Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #6



Episode 5

“SIAP... serbu!” perintah si komandan. Para serdadu langsung masuk mendobrak pintu.
        Dua puluh dua cendekiawan Cina terjebak di dalam gedung itu.

        “Menurut undang-undang baru yang dimaklumatkan penasihat Khan kita yang Agung, Shadow Tamu, tak seorang Cina pun diperbolehkan mengadakan pertemuan politik. Kami mendapat informasi mengenai pertemuan kalian, dan sudah mendengar cukup banyak dari luar jendela-jendela kalian untuk membuktikan bahwa kalian telah melanggar hukum,” seru si komandan. Kemudian ia memerintahkan agar mereka segera dihukum pancung.
        Di luar pintu gerbang selatan kota Yin-tin terdapat sebuah lapangan yang dilapisi kerikil halus beraneka warna pelangi. Tempat itu dikenal dengan nama Pelataran Bunga Hujan. Lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu seorang biksu mengajukan permohonan kepada sang Buddha untuk menganugerahkan sedikit keindahan di bumi yang penuh kemelut ini. Doanya dijawab saat langit membuka dan bunga-bunga berjatuhan bak hujan. Ketika kepala para cendekiawan dipenggal di pelataran tersebut, darah mereka menambahkan warna baru pada kerikil-kerikil beraneka warna itu.
        Di bagian barat kota Yin-tin, Sungai Yangtze mendesau perlahan di bawah cahaya bulan musim semi. Di atas bisikan lembut itu terdengar ratapan, sementara permukaannya yang halus bak beledu jadi beriak oleh begitu banyak lampion kertas putih. Tiba-tiba para pelarung lampion berhenti berdoa, tangan mereka tetap tertengadah seperti tersihir. Semua kepala berpaling ke ujung jalan setapak yang dilapisi batu hampar, tempat sebuah gazebo berlantai merah dinaungi bunga persik dan pohon-pohon yangliu.
        Suasana gazebo itu dimeriahkan iring-iringan beberapa laki-laki dan perempuan berseragam pelayan, yang masing-masing membawa lampion kertas berwarna merah. Di belakang mereka ada dua tandu tertutup, masing-masing diusung empat laki-laki. Tirai-tirai brokat tebal berjuntai dari kerangka kayunya yang diukir dengan indahnya; sisi-sisinya penuh sulaman benang emas dan perak. Corak bordirannya berupa bunga, burung-burung, berbagai simbol keberuntungan, serta simbol dua keluarga yang berbeda.
Di antara mereka yang sedang berkumpul di tepi sungai, beberapa dapat membaca. Setelah menerawangi tandu-tandu tertutup yang diterangi sinar lampion, mereka mengenali nama kedua keluarga itu. “Keluarga Lu dan Lin!“ desis mereka.
        Lebih dari seratus tahun yang lalu, salah seorang leluhur keluarga Lu mendesain sebuah jembatan tertutup untuk salah seorang kaisar Dinasti Sung. Si penguasa ketika itu menghadiahkan berton-ton emas dan ribuan hektar tanah kepada si arsitek. Pada saat bersamaan, salah seorang leluhur keluarga Lin berhasil memimpin pasukan untuk menindas gerombolan pemberontak yang ditakuti di daerah Barat. Sang Kaisar menunjukkan penghargaannya dengan melimpahkan jumlah harta yang sama. Sejak itu keturunan kedua keluarga itu menjadi tuan tanah serta lintah darat dan hidup mewah.
        Para pengusung berhenti di muka gazebo, kemudian dengan hati-hati menurunkan tandu-tandu itu ke tanah. Para pelayan bergegas masuk ke gazebo, untuk memasang lampion-lampion merah di setiap sudutnya yang gelap. Mereka membersihkan bangku-bangku dan meja batunya, kemudian menutupinya dengan bantal-bantal dan taplak meja. Dengan terampil dan cepat mereka menata makanan dan minuman yang mereka bawa dalam wadah-wadah yang dipernis.
        Dua pelayan, seorang laki-laki dan seorang wanita, kembali ke tandu. Yang laki-laki menghampiri tandu pertama, yang menyandang nama keluarga Lu, kemudian menyingkapkan penutupnya. Seorang bangsawan muda berjubah sutra biru muda melangkah keluar.
