II
Macfarlane
menapaki jalanan padang tandus yang curam itu. Ia berbelok di gerbang rumah yang
terletak di dekat puncak bukit. Sambil mengatupkan rahang, ia menarik bel
pintu.
“Apa Mrs. Haworth ada di rumah?”
“Ya, Sir. Akan saya panggilkan beliau.” Si
gadis pelayan meninggalkannya di sebuah ruangan rendah dan panjang dengan jendela-jendela
yang memberikan pemandangan ke padang belantara yang liar. Macfarlane
mengerutkan kening sedikit. Apa ia telah berbuat bodoh dengan datang kemari?
Kemudian ia tersentak. Sebuah suara pelan
tengah menyanyi di atas sana: “Si wanita
gipsi tinggal di padang belantara...”
Lalu suara itu terhenti. Jantung
Macfarlane berdetak sedikit lebih cepat. Pintu dibuka. Sosok putih mengagumkan
wanita itu - yang hampir-hampir berkesan Skandinavia - membuat Macfarlene
shock. Walau Dickie telah memberikan gambaran tentangnya, ia toh membayangkan wanita
itu berkulit gelap seperti orang gipsi... dan sekonyong-konyong ia teringat apa
yang dikatakan Dickie, serta nada aneh yang menyertainya “Dia sangat cantik.” Kecantikan yang sempurna dan tak perlu
dipertanyakan lagi sangatlah jarang, dan kecantikan semacam itulah yang
dimiliki Alistair Haworth.
Macfarlene mengendalikan diri, dan
melangkah ke arah wanita itu. “Saya rasa Anda tidak mengenal saya. Saya
mendapatkan alamat Anda dari keluarga Lawes, tapi... saya teman Dickie Carpenter.
“
Mrs. Haworth menatapnya lekat-lekat
sesaat, kemudian berkata, “Saya hendak keluar. Ke padang belantara. Anda mau
ikut?”
Ia membuka jendela dan melangkah ke lereng
bukit. Macfarlene mengikutinya. Seorang pria gemuk yang tampak agak bodoh
sedang duduk di kursi rotan, sambil merokok.
“Itu suami saya. Kami mau ke padang,
Maurice, lalu Mr. Macfarlane akan ikut makan siang bersama kita. Anda bersedia,
bukan?”
“Terima kasih banyak.” Macfarlane
mengikuti langkah ringan wanita itu mendaki bukit, dan ia berpikir dalam hati,
“Kenapa? Astaga, kenapa dia menikah dengan orang seperti itu?”
Mrs. Haworth menghampiri sekumpulan batu
karang. “Kita duduk di sini. Dan Anda bisa menyampaikan pada saya... - apa yang
ingin Anda sampaikan.”
“Anda sudah tahu?”
“Saya selalu tahu kalau sesuatu yang buruk
akan terjadi. Berita jelek, bukan? Tentang Dickie?”
“Dia menjalani operasi kecil - operasinya
berhasil dengan baik. Tapi jantungnya rupanya lemah. Dia meninggal ketika masih
di bawah pengaruh anestesi.” Macfarlane tidak tahu pasti, ekspresi apa yang ia
kira akan dilihatnya di wajah wanita itu - yang jelas, bukan ekspresi kelelahan
yang amat sangat itu... Didengarnya wanita itu bergumam, “Lagi-lagi menunggu
begitu lama – begitu lama...” Lalu ia mengangkat wajah. “Ya, Anda ingin
mengatakan apa tadi?”
“Hanya ini. Seseorang memperingatkannya
untuk tidak menjalani operasi itu. Seorang perawat. Dia mengira perawat itu Anda.
Benarkah?”
Mrs. Haworth menggelengkan kepala. “Tidak,
bukan saya. Tapi saya punya sepupu yang menjadi perawat. Dia agak mirip saya
kalau dilihat dalam cahaya remang-remang. Saya yakin dialah perawat itu.” Ia
kembali menatap Macfarlane. “Itu tidak penting, bukan?”
