Episode
2
BULAN bersinar terang. Cahayanya yang keperakan menyelubungi
seluruh daerah Sungai Kuning, memudarkan bintik-bintik kemerahan kuntum-kuntum
bunga pohon apel yang putih. Gadis-gadis yang berkumpul di bawahnya mengenakan
pakaian putih yang serasi. Mata mereka yang masih belia tampak kelam oleh duka
wajah-wajah polos mereka menahan kepedihan hati. Bibir mereka yang pucat merekah
mengucapkan kata-kata perpisahan saat menyalakan lampion yang mereka pegang
dengan tangan-tangan gemetar.
“Kemarikan
apinya!” seru Peony pada seorang gadis di sisi lain tepi sungai itu.
Di
dalam kotak kayu yang terbuka, sebuah sumbu kain yang dipilin direndam dalam
mangkuk berisi minyak, ujungnya dibiarkan menggelantung di bibirnya. Kotak itu diteruskan
dengan hati-hati ke Peony dari satu gadis ke gadis yang lain. Peony mengambil
sebuah sumbu pilinan kain yang panjang dari dalam saku roknya Ia mendekatkan ujungnya
ke api, kemudian menggunakan sumbu itu untuk menyalakan kedua lampion kertasnya
yang putih.
Ia
meletakkan salah satu lampion itu di permukaan air, lalu berkata kepada arwah
ayahnya, “Baba, dengan lampion ini, perjalananmu ke alam baka akan menjadi
terang, dan kau akan menemukan negeri damai abadi.”
Ia meletakkan
lampion kedua di sebelah yang pertama. “Mama, lampion ini tak hanya akan
membawa secercah cahaya, tapi juga cintaku. Aku memberimu lampion ini bersama
sebagian dari diriku sendiri.”
Sekeping
kayu tipis menahan setiap lampion, sehingga tetap mengambang di air. Secercah
angin berdesir lembut. Riaknya membuat lampion-lampion itu hanyut semakin jauh.
Peony mengawasi kedua lampionnya, kemudian berdiri. “Baba, Mama, aku akan
menyusul kalian begitu saatku tiba. Oh, tidak!” serunya begitu kedua lampion
itu hilang dari pandangan.
Sejauh
mata memandang, Sungai Kuning tampak bak lautan lampion. Ribuan bintik cahaya
terombang-ambing dalam kegelapan, masing-masing bagaikan tetesan air yang sama
dalam derai hujan.
“Tapi,
Baba, Mama! Kalian begitu istimewa! Lampion kalian seharusnya lebih terang dari
yang lain! Kalian tak boleh menghilang begitu saja seperti ini!” Peony mengangkat
bagian bawah rok putihnya, kemudian lari menelusuri tepi sungai. “Aku harus
menemukan kalian, baba dan mamaku!”
Peony
tersungkur karena tersandung batu, lalu jatuh. Pergelangan kakinya terkilir. Ia
menggerenyit kesakitan. Dengan susah payah ia berusaha berdiri, kemudian melompat-lompat
di atas satu kaki untuk mengejar lampion-lampion itu.
Angin
bertambah kencang. Lampion-lampion dari Lembah Zamrud terus hanyut meninggalkan
Peony, kemudian menghilang di kejauhan. Namun begitu lampion terakhir hilang
dari pandangan, barisan lampion yang baru muncul dari arah hulu sungai dilepas
oleh penduduk desa tetangga Lembah Zamrud.
Peony
akhirnya menyerah. Ia takkan pernah menemukan kembali lampion kedua orangtuanya
di antara lautan cahaya yang seakan tiada habisnya itu. Ia mengawasi pusaran
air sungai yang terang benderang itu hingga larut malam dan para pelayat lain
sudah pulang ke rumah masing-masing.
Rasa
sakit di pergelangan kakinya sudah mereda saat ia melangkah di bawah cahaya
bulan, melintasi padang rumput, menuju desanya. Ia menghampiri pondok berkamar
dua yang dulu rumahnya, kemudian berdiri di luar pintunya yang tertutup untuk
mendengarkan derai tawa yang biasanya menggema dari dalam. Namun ia tak dapat
mendengar apa-apa, kecuali keheningan. Penghuni baru rumah itu, sepasang
suami-istri dan anak perempuan mereka yang sudah dewasa, tentunya sudah
tertidur lelap.
Saat
orang-orang Mongol itu menyerbu Lembah Zamrud, keluarga yang beruntung ini
sedang berada di desa lain untuk menjual perabotan tanah liat buatan mereka.
Ketika pulang, mereka mendapati rumah mereka sudah hancur sama sekali dan
mereka membutuhkan atap untuk berteduh. Peony menjual rumahnya pada mereka, mengingat
Welas Asih telah menawarkan tempat bemaung padanya di kuil.
Mata
Peony mulai pedih oleh air mata. Cepat-cepat ia berpaling, kemudian
meninggalkan tempat itu. Ia meluruskan pundaknya, mengangkat kepala, lalu melangkah
tegak. Tanpa menoleh ia berkata dengan tegas, “Baba, Mama, aku takkan melupakan
saat-saat aku menemukan kalian berdua di pintu pertambangan itu, penuh darah
tapi masih tetap berpegangan tangan.” Ia meninggikan suaranya, lalu berkata
dengan penuh tekad, “Aku akan membalas dendam kalian!”
Peony
melintasi jembatan gantung, kemudian naik ke atas gunung yang diterangi sinar
bulan. Atap runcing bangunan kuil yang biru itu tampak berkilauan. Seluruh penghuni
desa yang selamat dari pembantaian orang-orang Mongol diperbolehkan tinggal di
bawah perlindungan sayap Welas Asih selama mereka bersedia tetap bersembunyi di
balik pintu-pintu kuil.
Sambil
menatap bulan, Peony bertanya dengan penuh keraguan, “Apakah aku akan kerasan
tinggal di antara kaum biarawati itu?”
Bulan tetap membungkam, namun Peony
menemukan jawabannya sendiri. Ia tersenyum, lalu berkata lebih mantap, “Aku
akan menyesuaikan diri dengan mereka, untuk sementara. Karena calon suamiku Shu
Yuan-Chang - alias Shu si Tangguh - akan menjemputku tak lama lagi.”
