Agatha Christie - Anjing Kematian #19



II

Macfarlane menapaki jalanan padang tandus yang curam itu. Ia berbelok di gerbang rumah yang terletak di dekat puncak bukit. Sambil mengatupkan rahang, ia menarik bel pintu.

      “Apa Mrs. Haworth ada di rumah?”
      “Ya, Sir. Akan saya panggilkan beliau.” Si gadis pelayan meninggalkannya di sebuah ruangan rendah dan panjang dengan jendela-jendela yang memberikan pemandangan ke padang belantara yang liar. Macfarlane mengerutkan kening sedikit. Apa ia telah berbuat bodoh dengan datang kemari?
      Kemudian ia tersentak. Sebuah suara pelan tengah menyanyi di atas sana: “Si wanita gipsi tinggal di padang belantara...”
      Lalu suara itu terhenti. Jantung Macfarlane berdetak sedikit lebih cepat. Pintu dibuka. Sosok putih mengagumkan wanita itu - yang hampir-hampir berkesan Skandinavia - membuat Macfarlene shock. Walau Dickie telah memberikan gambaran tentangnya, ia toh membayangkan wanita itu berkulit gelap seperti orang gipsi... dan sekonyong-konyong ia teringat apa yang dikatakan Dickie, serta nada aneh yang menyertainya “Dia sangat cantik.” Kecantikan yang sempurna dan tak perlu dipertanyakan lagi sangatlah jarang, dan kecantikan semacam itulah yang dimiliki Alistair Haworth.
      Macfarlene mengendalikan diri, dan melangkah ke arah wanita itu. “Saya rasa Anda tidak mengenal saya. Saya mendapatkan alamat Anda dari keluarga Lawes, tapi... saya teman Dickie Carpenter. “
      Mrs. Haworth menatapnya lekat-lekat sesaat, kemudian berkata, “Saya hendak keluar. Ke padang belantara. Anda mau ikut?”
      Ia membuka jendela dan melangkah ke lereng bukit. Macfarlene mengikutinya. Seorang pria gemuk yang tampak agak bodoh sedang duduk di kursi rotan, sambil merokok.
      “Itu suami saya. Kami mau ke padang, Maurice, lalu Mr. Macfarlane akan ikut makan siang bersama kita. Anda bersedia, bukan?”
      “Terima kasih banyak.” Macfarlane mengikuti langkah ringan wanita itu mendaki bukit, dan ia berpikir dalam hati, “Kenapa? Astaga, kenapa dia menikah dengan orang seperti itu?”
      Mrs. Haworth menghampiri sekumpulan batu karang. “Kita duduk di sini. Dan Anda bisa menyampaikan pada saya... - apa yang ingin Anda sampaikan.”
      “Anda sudah tahu?”
      “Saya selalu tahu kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Berita jelek, bukan? Tentang Dickie?”
      “Dia menjalani operasi kecil - operasinya berhasil dengan baik. Tapi jantungnya rupanya lemah. Dia meninggal ketika masih di bawah pengaruh anestesi.” Macfarlane tidak tahu pasti, ekspresi apa yang ia kira akan dilihatnya di wajah wanita itu - yang jelas, bukan ekspresi kelelahan yang amat sangat itu... Didengarnya wanita itu bergumam, “Lagi-lagi menunggu begitu lama – begitu lama...” Lalu ia mengangkat wajah. “Ya, Anda ingin mengatakan apa tadi?”
      “Hanya ini. Seseorang memperingatkannya untuk tidak menjalani operasi itu. Seorang perawat. Dia mengira perawat itu Anda. Benarkah?”
      Mrs. Haworth menggelengkan kepala. “Tidak, bukan saya. Tapi saya punya sepupu yang menjadi perawat. Dia agak mirip saya kalau dilihat dalam cahaya remang-remang. Saya yakin dialah perawat itu.” Ia kembali menatap Macfarlane. “Itu tidak penting, bukan?”
      Kemudian sekonyong-konyong ia terbelalak, dan terkesiap. “Oh!” katanya. “Oh! Aneh sekali! Anda tidak mengerti...”
