Voltaire adalah penulis filsafat yang tajam; dukungan terhadap hak-hak manusia, serta kebebasan sipil--termasuk kebebasan beragama dan hak mendapatkan pengadilan yang patut. Ia mendukung vokal terhadap reformasi sosial, meski Francis kala itu menerapkan aturan sensor ketat dan ancaman hukuman yang keras bagi pelanggarnya. Voltaire sering menggunakan karyanya untuk mengkritik dogma gereja dan institusi Francis sewaktu-waktu itu. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh di zamannya.
François-Marie Arouet, ia lahir pada 21 November 1694--dan meninggal 30 Mei 1778 pada usia 83 tahun, lebih dikenal dengan nama penanya: Voltaire. Seorang penulis dan filsuf Francis di Era Pencerahan. Di masa mudanya, Voltaire belajar di perguruan Jesuit Louis-le-Grand di Paris. Selepas itu ia belajar ilmu hukum sebentar tapi kemudian ditinggalkannya. Selaku remaja di Paris, ia dikenal cerdas, pandai humor tingkat tinggi--terucap dari mulutnya kalimat-kalimat satire. Di bawah ancient regime atau pemerintahan lama, tingkah seperti itu bisa mengundang bahaya. Dan betul saja, sebab ucapan-ucapannya yang mengandung politik itu, ia ditahan dalam penjara Bastille. Hampir setahun penuh ia meringkuk di situ.
Tetapi ia tak sebodoh pemerintah yang menjebloskannya. Ia bukannya bengong-bengong seperti orang bego, tapi disibukkan-dirinya dengan menulis sajak-sajak kepahlawanan Henriade--yang kemudian menerima penghormatan tinggi. 1718, tak lama sesudah Voltaire menghirup udara bebas, drama Oedipe-nya diprodusir di Paris dan merebut sukses besar. Umur dua puluh empat tahun, namanya masyhur, dan dalam sisa enam puluh tahun hidupnya ia betul-betul jadi jagonya kesusasteraan Francis.
Voltaire punya kepintaran ganda yang langka, pintar dalam hubungan uang dan juga pintar dalam hubungan bersosial. Maka tak heran jika setingkat demi setingkat ia menjadi seorang yang hidup bebas dengan kantong penuh uang. Tapi tahun 1726 ia menjalani kesulitan. Voltaire sudah menempatkan dirinya selaku orang yang cerdas dan brilian dalam adu pendapat, tak cuma menurut ukuran jamannya tapi mungkin untuk ukuran sepanjang jaman. Tapi ia kurang supel dan rendah hati, sehingga kalangan aristokrat Francis membebani suatu persyaratan yang mesti dipunyai oleh seorang kebanyakan sepertinya. Hal ini menyebabkan pertentangan antara Voltaire dengan kaum aristokrat, khususnya Chevalier de Rohan--yang dikalahkan dari kecerdasan Voltaire dalam adu kata itu. Selang beberapa lama, Chevalier mengupah tukang-tukang pukul mempermak Voltaire dan menjeblospenjarakannya lagi ke dalam penjara Bastille. Voltaire dibebaskan dengan syarat; ia mesti meninggalkan Francis. Karena itu ia berkeputusan menyeberang ke Inggris dan tinggal di situ selama dua setengah tahun.
Tinggalnya Voltaire di Inggris rupanya merupakan titik balik dalam kehidupannya. Ia belajar berbincang dan menulis dalam bahasa Inggris; karena mulai terbiasa dengan karya-karya besar orang Inggris masyhur seperti John Locke, Francis Bacon, Isaac Newton dan juga William Shakespeare. Ia juga berkenalan secara pribadi dengan sebagian besar cerdik cendikiawan Inggris masa-masa itu. Voltaire amat terkesan dengan Shakespeare dan ilmu pengetahuan Inggris serta empirisme--faham yang berpegang pada perlunya ada percobaan secara praktek dan bukannya berpegang pada teori melulu. Tapi dari semuanya itu, yang paling mengesankannya adalah sistem politik Inggris. Demokrasi Inggris dan kebebasan pribadi memberi kesan yang amat berlawanan dengan apa yang Voltaire saksikan di Francis. Tak ada bangsawan Inggris bisa mengeluarkan letre de cachet yang dapat menjebloskan Voltaire ke dalam bui, seperti sewaktu ia masih berdiam di Francis. Sebab, kalau toh ia ditangkap secara semena-mena, perintah pembebasan segera diperolehnya.