        Lu si Bijak dikenal sebagai bujangan paling tampan di Yin-tin. Tubuhnya amat ramping bak batang bambu hijau di musim semi, juga sama lentur dan luwesnya. Lehernya yang ramping tertutup kerah tinggi pakaian dalam satin yang warnanya seputih salju. Tangannya yang kepucatan setengah terlindung lengan panjang sehelai baju dalam kain berwarna biru gelap di bawah jubah luarnya. Kaki celananya yang terbuat dari sutra kelabu, panjang dan lebar. Saat ia bergerak, kaus kaki putih dan sepatu hitamnya akan terlihat, sama-sama amat bersih dan tidak bernoda, seakan tak pernah menyentuh tanah sebelumnya.
        Lu si Bijak berusia delapan belas tahun. Kepangnya yang panjang dibelit beryard-yard benang merah, yang merupakan warna keberuntungan. Kepang itu kemudian digelung ke atas dan dijepit dengan beberapa tusuk sanggul batu kemala. Jari-jarinya yang ramping dan pergelangan tangannya yang kecil dihias batu kemala beraneka warna. Kepingan-kepingan keberuntungan yang juga terbuat dari batu yang sama menggelantung dari sabuk birunya yang panjang yang membelit di pinggangnya yang ramping.
        Seulas senyum lembut membayang di wajahnya yang bulat dan kepucatan saat ia menghampiri tandu satunya. Matanya kecil, hidungnya pipih. Alisnya seakan habis dipulas tinta hitam cair oleh seniman yang amat hemat, namun saat melukis mulutnya si artis sedikit lebih royal menggunakan warna merah mudanya.
        Lu berdiri di samping tandu lainnya, kemudian menunggu dengan sabar sampai si pelayan wanita menyingkap tirai yang disulam dengan aksara keluarga Lin itu. Sebagai pemuda terpelajar dari Selatan, Lu tahu ia tak boleh menyentuh Lady Lotus ataupun tirai tandunya.
        “Lotus,” sapanya lembut, sambil mencondongkan tubuh ke arah tandu itu, “kita sudah sampai di tepi sungai sekarang.” Ia berani memanggilnya dengan nama kecilnya karena ibu mereka masih bersaudara, dan dulu mereka pernah bermain bersama-sama seperti dua kakak-beradik.
        Mula-mula muncul sepasang kaki dalam sepatu satin merah muda, yang menjajaki tanah dengan agak ragu. Seluruh permukaan sepatu dihiasi sulaman kupu-kupu. Pada ujungnya yang runcing dijahitkan butiran-butiran mutiara. Masing-masing sepatu hanya enam senti panjangnya, meskipun standar yang berlaku membolehkan ukurannya mencapai tujuh setengah senti. Lotus Lin memiliki sepasang kaki paling kecil di kota Yin-tin, dan karenanya dianggap sebagai gadis tercantik.
        Lotus sudah tak dapat berjalan sendiri sejak berusia enam tahun, saat kakinya mulai dibebat. Sambil menyambut uluran tangan pelayannya, ia melangkah keluar dari tandu, kemudian bertumpu pada wanita kuat itu. Dua setengah senti celana panjangnya yang berwarna persik tersingkap. Pelayannya menahan napas seketika, lalu cepat-cepat mengulurkan tangan untuk menutupinya dengan rok panjang Lotus yang merah muda. Lotus juga mengenakan sehelai baju hijau apel di atas pakaian dalamnya yang krem dan berkerab tinggi untuk menutupi leher serta bagian bawah dagunya. Di atas pakaian-pakaian ini ia mengenakan jubah kuning yang penuh sulaman dan panjangnya mencapai lutut. Sebuah sabuk beraneka warna yang dihiasi mutiara dibebatkan di pinggangnya yang mungil, kemudian ujung-ujungnya dibiarkan menjuntai sampai ke kaki.
        Kaki-kakinya melangkah dengan amat hati-hati. Ia harus menjaga agar kibasan ujung sabuknya tidak tampak. Sebagai orang dari kalangan atas daerah Selatan, ia tahu bagaimana harus membawa diri. Jika sabuk seorang gadis berkibar seenaknya, ia hanya pantas menjadi selir laki-laki kalangan atas, bukan istrinya.
        Seorang lagi pelayan wanita muncul di sisinya yang lain, menawarkan tubuhnya yang kekar untuk dijadikan tumpuan majikannya. Lotus setengah dibopong kedua pelayannya ke dalam gazebo; di sana Lu sudah menantinya dengan sabar.
        Dua lampion merah diletakkan di meja. Lu menatap ke wajah Lotus yang bening di bawah sinar lampion. Matanya berbinar penuh cinta. Rambut Lotus yang hitam dibelah di tengah, bagian depannya ditata tinggi dan dihiasi jepit-jepit bertatah batu mirah dan nilam. Bagian belakang rambutnya disatukan sisir koral berukir, kemudian dibiarkan tergerai sampai ke pinggang. Wajahnya berbentuk hati dan mungil. Matanya seperti buah badam hitam yang miring ke atas. Alisnya yang samar-samar mengingatkan Lu pada gunung-gunung yang diselimuti kabut di kejauhan. Rona wajahnya begitu halus, sehingga secara keseluruhan tampak bagaikan mimpi, kecuali mulutnya - segar dan merah seperti buah ceri ranum yang siap dipetik.
