“Ya,”
Mr. Winburn menjawab dengan tersenyum. “Tidak akan ada yang mengira rumah ini
berhantu.”
“Papa, jangan bicara yang tidak-tidak!
Apalagi pada hari pertama kita di sini.”
Mr. Winburn tersenyum.
“Baiklah, Sayang, kita sepakat saja, bahwa
yang namanya hantu itu tidak ada.”
“Dan tolong jangan bilang apa pun di depan
Geoff,” Mrs. Lancaster melanjutkan. “Anak itu sangat imajinatif.”
Geoff adalah anak laki-laki Mrs.
Lancaster. Keluarga mereka terdiri atas Mr. Winburn. Mrs. Lancaster yang sudah
menjanda, dan Geoffrey.
Hujan mulai turun menerpa jendela, tik tik tik tik tik tik.
“Dengar,” kata Mr. Winburn. “Bunyinya
seperti langkah-langkah kaki kecil, ya?”
“Lebih seperti suara hujan,” kata Mrs.
Lancaster dengan tersenyum.
“Tapi itu, itu suara langkah kaki,” seru
ayahnya, mencondongkan tubuh untuk mendengarkan.
Mrs. Lancaster tertawa keras.
Mr. Winburn jadi tertawa juga. Waktu itu
mereka sedang minum teh di ruang utama, dan Mr. Winburn duduk bersandar pada tangga.
Sekarang ia memutar kursinya menghadap tangga itu.
Si kecil Geoffrey turun dari ruang atas,
dengan langkah agak pelan dan hati-hati, sikapnya khas sikap anak kecil yang
terpesona pada tempat baru. Anak-anak tangga itu terbuat darl kayu ek berpelitur
dan tidak dialasi karpet. Geoff berjalan sedikit dan berdiri di samping ibunya.
Mr. Winburn tersentak sedikit. Saat Geoff melintasi ruangan, samar-samar ia
mendengar suara langkah kaki lain di anak tangga, seperti ada yang mengikuti
Geoffrey. Langkah-langkah kaki yang terseret-seret, dan kedengaran sangat menyedihkan.
Lalu Mr. Winburn angkat bahu, seperti hendak menepiskan kesan itu. “Pasti cuma
suara hujan,” pikirnya.
“Aku sedang lihat-lihat kue.” kata Geoft
dengan gaya sambil lalu, seperti orang yang sekadar menyampaikan sebuah fakta
yang menarik.
Ibunya lekas-lekas menyambut ucapannya
itu. “Nah, Nak, kau suka tidak, dengan rumah barumu ini?” tanyanya.
“Suka sekali,” sahut Geoffrey dengan mulut
penuh kue. “Suka, amat sangat suka.” Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu,
yang rupanya menyatakan perasaan puas yang amat sangat, ia terdiam, sibuk
berusaha memasukkan seluruh kue itu ke mulutnya secepat mungkin.
Setelah menelan suapan terakhir, ia
berceloteh lagi.
“'Oh, Mummy, kata Jane di sini ada loteng;
aku boleh naik lihat-lihat, ya? Dan mungkin ada pintu rahasia. Kata Jane tidak
ada, tapi kupikir pasti ada. Dan aku yakin ada pipa, pipa-pipa air (wajahnya senang
sekali). Aku boleh main-main dengan pipa-pipa itu, ya, dan... oh! Boleh aku
lihat tangki pemanasnya?” Ia mengucapkan kata terakhir itu dengan sangat gembira,
hingga kakeknya merasa malu karena saat mendengar antusiasme anak kecil itu,
yang muncul dalam bayangannya justru air panas yang tidak panas, serta tagihan tukang
ledeng yang mahal dan banyak.
“Besok kita melihat lihat loteng,
Sayang,”' kata Mrs. Lancaster. “Sekarang bagaimana kalau kau mengambil
kotak-kotak mainanmu dan membuat rumah, atau mobil?”
“Tidak mau bikin rumah.”
“Rumah.”'
“Rumah, atau mobil juga tidak mau.”
“Buat tangki pemanas saja, kalau begitu,”
kakeknya menyarankan. Wajah Geoffrey menjadi cerah.
“Dengan pipa-pipa sekalian?”
“Ya, dengan banyak pipa.”'
Dengan gembira Geoffrey lari untuk mengambil
kotak-kotak mainannya.