François-Marie Arouet, ia lahir pada 21 November 1694--dan meninggal 30 Mei 1778 pada usia 83 tahun, lebih dikenal dengan nama penanya: Voltaire. Seorang penulis dan filsuf Francis di Era Pencerahan. Di masa mudanya, Voltaire belajar di perguruan Jesuit Louis-le-Grand di Paris. Selepas itu ia belajar ilmu hukum sebentar tapi kemudian ditinggalkannya. Selaku remaja di Paris, ia dikenal cerdas, pandai humor tingkat tinggi--terucap dari mulutnya kalimat-kalimat satire. Di bawah ancient regime atau pemerintahan lama, tingkah seperti itu bisa mengundang bahaya. Dan betul saja, sebab ucapan-ucapannya yang mengandung politik itu, ia ditahan dalam penjara Bastille. Hampir setahun penuh ia meringkuk di situ.
Tetapi ia tak sebodoh pemerintah yang menjebloskannya. Ia bukannya bengong-bengong seperti orang bego, tapi disibukkan-dirinya dengan menulis sajak-sajak kepahlawanan Henriade--yang kemudian menerima penghormatan tinggi. 1718, tak lama sesudah Voltaire menghirup udara bebas, drama Oedipe-nya diprodusir di Paris dan merebut sukses besar. Umur dua puluh empat tahun, namanya masyhur, dan dalam sisa enam puluh tahun hidupnya ia betul-betul jadi jagonya kesusasteraan Francis.
Voltaire punya kepintaran ganda yang langka, pintar dalam hubungan uang dan juga pintar dalam hubungan bersosial. Maka tak heran jika setingkat demi setingkat ia menjadi seorang yang hidup bebas dengan kantong penuh uang. Tapi tahun 1726 ia menjalani kesulitan. Voltaire sudah menempatkan dirinya selaku orang yang cerdas dan brilian dalam adu pendapat, tak cuma menurut ukuran jamannya tapi mungkin untuk ukuran sepanjang jaman. Tapi ia kurang supel dan rendah hati, sehingga kalangan aristokrat Francis membebani suatu persyaratan yang mesti dipunyai oleh seorang kebanyakan sepertinya. Hal ini menyebabkan pertentangan antara Voltaire dengan kaum aristokrat, khususnya Chevalier de Rohan--yang dikalahkan dari kecerdasan Voltaire dalam adu kata itu. Selang beberapa lama, Chevalier mengupah tukang-tukang pukul mempermak Voltaire dan menjeblospenjarakannya lagi ke dalam penjara Bastille. Voltaire dibebaskan dengan syarat; ia mesti meninggalkan Francis. Karena itu ia berkeputusan menyeberang ke Inggris dan tinggal di situ selama dua setengah tahun.
Tinggalnya Voltaire di Inggris rupanya merupakan titik balik dalam kehidupannya. Ia belajar berbincang dan menulis dalam bahasa Inggris; karena mulai terbiasa dengan karya-karya besar orang Inggris masyhur seperti John Locke, Francis Bacon, Isaac Newton dan juga William Shakespeare. Ia juga berkenalan secara pribadi dengan sebagian besar cerdik cendikiawan Inggris masa-masa itu. Voltaire amat terkesan dengan Shakespeare dan ilmu pengetahuan Inggris serta empirisme--faham yang berpegang pada perlunya ada percobaan secara praktek dan bukannya berpegang pada teori melulu. Tapi dari semuanya itu, yang paling mengesankannya adalah sistem politik Inggris. Demokrasi Inggris dan kebebasan pribadi memberi kesan yang amat berlawanan dengan apa yang Voltaire saksikan di Francis. Tak ada bangsawan Inggris bisa mengeluarkan letre de cachet yang dapat menjebloskan Voltaire ke dalam bui, seperti sewaktu ia masih berdiam di Francis. Sebab, kalau toh ia ditangkap secara semena-mena, perintah pembebasan segera diperolehnya.