        Wajah Lu merona. Lotus baru berusia lima belas tahun. Mereka sudah bertunangan dan kelak akan menikah, tapi ia baru dapat memetik ceri muda yang ranum dan amat dicintainya ini sedikitnya setahun lagi.
        “Apakah kau menghadapi kesulitan saat meninggalkan rumahmu untuk melarung lampion?” tanya Lu setelah mereka duduk di bangku batu yang sudah berbantal.
        Lotus tidak langsung menjawab. Ia tahu, para pelayan wanita di luar sedang mengawasi mereka. Ia juga bisa mendengar suara para pelayan laki-laki di kejauhan, mengusir para petani dari tepi air.
        Akhirnya setelah menghela napas Lotus berkata, “Mula-mula Baba tak mau memberiku izin untuk ke sini. Katanya sia-sia melarung lampion untuk sepupuku yang dihukum mati sebagai pemberontak.” Ia menundukkan kepala, lalu mempermainkan mutiara di sabuknya. “Kukira Baba takut orang-orang Mongol itu curiga kami punya hubungan darah dengan salah seorang pemberontak. Dia amat menghargai gelar kebangsawanannya, dan sebetulnya tak hanya ingin disebut Lord, tapi juga...” Lotus berhenti berbicara begitu ingat peraturan lain yang berlaku untuk para wanita kalangan atas daerah Selatan - ia harus lebih banyak mendengar daripada berbicara, dan pada saat berbincang-bincang dengan laki-laki, seorang gadis seharusnya menghiburnya dengan kata-kata menyejukkan, bukan membuatnya gundah dengan ide-ide yang mengecilkan hati.
        Sambil tersenyum ia mengangkat secangkir teh panas untuk ditawarkannya pada Lu si Bijak dengan hormat, yaitu dengan menggunakan kedua tangannya. “Mama membantuku membujuk Baba. Akhirnya dia memberi izin, meskipun dia berkeras bahwa aku tidak boleh mengenakan warna putih sebagai tanda berkabung. Aku harus membawa sebanyak mungkin lampion merah yang besar-besar, dan hanya satu yang putih dan kecil. Dia tak mau warna kematian mengusik peruntungan keluarga kami.”
        “Ayahmu memang amat berbeda dengan ayahku. Ayahku menganjurkan untuk menyalakan sebuah lampion putih yang besar untuk sepupuku. Ia memintaku tidak mengenakan warna putih atau membawa lebih dari sebuah lampion untuk alasan yang sama sekali berbeda. Dia mengatakan kita tak boleh membiarkan gubernur Mongol itu tahu bagaimana perasaan kita sesungguhnya,” ujar Lu sambil menerima cangkir tehnya sama hormatnya, yaitu dengan kedua tangannya. Seorang laki-laki tidak harus berlaku seperti itu pada seorang wanita, namun Bijak amat menghargai Lotus. Ia masih ingat, sewaktu mereka masih kanak-kanak, Lotus biasanya mengalahkan dirinya dan sepupu-sepupu mereka yang lain dalam berbagai permainan yang memerlukan kecerdasan. Dan sebelum kakinya dibebat, ia tak kalah dengan mereka dalam semua permainan yang membutuhkan keterampilan fisik.
        Lu menyorongkan piring manisan ke arah Lotus. Ia memerhatikan saat gadis itu mencicipi sebuah kurma. Ia mengagumi kecantikannya. Betapa ia merindukan saat-saat bersama seperti itu. Ketika menginjak usia remaja, anak laki-laki dan anak perempuan harus dipisahkan. Meski dengan bantuan ibu-ibu mereka yang selalu begitu penuh pengertian dan masih memiliki hubungan darah, mereka hanya dapat bertemu pada kesempatan-kesempatan tertentu, seperti saat-saat memanjatkan doa di kuil atau melarung lamplon untuk mereka yang sudah meninggal.
        “Ibuku memintaku menyampaikan salamnya pada ibumu,” ujar Lu si Bijak. Sulit rasanya mengalihkan matanya dari gadis itu.
        “Dan ibuku titip salam hangat untuk ibumu,” jawab Lotus dengan wajah merona. Ia menundukkan kepala, seperti yang-liu yang luwes diembus angin.