Hujan masih terus turun. Mr. Winburn
memasang telinga. Ya, pasti yang didengarnya tadi itu suara hujan, tapi kedengarannya
seperti suara langkah kaki.
Malam
itu ia bermimpi aneh. Ia bermimpi tengah berjalan di sebuah kota, sepertinya
kota besar. Tapi kota itu hanya dihuni oleh anak-anak, tidak ada orang dewasa
di sana, hanya ada anak-anak, banyak sekali. Dalam mimpinya, mereka semua lari
menghampirinya sambil berseru,
“Anda sudah membawa dia?” Sepertinya ia
memahami maksud mereka. Dan ia menggelengkan kepala dengan sedih. Melihat ini, anak
anak itu berbalik dan mulai menangis, terisak-isak sangat sedih.
Kemudian kota dan anak-anak itu mengabur,
dan ia terbangun, mendapati dirinya berada di tempat tidur, namun suara isakan
itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Meski sudah benar-benar terjaga, ia
masih mendengar suara isakan itu dengan sangat jelas, lalu ia ingat bahwa
Geoffrey tidur di lantal bawah, sementara suara isakan anak kecil ini berasal
dari atas. Mr. Winburn duduk tegak dan menyalakan korek api. Dengan segera
suara isakan itu berhenti.
Mr. Winburn tidak menceritakan mimpinya
ataupun kejadian berikutnya pada anak perempuannya. Ia yakin, apa yang didengarnya
itu bukan sekadar imajinasinya belaka; bahkan tak lama kemudian ia kembali
mendengar suara isakan itu pada siang hari. Angin tengah melolong melalui
cerobong asap, tapi suara isakan itu sama sekali berbeda, sangat jelas, tak
mungkin keliru; suara isakan anak kecil yang menyedihkan dan memilukan.
Mr. Winburn juga mendapati bahwa ia bukan
satu-satunya orang yang mendengar suara-suara tersebut. Ia mendengar pelayan rumah
berkata pada pelayan satunya bahwa ia menganggap pengasuh anak tidak terlalu
ramah pada Master Geoffrey, sebab ia mendengar anak itu menangis sedih sekali
tadi pagi. Padahal Geoffrey turun untuk sarapan dan makan siang dalam keadaan sehat
dan berseri-seri. Mr. Winburn tahu, bukan Geoffrey yang menangis, melainkan
anak satunya itu, yang telah mengejutkannya lebih dari sekali, dengan
langkah-langkah kakinya yang terseret-seret itu.
Hanya Mrs. Lancaster yang tidak pernah
mendengar apa-apa. Barangkali telinganya tidak peka untuk menangkap suara-suara
dari dunia lain.
Tapi suatu hari ia pun mendapat kejutan.
“Mummy,” kata Geoff dengan nada sedih.
“Aku boleh ya, main dengan anak lelaki itu.”
Mrs. Lancaster mengangkat wajah dari
mejanya dengan tersenyum.
“Anak lelaki yang mana, Sayang?”
“Aku tidak tahu namanya. Dia ada di loteng
duduk sambil menangis di lantai. Tapi dia lari waktu melihatku. Mungkin dia
malu (nadanya agak mencemooh), tidak seperti anak yang sudah besar, lalu waktu
aku sedang main di kamarku, kulihat dia berdiri di pintu, mengawasiku. Dia
kelihatannya kesepian sekali, dan sepertinya dia ingin main denganku. Aku
bilang, ’Sini, kita bikin mobil,’ tapi dia tidak menjawab, cuma memandangku
seperti... seperti melihat cokelat yang banyak, tapi tidak berani pegang karena
dilarang Mummynya.” Geoff mendesah, tampaknya tengah membayangkan pemandangan-pemandangan
menyedihkan yang dilihatnya. “Tapi waktu aku tanya pada Jane, siapa dia, dan
kubilang aku ingin main dengannya, Jane bilang tidak ada anak kecil di rumah
ini, dan katanya aku tidak boleh cerita yang tidak-tidak. Aku tidak suka Jane.”
Mrs. Lancaster bangkit darl kursinya.
“Jane benar. Tidak ada anak kecil di
sini.”
“Tapi aku melihatnya. Oh! Mummy, boleh ya
aku main dengan dia, dia kesepian sekali, dan sedih. Aku ingin membantu dia
supaya dia lebih senang.”

0 komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.