Episode
3
SAAT fajar mulai menyingsing di desa Pinus, Shu
sudah berada jauh di puncak gunung, di tengah-tengah hutan, membawa kapak di
tangan kanannya dan tambang terselempang di bahu kirinya.
Melalui
celah di antara pepohonan ia melongok ke bawah, ke arah desa yang tampak
tenteram itu. Di dekatnya, Sungai Kuning tiba-tiba menukik turun, membentuk
tirai kristal yang jatuh di atas bebatuan yang menyembul ke atas. Jeram itu
memantulkan cahaya sinar matahari yang menyilaukan mata Shu. Ia menengok ke hamparan
tanah pertanian dan melihat para petaninya tampak seperti bintik-bintik kecil
di padang itu, namun ia tak dapat mengenali kedua orangtua dan ketiga kakaknya.
Shu
berusia enam belas tahun dan amat jangkung. Tubuhnya yang besar dibungkus
otot-otot yang liat. Bajunya yang biru kusam, dengan satu kerah di atas yang lain,
tak dapat menyembunyikan pundaknya yang lebar dan dadanya yang bidang. Sabuk
kainnya yang cokelat, yang seharusnya menutupi bagian muka badannya kemudian diikatkan
dalam simpul ganda, nyaris tak dapat melingkari pinggangnya yang besar. Ia
sudah menggulung lengan baju dan pipa celananya setinggi mungkin, sehingga
lengan dan kaki-kakinya yang bak batang pohon itu tersingkap. Tangannya besar
dan kapalan, sama seperti kakinya yang tersembul dari antara tali-tali
sandalnya.
Rambut
Shu tak pernah dicukur sejak lahir, mengikuti tradisi lama yang sudah
berabad-abad. Rambut itu diikat kuat-kuat ke belakang, kemudian dijalin dalam
kepang panjang. Selembar benang katun yang kuat dan beberapa yard panjangnya
diikatkan pada pangkal kepang itu, kemudian dililitkan sampai ke ujung, sehingga
seluruh kepang terbungkus. Sebuah simpul lain diikatkan di ujungnya untuk
memastikan jalinannya tidak terlepas. Pada siang hari kepang itu dinaikkan
dengan tusuk sanggul kayu. Pada waktu akan tidur, tusuk sanggul itu dilepas.
Kecuali pada saat-saat khusus ketika Shu harus tampak rapi, kepangnya selalu
terbungkus bahkan saat ia mandi dan mencuci rambut.
Shu
memiliki kepala yang besar dan leher yang luar biasa untuk mengimbanginya.
Kulitnya kasar dan gelap. Alis matanya hitam dan lurus, hidungnya lebar. Matanya
dalam, sedangkan bibirnya tebal. Yang membuatnya berbeda dari anak-anak muda
Cina lainnya adalah jumputan rambut hitam yang pendek, kasar, dan kaku yang menutupi
bagian bawah wajahnya. Jarang sekali ada laki-laki Cina berusia di bawah dua
puluh yang perlu bercukur, namun Shu harus menggunakan pisau bambu yang tajam
untuk mengerik wajahnya setiap hari.
Ia
merasa sedikit takut berada sendirian di hutan yang gelap dan dihuni berbagai
binatang buas itu. Sampal dua tahun yang lalu, ia dan ketiga kakaknya selalu
pergi bersama-sama untuk memotong kayu dan berburu.
Shu
mengayunkan kapaknya ke sebatang pohon kecil, sehingga bagian atasnya tertebas.
“Seandainya kau orang Mongol yang memberlakukan undang-undang tolol ini!” umpatnya
pada pohon yang sudah tidak berpucuk lagi itu.
Dua
tahun yang lalu seorang jenderal Mongol muncul di desa Pinus dengan
prajurit-prajuritnya untuk mengumumkan, “Berikut ini perintah dari penasihat
Khan kita yang Agung, Shadow Tamu. Tak seorang Cina pun diperbolehkan
mempelajari keterampilan militer atau menyimpan senjata di rumahnya. Setiap
sepuluh keluarga hanya boleh memiliki sebilah golok, dan setiap dua puluh rumah
sebuah kapak. Kalian, orang Cina, tidak diperbolehkan lagi berburu, dan setiap
kali ada yang membutuhkan kayu bakar, hanya satu orang yang boleh pergi ke
hutan.”