Ketika Voltaire kembali ke Francis, ia menulis karya falsafahnya yang pertama, Lettres Philosophiques, yang lazimnya disebut Letters on the English. Buku itu diterbitkan tahun 1734, merupakan tanda sesungguhnya dari era-pembaharuan Francis. Dalam Letters on the English, ia menyuguhkan gambaran umum yang menyenangkan tentang sistem politik Inggris berikut pikiran-pikiran John Locke dan pemikir-pemikir Inggris lainnya. Penerbitan buku itu membuat berang para penguasa Francis dan sekali lagi Voltaire dipaksa angkat kaki dari Paris.
Voltaire menghabiskan waktu lima belas tahun di Cirey--sebuah kota di sebelah utara Francis. Di sana ia menjadi kekasih Madame du Chatelet, istri seorang marquis (bangsawan). Nyonya ini cerdas dan berpendidikan. 1750, setahun sesudah sang nyonya meninggal dunia, Voltaire pergi ke Jerman atas undangan pribadi Frederick yang Agung dari Prusia. Ia menetap tiga tahun di kediaman Frederick, di Potsdam. Mulanya ia cocok dengan Frederick yang intelektual dan brilian itu, tapi pada tahun 1753, mereka bertengkar dan Voltaire meninggalkan Jerman.
Sesudah meninggalkan Jerman Voltaire menetap di sebuah perkebunan dekat Jenewa. Di situ ia bisa aman baik dari gangguan Francis maupun raja-raja Prusia. Tapi pandangannya yang liberal itu, membuat bahkan Swiss tidak aman lagi baginya. 1758 ia pergi ke suatu perkebunan baru di Ferney, terletak di dekat perbatasan Francis-Swiss, hingga memudahkannya lari ke sana atau ke sini andai sewaktu-waktu ada kesulitan dengan pihak penguasa. Di situ ia tinggal selama dua puluh tahun, membenamkan diri dalam karya kesusasteraan dan falsafah, bersurat-suratan dengan pemimpin-pemimpin intelektual di seluruh Eropa dan menerima tamu-tamunya.
Sepanjang tahun-tahun itu, karya sastra Voltaire mengalir terus tak henti-hentinya. Ia betul-betul seorang penulis dengan gaya fantastis, mungkin penulis yang paling banyak bukunya dalam daftar buku ini. Konon, kumpulan tulisan Voltaire melebihi 30.000 halaman. Ini termasuk sajak kepahlawanan, lirik, surat-surat pribadi, pamflet, novel, cerpen, drama, dan buku-buku serius tentang sejarah dan falsafah.
Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya menginjak 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang Protestan di Francis. Tergugah dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam "perang intelektual " melawan fanatisme agama. Semua surat-suratnya senantiasa ditutupnya dengan kalimat "Ecrasez l'infame"--yang maknanya "Ganyang barang brengsek itu!", yang dimaksud Voltaire "barang brengsek" adalah kejumudan dan fanatisme.
Voltaire menghabiskan waktu lima belas tahun di Cirey--sebuah kota di sebelah utara Francis. Di sana ia menjadi kekasih Madame du Chatelet, istri seorang marquis (bangsawan). Nyonya ini cerdas dan berpendidikan. 1750, setahun sesudah sang nyonya meninggal dunia, Voltaire pergi ke Jerman atas undangan pribadi Frederick yang Agung dari Prusia. Ia menetap tiga tahun di kediaman Frederick, di Potsdam. Mulanya ia cocok dengan Frederick yang intelektual dan brilian itu, tapi pada tahun 1753, mereka bertengkar dan Voltaire meninggalkan Jerman.
