Tampilkan postingan dengan label anjing kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anjing kematian. Tampilkan semua postingan

Agatha Christie - Anjing Kematian #59




IV

Senja kembali turun di cottage tersebut. Malam ini hidangannya adalah telur-telur rebus dan daging kaleng Tak lama kemudian, Mrs. Dinsmead datang dari dapur, membawa sebuah poci teh besar. Keluarga itu duduk mengelilingi meja.

Agatha Christie - Anjing Kematian #58



III

Cleveland bangun pagi-pagi. Ia turun ke ruang tamu kemudian keluar ke kebun. Pagi itu udara segar dan indah, setelah hujan semalam. Ada orang lain yang juga bangun pagi-pagi rupanya. Di ujung kebun, tampak Charlotte sedang bersandar di pagar, memandang ke arah The Downs. Denyut nadi Mortimer menjadi lebih cepat saat ia melangkah mendekati gadis itu. Selama ini diam-diam ia merasa yakin Chariote-lah yang telah menuliskan pesan tersebut. Saat ia sudah dekat, gadis itu menoleh dan mengucapkan, “Selamat pagi”. Sepasang matanya tampak polos dan kekanak-kanakan, tanpa sedikit pun sorot pemahaman penuh rahasia di dalamnya.

Agatha Christie - Anjing Kematian #57



II

Dua puluh menit sebelumnya, Mortimer Cleveland telah berdiri di tengah hujan lebat dan kabut, memeriksa keadaan mobilnya. Ia benar-benar sedang sial. Dua ban mobilnya kempes dalam jarak sepuluh menit, dan di sinilah ia, terdampar bermil-mil jauhnya dari mana pun, di tengah-tengah bentangan daerah Wiltshire yang gersang ini, sementara malam akan segera turun dan ia tak punya tempat berteduh. Semuanya gara-gara ia mencoba mengambil jalan pintas. Kalau saja ia bertahan mengemudi di jalan utama! Sekarang sepertinya ia tersesat di sebuah jalur gerobak, dan tak punya bayangan sedikit pun, apakah di dekat-dekat sini ada desa.

Agatha Christie - Anjing Kematian #56



SOS


I

“AH!” Mr. Dinsmead berkata dengan senang. Ia mundur dan memandangi meja bundar itu dengan perasaan puas. Cahaya dari perapian berkilauan di taplak meja putih yang terbuat dari bahan kasar, juga pada pisau-pisau dan garpu-garpu, serta perangkat makan lainnya.

Agatha Christie - Anjing Kematian #55



“Simone!” teriak Raoul. “Simone!”
      Samar-samar ia merasa sosok Madame Exe bergegas melewatinya, membuka pintu, dan menuruni tangga. Dari balik tirai masih terdengar jeritan nyaring yang panjang dan mengerikan itu - belum pernah Raoul mendengar jeritan seperti itu. Jeritan itu berakhir dcngan semacam suara degup mengerikan, kemudian disusul debuk tubuh yang jatuh...

Agatha Christie - Anjing Kematian #54



Raoul tak perlu menjawab kali ini, sebab pada saat itu Simone masuk. Ia tampak lemah dan pucat, namun jelas telah berhasil mengendalikan diri sepenuhnya. Ia menjabat tangan Madame Exe, walau Raoul melihat tubuhnya agak gemetar saat berjabat tangan itu.

Agatha Christie - Anjing Kematian #53



“Kurasa dia akan datang,” kata Raoul. “Jammu agak kecepatan, Simone.”
      Simone mondar-mandir di ruangan tersebut, membereskan ini dan itu. “Aku penasaran, siapa Madame Exe ini?” katanya. “Dari mana asalnya, siapa keluarganya? Aneh bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang dirinya.”

Agatha Christie - Anjing Kematian #52



Simone menatapnya dengan penuh rasa terima kasih. “Ya, Raoul, kau benar. Memang itulah yang kubutuhkan, istirahat dan ketenangan.”
      Ia memejamkan mata dan bersandar sedikit di lengan Raoul.

Agatha Christie - Anjing Kematian #51



Yang Terakhir


RAOUL Daubreuil menyeberangi Sungai Sejne sambil bersenandung kecil pada dirinya sendiri. Ia seorang pria Prancis muda yang tampan, berusia sekitar tiga puluh dua tahun, dengan wajah segar dan kumis hitam kecil. Ia seorang insinyur. Tak lama kemudian ia tiba di Cardonet dan berbelok di pintu No. 17. Sang concierge melongok dari tempatnya bersarang, dan memberikan sapaan “Selamat pagi” dengan setengah hati. Raoul menjawab dengan ceria. Lalu ia naik tangga yang menuju apartemen di lantai tiga. Ia memencet bel, dan sambil menunggu pintu dibukakan, sekali lagi ia menyenandungkan nada kecilnya tadi. Pagi ini Raoul Daubreuil merasa sangat riang. Pintu dibuka oleh seorang wanita Prancis yang sudah agak tua. Wajah keriputnya menyunggingkan senyum cerah ketika melihat siapa yang datang.