Shu
mengangkat tinggi kapaknya, untuk kemudian mengayunkannya ke bawah dengan
sengit. Kali ini ia menatap pohon yang ditebasnya itu, seperti orang Mongol yang
baru saja menyerbu sebuah kota cantik di daerah Selatan yang bernama Phoenix
Place beberapa tahun silam. Ayahnya sudah begitu sering mengulangi cerita yang
sama itu, sehingga Shu hafal bunyinya.
“Kita,
orang-orang Cina, tak pernah berhenti melawan orang-orang Mongol. Bahkan di
Phoenix Place, penduduknya yang cinta damai membentuk kelompok rahasia,
termasuk baba dan paman-pamanmu, yang tak lain tak bukan hanyalah petani
sederhana. Tiga tahun sebelum kau dilahirkan, kami membunuh lebih dari separo
orang-orang Mongol di kota kami. Sebagai balasan, si Khan barbar di Da-du
mengirimkan pasukan besar untuk membantai seluruh kota.”
Kedua
orangtua Shu berhasil kabur bersama ketiga anak laki-laki mereka, kemudian
menuju Utara. Shu dilahirkan setahun sesudah itu, lalu dibesarkan di desa
Pinus. Pasangan Shu menempati sebuah rumah di pinggir Sungai Kuning, dan sejak
itu mereka tak pernah berani kembali ke Sungai Yangtze kecuali dalam mimpi.
“Aku
membenci orang-orang Mongol karena membuat baba dan mamaku begitu menderita!”
gumam Shu sambil menebangi pohon-pohon. Ia melampiaskan seluruh kemarahannya
pada batang-batang kayu itu. Sebelum matahari tinggi ia sudah berhasil
mengumpulkan cukup kayu bakar untuk kedua puluh keluarga yang berbagi kapak dengan
keluarganya.
Ia
menggunakan tambangnya yang panjang untuk mengikat potongan-potongan kayu itu.
Mengetahui ia tak dapat mengangkat beban berat itu, ia berjongkok di tanah, kemudian
menyusup ke bawahnya, sehingga tumpukan kayu itu berada di pundaknya. Dengan
susah payah ia berdiri sambil berusaha menjaga kesimbangannya dengan menekukkan
lutut.
Ia baru
mengambil beberapa langkah ketika tertangkap olehnya suara gempar di kejauhan.
Sesaat ia berdiri tertegun, mendengar jeritan orang yang diiringi derap serta ringkik
kuda. Semuanya teredam bunyi air terjun, sehingga sulit baginya membayangkan
apa yang sedang terjadi.
Ia
menjatuhkan kayu yang dipanggulnya serta kapaknya begitu mengenali pekikan
orang-orang Mongol. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berkhayal semata-mata. Cepat-cepat
ia ke tepi tebing.
Panorama
tanah pertanian yang damai itu sudah berubah sama sekali. Bintik-bintik kecil
itu berhamburan ke mana-mana. Serdadu-serdadu Mongol dalam seragam merah menyala
mereka, tampak memenuhi desa, menjerati penduduk desa dari atas kuda-kuda
mereka.
Keturunan
kaum gembala ini benar-benar amat ahli memainkan laso. Orang-orang Cina yang
berusaha lari menyelamatkan diri itu tiba-tiba tersentak begitu terjerat. Mereka
kemudian ditarik jatuh ke tanah, dengan lengan terikat kuat di samping. Mereka
akan mendengar derai tawa orang-orang Mongol, lalu mendapati diri mereka diseret
kuda-kuda, melintasi pepohonan, batu, dan pasir.
Shu
menjadi panik begitu menyadari keluarganya berada di suatu tempat di bawah, di
antara orang-orang yang sedang menderita itu. “Aku akan datang untuk menyelamatkan
kalian!” serunya sambil membalikkan tubuh, bersiap-siap lari.