      Macfarlane merasa bingung. Mrs. Haworth masih terbelalak menatapnya.
      “Saya pikir Anda... Mestinya begitu. Sepertinya Anda juga memilikinya...”
      “Memiliki apa?”
      “Bakat itu - kutukan itu - terserah apa sebutannya. Saya yakin Anda memilikinya. Coba pandangi cekungan di batu-batu karang itu. Tak usah memikirkan apa-apa. Pandangi saja... Ah!” Ia memperhatikan ekspresi kaget Macfarlane. “Nah... Anda melihat sesuatu?”
      “Pasti cuma imajinasi saya. Tadi sesaat saya melihat cekungan itu penuh darah!”
      Mrs. Haworth mengangguk. “Saya memang sudah yakin Anda mempunyai bakat itu. Di tempat ini, para pemuja matahari dulu biasa mempersembahkan korban. Saya sudah tahu itu, sebelum ada orang yang mengatakannya pada saya. Dan adakalanya saya tahu apa yang mereka rasakan tentang itu – hampir-hampir seakan saya sendiri pernah berada di sana... dan ada sesuatu tentang padang belantara ini, yang membuat saya merasa seolah-olah saya telah kembali ke rumah... Tentu saja wajar kalau saya mempunyai bakat itu. Saya seorang Ferguesson. Keluarga saya punya bakat supranatural. Ibu saya seorang medium sampai saat menikah dengan ayah saya. Namanya Cristing. Dia cukup terkenal.”
      “Apakah yang Anda maksud ’bakat’ itu adalah kemampuan untuk melihat peristiwa sebelum mereka benar-benar terjadi?”
      “Ya, ke depan atau ke belakang sama saja. Misalnya, saya melihat Anda bertanya-tanya, kenapa saya menikah dengan Maurice - ya, Anda memang bertanya-tanya - sederhana saja, karena saya sudah tahu sejak dulu, bahwa ada bahaya mengerikan yang mengancam hidupnya... saya ingin menyelamatkan dia dari bahaya itu.. wanita memang seperti itu. Dengan bakat saya, mestinya saya bisa mencegah bahaya itu terjadi… kalau memang bisa... tapi saya tak bisa menolong Dickie. Dan Dickie tidak akan mengerti... dia ketakutan. Dia masih sangat muda.”
      “Dua puluh dua tahun.”
      “Dan saya tiga puluh tahun. Tapi bukan itu maksud saya. Begitu banyak cara untuk terbagi, melalui panjang, tinggi, dan lebar... tapi terbagi oleh waktu adalah yang paling menyedihkan...” Ia terdiam lama dan muram.
      Suara berat gong dari arah rumah di bawah menyadarkan mereka.
      Saat makan siang, Macfarlane memandangi Maurice Haworth. Pria itu jelas-jelas sangat mencintai istrinya. Ada pancaran sayang dan bahagia yang tulus di matanya, seperti seekor anjing. Macfarlane juga memperhatikan kelembutan respons Mrs. Haworth terhadap suaminya, yang agak berkesan keibuan. Setelah makan siang, ia mohon diri.
      “Saya menginap di losmen untuk sehari-dua hari. Boleh saya datang menemui Anda lagi? Besok, barangkali?”
      “Tentu boleh. Tapi...”
      Mrs. Haworth menyapukan tangan dengan cepat di matanya.
      “Entahlah. Saya... saya merasa kita seharusnya tidak bertemu lagi - itu saja.. - Sampai jumpa.”
      Macfarlane berjalan perlahan-lahan. Entah kenapa, sebuah tangan yang terasa dingin seakan-akan mempererat cengkeraman di hatinya. Tidak ada maksud apa-apa dalam ucapan wanita itu, tapi...
      Sebuah motor melaju dari sudut jalan. Macfarlane merapatkan diri di tanaman pagar... tepat pada waktunya. Wajahnya menjadi pucat...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...