Sesudah meninggalkan Jerman Voltaire menetap di sebuah perkebunan dekat Jenewa. Di situ ia bisa aman baik dari gangguan Francis maupun raja-raja Prusia. Tapi pandangannya yang liberal itu, membuat bahkan Swiss tidak aman lagi baginya. 1758 ia pergi ke suatu perkebunan baru di Ferney, terletak di dekat perbatasan Francis-Swiss, hingga memudahkannya lari ke sana atau ke sini andai sewaktu-waktu ada kesulitan dengan pihak penguasa. Di situ ia tinggal selama dua puluh tahun, membenamkan diri dalam karya kesusasteraan dan falsafah, bersurat-suratan dengan pemimpin-pemimpin intelektual di seluruh Eropa dan menerima tamu-tamunya.
Sepanjang tahun-tahun itu, karya sastra Voltaire mengalir terus tak henti-hentinya. Ia betul-betul seorang penulis dengan gaya fantastis, mungkin penulis yang paling banyak bukunya dalam daftar buku ini. Konon, kumpulan tulisan Voltaire melebihi 30.000 halaman. Ini termasuk sajak kepahlawanan, lirik, surat-surat pribadi, pamflet, novel, cerpen, drama, dan buku-buku serius tentang sejarah dan falsafah.
Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya menginjak 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang Protestan di Francis. Tergugah dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam "perang intelektual " melawan fanatisme agama. Semua surat-suratnya senantiasa ditutupnya dengan kalimat "Ecrasez l'infame"--yang maknanya "Ganyang barang brengsek itu!", yang dimaksud Voltaire "barang brengsek" adalah kejumudan dan fanatisme.
1778, ketika umurnya memasuki 83 tahun, ia kembali ke Paris, menyaksikan drama barunya; Irene. Publik berjubel meneriakinya "Hidup jago tua! Hidup biangnya pembaharuan Perancis!" -- Beribu pengagum, termasuk Benjamin Franklin, menjenguknya. Tetapi, umur Voltaire sudah hampir tepi, ia meninggal di Paris tanggal 30 Mei 1778. Tapi yang menyedihkan, akibat sikap anti-gerejanya itu, ia tak memperoleh penguburan secara Kristen. Tapi tiga belas tahun kemudian, kaum revolusioner Francis yang telah merebut kemenangan, menggali makamnya kembali dan menguburnya di Pantheon Paris.
Salah satu pendirian Voltaire yang tergigih adalah mutlaknya terjamin kebebasan bicara dan kebebasan pers. Kalimat masyhur yang sering dihubungkan dengan Voltaire adalah yang berbunyi "Saya tidak setuju apa yang kau bilang, tetapi akan saya bela mati-matian hakmu untuk mengucapkan itu." Meskipun mungkin saja ia tak pernah berucap sepersis itu, tapi yang jelas kalimat itu benar-benar mencerminkan sikap Voltaire yang sebenarnya.
Prinsipnya yang lain ialah kepercayaannya akan kebebasan beragama. Seluruh kariernya, ia dengan tak tergoyahkan menentang ketidaktoleransian agama serta penghukuman yang berkaitan dengan soal-soal agama. Meski Voltaire percaya adanya Tuhan, ia dengan tegas menentang sebagian besar dogma-dogma agama dan dengan mantapnya ia mengatakan bahwa "organisasi berdasar keagaman pada dasarnya suatu penipuan."
Adalah sangat wajar bilamana Voltaire tak pernah percaya bahwa gelar-gelar keningratan Francis dengan sendirinya menjamin kelebihan-kelebihan mutu, dan pada dasarnya tiap orang sebenarnya mengerti bahwa apa yang disebut "hak-hak suci Raja" itu sebenarnya omong kosong belaka. Kendati Voltaire sendiri jauh dari potongan seorang demokrat modern (ia condong menyetujui suatu bentuk kerajaan yang kuat tapi mengalami pembaharuan-pembaharuan), dorongan pokok gagasannya jelas menentang setiap kekuasaan yang diperoleh berdasarkan garis keturunan. Karena itu tak heran jika sebagian terbesar pengikutnya condong ke Demokrasi. Gagasan politik dan agamanya dengan demikian sejalan dengan faham pembaharuan Francis, dan merupakan sumbangan penting sehingga meletusnya Revolusi Perancis di tahun 1789.