Kemudian sekonyong-konyong ia terbelalak,
dan terkesiap. “Oh!” katanya. “Oh! Aneh sekali! Anda tidak mengerti...”
Macfarlane merasa bingung. Mrs. Haworth
masih terbelalak menatapnya.
“Saya pikir Anda... Mestinya begitu.
Sepertinya Anda juga memilikinya...”
“Memiliki apa?”
“Bakat itu - kutukan itu - terserah apa
sebutannya. Saya yakin Anda memilikinya. Coba pandangi cekungan di batu-batu
karang itu. Tak usah memikirkan apa-apa. Pandangi saja... Ah!” Ia memperhatikan
ekspresi kaget Macfarlane. “Nah... Anda melihat sesuatu?”
“Pasti cuma imajinasi saya. Tadi sesaat
saya melihat cekungan itu penuh darah!”
Mrs. Haworth mengangguk. “Saya memang
sudah yakin Anda mempunyai bakat itu. Di tempat ini, para pemuja matahari dulu
biasa mempersembahkan korban. Saya sudah tahu itu, sebelum ada orang yang
mengatakannya pada saya. Dan adakalanya saya tahu apa yang mereka rasakan
tentang itu – hampir-hampir seakan saya sendiri pernah berada di sana... dan
ada sesuatu tentang padang belantara ini, yang membuat saya merasa seolah-olah
saya telah kembali ke rumah... Tentu saja wajar kalau saya mempunyai bakat itu.
Saya seorang Ferguesson. Keluarga saya punya bakat supranatural. Ibu saya
seorang medium sampai saat menikah dengan ayah saya. Namanya Cristing. Dia
cukup terkenal.”
“Apakah yang Anda maksud ’bakat’ itu
adalah kemampuan untuk melihat peristiwa sebelum mereka benar-benar terjadi?”
“Ya, ke depan atau ke belakang sama saja.
Misalnya, saya melihat Anda bertanya-tanya, kenapa saya menikah dengan Maurice
- ya, Anda memang bertanya-tanya - sederhana saja, karena saya sudah tahu sejak
dulu, bahwa ada bahaya mengerikan yang mengancam hidupnya... saya ingin
menyelamatkan dia dari bahaya itu.. wanita memang seperti itu. Dengan bakat
saya, mestinya saya bisa mencegah bahaya itu terjadi… kalau memang bisa... tapi
saya tak bisa menolong Dickie. Dan Dickie tidak akan mengerti... dia ketakutan.
Dia masih sangat muda.”
“Dua puluh dua tahun.”
“Dan saya tiga puluh tahun. Tapi bukan itu
maksud saya. Begitu banyak cara untuk terbagi, melalui panjang, tinggi, dan
lebar... tapi terbagi oleh waktu adalah yang paling menyedihkan...” Ia terdiam lama
dan muram.
Suara berat gong dari arah rumah di bawah
menyadarkan mereka.
Saat makan siang, Macfarlane memandangi
Maurice Haworth. Pria itu jelas-jelas sangat mencintai istrinya. Ada pancaran
sayang dan bahagia yang tulus di matanya, seperti seekor anjing. Macfarlane
juga memperhatikan kelembutan respons Mrs. Haworth terhadap suaminya, yang agak
berkesan keibuan. Setelah makan siang, ia mohon diri.
“Saya menginap di losmen untuk sehari-dua
hari. Boleh saya datang menemui Anda lagi? Besok, barangkali?”
“Tentu boleh. Tapi...”
Mrs. Haworth menyapukan tangan dengan
cepat di matanya.
“Entahlah. Saya... saya merasa kita
seharusnya tidak bertemu lagi - itu saja.. - Sampai jumpa.”
Macfarlane berjalan perlahan-lahan. Entah
kenapa, sebuah tangan yang terasa dingin seakan-akan mempererat cengkeraman di hatinya.
Tidak ada maksud apa-apa dalam ucapan wanita itu, tapi...
Sebuah motor melaju dari sudut jalan.
Macfarlane merapatkan diri di tanaman pagar... tepat pada waktunya. Wajahnya
menjadi pucat...
