Anjing Kematian #24



Mrs. Lancaster hendak berbicara lagi, tapi ayahnya menggelengkan kepala.
      “Geoff,” kata Mr. Winburn dengan lembut, “anak kecil yang malang itu memang kesepian, dan barangkali kau bisa menolong menghiburnya; tapi kau mesti menemukan sendiri caranya, seperti memecahkan teka teki... kau mengerti?”

      “Apa karena aku sudah mulai besar, aku mesti melakukannya sendirian?”
      “Ya, karena kau sudah mulai besar.”
      Setelah Geoffrey keluar dari ruangan itu. Mrs. Lancaster menoleh pada ayahnya dengan sikap tak sabar.
      “Papa, ini keterlaluan sekali. Mendorong anak itu untuk percaya cerita para pelayan yang tidak-tidak.”
      “Tidak ada pelayan yang bicara tidak-tidak padanya,” kata Mr. Winburn dengan lembut. “Dia telah mellhat apa yang pernah kudengar, apa yang mungkin bisa kulihat kalau aku masih seusianya.”
      “Tapi ini sangat tidak masuk akal! Kenapa aku tidak melihat atau mendengar apa pun?”
      Mr. Winburn tersenyum, senyum lelah yang aneh, tapi tidak menjawab.
      “Kenapa?” ulang Mrs. Lancaster. “Dan kenapa Papa bilang dia bisa menolong... makhluk itu? Itu... itu sungguh tidak masuk akal.”
      Mr. Winburn yang tua itu menatap anak perempuannya dengan penuh perhatian.
      “Kenapa tidak?” katanya. “Apa kau ingat kata-kata ini: ’Lampu apa yang dimiliki sang Takdir untuk membimbing anak-anaknya yang tersandung-sandung dalam gelap? Pemahaman Buta sahut Langit’. Geoffrey memiliki hal yang satu itu, pemahaman buta. Semua anak kecil memilikinya. Kita kehilangan kemampuan itu setelah dewasa, sebab kita menepiskannya. Kadang, kalau kita sudah sangat tua, secercah cahaya samar kembali pada kita, namun Lampu itu menyala paling terang saat kita masih kanak-kanak. Itu sebabnya kupikir Geoffrey mungkin bisa membantu.”
      “Aku tidak mengerti,” gumam Mrs. Lancaster dengan suara pelan.
      “Aku pun tidak. Anak itu sedang mendapat kesulitan, dan ingin... ingin minta dibebaskan. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu, tapi... menyedihkan sekali membayangkan dia... terisak-isak begitu memilukan seorang anak kecil.”

Sebulan setelah percakapan tersebut, Geoffrey sakit parah. Angin yang berembus dari timur memang sangat keras dan ia bukan anak yang kuat. Dokter menggeleng-gelengkan kepala, dan mengatakan kasus ini berat. Kepada Mr. Winburn sang dokter bicara lebih banyak, dan mengakui bahwa sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. “Anak itu memang tidak akan berumur panjang, dalam keadaan apa pun,” tambahnya. “Paru-parunya sudah lama bermasalah.”
      Pada saat sedang merawat Geoffrey-lah Mrs. Lancaster baru menyadari keberadaan anak satunya itu. Mulanya suara isakan-isakannya hanya terdengar samar-samar di tengah deru angin, tapi lambat laun suara itu jadi semakin jelas, semakin tak mungkin tersamarkan. Akhirnya ia mendengarnya pada saat suasana benar-benar sunyi: suara isakan seorang anak kecil monoton, sedih memilukan.
      Keadaan Geoffrey semakin parah, dan dalam tidurnya ia berkali-kali mengigau tentang ”anak lelaki kecil itu”. “Aku ingin menolongnya pergi, aku ingin menolongnya,” serunya.
      Keluhan itu dlikuti oleh keadaan apatis. Geoffrey berbaring sangat diam, hampir-hampir tak bernapas, tatapannya menerawang. Tak ada yang bisa dilakukan, selain menunggu dan mengawasi.
      Lalu suatu malam angin berhenti bertiup, suasana sunyi, jernih dan tenang. Sekonyong-konyong Geoffrey bergerak. Kedua matanya membuka. Ia memandang ke arah pintu yang terbuka, melewati ibunya. Ia mencoba berbicara dan ibunya membungkuk untuk menangkap kata-katanya yang diucapkan dengan setengah berbisik.
      “Baik, aku datang,” bisiknya, lalu terkulai kembali di tempat tidurnya.
      Sekonyong-konyong ibunya merasa sangat takut. Ia mendatangi ayahnya.
      Di suatu tempat di dekat mereka, seorang anak lain tertawa. Suara tawanya begitu bahagia, puas, penuh kemenangan, dan jernih menggema di seluruh ruangan.
      “Aku takut, aku takut,” erang Mrs. Lancaster.
      Ayahnya merangkulnya dengan sikap protektif. Hembusan angin kencang yang datang mendadak, mengejutkan mereka tapi angin itu berlalu cepat, dan udara kembali tenang, seperti sebelumnya.
      Suara tawa tadi sudah berhenti, dan samar-samar mereka mendengar suara samar, begitu samar hingga nyaris tak terdengar, namun kemudian semakin keras, hingga mereka bisa menangkapnya. Suara langkah-langkah kaki ringan, pergi bergegas.
      Tik tik tik tik tik tik, bunyinya, bunyi langkah-langkah kaki kecil yang ragu-ragu dan sudah amat dikenal itu. Namun sekarang ada suara langkah-langkah kaki lain yang sekonyong-konyong mengikutinya, bergerak dengan langkah lebih cepat dan lebih ringan.
      Bersamaan keduanya menuju pintu. Terus, terus, terus melewati pintu, mendekati Mrs. Lancaster dan ayahnya.
      Tik tik tik tik tik tik, langkah-langkah kaki kedua anak itu bersama-sama.
      Mrs. Lancaster mengangkat wajah dengan panik
      “Mereka berdua-berdua!”
      Pucat oleh perasaan ngeri ia berbalik ke arah tempat tidur kecil di sudut sana, namun ayahnya menahannya dengan lembut, dan menunjuk.
      “Di sana,” katanya.
      Tik tik tik, tik tik tik semakin pelan dan semakin pelan. Sesudah itu... tak terdengar apa pun lagi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...