Voltaire bukanlah seorang ahli ilmu pengetahuan, tapi ia menaruh minat besar terhadap ilmu dan pendukung gigih sikap pandangan empiris dari John Locke dan Francis Bacon. Ia juga seorang ahli sejarah yang serius dan berkemampuan. Salah satu karyanya yang terpenting ialah buku yang menyangkut sejarah dunia Essay, on the Manners and Spirit of Nations. Buku ini berbeda dengan umumnya uraian sejarah yang pernah ada sebelumnya dalam dua segi: Pertama, Voltaire mengakui bahwa Eropa cuma merupakan bagian kecil dari dunia secara keseluruhan, karena itu ia menitikberatkan sebagian dari pengamatannya pada sejarah Asia. Kedua, ia menganggap bahwa sejarah kebudayaan adalah, pada umumnya, jauh lebih penting daripada sejarah politik. Buku Voltaire dengan sendirinya lebih berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan perkembangan seni ketimbang soal raja-raja dengan segala rupa peperangannya itu.
Voltaire bukanlah mendekati filosof orisinal seperti beberapa tokoh yang ada dalam daftar buku itu. Sampai batas tertentu ia bertolak dari pandangan orang lain seperti John Locke dan Francis Bacon, memperkuat pendapat mereka atau mempopulerkan mereka. Melalui tulisan-tulisan Voltaire, lebih dari siapa pun juga, ide demokrasi, toleransi agama dan kebebasan intelektual berkembang di seluruh Eropa. Meski ada penulis-penulis penting lain (Diderot, d'Alembert, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain) dalam masa pembaharuan Perancis, Voltaire lebih layak dianggap pemuka dari kesemuanya itu. Ia pemimpin terkemuka dari gerakan itu. Pertama, gaya sastranya yang menggigit, kariernya yang panjang, dan tulisannya yang begitu banyak menggaet pengikut yang tak tertandingkan oleh penulis-penulis yang mana pun juga. Kedua, gagasan-gagasannya sepenuhnya bercirikan pembaharuan. Ketiga, Voltaire mendahului tokoh-tokoh penting lain dari sudut waktu. Karya besar Montesquieu The Spirit of Law baru terbit tahun 1748; jilid pertama Encyclopedie yang masyhur itu baru terbit tahun 1751; esei Rousseau pertama ditulis tahun 1750. Sedangkan Letters on the English punya Voltaire telah muncul di tahun 1734 dan ia sudah kesohor enam belas tahun sebelum buku itu keluar.
Tulisan-tulisan Voltaire dengan kekecualian novel pendek Candide sedikit sekali dibaca orang sekarang. Kesemua buku-bukunya tersebar dan terbaca luas selama abad ke-18, karena itu Voltaire pegang peranan penting mengubah iklim pendapat umum yang ujung-ujungnya berpuncak pada meletusnya Revolusi Francis. Dan pengaruhnya tidaklah cuma terbatas di Francis: orang-orang Amerika seperti Thomas Jefferson, James Madison dan Benjamin Franklin juga kenal baik dengan tulisan-tulisannya.
Sesuatu yang menarik membandingkan Voltaire dengan teman sejamannya yang masyhur, Jean-Jacques Rousseau. Voltaire yang segenap pandangannya rasional; lebih berpengaruh. Sebaliknya, Rousseau lebih orisinal dan karyanya lebih berpengaruh di jaman sekarang ini.
Prinsipnya yang lain ialah kepercayaannya akan kebebasan beragama. Seluruh kariernya, ia dengan tak tergoyahkan menentang ketidaktoleransian agama serta penghukuman yang berkaitan dengan soal-soal agama. Meski Voltaire percaya adanya Tuhan, ia dengan tegas menentang sebagian besar dogma-dogma agama dan dengan mantapnya ia mengatakan bahwa "organisasi berdasar keagaman pada dasarnya suatu penipuan."
