Ching Yun Bezine - Sungai Lampion #5



Episode 4

“SEHARUSNYA kau bangga akan keluargamu, anakku.” Seorang laki-laki tinggi berjubah kuning berdiri di sebelah Shu yang sedang berjongkok di dekat air, di bawah cahaya bulan. “Seluruh keluargamu, termasuk ibumu, menghadapi kematian mereka dengan gagah berani.” Ia meletakkan tangannya di pundak Shu. “Beberapa biksu muda berada di desa saat peristiwa itu terjadi. Mereka tidak dilukai oleh orang-orang Mongol yang takut kepada Buddha itu. Para biksu ini mengintip dari balik pepohonan dan melihat keluargamu berjuang sampai titik darah penghabisan.”

        Shu menatap laki-laki berjubah kuning itu. Naga Tanah adalah biksu Tao yang mengepalai Kuil Raja-raja. Tidak seperti halnya para biksu Buddha lainnya yang mencukur habis rambut mereka, rambut Naga Tanah yang putih menjuntai lurus sampai ke pundaknya yang tipis.
        Shu amat menghormati biksu tua itu, namun ia tak berhasil menahan amarahnya ketika ia berkata dengan nada tinggi, “Apanya yang harus dibanggakan? Kematian adalah pertanda kalah dalam menghadapi hidup. Keluargaku ternyata kalah, sementara orang-orang Mongol itu menang. Seandainya aku tidak dihadang harimau itu...!” Ia sudah memberitahu Naga Tanah mengenai pertarungannya dengan binatang buas itu.
        Biksu tua itu meremas pundak Shu dengan jari-jarinya yang kuat. “Anakku, harimau itu diutus oleh sang Buddha yang Agung untuk menahanmu. Kalau tidak, kau pun akan mati bersama keluargamu.”
        Shu menundukkan kepala, menatap kelima lampionnya yang belum menyala. Andai kata sang Buddha memang ada, untuk apa ia menyelamatkannya hanya untuk menyalakan lampion-lampion tolol ini? Bukankah mata kedua orangtuanya serta kakak-kakaknya masih terang sekali? Mereka bisa melihat di alam baka tanpa lampion-lampion itu. Tentunya sang Buddha mempunyai alasan yang lebih baik untuk menyelamatkan dirinya, ujarnya dalam hati. Salah satu sudut mulutnya melengkung ke atas, kemudian secercah sinar bahagia menerangi wajahnya yang lesu.
        Shu bergumam, “Peony! Pasti karena itu. Si harimau mati supaya aku bisa tetap hidup untuk calon istriku.”
        Biksu tua itu tidak terlalu memikirkan soal wanita, namun ia tak ingin melukai perasaan Shu saat itu.
        “Mungkin,” ujarnya, kemudian berpaling menghampiri beberapa orang lain yang juga datang ke sana untuk menyalakan lampion-lampion mereka. Ia kembali dengan api di tangan. “Coba lihat ini,” ujarnya sambil menepuk pundak Shu.
        Pemuda itu berpaling. Si biksu menunjukkan apa yang dibawanya. “Kecil sekali memang. Tapi selama masih menyala, ini dapat dipakai untuk membakar seluruh kota. Api kehidupan keluargamu dipadamkan oleh nasib. Mengingat hanya kau yang kini masih tinggal, tentunya takdir telah menentukan sesuatu untukmu.”
        Si biksu merogoh saku jubahnya, kemudian mengeluarkan sebuah sumbu. Ia menyalakannya untuk diteruskan pada Shu. “Anakku, nyalakanlah lampion-lampion itu, kemudian pulanglah untuk berkemas-kemas. Kau akan ikut dan tinggal bersamaku- di kuil sesudah itu.”
        Shu mengawasi lampion-lampion itu menghanyut bersama lampion kematian yang lain. Sungai itu membelok, dan ketika lampion-lampion itu mulai menghilang di tikungan, ia mengepalkan tinjunya, kemudian mengacungkannya tinggi-tinggi. “Baba! Mama! Kakak-kakakku!” serunya sambil mengayun-ayunkan tinjunya ke arah langit yang diterangi sinar bulan. “Aku akan membalas kematian kalian!”
        Naga Tanah melingkarkan lengannya ke pundak Shu, menepuk-nepuknya sambil berusaha membesarkan hatinya sampai ia merasa lebih tenang. Baru setelah itu si biksu memibimbingnya meninggalkan sungai. Di desa, lima makam baru berbaris di belakang sebuah rumah kecil yang dulu ditempati keluarga Shu. Rumah tetangga mereka yang terdekat terletak tidak begitu jauh dari sana. Delapan anggotanya terbunuh, dan seorang lelaki tua yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan mereka tampak sibuk menutup makam terakhir di bawah sinar bulan. Orang tua yang sudah lelah dan tak dapat melihat jelas dalam gelap itu telah membuat jarak agak terlalu jauh antara satu lubang dan yang lain, sehingga secara tak sengaja jenazah kedelapan terkubur di tanah milik keluarga Shu.
        “Maaf,” ujar orang tua itu pada Shu. “Gara-gara aku, sekarang ada enam makam di tanahmu, padahal seharusnya lima.”
        Shu menggeleng-gelengkan kepala, lalu mengatakan pada orang tua itu bahwa ia tidak keberatan. Sesudah itu ia masuk ke rumahnya, menggelar sehelai ikat kepala besar di meja, kemudian mengumpulkan segala sesuatu yang masih bisa dipakainya. Ia mengikat keempat ujungnya menjadi satu, menyusupkan tongkat melalui simpulnya, lalu memanggul buntelan itu di pundaknya.
        “Tunggulah di sini sebentar, shih-fu yang kuhormati,” ujarnya pada Naga Tanah di luar pintu, sambil meninggalkan buntelannya di tanah.
        Ia berlari memasuki rumah, mengambil minyak goreng ibunya, untuk dituangkan ke atas semua yang terdapat di pondok kayu yang terdiri atas dua ruangan itu. Pemantik api tersimpan di dekat tungku tanah liat keluarga itu. Ia membawanya ke dekat tumpukan kayu bakar yang sudah dituangi minyak. Sesudah itu ia meninggalkan rumah tanpa menengok ke belakang lagi.
        Ketika ia dan Naga Tanah sudah berada jauh dari desa itu, bau asap membuat mereka berpaling.
        “Anakku! Apa yang telah kauperbuat?” seru biksu tua itu sambil menatap tercengang ke arah bangunan terpencil yang sedang dilahap api.
        “Tidak apa-apa, shih-fu yang kuhormati,” jawab Shu dengan tenang. Ia memunggungi desanya, lalu menambahkan, “Hanya memusnahkan apa yang tidak kuinginkan dan aku tak ingin dimiliki orang lain.”
        “Tapi itu namanya merusak!” Si biksu merinding saat mengalihkan matanya dari rumah yang terbakar itu ke wajah Shu yang polos, yang ekspresinya gelap oleh dendamnya. “Aku tak dapat mengizinkan orang-orang yang suka merusak tinggal di kuilku.”
        Shu menjawab tanpa keraguan, “Aku tidak bermaksud menetap di kuil Anda untuk waktu lama. Aku hanya akan beristirahat selama beberapa hari untuk memulihkan tenaga, lalu aku akan pergi ke Peony-ku.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...