Mrs.
Lancaster hendak berbicara lagi, tapi ayahnya menggelengkan kepala.
“Geoff,” kata Mr. Winburn dengan lembut,
“anak kecil yang malang itu memang kesepian, dan barangkali kau bisa menolong menghiburnya;
tapi kau mesti menemukan sendiri caranya, seperti memecahkan teka teki... kau
mengerti?”
“Apa karena aku sudah mulai besar, aku
mesti melakukannya sendirian?”
“Ya, karena kau sudah mulai besar.”
Setelah Geoffrey keluar dari ruangan itu.
Mrs. Lancaster menoleh pada ayahnya dengan sikap tak sabar.
“Papa, ini keterlaluan sekali. Mendorong
anak itu untuk percaya cerita para pelayan yang tidak-tidak.”
“Tidak ada pelayan yang bicara tidak-tidak
padanya,” kata Mr. Winburn dengan lembut. “Dia telah mellhat apa yang pernah kudengar,
apa yang mungkin bisa kulihat kalau aku masih seusianya.”
“Tapi ini sangat tidak masuk akal! Kenapa
aku tidak melihat atau mendengar apa pun?”
Mr. Winburn tersenyum, senyum lelah yang
aneh, tapi tidak menjawab.
“Kenapa?” ulang Mrs. Lancaster. “Dan kenapa
Papa bilang dia bisa menolong... makhluk itu? Itu... itu sungguh tidak masuk
akal.”
Mr. Winburn yang tua itu menatap anak
perempuannya dengan penuh perhatian.
“Kenapa tidak?” katanya. “Apa kau ingat
kata-kata ini: ’Lampu apa yang dimiliki sang Takdir untuk membimbing
anak-anaknya yang tersandung-sandung dalam gelap? Pemahaman Buta sahut Langit’.
Geoffrey memiliki hal yang satu itu, pemahaman buta. Semua anak kecil
memilikinya. Kita kehilangan kemampuan itu setelah dewasa, sebab kita
menepiskannya. Kadang, kalau kita sudah sangat tua, secercah cahaya samar
kembali pada kita, namun Lampu itu menyala paling terang saat kita masih
kanak-kanak. Itu sebabnya kupikir Geoffrey mungkin bisa membantu.”
“Aku tidak mengerti,” gumam Mrs. Lancaster
dengan suara pelan.
“Aku pun tidak. Anak itu sedang mendapat
kesulitan, dan ingin... ingin minta dibebaskan. Tapi bagaimana caranya? Aku
tidak tahu, tapi... menyedihkan sekali membayangkan dia... terisak-isak begitu memilukan
seorang anak kecil.”
Sebulan
setelah percakapan tersebut, Geoffrey sakit parah. Angin yang berembus dari
timur memang sangat keras dan ia bukan anak yang kuat. Dokter
menggeleng-gelengkan kepala, dan mengatakan kasus ini berat. Kepada Mr. Winburn
sang dokter bicara lebih banyak, dan mengakui bahwa sepertinya sudah tidak ada harapan
lagi. “Anak itu memang tidak akan berumur panjang, dalam keadaan apa pun,”
tambahnya. “Paru-parunya sudah lama bermasalah.”
Pada saat sedang merawat Geoffrey-lah Mrs.
Lancaster baru menyadari keberadaan anak satunya itu. Mulanya suara isakan-isakannya
hanya terdengar samar-samar di tengah deru angin, tapi lambat laun suara itu
jadi semakin jelas, semakin tak mungkin tersamarkan. Akhirnya ia mendengarnya
pada saat suasana benar-benar sunyi: suara isakan seorang anak kecil monoton,
sedih memilukan.
Keadaan Geoffrey semakin parah, dan dalam
tidurnya ia berkali-kali mengigau tentang ”anak lelaki kecil itu”. “Aku ingin menolongnya pergi, aku ingin
menolongnya,” serunya.
Keluhan itu dlikuti oleh keadaan apatis.
Geoffrey berbaring sangat diam, hampir-hampir tak bernapas, tatapannya menerawang.
Tak ada yang bisa dilakukan, selain menunggu dan mengawasi.
Lalu suatu malam angin berhenti bertiup,
suasana sunyi, jernih dan tenang. Sekonyong-konyong Geoffrey bergerak. Kedua
matanya membuka. Ia memandang ke arah pintu yang terbuka, melewati ibunya. Ia
mencoba berbicara dan ibunya membungkuk untuk menangkap kata-katanya yang
diucapkan dengan setengah berbisik.
“Baik, aku datang,” bisiknya, lalu
terkulai kembali di tempat tidurnya.
Sekonyong-konyong ibunya merasa sangat
takut. Ia mendatangi ayahnya.
Di suatu tempat di dekat mereka, seorang
anak lain tertawa. Suara tawanya begitu bahagia, puas, penuh kemenangan, dan jernih
menggema di seluruh ruangan.
“Aku takut, aku takut,” erang Mrs.
Lancaster.
Ayahnya merangkulnya dengan sikap
protektif. Hembusan angin kencang yang datang mendadak, mengejutkan mereka tapi
angin itu berlalu cepat, dan udara kembali tenang, seperti sebelumnya.
Suara tawa tadi sudah berhenti, dan
samar-samar mereka mendengar suara samar, begitu samar hingga nyaris tak
terdengar, namun kemudian semakin keras, hingga mereka bisa menangkapnya. Suara
langkah-langkah kaki ringan, pergi bergegas.
Tik tik tik tik tik tik, bunyinya, bunyi
langkah-langkah kaki kecil yang ragu-ragu dan sudah amat dikenal itu. Namun
sekarang ada suara langkah-langkah kaki lain yang sekonyong-konyong mengikutinya,
bergerak dengan langkah lebih cepat dan lebih ringan.
Bersamaan keduanya menuju pintu. Terus,
terus, terus melewati pintu, mendekati Mrs. Lancaster dan ayahnya.
Tik tik tik tik tik tik, langkah-langkah
kaki kedua anak itu bersama-sama.
Mrs. Lancaster mengangkat wajah dengan
panik
“Mereka berdua-berdua!”
Pucat oleh perasaan ngeri ia berbalik ke
arah tempat tidur kecil di sudut sana, namun ayahnya menahannya dengan lembut,
dan menunjuk.
“Di sana,” katanya.
Tik tik tik, tik tik tik
semakin pelan dan semakin pelan. Sesudah itu... tak terdengar apa pun lagi.