Adalah sangat wajar bilamana Voltaire tak pernah percaya bahwa gelar-gelar keningratan Francis dengan sendirinya menjamin kelebihan-kelebihan mutu, dan pada dasarnya tiap orang sebenarnya mengerti bahwa apa yang disebut "hak-hak suci Raja" itu sebenarnya omong kosong belaka. Kendati Voltaire sendiri jauh dari potongan seorang demokrat modern (ia condong menyetujui suatu bentuk kerajaan yang kuat tapi mengalami pembaharuan-pembaharuan), dorongan pokok gagasannya jelas menentang setiap kekuasaan yang diperoleh berdasarkan garis keturunan. Karena itu tak heran jika sebagian terbesar pengikutnya condong ke Demokrasi. Gagasan politik dan agamanya dengan demikian sejalan dengan faham pembaharuan Francis, dan merupakan sumbangan penting sehingga meletusnya Revolusi Perancis di tahun 1789.
Voltaire bukanlah seorang ahli ilmu pengetahuan, tapi ia menaruh minat besar terhadap ilmu dan pendukung gigih sikap pandangan empiris dari John Locke dan Francis Bacon. Ia juga seorang ahli sejarah yang serius dan berkemampuan. Salah satu karyanya yang terpenting ialah buku yang menyangkut sejarah dunia Essay, on the Manners and Spirit of Nations. Buku ini berbeda dengan umumnya uraian sejarah yang pernah ada sebelumnya dalam dua segi: Pertama, Voltaire mengakui bahwa Eropa cuma merupakan bagian kecil dari dunia secara keseluruhan, karena itu ia menitikberatkan sebagian dari pengamatannya pada sejarah Asia. Kedua, ia menganggap bahwa sejarah kebudayaan adalah, pada umumnya, jauh lebih penting daripada sejarah politik. Buku Voltaire dengan sendirinya lebih berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan perkembangan seni ketimbang soal raja-raja dengan segala rupa peperangannya itu.
Voltaire bukanlah mendekati filosof orisinal seperti beberapa tokoh yang ada dalam daftar buku itu. Sampai batas tertentu ia bertolak dari pandangan orang lain seperti John Locke dan Francis Bacon, memperkuat pendapat mereka atau mempopulerkan mereka. Melalui tulisan-tulisan Voltaire, lebih dari siapa pun juga, ide demokrasi, toleransi agama dan kebebasan intelektual berkembang di seluruh Eropa. Meski ada penulis-penulis penting lain (Diderot, d'Alembert, Rousseau, Montesquieu dan lain-lain) dalam masa pembaharuan Perancis, Voltaire lebih layak dianggap pemuka dari kesemuanya itu. Ia pemimpin terkemuka dari gerakan itu. Pertama, gaya sastranya yang menggigit, kariernya yang panjang, dan tulisannya yang begitu banyak menggaet pengikut yang tak tertandingkan oleh penulis-penulis yang mana pun juga. Kedua, gagasan-gagasannya sepenuhnya bercirikan pembaharuan. Ketiga, Voltaire mendahului tokoh-tokoh penting lain dari sudut waktu. Karya besar Montesquieu The Spirit of Law baru terbit tahun 1748; jilid pertama Encyclopedie yang masyhur itu baru terbit tahun 1751; esei Rousseau pertama ditulis tahun 1750. Sedangkan Letters on the English punya Voltaire telah muncul di tahun 1734 dan ia sudah kesohor enam belas tahun sebelum buku itu keluar.
Tulisan-tulisan Voltaire dengan kekecualian novel pendek Candide sedikit sekali dibaca orang sekarang. Kesemua buku-bukunya tersebar dan terbaca luas selama abad ke-18, karena itu Voltaire pegang peranan penting mengubah iklim pendapat umum yang ujung-ujungnya berpuncak pada meletusnya Revolusi Francis. Dan pengaruhnya tidaklah cuma terbatas di Francis: orang-orang Amerika seperti Thomas Jefferson, James Madison dan Benjamin Franklin juga kenal baik dengan tulisan-tulisannya.
Sesuatu yang menarik membandingkan Voltaire dengan teman sejamannya yang masyhur, Jean-Jacques Rousseau. Voltaire yang segenap pandangannya rasional; lebih berpengaruh. Sebaliknya, Rousseau lebih orisinal dan karyanya lebih berpengaruh di jaman sekarang ini.