        Sewaktu Lotus menunduk, Lu melihat sisir koral di rambutnya. Itu mengingatkannya akan hadiah yang ia bawakan untuknya. Ia menepuk tangannya. Seorang pelayan wanita segera menghampirinya. “Bawa kemari kotak-kotak itu,” perintahnya.
        Dalam sekejap wanita itu sudah meletakkan dua kotak yang dipernis di meja, satu besar dan satu kecil. Setelah ia meninggalkan mereka, Lu membuka kotak yang besar, lalu mengeluarkan dua layang-layang dari dalamnya. Masing-masing dibuat dari selembar saputangan lebar dan dua batang sumpit.
        Mata Lotus berkaca-kaca. Sewaktu mereka masih kanak-kanak, Lu sering membuatkannya layang-layang yang bagus seperti ini.
        “Kau masih ingat bagaimana aku menguraikan kepangku agar dapat menggunakan benang sutranya untuk menerbangkan layang-layang kita?” Lu menyerahkan kedua layang-layang itu pada Lotus sambil tertawa lembut. “Kita tak bisa bermain bersama-sama lagi, tapi layang-layang kita dapat merambah jauh melewati halaman kebun kita masing-masing. Jarak antara rumahmu dan rumahku hanya tiga petak. Saat ingin melepas rindu, kita dapat berbincang-bincang satu sama lain melalui layang-layang kita ini.” Sambil menunjuk ia menambahkan, “Aku membuatkan satu yang merah dan satu yang biru untukmu. Saat hatimu gembira, terbangkanlah yang merah. Saat kau sedih, terbangkan yang biru. Aku juga memiliki dua yang persis sama. Melalui layang-layang ini aku dapat mengungkapkan perasaanku padamu.”
        “Terima kasih, Lu,” bisik Lotus sambil mendekap kedua layang-layang itu ke dadanya. Sebenarnya ia juga ingin memeluk Lu si Bijak, namun itu tidak mungkin. Seandainya ia mencoba menyentuh tangannya saja, para pelayan akan berbicara dan reputasinya akan hancur.
        Lu membuka kotak yang lebih kecil, lalu mengeluarkan sebuah sisir kemala. Ia merendahkan suaranya agar para pelayan tak dapat menangkap kata-katanya. “Aku juga membuat ini untukmu. Aku sudah mengerjakannya selama lebih dari dua bulan. Amatilah baik-baik dua gigi paling tengah sisir itu.”
        Lotus mengamati sisir itu dengan cermat, lalu melihat bahwa satu gigi diukir berbentuk seorang laki-laki, dan di sebelahnya seorang wanita. Lebar sisir itu tujuh setengah senti, dan masing-masing gigi tidak lebih panjang dari dua setengah senti. Tapi wajah mereka cukup jelas – si tuan muda mirip Lu si Bijak, si nona mirip Lotus.
        “Kau yang membuat ini?” tanya Lotus sambil menatap Lu dengan kagum. Setelah Lu mengangguk, ia berkata, “Kau pemahat yang hebat!” Lotus mencoba menekan suaranya, namun tak dapat menutupi rasa antusiasnya. “Kau tak bisa membuat ini sebelumnya. Siapa yang mengajarimu?”
        “Seorang seniman yang sedang frustrasi...” Dengan cepat Lu menceritakan seorang pemahat yang kehilangan kedudukannya di istana Mongol, dan akhirnya terpaksa mengukir kusen jendela di rumah keluarga Lu. Lu amat mengagumi bunga-bunga indah hasil sentuhan pisau pahat si seniman, kemudian memujinya.
        “Dia mengajariku seni memahat. Aku sudah berguru padanya selama lebih dari setahun sekarang, dan aku masih akan belajar banyak darinya, mengingat dia bekerja dan tinggal di rumah kami. Aku berharap dapat semakin menguasai seni ini, sebab bila dibandingkan dengannya aku belum apa-apa. Kau harus lihat ukiran kapalnya yang terbuat dari batu bermutu tinggi. Di kapal itu ada sekelompok orang, beberapa di antara mereka sedang membaca gulungan kertas. Dia bahkan dapat mengukir gambar dan tulisan-tulisan di atas gulungan-gulungan itu….”
        Ia berhenti bicara begitu seorang pelayan laki-laki memasuki gazebo itu. “Tepi air sudah sepi sekarang,” ujarnya melaporkan.
        Lotus menyerahkan layang-layang itu kepada pelayannya, namun sisirnya ia sematkan ke rambut. Saat mereka melangkah menuju sungai, Lu berjalan di depan, dan ia mengikutinya dari belakang, dituntun dua pelayan wanita.