Tiba-tiba
ia tertegun.
Seekor
harimau berbulu merah kekuningan dengan garis-garis hitam melintang muncul di
depannya, mendesis memamerkan taringnya yang runcing-runcing. Shu merasa bulu
kuduknya berdiri dan keringat membasahi telapak tangannya. “Minggir kau!”
serunya.
Si
harimau menyeringai. Matanya terus mengawasi Shu saat ia bergerak mula-mula ke
arah kanan, kemudian ke kiri. Sorot matanya mengungkapkan rasa lapar dan ia
siap menikmati hidangan yang seukuran dirinya.
Shu
menatap tajam ke dalam mata si harimau, sambil merendahkan tubuhnya
perlahan-lahan. Ia tak berani menoleh ke arah kapak yang tadi dijatuhkannya,
karena itu ia meraba-raba dengan tangannya. Persis saat jari-jarinya menyentuh
gagangnya, si harimau membungkukkan tubuh.
Binatang
itu melompat ke depan, dan pada saat bersamaan Shu melemparkan kapaknya.
Pisaunya
mengenai si harimau persis di ubun-ubun, dan tetap menancap di sana. Namun ini
tidak menghentikan usaha binatang buas itu untuk mencengkeram mangsanya. Harimau
itu melesat di udara, kemudian mendarat di atas Shu sambil meraung marah.
Shu
terjungkal ke belakang, terimpit di tanah.
Kepala
si harimau berada tak lebih dari tiga puluh senti di atas kepalanya sendiri,
darahnya yang hangat menetes membasahi wajahnya. Si harimau membuka mulut lebar-lebar,
taring-taringnya yang tajam siap ditanamkan ke dalam tenggorokan Shu.
Shu
mengumpulkan segenap tenaga untuk membebaskan lengan kanannya dari impitan
tubuh berat si harimau. Ia mencengkeram gagang kapaknya, kemudian mengentaknya
kuat-kuat agar terlepas dari kepala si harimau. Rasa sakit yang amat sangat
membuat perhatian binatang itu teralih selama beberapa saat. Shu menggunakan
kesempatan itu untuk mengayunkan kapaknya ke pundak kirinya.
Namun
demikian, binatang perkasa itu tidak melepaskan cengkeramannya. Saat Shu
berhasil membebaskan diri dari impitannya, ia masih tetap mencengkeramnya.
Manusia dan harimau itu saling bertukar posisi, Shu sekarang berada di atas. Ia
mencoba membebaskan diri dan kabur dari medan pertempuran itu, namun begitu ia
mengangkat kaki, si harimau kembali menerkamnya. Sekali lagi mereka bergulingan,
mengotori tanah dengan darah masing-masing.
Akhirnya
si harimau meraung keras hingga seluruh bumi terasa bergetar, kemudian mati
masih sambil mencengkeram Shu. Pemuda itu berdiri terengah-engah, kesakitan dan
berlumuran darah dari luka-luka bekas gigitan dan cakaran. Ia mengambil
kapaknya dari pundak si harimau, kemudian membersihkannya dengan sobekan pakaiannya
yang tercabik-cabik. Ia melangkah meninggalkan harimau mati itu, tapi lalu
berhenti setelah beberapa langkah.
Ia
kembali menghampiri binatang besar itu, lalu berjongkok di sebelahnya. “Kau
tahu, tak mudah bagiku membunuhmu. Tapi aku melihat nafsu membunuh di matamu.
Yah, aku menyesal sekali. Tapi saat dua mahluk perkasa berkelahi, salah satu
harus mati,” ujarnya sambil menutup mata si harimau. “Aku menghormatimu.”
Lutut
Shu terasa lemas, namun ia tetap berlari menuruni gunung secepat mungkin.
Ketika melintasi sebuah bukit, ia cepat-cepat melongok ke bawah, ke arah desa.
Yang disaksikannya kemudian membuatnya meraung sama kuatnya seperti si harimau
beberapa menit yang lalu.