Agatha Christie - Anjing Kematian #50



IV

“Apa yang membawamu kemari?” tanya Borrows.
      Memang, gereja di East End itu merupakan tempat yang asing bagi Hamer.
      “Aku sudah mendengarkan banyak khotbah yang bagus,” kata Hamer, “semuanya menggambarkan apa-apa yang bisa dilakukan kalau kalian punya dana. Aku datang untuk mengatakan ini: kalian akan punya dana.”

Agatha Christie - Anjing Kematian #49



III

Keesokan paginya, Silas Hamer keluar dari rumah dengan tekad baru dalam langkahnya. Ia telah memutuskan untuk mengikuti saran Seldon, menemui laki-laki tak berkaki itu. Namun dalam hati ia yakin pencariannya akan sia-sia; laki-laki itu pasti sudah menghilang bagai ditelan bumi.

Agatha Christie - Anjing Kematian #48



II

“Aku perlu nasihatmu, Seldon.”
      Seldon mendorong kursinya sedikit menjauhi meja. Ia sudah bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan obrolan basa-basi ini. Ia jarang bertemu Hamer sejak musim dingin, dan malam ini ia merasa ada perubahan yang tak bisa dijelaskan dalam diri temannya ini.

Agatha Christie - Anjing Kematian #47



Panggilan Sayap-Sayap

I

SILAS Hamer pertama kali mendengarnya pada suatu malam musim dingin di bulan Februari. Ia dan Dick Borrows tengah berjalan pulang dari acara makan malam yang diadakan oleh Bernard Selden, spesialis saraf itu. Tidak seperti biasanya, Borrows banyak berdiam diri, dan Silas Hamer bertanya dengan perasaan ingin tahu, apa yang sedang dipikirkan temannya itu. Jawaban Borrow sungguh tak terduga.

Agatha Christie - Anjing Kematian #46



Settle menggelengkan kepala.
      “Kita mesti membawanya ke rumah,” kataku sambil melangkah maju.
      Sir Arthur menatapku, dan Phyllis memperkenalkanku. “Ini Dr. Carstairs, yang sedang berkunjung di sini.”

Agatha Christie - Anjing Kematian #45



Cahaya fajar mulai menyelinap masuk dari jendela. Aku memandang ke pekarangan rumput di bawah sana.
      “Cepat berpakaian dan keluarlah,” kataku lekas-lekas pada Settle. “Lady Carmichael tidak akan apa-apa sekarang.”

Agatha Christie - Anjing Kematian #44



Tapi aku bertekad untuk mengambil tindakan berjaga-jaga sedapat mungkin. sebab aku yakin sekali wanita itu terancam oleh bahaya yang sangat besar. Keesokan malamnya, sebelum ia masuk ke kamarnya, Settle dan aku lebih dulu memeriksa kamar tersebut dengan saksama. Kami sudah sepakat akan bergiliran berjaga di lorong.

Agatha Christie - Anjing Kematian #43



“Aku melihat Miss Patterson berjalan melintasi pekarangan rumput. Itu saja.”
      Aku mulai mengerti. “Kalau begitu,” kataku, “kucing itu...?”
      Ia mengangguk.

Agatha Christie - Anjing Kematian #42



Selesai makan malam, kami kembali duduk di ruang duduk hijau itu. Kami baru selesai minum kopi, dan sedang bercakap-cakap dengan agak canggung mengenai topik-topik hari itu, ketika kudengar si kucing mulai mengeong-ngeong mengibakan di depan pintu minta diperbolehkan masuk. Tidak ada yang memperhatikan, dan berhubung aku menyukai binatang, sesaat kemudian aku pun bangkit dari kursiku.

Agatha Christie - Anjing Kematian #41



Beberapa saat kemudian kami pun sampai, dan aku mengikuti temanku itu ke ruang duduk berwarna hijau. Teh sudah dihidangkan.

Agatha Christie - Anjing Kematian #40



Kasus Aneh Sir Arthur


Carmichael
      (Diambil dari catatan-catatan almarhum Dr Edward Carstairs, M.D., psikolog terkemuka itu.)