        Orang-orang miskin selalu diusir dari tepi air saat ada orang-orang kaya atau yang berkuasa tiba. Gazebo itu dibangun beberapa dekade yang lalu oleh seorang pejabat Cina sebagai tempat beristirahat, makan, dan minum.
        Biasanya para petani selalu menerima nasib mereka. Tapi hari ini mereka merasa diperlakukan tidak adil. Sambil berdiri di kejauhan, mereka mulai melontarkan kata-kata yang tidak simpatik ke arah Lu dan Lotus.
        “Cuma orang-orang yang tak punya harga diri memakai uang kotor mereka untuk membayar orang-orang Mongol agar mendapat kedudukan tinggi!”
        “Ayah kalian pengkhianat bangsa. Sang Buddha akan menghukum mereka!”
        Lu ingin sekali menutup telinga Lotus dari kata-kata yang kurang menyenangkan itu, namun ia tak boleh melanggar tradisi. Tetapi ketika kerumunan orang itu mulai memunguti batu dari tanah dan melempari mereka, Lu tak dapat lagi menahan diri untuk menjaga tata krama sebagai laki-laki kalangan atas daerah Selatan. Ia langsung berdiri di belakang Lotus untuk melindungi tubuhnya yang gemetar. Dadanya bersentuhan dengan punggung Lotus. Dua jantung muda itu tiba-tiba berdegup lebih cepat.
        Para pelayan bertukar pandang, berdebat dalam hati, apakah mereka harus melaporkan ulah majikan muda mereka kepada orangtua masing-masing. Para pelayan wanita langsung menarik napas lega begitu para pelayan laki-laki mengangkat tongkat-tongkat mereka untuk membubarkan kerumunan orang itu. Lu melangkah meninggalkan Lotus, meskipun kedua jantung yang masih polos itu masih berdegup keras saat mereka sampai di tepi air.
        Begitu suasana tepi sungai tenang kembali, Lu duduk di atas selimut yang disediakan untuknya, lalu menerima sebuah lampion menyala, yang diserahkan pelayan kepadanya.
        Lotus berlutut di atas bantal yang diletakkan di tepi air itu oleh pelayannya, kemudian menerima lampionnya. Mereka meletakkan kedua lampion itu di air. Bulan sudah tinggi, dan angin malam bertiup cukup kencang, sehingga dalam sekejap lampion-lampion itu menghilang dari pandangan. Para pelayan membujuk kedua orang muda itu untuk pulang, dan akhirnya berhasil.
        Seluruh kota Yin-tin sudah tertidur. Iring-iringan pelayan yang menerangi jalan yang gelap dengan lampion merah mereka membuat para tunawisma terbangun dan anjing-anjing menyalak.
        Tandu-tandu itu diusung dari tepi Sungai Yangtze menuju timur, dan akhirnya mendekati Gunung Emas Ungu. Rumah kediaman Gubernur Mongol menjulang bak benteng angkuh di puncaknya.
        Di kaki gunung itu, permukaan air Danau Angin Berbisik berkilauan di bawah sinar bulan, bagaikan piring perak. Di kaki daerah perbukitan yang menghadap ke danau berdiri rumah-rumah orang-orang Cina kaya. Semuanya gelap. Hanya dua yang terang benderang. Baik Lotus maupun Lu menatap ke atas dari kejauhan, dan langsung mengenali rumah mereka masing-masing.
        “Aneh,” ujar Lotus dalam hati, sambil mengintip dari balik tirai penutup tandu begitu melihat rumahnya. Kenapa lilin-lilin itu masih menyala semua?”
        Pada saat bersamaan Lu juga melihat ke atas dari tandunya, lalu bertanya pada dirinya, “Aneh sekali. Kenapa semuanya masih menyala?”
        Iring-iringan itu tiba di bibir Danau Angin Berbisik, lalu mereka mulai mendaki daerah perbukitan. Rumah keluarga Lin terpisah tiga petak dari rumah keluarga Lu, dan tak lama sesudah itu kedua tandu pun berpisah.
        Para pelayan memisahkan diri dalam dua kelompok, satu untuk melindungi tandu Lotus Lin, dan yang lain untuk mengawal Lu.
        Lotus melepaskan sisir kemalanya, lalu menggenggamnya. Di tandu lain, Lu berusaha menyimpan kenangan pertemuan terakhirnya dengan Lotus sebaik-baiknya di dalam hati.
        Jauh di belakang mereka Sungai Yangtze terus mengalir, membawa armada lampion yang seakan takkan berakhir. Setiap percikan cahayanya yang terang penuh janji dan harapan, cinta dan derita, kerinduan dan kepedihan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...